Thursday, April 16, 2015

The Jose Flash Review
Bulan di Atas Kuburan (2015)

Tanpa referensi apa-apa, hanya dengan bekal membaca judulnya, pasti banyak yang mengira ini adalah film horor. Tak salah, karena di ranah film Indonesia, image ‘kuburan’ sudah begitu lekat dengan horor. Padahal sebenarnya Bulan di Atas Kuburan (BdAK) adalah sebuah remake dari film berjudul sama tahun 1973 yang disutradarai oleh salah satu sutradara besar Indonesia, Asrul Sani (Lewat Djam Malam, Salah Asuhan, Naga Bonar, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Titian Serambut Dibelah Tujuh, dan Nada dan Dakwah). Sementara vrsi remake ini naskahnya ditulis oleh Dirmawan Hatta yang sebelumnya kita kenal lewat Toilet Blues dan Optatissimus, dan disutradarai Edo WF Sitanggang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penata suara nominee FFI, seperti di Emak Ingin Naik Haji dan Identitas. Dalam satu dialog di film, ternyata ‘kuburan’ adalah metafora dari orang-orang di Jakarta yang terus membusuk. Ya, BdAK memang film yang menyindir (atau mengolok-olok?) kota Jakarta, tapi dengan sudut pandang universe yang ‘serba-Batak’. Menarik? Tentu saja.

BdAK berkisah seputar 2 pemuda Batak asal Samosir, Sahat (Rio Dewanto) dan Tigor (Donny Alamsyah), yang tergiur oleh iming-iming orang sekampungnya, Sabar (Tio Pakusadewo) yang terlihat sukses di Jakarta. Sahat kebetulan lebih intelek karena sempat memenangkan lomba menulis novel tapi tak kunjung mendapat kabar lanjutan, sementara Tigor hanya sopir angkot. Nekad ke Jakarta, ternyata mereka mendapati Sabar pun tak sesukses yang ia pamerkan di kampung halamannya. Ketiganya masih harus bergelut untuk survive di tengah kerasnya hidup Jakarta. Bahkan Sahat yang punya talenta lebih pun harus terjebak dalam ‘lingkaran setan’ politik Jakarta,  Tigor bergelut di dunia underground Jakarta, sementara Sabar menceburkan diri ke proyek-proyek pemerintah yang kental korupsi. Semakin lama semakin dalam mereka bertiga terperosok di dunianya masing-masing, sampai mereka lupa diri dan mencari cara untuk keluar sebelum terlambat.

Mengolok-olok dan mengkritik kehidupan di Jakarta, Dirmawan membekali BdAK dengan dialog-dialog yang renyah dan cerdas. Gaya penceritaan Edo pun sejak awal sudah menarik, apalagi nuansanya tidak dibawa begitu serius, pun juga penonton ditemani pemandangan alam dan musik khas Batak yang begitu eksotis. Namun begitu memasuki Jakarta, penceritaan pun menjadi semakin serius. Ada sesekali humor-humor yang diceletukkan karakter-karakternya, tapi nuansanya jelas berubah menjadi sangat serius, dengan dialog-dialog yang semakin tajam. Sayangnya, 3 karakter utama; Sahat, Tigor, dan Sabar, diceritakan secara terpisah, namun dengan porsi yang saling tumpang tindih. Alhasil tidak ada satu pun yang terasa lebih kuat maupun lebih penting dibanding yang lain. Masing-masing menarik sebenarnya, namun gara-gara porsi yang saling tumpang tindih, dan masing-masing diceritakan dengan cukup bertele-tele (terutama part Tigor), semakin lama penceritaan BdAK menjadi terasa melelahkan. Untung saja ada beberapa punchline dialog kuat di tiap scene yang masih mampu menghibur saya dan film tak sampai jatuh menjadi kelewat depresif. Saya belum pernah menonton versi aslinya, tapi mungkin saja BdAK versi 2015 ini memang sengaja mempertahankan gaya penceritaan aslinya, karena di sini terasa sekali gaya penceritaan drama film Indonesia lawas yang begitu khas.

Kekuatan utama BdAK jelas jajaran cast-nya yang termasuk all-star. Mulai Rio Dewanto, Donny Alamsyah, Tio Pakusadewo, mampu membawakan peran masing-masing dengan begitu hidup dan mampu mengundang simpati penonton. Atiqah Hasiholan pun mampu mengimbangi akting ketiganya dengan cukup kuat. Tak hanya itu, penampilan para cast pendukung yang tak kalah all-star dan menariknya sehingga mampu menjadi scene stealer tersendiri. Mulai Ray Sahetapy, Ria Irawan, Arthur Tobing, Nungky Kusumawati, Remy Silado, Mentari De Marelle, Dayu Wijanto, Ferry Salim, Andre Hehanusa, Amink, Denada Tambunan, hingga Meriam Bellina. Justru penampilan beberapa cameo di sini berhasil menjadi penyegar film, terutama ketika berada di part-part serius.

Bonus lain yang patut diapresiasi dan turut menjadi kekuatan BdAK adalah sinematografi Donny H Himawan Nasution dan Samuel Uneputty yang berhasil mem-framing berbagai set indahnya, mulai keindahan alam Samosir, interior rumah keluarga Sehat dengan warna-warna vibrant-nya, hingga landscape dan underground Jakarta, termasuk bar-bar kelas bawahnya, dengan angle-angle yang cinematically enchanted. Beberapa shot yang tampak seperti direkam menggunakan lensa wide, memberikan varian gambar yang menarik. Tak ketinggalan iringan musik gubahan Viky Sianipar dan Willy Haryadi yang mampu menghidupkan keseluruhan BdAK dengan begitu eksotis dan cukup menggugah emosi.

Di tengah film-film Indonesia lainnya, BdAK yang mengusung budaya Batak dengan sangat kental, menjadi warna yang segar dan menarik. Nikmati saja flow ceritanya dengan santai. Jika tak tertarik oleh dialog dan temanya yang serius, setidaknya Anda masih bisa terhibur oleh shot-shot dan iringan musik yang cantik.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates