Thursday, April 16, 2015

The Jose Flash Review
Filosofi Kopi The Movie

Dee atau Dewi Lestari sudah menjadi semacam brand tersendiri di dunia sastra modern Indonesia. Karya-karyanya baik berupa novel maupun cerpen memang punya materi yang menarik, dengan referensi-referensi cerdas nan luas, dan kemasan pop yang mudah dicerna. Tak heran jika sinema kita rajin untuk mengadaptasi karya-karya tulisnya ke layar lebar, meski hasilnya seringkali di bawah ekspektasi.

Filosofi Kopi (FK) adalah salah satu cerpen yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Dee berjudul sama. Seperti halnya Madre yang sudah lebih dulu diadaptasi ke layar lebar oleh Benni Setiawan. Tak mudah mengadaptasi cerpen, karena memang butuh banyak pengembangan untuk memenuhi standard durasi film panjang. Belum lagi berurusan dengan penggemar fanatik yang menuntut sama persis dengan versi aslinya. Padahal menurut saya, versi tulis dan film harus berbeda, supaya bagi pembaca aslinya pun tetap dibikin penasaran dengan experience yang ditawarkan filmnya. Kalau sama saja, buat apa sekedar transfer medium?

Berbeda dengan Madre yang diadaptasi menjadi ‘just another light romance’, FK membawa karya tulis Dee ke level yang jauh di atasnya, oleh tim, yang menurut saya, sangat tepat. Digarap oleh Visinema, dengan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang setahun sebelumnya sudah sukses membawa pulang banyak sekali penghargaan untuk Cahaya dari Timur: Beta Maluku, ada banyak hal dari cerpennya yang dikembangkan menjadi jauh lebih menarik, kaya, bahkan jauh lebih mendalam. Tak hanya itu, versi filmnya saya rasa juga berhasil mengembangkan FK menjadi franchise yang kuat, seperti kedai kopi dan berbagai merchandise-nya.

Jika FK versi cerpen berbicara tentang makna kesempurnaan dan perubahan psikologis dari seorang yang merasa paling hebat setelah dikalahkan oleh sesuatu yang sederhana, maka FK versi film meng-improve dengan banyak materi. Mulai bromance yang saling melengkapi; antara kepala dan hati, perbedaan obsesi dan cinta, belajar move on dari kehilangan, berdamai dengan diri sendiri, hingga sindiran fenomena generasi digital saat ini, seperti fakir wi-fi dan foodblogger yang lebih doyan memotret makanan dan minumannya ketimbang menikmatinya secara langsung. Dan tak ketinggalan jargon-jargon dan filosofi-filosofi di balik dunia perkopian yang diselipkan dengan menarik dan sangat informatif. Karakteristik yang tak begitu dijelaskan di cerpennya, turut mendapatkan treatment yang sangat detail di sini dan pas dengan kebutuhan cerita, seperti misalnya Jody dibuat beretnis Tionghoa yang pas dengan karakternya yang seringkali hanya memikirkan cuan (untung). Dari sini, jelas FK menyuguhkan sebuah paket bergaya pop yang ringan namun padat.

Namun bukan berarti flow cerita-nya bisa berjalan dengan mulus. Di babak pertama, ketika baru memunculkan konflik utamanya, flow FK memang terasa begitu enak dinikmati. Pertentangan antara Jody-Ben ditampilkan dengan asyik, kocak, namun tetap terasa kuat. Ketika babak berikutnya dimulai, yaitu ketika para karakter utamanya mulai membuka luka batinnya, flow-nya terasa sedikit mengendur. Menarik sih, tapi jujur, part ini terasa agak menjemukan. Terutama ketika masing-masing karakter yang menceritakan masa lalu masing-masing secara verbal. Belum selesai sampai di situ, part berikutnya yang mengubah karakter Ben sekali lagi harus terasa begitu lambat. Untung saja part-part ini tidak berlangsung begitu lama dan tidak sampai jatuh menjadi bertele-tele, hingga akhirnya diakhiri dengan konklusi yang sangat memuaskan. Uniknya, in second view, part-part yang bagi saya terasa lambat ini, justru jadi terasa jauh lebih enak dinikmati, apalagi dengan meresapi emosi-emosi dari tiap karakter yang disajikan di layar.

Kemudian kepadatan naskah mampu diterjemahkan dengan begitu maksimal oleh Angga. Tak hanya berhasil menghidupkan tiap emosi, mulai ceria hingga haru, tapi juga yang terpenting membuat penonton membayangkan betapa harum dan enaknya kopi-kopi yang disajikan di layar. Tugas penting untuk film kuliner macam ini, namun Angga berhasil menampilkannya dengan maksimal. Bahkan penonton yang bukan pecinta kopi pun pasti bisa membayangkan nikmatnya kopi-kopi di layar sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Kekuatan yang sangat mendukung naskah FK yang sudah begitu kuat adalah penampilan dari para aktornya. Chicco Jericho sekali lagi membuktikan bahwa dirinya layak disejajarkan dengan aktor layar lebar papan atas Indonesia lainnya. Kemumpunian aktingnya terasa begitu jelas, terutama ketika karakter Ben yang awalnya sangat laid back, easy going, nggak mikir apa-apa, berubah 180 derajat di babak selanjutnya. Tak hanya mampu menerjemahkan kedua karakteristik ini dengan believable, namun juga menampilkan transisi yang sangat mulus dan realistis. Tak kalah juga karakter Jody yang diperankan oleh Rio Dewanto. Jika biasanya sering kebagian peran serius dan keras, kali ini Rio membuktikan bisa juga memerankan karakter yang tetap serius namun sedikit komikal. Sirna sudah image keras yang selama ini menempel pada dirinya. Julie Estelle yang memerankan karakter yang tidak ada di versi cerpennya, juga mampu mengimbangi keduanya dengan porsi yang pas. Lebih dari sekedar pemanis (yang memang berhasil membuat film terasa lebih manis), Julie  membuat karakter El berhasil menjadi pendorong cerita di babak kedua.

Di deretan pemeran pendukung, Ronny P. Tjandra, Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo, dan Otig Pakis, seperti biasa mampu menarik perhatian sesuai porsinya masing-masing. Sementara scene stealer tentu saja Tara Basro dengan lirikannya yang tempting, Tata Ginting dengan gesture ngondek-nya, dan Joko Anwar yang menggelitik lewat celetukan-celetukannya.

Tak ketinggalan aspek teknis yang juga digarap dengan serius. Terutama sekali sinematografi Robie Taswin yang sukses membingkai tata artistik yang serba cantik. Mulai interior kafe Filosofi Kopi, rumah pelelangan kopi, rumah Jody,  hingga perkebunan Pak Seno. Sayang efek shaky kamera di beberapa shot terasa sangat mengganggu. Terasa dibuat-buat, tidak natural, dan akibatnya agak bikin pusing. Untungnya tidak begitu sering terjadi.

Dukungan musik pun turut mewarnai FK secara maksimal. Mengiringi berbagai adegan emosional menjadi lebih terasa kuat, sementara di bagian lain memberi nuansa nyantai, sejuk, sekaligus hangat di keseluruhan bagian film. Mulai dari Maliq & D’Essentials, Glenn Fredly, Monita, Is Payung Teduh, Gilbert Pohan, hingga Dee sendiri.

Dengan berbagai dukungan berbagai aspek yang serba mumpuni, FK jelas sebuah sajian pop yang sangat enak dinikmati, dengan berbagai esensi dan emosi yang begitu kuat disematkan. Terasa sekali dibuat dengan passion akan kopi dan hati manusia. Sebuah experience yang bahkan tetap enak dinikmati berkali-kali.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates