Saturday, April 18, 2015

The Jose Flash Review
Birdman: or (The Unexpected Virtue of Ignorance)

Terkadang pasti pernah terbersit pertanyaan dalam pikiran kita, apa kabar yah aktor/aktris favorit kita yang dulu pernah terkenal banget gara-gara suatu peran, tapi sekarang nyaris tidak pernah terdengar kabarnya. Mungkin kita berkhayal mereka pasti sedang menikmati masa pensiun dengan foya-foya, hasil kerja keras mereka saat masih muda. Well, those American Dreams mungkin tidak sepenuhnya terjadi di dunia nyata, di Hollywood sekalipun. Itulah yang coba digambarkan oleh Birdman lewat visualisasinya yang unik.

Birdman bisa jadi sebuah fiksi yang memanfaatkan cukup banyak fakta nyata di Hollywood. Terutama dengan jelas sekali, dengan memasang Michael Keaton sebagai aktor utama. Michael era 90-an pernah populer lewat peran Batman versi Tim Burton. Sama seperti Michael, tokoh Riggan yang ia perankan di sini juga mantan pemeran superhero populer era 90-an bernama Birdman. Lama tak muncul, Riggan rupanya masih belum bisa melepas alter ego Birdman dari dirinya sendiri, sementara sisi lain dari dirinya memberontak ingin keluar dari image Birdman, dengan cara mengusahakan hal lain di Hollywood; menjadi penulis dan sutradara drama panggung. Tekanan tak hanya datang dari diri sendiri, karena rupanya dunia di sekitarnya sudah berubah. Mau tak mau ia terpaksa harus beradaptasi, termasuk dengan putrinya sendiri, Sam.

Melalui kacamata Riggan, kita diajak mengenal Hollywood yang sesungguhnya. Hollywood di belakang layar, di balik segala hingar bingar, kehidupan glamour, dan kespektakulerannya di layar. Mulai efek psikologis seorang aktor yang sudah terlanjur melekat dengan karakter iconic tertentu (bukan tidak mungkin Robert Downey, Jr. atau Hugh Jackman mengalami hal yang sama nantinya), tekanan di dunia showbiz, peran media sosial, hingga hubungan antara penggiat seni dengan kritikus. Semua secara padat dimasukkan ke dalam durasi 2 jam yang seru, menggelitik, dan membuka mata. Dialog-dialog padat namun menggelitik, witty, dan banyak mengandung referensi film-film dan artis-artis nyata menghidupkan sekaligus memberi warna pada film.

Sutradara Alejandro González Iñárritu juga mem-visualisasikan Birdman dengan begitu menarik dan fun. Beberapa adegan fantasi, metafora (namun tetap mudah dipahami), dan berbagai hal yang hanya ada dalam perspektif Riggan turut mewarnai visualisasinya. 

Pergerakan kamera yang membuat adegan seolah-olah one take shot dan tanpa editing sama sekali, turut mendukung nuansa fun dari Birdman. Padahal sebenarnya ada total 16 cut (itu pun sebenarnya sudah termasuk sangat sedikit untuk film berdurasi 2 jam) yang diedit sedemikian rupa sehingga terkesan tetap one take shot. Secara ajaib, kita seolah diajak ‘menguntit’ Riggan sepanjang film, namun dengan pergerakan kamera yang tetap nyaman diikuti. Tak sedikit pun terasa kesan shake atau handheld. Ini semua tak lepas dari kepiawaian Emmanuel Lubezki. Unik, dan memang layak diganjar Oscar.

Adegan yang minim cut membuat para aktor-aktrisnya harus selalu tampil prima di layar agar seminim mungkin mengulang adegan yang cukup panjang. Maka mereka patut mendapatkan apresiasi yang cukup besar. Mulai Michael Keaton yang berhasil memvisualisasikan kondisi psikologisnya dengan begitu hidup ke dalam berbagai adegan nyata maupun fantasi. Edward Norton juga menunjukkan performance yang kuat memerankan karakter Mike, aktor yang perfeksionis dan sering ‘menipu’. Tapi favorit saya adalah Emma Stone yang seperti biasa mengeluarkan aura cerdasnya, namun kali ini dengan emosi yang jauh lebih pas daripada biasanya. Sementara aktor-aktris pendukung lain cukup mendukung sesuai porsi masing-masing, seperti Naomi Watts dan Zach Galfianakis.

Aspek menarik lainnya yang juga menjadi kekuatan Birdman adalah scoring dari Antonio Sanchez. Hanya dengan permainan solo drum dari Antonio yang minimalis, nuansa jazzy dan segala emosi dari film berhasil dihidupkan dan ditransfer kepada penonton. Salah satu score terkuat sepanjang satu dekade terakhir. Sayang Antonio batal di-nominasikan di Academy Awards karena dianggap tidak sepenuhnya sebagai sebuah score.

Secara keseluruhan, Birdman mengajak kita melihat berbagai realita showbiz di Hollywood saat ini dengan cukup lengkap, melalui sebuah pengalaman yang begitu fun, magical, dan sulit untuk dilupakan. Salah satu cinematic experience terbaik dan terunik yang pernah saya rasakan selama ini.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Achievement in Directing - Alejandro González Iñárritu
  • Best Writing, Original Screenplay – Alejandro González Iñárritu, Nicolas Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo
  • Best Achievement in Cinematography – Emmanuel Lubezki
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role – Michael Keaton
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role – Edward Norton
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role – Emma Stone
  • Best Achievement in Sound Mixing – Jon Taylor, Frank A. Montano, Thomas Varga
  • Best Achievement in Sound Editing – Aaron Glascock, Martin Hernandez
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates