It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Wednesday, April 29, 2015

The Jose Flash Review
The Forger

Beberapa bulan belakangan bioskop jaringan terbesar di Indonesia rajin memutar 'film-film gudang '‘tidak jelas’ dari aktor Nicolas Cage. Entah apa yang membuat distributornya masih percaya dengan nama Nicolas Cage untuk menarik perhatian penonton. Aktor yang pernah menjadi aktor kelas A Hollywood, John Travolta, agaknya menjadi komoditas baru bagi distributornya di Indonesia dengan masuknya The Forger. Meski menurut saya, John Travolta punya bintang yang masih cukup bersinar dan berkelas sampai sekarang dibandingkan Nicolas Cage. Apalagi dengan dukungan aktor legendaris Christopher Plummer dan juga Tye Sheridan, mantan bintang cilik yang dikenal lewat perannya di salah satu masterpiece Terrence Mallick, Tree of Life. Tentu nama-nama ini masih menjadi semacam jaminan mutu, meski disutradarai Philip Martin yang sebelumnya belum pernah mengarahkan film layar lebar, serta ditulis oleh penulis naskah yang karyanya belum benar-benar bisa dikatakan bagus, Richard D’Ovidio (Thir13en Ghosts, Exit Wounds, dan The Call). Apalagi The Forger bukan termasuk film mainstream yang didistribusikan secara luas. Premiere-nya saja dilakukan lewat gelaran Toronto International Film Festival, dengan resepsi yang rata-rata negatif.

Dari trailer, poster, dan membaca premise-nya, membuat saya mengira The Forger adalah kisah heist yang seru, menegangkan, sekaligus menggelitik, layaknya Ocean’s Eleven, The Thomas Crown’s Affair, atau Entrapment. Namun ternyata heist hanyalah kendaraan yang digunakan untuk men-drive cerita. Satu jam pertama kita hanya difokuskan pada kisah father and son dari  keluarga Cutter. Baik antara Raymond (John Travolta) dengan putranya, Will (Tye Sheridan), Raymond dengan ayahnya, Joseph (Christopher Plummer), serta Joseph dan cucunya, Will. Dari sini baru kita tahu motivasi karakter utama kita, Raymond, rela berurusan dengan mafia kelas kakap agar bisa keluar penjara lebih cepat. Sampai titik ini saya sempat khawatir kalau-kalau cerita akan bermuara pada tearjerker di akhir. Namun saya berusaha mengikuti dan menikmati alurnya yang ternyata berjalan dengan cukup manis.

Setengah jam berikutnya, barulah kita diajak untuk melihat bagaimana Raymond beraksi mencuri (lebih tepatnya, menukar) lukisan Monet  dari museum. Sempat memberikan sedikit tensi di  bagian ini, namun akhirnya menjadi tidak begitu menarik lagi karena naskah terlalu menggampangkan prosesnya menjadi begitu mulus. Untung saja ending-nya benar-benar tidak menjadi sebuah tearjerker cengeng dan menye-menye. Tenang dan lagi-lagi, cukup manis.

Penampilan John Travolta sebenarnya tidak buruk. Malahan chemistry-nya dengan Tye Sheridan maupun dengan Christopher Plummer terjalin dengan kuat dan hasilnya pun baik. Namun sekali lagi, naskah yang membuat cerita menjadi terlalu simple dan plain, tidak memberikan cukup kesempatan bagi ketiganya untuk membekas dalam benak penonton. Christopher Plummer, seperti biasa, tampil sebagai ayah dengan kharisma yang tinggi, bahkan melampaui kharisma John Travolta sendiri. Sementara di jajaran pemeran pendukung, Jennifer Ehle sebagai Kim, mantan istri Raymond, berhasil mencuri perhatian berkat pesonanya dalam menghidupkan karakter ibu yang pemabuk namun harus tampak sukses di mata anaknya.

In the end, tanpa ekspektasi apa-apa sebenarnya The Forger bisa menjadi pilihan tontonan drama father and son yang menarik dan manis, meski harus rela kalau nantinya jadi cukup mudah dilupakan dalam waktu yang tak begitu lama.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Avengers: Age of Ultron

Awalnya, banyak yang berpikir kesuksesan Marvel dalam memboyong portfolio superhero-nya ke layar lebar adalah karena menjual rights-nya ke banyak studio major, seperti Sony Pictures (untuk Spider-Man), Fox (untuk X-Men, Fantastic Four, Daredevil), Universal (untuk Hulk), dan Paramount (untuk Iron-Man, Thor, dan Captain America). Bandingkan dengan DC Comic yang superhero-nya menunggu giliran cukup lama untuk bisa muncul di layar lebar, karena rights-nya hanya dipegang oleh Warner Bros. Kenyataannya, setelah dibeli oleh Disney, Marvel justru berhasil melesat menjadi raksasa yang sulit untuk ditandingi. Apalagi dengan konsep besar The Avengers yang begitu solid dan punya karakter-karakter yang begitu kuat untuk terus dikembangkan. The Avengers fase pertama berhasil ditutup dengan angka yang begitu fantastis, maka saatnya Marvel meningkatkan level-nya.

The Avengers sebearnya tidak bisa ditonton dan dinikmati hanya sebagai satu film yang berdiri sendiri. Anda pun tetap akan sulit untuk keep up dengan cerita Avengers: Age of Ultron (AoU), bahkan jika Anda hanya nonton seri pertamanya. The Avengers pertama adalah final dari fase pertama, sedangkan fase kedua dimulai dari Iron-Man 3, Thor: The Dark World, Captain America: Winter Soldier, The Guardians of the Galaxy, dan barulah bermuara pada AoU. Maka untuk bisa memahami cerita AoU secara utuh, Anda ‘wajib’ menonton dan ingat detail cerita dari kesemuanya.

Jujur, saya tidak begitu menyukai The Avengers pertama. Saya justru jauh lebih menikmati film yang berdiri sendiri dari masing-masing superhero, ketimbang ‘assemble’-nya. Selain ceritanya yang menurut saya tidak berbobot dan at some point, terlalu kekanak-kanakan, in my taste, Whedon tidak mampu membangkitkan emosi saya lewat adegan-adegan aksinya. Looks spectacular, but didn’t raise my emotional tension a lot. Tapi rupanya, The Avengers pertama memang hanya sebuah introduction dan pemanasan untuk sebuah konsep yang lebih besar dan serius. Saya mulai melihatnya sejak Thor: The Dark World, dan lebih lagi di Captain America: Winter Soldier serta The Guardians of the Galaxy (Iron Man 3 seharusnya masuk juga, tapi nampaknya lebih baik dianggap tidak pernah ada. Toh intinya disampaikan lagi di AoU). Puncaknya, saya menemukan lebih banyak lagi dan lebih mendalam lagi di AoU.

Di AoU, Whedon melebur secuil demi secuil elemen cerita dari masing-masing film superhero yang berdiri sendiri, ke dalam satu pot. Hasilnya digunakan untuk mengembangkan cerita baru yang melibatkan musuh utama di installment ini: Ultron, yang menjadi manifestasi ambisi sekaligus ketakutan Tony Stark sejak Iron Man 3. Whedon memasukkan begitu banyak elemen cerita yang menarik dan lebih dewasa di sini. Mulai dilematis antara ambisi dan ketakutan, sisi monster dalam setiap individu, kemanusiaan above all, dan bahkan menyentil sisi-sisi humanity yang absen di installment-installment sebelumnya. Mulai rahasia Clint Barton alias Hawkeye sebagai manusia biasa, percikan romance antara Bruce Banner alias Hulk dengan Natasha Romanoff alias Black Widow, batas antara menyelamatkan dan menghancurkan kemanusiaan, sampai nilai kemanusiaan yang dijunjung begitu tinggi oleh para jagoan kita, sehingga ketika berperang pun masih mengutamakan keselamatan orang banyak. Sekilas menimbulkan kesan kesemuanya dijejalkan paksa menjadi satu sehingga tidak fokus, tanpa pengembangan yang berarti, dan tanpa penyelesaian pula. Tapi ketika saya menganalisa lebih dalam, kesemua elemen cerita dan detail-detail konflik ini justru bermuara pada satu permasalahan besar yang substansial dan relevan dengan kondisi dunia saat ini. Tak perlu lagi ia terlalu mengembangkan masing-masing konflik terlalu dalam karena sudah dilakukan di installment-installment sebelumnya. Penyelesainnya juga sudah dilakukan meski tak ditampilkan secara gegap gempita dan begitu jelas. Whedon masih tetap membiarkan penonton menginterpretasikan penyelesaian yang dibuatnya. Itulah sebabnya saya berani memuji grand design dari Joss Whedon yang baru terasa luar biasa di sini. Mungkin AoU menjadi tidak begitu memuaskan bagi penggemar komiknya karena perubahan-perubahan yang dibuat, namun bagi penggemar atau penonton yang sekedar mengikuti kisah Marvel Cinematic Universe (MCU), ini jelas sebuah peningkatan yang cukup signifikan. Bagi penonton yang hanya sekedar mencari hiburan ringan dan spektakuler semata khas Marvel, mungkin juga akan merasakan sedikit kelelahan dengan sekian banyak elemen cerita yang dimasukkan Whedon dan durasi yang sampai nyaris dua setengah jam. Tapi tenang saja, meski ceritanya menjadi lebih serius dan gelap, Whedon masih tidak melupakan kemasan yang ceria dan diwarnai humor di sana-sini, khas MCU.

Sayangnya, Joss Whedon masih tetap belum mampu membangkitkan emosi dan tensi saya ketika menyaksikan adegan-adegan aksi yang disajikannya. Well okay, dibandingkan The Avengers, di AoU saya masih sempat sedikit merasakan ketegangan yang sedikit meningkat, dan dibuat melongo oleh kedahsyatan adegan aksinya. Namun secara keseluruhan, AoU masih terasa kurang dalam mempertahankan tensi sepanjang action sequences-nya. Mungkin timing yang terlalu cepat, mungkin juga terasa terlalu chaotic karena melibatkan cukup banyak karakter. Still, looks grande and spectacular, but not breathtaking enough.

Tak perlu lagi mempertanyakan akting pengisi karakter-karakter utamanya. Robert Downey, Jr., Chris Evans, Chris Hemsworth, dan Mark Ruffalo masih mengisi peran masing-masing dengan kapasitas sebagaimana mestinya. Sedikit peningkatan untuk Scarlett Johansson dan Jeremy Renner yang karakternya juga diberi porsi lebih banyak. Elizabeth Olsen dan Aaron Taylor-Johnson yang menjadi karakter baru cukup mampu mencuri perhatian berkat karakter yang ditulis dengan cukup menarik pula. Tak lupa peran James Spader yang mengisi suara Ultron dengan begitu berkharisma sekaligus mengancam, dan Paul Bettany yang mengisi suara Jarvis/ Vision dengan kharisma wisdom yang tak kalah kuatnya.

Whedon tak lupa menampilkan karakter-karakter pendukung yang sempat mengisi MCU sebelumnya, seperti James Rhodes alias War Machine (Don Cheadle), Maria Hill (Cobie Mulders) dari serial SHIELDS, Peggy Carter (Hayley Atwell) dari Captain America: The First Avenger, The Falcon (Anthony Mackie), Heimdall (Idris Elba), Erik Selvig (Stellan Skarsgard), dan tentu saja Nick Fury (Samuel L. Jackson). Kesemuanya menjadikan AoU semacam reuni dari semua seri MCU dengan porsi yang pas, minus Pepper Potts dan Jane Foster.

Di dukungan teknis, tak perlu lagi meragukan visual effect yang terlihat semakin spektakuler, terutama dalam adegan-adegan pertarungan, perubahan Hulk, dan daratan yang terangkat ke langit. Sayangnya tata suaranya tak terdengar sedahsyat visualisasinya. Masih cukup menghidupkan adegan-adegannya sih, hanya saja seharusnya bisa terdengar lebih dahsyat. Fasilitas Atmos pun sepertinya tidak begitu memberikan efek berarti. Di beberapa adegan terdengar efek suara dari kanal-kanal atas, tapi nyaris tidak terasa perbedaannya dengan kanal lainnya.

At last, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, AoU masih layak menjadi tontonan summer movie blockbuster yang spektakuler. Di mata saya, grade-nya meningkat dari fase sebelumnya dan harus saya akui hasilnya memang lebih bagus, namun belum mampu serta-merta membuat saya menjadi ngefans berat dan tergila-gila dengan MCU.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 18, 2015

The Jose Flash Review
Birdman: or (The Unexpected Virtue of Ignorance)

Terkadang pasti pernah terbersit pertanyaan dalam pikiran kita, apa kabar yah aktor/aktris favorit kita yang dulu pernah terkenal banget gara-gara suatu peran, tapi sekarang nyaris tidak pernah terdengar kabarnya. Mungkin kita berkhayal mereka pasti sedang menikmati masa pensiun dengan foya-foya, hasil kerja keras mereka saat masih muda. Well, those American Dreams mungkin tidak sepenuhnya terjadi di dunia nyata, di Hollywood sekalipun. Itulah yang coba digambarkan oleh Birdman lewat visualisasinya yang unik.

Birdman bisa jadi sebuah fiksi yang memanfaatkan cukup banyak fakta nyata di Hollywood. Terutama dengan jelas sekali, dengan memasang Michael Keaton sebagai aktor utama. Michael era 90-an pernah populer lewat peran Batman versi Tim Burton. Sama seperti Michael, tokoh Riggan yang ia perankan di sini juga mantan pemeran superhero populer era 90-an bernama Birdman. Lama tak muncul, Riggan rupanya masih belum bisa melepas alter ego Birdman dari dirinya sendiri, sementara sisi lain dari dirinya memberontak ingin keluar dari image Birdman, dengan cara mengusahakan hal lain di Hollywood; menjadi penulis dan sutradara drama panggung. Tekanan tak hanya datang dari diri sendiri, karena rupanya dunia di sekitarnya sudah berubah. Mau tak mau ia terpaksa harus beradaptasi, termasuk dengan putrinya sendiri, Sam.

Melalui kacamata Riggan, kita diajak mengenal Hollywood yang sesungguhnya. Hollywood di belakang layar, di balik segala hingar bingar, kehidupan glamour, dan kespektakulerannya di layar. Mulai efek psikologis seorang aktor yang sudah terlanjur melekat dengan karakter iconic tertentu (bukan tidak mungkin Robert Downey, Jr. atau Hugh Jackman mengalami hal yang sama nantinya), tekanan di dunia showbiz, peran media sosial, hingga hubungan antara penggiat seni dengan kritikus. Semua secara padat dimasukkan ke dalam durasi 2 jam yang seru, menggelitik, dan membuka mata. Dialog-dialog padat namun menggelitik, witty, dan banyak mengandung referensi film-film dan artis-artis nyata menghidupkan sekaligus memberi warna pada film.

Sutradara Alejandro González Iñárritu juga mem-visualisasikan Birdman dengan begitu menarik dan fun. Beberapa adegan fantasi, metafora (namun tetap mudah dipahami), dan berbagai hal yang hanya ada dalam perspektif Riggan turut mewarnai visualisasinya. 

Pergerakan kamera yang membuat adegan seolah-olah one take shot dan tanpa editing sama sekali, turut mendukung nuansa fun dari Birdman. Padahal sebenarnya ada total 16 cut (itu pun sebenarnya sudah termasuk sangat sedikit untuk film berdurasi 2 jam) yang diedit sedemikian rupa sehingga terkesan tetap one take shot. Secara ajaib, kita seolah diajak ‘menguntit’ Riggan sepanjang film, namun dengan pergerakan kamera yang tetap nyaman diikuti. Tak sedikit pun terasa kesan shake atau handheld. Ini semua tak lepas dari kepiawaian Emmanuel Lubezki. Unik, dan memang layak diganjar Oscar.

Adegan yang minim cut membuat para aktor-aktrisnya harus selalu tampil prima di layar agar seminim mungkin mengulang adegan yang cukup panjang. Maka mereka patut mendapatkan apresiasi yang cukup besar. Mulai Michael Keaton yang berhasil memvisualisasikan kondisi psikologisnya dengan begitu hidup ke dalam berbagai adegan nyata maupun fantasi. Edward Norton juga menunjukkan performance yang kuat memerankan karakter Mike, aktor yang perfeksionis dan sering ‘menipu’. Tapi favorit saya adalah Emma Stone yang seperti biasa mengeluarkan aura cerdasnya, namun kali ini dengan emosi yang jauh lebih pas daripada biasanya. Sementara aktor-aktris pendukung lain cukup mendukung sesuai porsi masing-masing, seperti Naomi Watts dan Zach Galfianakis.

Aspek menarik lainnya yang juga menjadi kekuatan Birdman adalah scoring dari Antonio Sanchez. Hanya dengan permainan solo drum dari Antonio yang minimalis, nuansa jazzy dan segala emosi dari film berhasil dihidupkan dan ditransfer kepada penonton. Salah satu score terkuat sepanjang satu dekade terakhir. Sayang Antonio batal di-nominasikan di Academy Awards karena dianggap tidak sepenuhnya sebagai sebuah score.

Secara keseluruhan, Birdman mengajak kita melihat berbagai realita showbiz di Hollywood saat ini dengan cukup lengkap, melalui sebuah pengalaman yang begitu fun, magical, dan sulit untuk dilupakan. Salah satu cinematic experience terbaik dan terunik yang pernah saya rasakan selama ini.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Achievement in Directing - Alejandro González Iñárritu
  • Best Writing, Original Screenplay – Alejandro González Iñárritu, Nicolas Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo
  • Best Achievement in Cinematography – Emmanuel Lubezki
  • Best Performance by an Actor in a Leading Role – Michael Keaton
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role – Edward Norton
  • Best Performance by an Actress in a Supporting Role – Emma Stone
  • Best Achievement in Sound Mixing – Jon Taylor, Frank A. Montano, Thomas Varga
  • Best Achievement in Sound Editing – Aaron Glascock, Martin Hernandez
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, April 16, 2015

The Jose Flash Review
Bulan di Atas Kuburan (2015)

Tanpa referensi apa-apa, hanya dengan bekal membaca judulnya, pasti banyak yang mengira ini adalah film horor. Tak salah, karena di ranah film Indonesia, image ‘kuburan’ sudah begitu lekat dengan horor. Padahal sebenarnya Bulan di Atas Kuburan (BdAK) adalah sebuah remake dari film berjudul sama tahun 1973 yang disutradarai oleh salah satu sutradara besar Indonesia, Asrul Sani (Lewat Djam Malam, Salah Asuhan, Naga Bonar, Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Titian Serambut Dibelah Tujuh, dan Nada dan Dakwah). Sementara vrsi remake ini naskahnya ditulis oleh Dirmawan Hatta yang sebelumnya kita kenal lewat Toilet Blues dan Optatissimus, dan disutradarai Edo WF Sitanggang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penata suara nominee FFI, seperti di Emak Ingin Naik Haji dan Identitas. Dalam satu dialog di film, ternyata ‘kuburan’ adalah metafora dari orang-orang di Jakarta yang terus membusuk. Ya, BdAK memang film yang menyindir (atau mengolok-olok?) kota Jakarta, tapi dengan sudut pandang universe yang ‘serba-Batak’. Menarik? Tentu saja.

BdAK berkisah seputar 2 pemuda Batak asal Samosir, Sahat (Rio Dewanto) dan Tigor (Donny Alamsyah), yang tergiur oleh iming-iming orang sekampungnya, Sabar (Tio Pakusadewo) yang terlihat sukses di Jakarta. Sahat kebetulan lebih intelek karena sempat memenangkan lomba menulis novel tapi tak kunjung mendapat kabar lanjutan, sementara Tigor hanya sopir angkot. Nekad ke Jakarta, ternyata mereka mendapati Sabar pun tak sesukses yang ia pamerkan di kampung halamannya. Ketiganya masih harus bergelut untuk survive di tengah kerasnya hidup Jakarta. Bahkan Sahat yang punya talenta lebih pun harus terjebak dalam ‘lingkaran setan’ politik Jakarta,  Tigor bergelut di dunia underground Jakarta, sementara Sabar menceburkan diri ke proyek-proyek pemerintah yang kental korupsi. Semakin lama semakin dalam mereka bertiga terperosok di dunianya masing-masing, sampai mereka lupa diri dan mencari cara untuk keluar sebelum terlambat.

Mengolok-olok dan mengkritik kehidupan di Jakarta, Dirmawan membekali BdAK dengan dialog-dialog yang renyah dan cerdas. Gaya penceritaan Edo pun sejak awal sudah menarik, apalagi nuansanya tidak dibawa begitu serius, pun juga penonton ditemani pemandangan alam dan musik khas Batak yang begitu eksotis. Namun begitu memasuki Jakarta, penceritaan pun menjadi semakin serius. Ada sesekali humor-humor yang diceletukkan karakter-karakternya, tapi nuansanya jelas berubah menjadi sangat serius, dengan dialog-dialog yang semakin tajam. Sayangnya, 3 karakter utama; Sahat, Tigor, dan Sabar, diceritakan secara terpisah, namun dengan porsi yang saling tumpang tindih. Alhasil tidak ada satu pun yang terasa lebih kuat maupun lebih penting dibanding yang lain. Masing-masing menarik sebenarnya, namun gara-gara porsi yang saling tumpang tindih, dan masing-masing diceritakan dengan cukup bertele-tele (terutama part Tigor), semakin lama penceritaan BdAK menjadi terasa melelahkan. Untung saja ada beberapa punchline dialog kuat di tiap scene yang masih mampu menghibur saya dan film tak sampai jatuh menjadi kelewat depresif. Saya belum pernah menonton versi aslinya, tapi mungkin saja BdAK versi 2015 ini memang sengaja mempertahankan gaya penceritaan aslinya, karena di sini terasa sekali gaya penceritaan drama film Indonesia lawas yang begitu khas.

Kekuatan utama BdAK jelas jajaran cast-nya yang termasuk all-star. Mulai Rio Dewanto, Donny Alamsyah, Tio Pakusadewo, mampu membawakan peran masing-masing dengan begitu hidup dan mampu mengundang simpati penonton. Atiqah Hasiholan pun mampu mengimbangi akting ketiganya dengan cukup kuat. Tak hanya itu, penampilan para cast pendukung yang tak kalah all-star dan menariknya sehingga mampu menjadi scene stealer tersendiri. Mulai Ray Sahetapy, Ria Irawan, Arthur Tobing, Nungky Kusumawati, Remy Silado, Mentari De Marelle, Dayu Wijanto, Ferry Salim, Andre Hehanusa, Amink, Denada Tambunan, hingga Meriam Bellina. Justru penampilan beberapa cameo di sini berhasil menjadi penyegar film, terutama ketika berada di part-part serius.

Bonus lain yang patut diapresiasi dan turut menjadi kekuatan BdAK adalah sinematografi Donny H Himawan Nasution dan Samuel Uneputty yang berhasil mem-framing berbagai set indahnya, mulai keindahan alam Samosir, interior rumah keluarga Sehat dengan warna-warna vibrant-nya, hingga landscape dan underground Jakarta, termasuk bar-bar kelas bawahnya, dengan angle-angle yang cinematically enchanted. Beberapa shot yang tampak seperti direkam menggunakan lensa wide, memberikan varian gambar yang menarik. Tak ketinggalan iringan musik gubahan Viky Sianipar dan Willy Haryadi yang mampu menghidupkan keseluruhan BdAK dengan begitu eksotis dan cukup menggugah emosi.

Di tengah film-film Indonesia lainnya, BdAK yang mengusung budaya Batak dengan sangat kental, menjadi warna yang segar dan menarik. Nikmati saja flow ceritanya dengan santai. Jika tak tertarik oleh dialog dan temanya yang serius, setidaknya Anda masih bisa terhibur oleh shot-shot dan iringan musik yang cantik.


Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Tuyul Part 1

Genre horor buat saya adalah genre yang menarik di ranah film Indonesia. Beberapa waktu lalu ketika mengantri di loket bioskop, saya mendengar sepasang suami istri yang bertanya kepada petugas loket, “mana yang film horor, Mbak?”. Kebetulan saat itu tidak ada satu pun film horor yang diputar, sehingga saya tidak tahu film apa yang menjadi keputusan mereka untuk ditonton. Intinya, masyarakat kita begitu menggemari horor. Bahkan ketika datang ke bioskop tanpa rencana apa-apa, yang paling dicari pertama kali adalah film horor. Namun bagi sebagian penonton lainnya, film horor Indonesia punya image yang sudah sedemikian buruknya. Sampai-sampai untuk jualan film horor sekarang, filmmakernya harus meyakinkan kalau filmnya tidak pakai bumbu esek-esek. Ya, sebegitu alerginya penonton kita dengan film horor Indonesia, pun juga sekaligus selalu dicari-cari. Terbukti, film horor sesampah apapun tetap punya penonton yang tidak sedikit. Namun tentu saja bukan berarti keadaan ini bisa terus terjadi, jika tidak ingin film horor Indonesia benar-benar tidak punya reputasi sama sekali. Maka film horor yang digarap dengan serius dan benar, tetap perlu ada, sehingga suatu saat berangsur-angsur image-nya terpulihkan. Salah satu upaya itulah yang coba dihadirkan oleh produser Gandhi Fernando lewat Renée Pictures yang sebelumnya pernah menelurkan drama romantis The Right One. Kali ini ia menggandeng sutradara muda, Billy Christian, yang sebelumnya pernah menggarap segmen Kotak Musik di omnibus Hi5teria, 7 Misi Rahasia Sophie, dan yang baru-baru ini menjadi kontroversi, Kampung Zombie.

Di antara ‘koleksi’ tokoh makhluk halus Indonesia, tuyul termasuk yang masih jarang diangkat ke layar lebar, dibandingkan kuntilanak dan pocong. Kalaupun ada, yang paling populer adalah di era 70-an seperti Tuyul, Tuyul Perempuan, dan Tuyul Eh Ketemu Lagi. Maka menilik dari effort tim Tuyul Part 1 yang menampilkan sosok tuyul yang berbeda (yang konon katanya, memang seperti ini tampilan tuyul yang sebenarnya) dan sampai bangunan konsep cerita menjadi 3 bagian, maka rasa penasaran saya semakin meningkat. Lengkap dengan mitos-mitos yang selama ini sering kita dengar tentang tuyul. Hanya ada sedikit kontinuiti cerita yang agak janggal, namun tidak begitu menjadi masalah bagi keseluruhan konsep.

Sebagai film horor, Tuyul Part 1 sebenarnya tidak begitu seram. Mungkin karena kemunculan makhluk tuyul-nya kurang ngeri, atau sepak terjangnya yang kurang ‘mengancam’. Sebenarnya, ia lebih cocok disebut sebagai sebuah thriller. Porsi utamanya adalah adegan-adegan yang membangun tensi menegangkan, bukan jumpscare, penampakan yang mengerikan, ataupun adegan-adegan sadis yang membuat penonton menutup mata. Kalaupun mau disebut horor, ia membangunnya lewat atmosfer dan aspek psikologis, seperti tata artistik dan musik pengiring. Karakter utama yang seorang ibu hamil turut mendukung aspek horor psikologis itu, seperti yang pernah ditampilkan oleh horor klasik Rosemary’s Baby.

Sayangnya, flow ceritanya di awal-awal masih terlalu lambat untuk memuaskan dahaga mayoritas penonton akan santapan horor. Meski demikian, bagi yang lebih menyukai horor atmosferik, Tuyul Part 1 membangun tensinya dengan perlahan namun pasti dan dengan tahapan yang logis, hingga revealing moment yang bikin penasaran. Tak hanya itu, endingnya pun membuat saya langsung membayangkan betapa menariknya arah cerita ini bisa dibawa dan dikembangkan selanjutnya.

Atmosfer horor begitu bergantung pada aspek-aspek teknis yang ternyata digarap dengan serius pula. Terutama dari segi artistik yang mengisi set-set klasiknya, dan scoring dari Andhika Triyadi yang menggabungkan score horor klasik dengan musik tradisional sehingga menghasilkan nuansa mengerikan bercita rasa lokal. Make-up makhluk Tuyul dan efek-efek lain pun digarap dengan serius sehingga tampak begitu meyakinkan dan hidup di layar.

Salah satu faktor pendukung suasana horor adalah cast-nya. Dinda Kanya Dewi yang selama ini kita kenal sebagai karakter antagonis di Cinta Fitri, kali ini tampil memukau sebagai calon ibu yang khawatir dengan kondisi janinnya sekaligus ketakutan dengan kejadian-kejadian yang terjadi di sekitarnya. Ia mampu me-manage emosi dengan sangat baik untuk ditampilkan tanpa terasa overacting. Begitu juga dengan Inggrid Widjanarko dan Citra Prima yang karakternya termasuk typical di ranah film horor kita, yang ternyata cukup pas dibawakan sesuai porsi masing-masing. Sayang sekali, Gandhi Fernando (the producer himself) yang memerankan karakter Daniel, suami Mia, masih kurang mampu mengimbangi Dinda, terutama di menjelang akhir di mana dibutuhkan turnover character yang begitu kuat untuk adegan sepenting itu. Untung saja tak sampai mencederai bangunan konsep cerita yang sudah dibangun dan ditata dengan rapi.

Well, Tuyul Part 1 bagi saya mungkin tidak menjadi horor yang menyeramkan. Selain dasarnya saya tidak mudah ditakut-takuti oleh film, ada alasannya mengapa horornya tidak begitu berhasil bagi penonton pecinta horor kita. Namun lebih dari itu, ia menawarkan konsep cerita yang menarik, yang jarang dimiliki horor lokal kita. Jujur, rasa penasaran saya justru semakin memuncak di akhir part 1 ini. Menurut rencana, part 2 akan mengambil setting 30 tahun sebelum part 1, dan part 3 dengan setting 7 tahun setelah part 1. In my opinion, ini akan menjadi semakin menarik. Semoga saja proyeknya berjalan lancar dan kemampuan Billy (atau sutradara lain yang nantinya di-hire untuk menangani part-part berikutnya) semakin terasah dalam menghadirkan adegan-adegan horor yang berhasil.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Guru Bangsa Tjokroaminoto

Nama Garin Nugroho memang sudah berada di salah satu posisi puncak sutradara Indonesia. Apalagi namanya begitu dikenal di perfilman internasional, sampai-sampai ada penghargaan khusus yang menggunakan namanya. Namun seringkali karyanya tidak begitu bisa dinikmati oleh penonton kita, terutama dengan pendekatan khasnya yang ‘beda’. Saya masih ingat betul bagaimana begitu banyak penonton yang bingung dengan interpretasinya atas biopic Soegija tahun 2012 lalu. Meski didukung teknis yang luar biasa, penceritaan yang lebih banyak pada tokoh-tokoh fiktif di sekitar karakter sentral, membuat penonton mengernyitkan dahi. Apa-apaan ini? Wajar jika ‘trauma’ itu kembali muncul ketika Garin kembali dipercaya menggarap biopic lagi. Kali ini adalah proyek biopic dari H.O.S. Tjokroaminoto, salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang mempelopori pergerakan nasional.

Ternyata, kali ini Garin tidak terlalu ‘bereksperimen’ dalam menuangkan kisah Tjokroaminoto. Seperti layaknya biopic tokoh sejarah Indonesia, seperti Soekarno, dan Sang Pencerah, si tokoh utama tetap diletakkan sebagai sentral cerita. Meski dengan narasi yang lompat-lompat ke sana kemari, Guru Bangsa Tjokroaminoto (GBT) masih bisa dengan mudah dicerna dan dipahami. Garing memang tak memfokuskan GBT pada perjalanan hidup seorang Tjokroaminoto, tapi pada pemikiran-pemikiran dan reaksinya terhadap berbagai kejadian yang terjadi di sekitarnya. Mulai ketika Tjokroaminoto mendapatkan ilham tentang hijrah, proses pencarian makna hijrah itu sendiri, hingga pada perpecahan organisasi Sarekat Islam yang didirikannya. Maka tak heran jika Anda tak akan begitu merasakan chemistry suami-istri yang begitu kuat antara Tjokroaminoto dan istrinya, Suharsikin, meski sang istri digambarkan begitu setia mendukung perjuangan suaminya. Tak begitu terasa pula bagaimana anak-anak Tjokroaminoto. Sebaliknya, kita akan bertemu orang-orang penting di balik perjuangannya, seperti Agus Salim, Semaoen, Musso, dan Koesno alias Soekarno muda.

Pemikiran-pemikiran H.O.S Tjokroaminoto tidak selalu secara mentah-mentah disampaikan di sini. Ada kalanya juga Garin memasukkan interpretasi bebas-nya agar relevan dengan kondisi saat ini. Seperti misalnya tentang perbedaan ideologi politik (termasuk politik sosialis), sehingga seolah-olah Tjokroaminoto punya pemikiran yang liberal, atau pemikiran Tjokroaminoto tentang etnis Tionghoa dan pribumi yang diadu domba Belanda. Tidak ada yang salah, karena memang cukup beralasan dan berdasar.

Seperti halnya Soegija, Garin juga memunculkan karakter-karakter fiktif untuk menyampaikan pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto, seperti Stella yang mempertanyakan banyak hal, Bagong, si tukang penjual kursi, dan penyanyi opera yang juga menjadi penggerak cerita  yang menjadi semacam narator background cerita. Tak lupa pula Garin membubuhkan signatural-nya untuk ‘mempercantik’ sekaligus menjadi penghubung antar adegan yang menghibur; adegan-adegan teatrikal yang melibatkan musik dan koreografi yang sangat indah.

Kendati demikian, durasi yang 161 menit tentu saja terasa begitu panjang, meski harus diakui sebenarnya belum cukup untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang sosok H.O.S. Tjokroaminoto. Dengan tata adegan yang masih terasa seperti kumpulan fragmen yang berdiri sendiri-sendiri, ditambah alurnya yang maju-mundur, GBT tidak selalu terasa nyaman untuk diikuti. Wajar jika sesekali Anda merasakan kelelahan atau bosan. Tapi secara keseluruhan GBT menawarkan sebuah biopic dengan konsep cerita yang terarah.

Keberhasilan GBT yang utama adalah dukungan cast yang cukup banyak, all-star, dan secara keseluruhan tampil memikat. Tak hanya cast utama dan pendukung, bahkan sampai figuran-figurannya pun tampil begitu hidup di layar. Sekali lagi Reza Rahadian membuktikan diri bahwa dirinya bisa memerankan karakter apa saja. Beban porsi terbesar dalam film sudah bukan hal yang sulit lagi baginya. Sulit membayangkan tokoh H.O.S. Tjokroaminoto diperankan oleh aktor lain. Selain berhasil menunjukkan kharisma yang luar biasa, Reza juga cukup baik dalam melafalkan bahasa dan dialek Jawanya. Tak selalu tedengar kental, namun setidaknya sama sekali tidak terdengar dipaksakan. Pendatang baru Putri Ayudya yang memerankan Soeharsikin, istri Tjokroaminoto, berhasil pula mengimbangi akting kuat Reza. Ibnu Jamil terasa semakin matang dalam memerankan karakter serius. Tanta Ginting sebagai Semaoen, seperti perannya di Soekarno, tetap menunjukkan kharisma yang kuat.

Di jajaran cast pendukung, ada Chelsea Islan yang meski di awal-awal film karakternya cukup mengganggu karena terlalu banyak bertanya, mampu menunjukkan akting emosional dengan natural dan tidak meledak-ledak seperti peran-peran  yang ia mainkan sebelumnya. Sementara Christine Hakim, Sujiwo Tedjo, Maia Estianty, Didi Petet, dan Alex Abbad, mampu menarik perhatian secara pas meski porsinya sangat sedikit. Namun scene stealer yang paling ‘menghibur’ sepanjang film adalah Unit dengan karakter Mbok Tun-nya celetukan-celetukannya menggelitik.

Kekuatan lainnya yang jelas terasa adalah teknis yang digarap dengan maksimal. Mulai sinematografi  Ipung Rachmat Syaiful, tata artistik yang begitu detail dan cantik, mulai setting lokasi, kostum, dan properti, apalagi untuk adegan-adegan teatrikalnya. Pemilihan musik-musik pendukung yang relevan dengan cerita, seperti Surabaya Johnny dan lagu-lagu legendaris yang pernah dibawakan oleh Wieteke van Dort, macam Terang Boelan dan Burung Kakatua.

Jika biopic sejarah Indonesia lainnya berpotensi jatuh menjadi semacam buku sejarah yang divisualisasikan, GBT memang tak sampai jatuh sedatar dan semembosankan itu. Memang, sekali lagi harus punya banyak adegan pidato untuk menyampaikan pemikirannya, namun secara keseluruhan, Garin masih mampu mengemasnya menjadi lebih menarik dan divisualisasikan dengan epic. Pun juga tetap informatif, bahkan sampai pada tokoh-tokoh yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran Tjokroaminoto.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Filosofi Kopi The Movie

Dee atau Dewi Lestari sudah menjadi semacam brand tersendiri di dunia sastra modern Indonesia. Karya-karyanya baik berupa novel maupun cerpen memang punya materi yang menarik, dengan referensi-referensi cerdas nan luas, dan kemasan pop yang mudah dicerna. Tak heran jika sinema kita rajin untuk mengadaptasi karya-karya tulisnya ke layar lebar, meski hasilnya seringkali di bawah ekspektasi.

Filosofi Kopi (FK) adalah salah satu cerpen yang termuat dalam buku kumpulan cerpen Dee berjudul sama. Seperti halnya Madre yang sudah lebih dulu diadaptasi ke layar lebar oleh Benni Setiawan. Tak mudah mengadaptasi cerpen, karena memang butuh banyak pengembangan untuk memenuhi standard durasi film panjang. Belum lagi berurusan dengan penggemar fanatik yang menuntut sama persis dengan versi aslinya. Padahal menurut saya, versi tulis dan film harus berbeda, supaya bagi pembaca aslinya pun tetap dibikin penasaran dengan experience yang ditawarkan filmnya. Kalau sama saja, buat apa sekedar transfer medium?

Berbeda dengan Madre yang diadaptasi menjadi ‘just another light romance’, FK membawa karya tulis Dee ke level yang jauh di atasnya, oleh tim, yang menurut saya, sangat tepat. Digarap oleh Visinema, dengan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang setahun sebelumnya sudah sukses membawa pulang banyak sekali penghargaan untuk Cahaya dari Timur: Beta Maluku, ada banyak hal dari cerpennya yang dikembangkan menjadi jauh lebih menarik, kaya, bahkan jauh lebih mendalam. Tak hanya itu, versi filmnya saya rasa juga berhasil mengembangkan FK menjadi franchise yang kuat, seperti kedai kopi dan berbagai merchandise-nya.

Jika FK versi cerpen berbicara tentang makna kesempurnaan dan perubahan psikologis dari seorang yang merasa paling hebat setelah dikalahkan oleh sesuatu yang sederhana, maka FK versi film meng-improve dengan banyak materi. Mulai bromance yang saling melengkapi; antara kepala dan hati, perbedaan obsesi dan cinta, belajar move on dari kehilangan, berdamai dengan diri sendiri, hingga sindiran fenomena generasi digital saat ini, seperti fakir wi-fi dan foodblogger yang lebih doyan memotret makanan dan minumannya ketimbang menikmatinya secara langsung. Dan tak ketinggalan jargon-jargon dan filosofi-filosofi di balik dunia perkopian yang diselipkan dengan menarik dan sangat informatif. Karakteristik yang tak begitu dijelaskan di cerpennya, turut mendapatkan treatment yang sangat detail di sini dan pas dengan kebutuhan cerita, seperti misalnya Jody dibuat beretnis Tionghoa yang pas dengan karakternya yang seringkali hanya memikirkan cuan (untung). Dari sini, jelas FK menyuguhkan sebuah paket bergaya pop yang ringan namun padat.

Namun bukan berarti flow cerita-nya bisa berjalan dengan mulus. Di babak pertama, ketika baru memunculkan konflik utamanya, flow FK memang terasa begitu enak dinikmati. Pertentangan antara Jody-Ben ditampilkan dengan asyik, kocak, namun tetap terasa kuat. Ketika babak berikutnya dimulai, yaitu ketika para karakter utamanya mulai membuka luka batinnya, flow-nya terasa sedikit mengendur. Menarik sih, tapi jujur, part ini terasa agak menjemukan. Terutama ketika masing-masing karakter yang menceritakan masa lalu masing-masing secara verbal. Belum selesai sampai di situ, part berikutnya yang mengubah karakter Ben sekali lagi harus terasa begitu lambat. Untung saja part-part ini tidak berlangsung begitu lama dan tidak sampai jatuh menjadi bertele-tele, hingga akhirnya diakhiri dengan konklusi yang sangat memuaskan. Uniknya, in second view, part-part yang bagi saya terasa lambat ini, justru jadi terasa jauh lebih enak dinikmati, apalagi dengan meresapi emosi-emosi dari tiap karakter yang disajikan di layar.

Kemudian kepadatan naskah mampu diterjemahkan dengan begitu maksimal oleh Angga. Tak hanya berhasil menghidupkan tiap emosi, mulai ceria hingga haru, tapi juga yang terpenting membuat penonton membayangkan betapa harum dan enaknya kopi-kopi yang disajikan di layar. Tugas penting untuk film kuliner macam ini, namun Angga berhasil menampilkannya dengan maksimal. Bahkan penonton yang bukan pecinta kopi pun pasti bisa membayangkan nikmatnya kopi-kopi di layar sesuai dengan imajinasi masing-masing.

Kekuatan yang sangat mendukung naskah FK yang sudah begitu kuat adalah penampilan dari para aktornya. Chicco Jericho sekali lagi membuktikan bahwa dirinya layak disejajarkan dengan aktor layar lebar papan atas Indonesia lainnya. Kemumpunian aktingnya terasa begitu jelas, terutama ketika karakter Ben yang awalnya sangat laid back, easy going, nggak mikir apa-apa, berubah 180 derajat di babak selanjutnya. Tak hanya mampu menerjemahkan kedua karakteristik ini dengan believable, namun juga menampilkan transisi yang sangat mulus dan realistis. Tak kalah juga karakter Jody yang diperankan oleh Rio Dewanto. Jika biasanya sering kebagian peran serius dan keras, kali ini Rio membuktikan bisa juga memerankan karakter yang tetap serius namun sedikit komikal. Sirna sudah image keras yang selama ini menempel pada dirinya. Julie Estelle yang memerankan karakter yang tidak ada di versi cerpennya, juga mampu mengimbangi keduanya dengan porsi yang pas. Lebih dari sekedar pemanis (yang memang berhasil membuat film terasa lebih manis), Julie  membuat karakter El berhasil menjadi pendorong cerita di babak kedua.

Di deretan pemeran pendukung, Ronny P. Tjandra, Jajang C. Noer, Slamet Rahardjo, dan Otig Pakis, seperti biasa mampu menarik perhatian sesuai porsinya masing-masing. Sementara scene stealer tentu saja Tara Basro dengan lirikannya yang tempting, Tata Ginting dengan gesture ngondek-nya, dan Joko Anwar yang menggelitik lewat celetukan-celetukannya.

Tak ketinggalan aspek teknis yang juga digarap dengan serius. Terutama sekali sinematografi Robie Taswin yang sukses membingkai tata artistik yang serba cantik. Mulai interior kafe Filosofi Kopi, rumah pelelangan kopi, rumah Jody,  hingga perkebunan Pak Seno. Sayang efek shaky kamera di beberapa shot terasa sangat mengganggu. Terasa dibuat-buat, tidak natural, dan akibatnya agak bikin pusing. Untungnya tidak begitu sering terjadi.

Dukungan musik pun turut mewarnai FK secara maksimal. Mengiringi berbagai adegan emosional menjadi lebih terasa kuat, sementara di bagian lain memberi nuansa nyantai, sejuk, sekaligus hangat di keseluruhan bagian film. Mulai dari Maliq & D’Essentials, Glenn Fredly, Monita, Is Payung Teduh, Gilbert Pohan, hingga Dee sendiri.

Dengan berbagai dukungan berbagai aspek yang serba mumpuni, FK jelas sebuah sajian pop yang sangat enak dinikmati, dengan berbagai esensi dan emosi yang begitu kuat disematkan. Terasa sekali dibuat dengan passion akan kopi dan hati manusia. Sebuah experience yang bahkan tetap enak dinikmati berkali-kali.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, April 6, 2015

The Jose Flash Review
Melancholy is a Movement

Sebagai salah satu sineas Indonesia yang (talk-)active di sosial media, siapa saja bisa dengan mudah mengenali kepribadian seorang Joko Anwar. Termasuk juga mengenal siapa saja yang berada di circle pertemanannya. Mulai Upi (sutradara Realita, Cinta, Rock n Roll, Serigala Terakhir, dan Belenggu), Bubu alias Nazyra C. Noer (putri aktris senior Jajang C. Noer yang juga sering jadi pemeran pendukung di banyak film Indonesia), Ario Bayu, Amink, Fachri Albar, Renata Kusmanto, Karina Salim, Hannah Al Rashid, Lance (sutradara Jakarta Undercover dan Cinta Silver), sampai HB Naveen (produser Falcon Pictures).  Just follow his twitter account, and voila! Everything’s there. Anda pun bisa dengan mudah memahami carut marut dunia perfilman Indonesia hanya dari kicauannya. Richard Oh, sineas yang tahun 2006 lalu menelurkan karya layar lebar pertamanya, Koper, merangkum ‘kehidupan’ seorang Joko Anwar ke dalam sebuah film ‘unik’ bertajuk Melancholy is a Movement (MiaM).

Tentu saja tidak mentah-mentah kisah nyata. Berlawanan dengan sosok Joko yang kita kenal selama ini; talkactive, ceria, dan humoris, Joko di MiaM justru digambarkan sebaliknya; pendiam, murung, melankoli, dan kaku. Richard membumbui filmnya dengan berbagai kejadian fiktif dan terkadang juga terkesan metaforik. MiaM sebenarnya lebih merupakan sketsa yang menyindir berbagai hal (atau sebenarnya hampir semua permasalahan?) yang terjadi di dunia perfilman Indonesia, dengan jokes-nya yang satire. Mulai dari isu idealisme vs selera pasar, proses kreatif seorang sineas, trend tema ‘inspiratif’ di sinema kita, proyek yang bisa saja berhenti di tengah-tengah karena masalah budget maupun ‘rahasia’, sampai film arthouse dengan adegan-adegan statis yang membuat penonton berpikir ada ‘sesuatu’ yang disebut Joko sebagai ‘deep, deep, gimana gitu’. Nah, isu yang terakhir inilah yang menarik, karena Richard justru menggunakan gaya penceritaan dan visualisasi seperti itu untuk MiaM. Tak heran jika Anda akan menemukan long take sebuah ruangan, padahal karakter Joko sedang bikin kopi di ruangan lain, atau hanya sekedar melihat Joko kesana kemari membersihkan ruangan dengan vacuum cleaner. Most of the audience, terutama yang tidak paham, mungkin akan berpikir MiaM adalah film yang absurd. Sebagian penonton lain mungkin juga akan berpikir lebih keras untuk ‘menerjemahkan’ adegan itu. As for me, adegan-adegan panjang itu hanyalah untuk menggambarkan nuansa melankoli dari karakter Joko. That’s why its title was Melancholy is a Movement. Tak perlu terlalu long take juga sih, tapi ya begitulah ‘gaya’ yang dipilih oleh Richard. Atau long take ini juga bagian dari sindiran MiaM sehingga terkesan ‘ultimate mock’? Bisa jadi juga sih.

Richard rupa-rupanya ingin curhat tentang pengalamannya sebagai seorang sineas di negeri ini. Mungkin juga Richard ingin menunjukkan bahwa suatu sikap melankoli yang terkesan ‘tidak ngapa-ngapain’ juga merupakan sebuah gerakan. Setidaknya suatu gerakan kreatif dari seseorang hingga menghasilkan karya yang diminati banyak penonton, meski tidak sesuai idealisme sendiri. Setidaknya, begitulah interpretasi saya pribadi atas film dan juga judul Melancholy is a Movement.

Tentu saja semua yang ditampilkan di sini sah-sah saja, namun tidak bisa ditampik bahwa efeknya bakal sangat-sangat segmented. Berbagai sketsa isu dan jokes menggelitik-nya hanya bisa dipahami mereka-mereka yang aktif mengikuti perkembangan film Indonesia, atau setidaknya aktif mengikuti twitter Joko Anwar. MiaM pun tak terlalu peduli dengan detail cerita, hingga penonton dibiarkan melongo penasaran ada rahasia apa antara Joko dan Ario Bayu di akhir film. Well, setelah memikirkannya lebih jauh, saya berkonklusi sia-sia saja mencoba memikirkannya, karena Richard memang tak berniat untuk menjelaskan ada rahasia apa. Ia mungkin hanya ingin menunjukkan bahwa suatu proyek bisa saja dihentikan hanya karena hal demikian. That’s it.

Meski punya beberapa joke menghibur, secara keseluruhan MiaM harus diakui sulit untuk dinikmati, tapi bukan berarti mustahil bisa cukup lama berkesan dalam ingatan. Untung saja sinematografi dari Yunus Pasolang berhasil membingkai tiap adegan (termasuk adegan-adegan statis sekalipun) menjadi gambar-gambar bergerak yang begitu cantik dan indah.

My advice, tak perlu buang-buang tenaga untuk berusaha menginterpretasi tiap adegannya yang tak jarang ‘ajaib’. Sebenarnya tak ada yang benar-benar merupakan metafora. Semuanya ditampilkan apa adanya, dengan bingkai nuansa “melankolis” sebagai kuncinya. Nikmati saja beberapa joke yang cukup jadi hiburan segar di tengah sunyinya film. Syukur-syukur kalau Anda tidak sampai ketiduran atau tak tahan ingin walk out lebih dulu. It’s ok, it is not for everyone anyway. I’m sure Richard understand this and won’t expect a lot of audience will bother to see and appreciate this.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, April 4, 2015

The Jose Flash Review
Furious 7 (The Fast and the Furious 7)

Bahkan produser Neal H. Moritz mungkin tidak akan menyangka kalau film dengan premise sesederhana The Fast and the Furious di tahun 2001 bisa menjelma menjadi salah satu franchise terbesar, tidak hanya bagi Universal Pictures, tapi juga di antara film-film produksi Hollywood lainnya. Kesuksesan franchise ini tak lepas dari kekuatan tim para aktor-aktrisnya yang begitu solid sehingga mudah dicintai banyak orang, dan tentu saja penulis naskah yang berhasil mendaur ulang premise yang sama menjadi cerita yang selalu menarik, serta kreator adegan-adegan gila pemacu adrenalin di setiap serinya. Tak terasa sekarang sudah sampai seri ketujuh.

Ada yang istimewa di seri ketujuh ini. Ya, apalagi kalau bukan kejadiaan naas yang merenggut nyawa salah satu aktor pengisi peran kunci di franchise ini, Paul Walker, di tengah-tengah produksi. Otomatis produksi sempat tertunda dan naskahnya ditulis ulang dan dimodifikasi untuk mengakali adegan-adegan yang belum sempat diselesaikan Paul. Namun seperti biasa, mau tidak mau harus diakaui bahwa kematian salah satu aktor pendukung bisa jadi salah satu bahan publisistas dan juga promosi. Singkatnya, penggemar dan penonton baru akan semakin berbondong-bondong sekedar untuk ikut menjadi bagian dari tribute terakhir sang aktor.

Namun sebenarnya Furious 7 (F7) sudah punya modal yang cukup untuk menarik lebih banyak massa. Dukungan sutradara yang berpindah tangan dari Justin Lin (yang sudah menggarap franchise ini sejak seri ke-3 sampai 6) ke James Wan (sutradara asal Malaysia yang dikenal sejak debutnya, Saw, franchise Insidious dan The Conjuring) terbukti mampu memberikan penyegaran baru kepada franchise.

Di atas kertas, plot yang ditawarkan F7 sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru. Tidak hanya sekedar daur ulang plot, tapi juga perpanjangan dari seri ke-6. Naskahnya pun sebenarnya tidak sekuat seri-seri sebelumnya. Alhasil kehadiran karakter villain, Deckard Shaw jadi terasa kurang penting selain sekedar untuk mengintimidasi kru Toretto. Begitu juga Jakande dan Mr. Nobody yang semakin terasa kurang penting selain sekedar 'hiasan'. Unsur yang paling menarik mungkin hanya Letty yang mencoba mengingat semua masa lalunya, bridging dengan Tokyo Drift yang cukup mulus, dan nuansa kekeluargaan yang semakin diperkuat terutama melalui dialog. 

Bagi sebagian penonton mungkin sudah bosan dengan istilah “one last job” yang selalu diucapkan karakter utamanya, tapi jujur deh, sebenarnya deep down inside, yang sebenarnya selalu Anda tunggu-tunggu dan ingin terus disaksikan adalah adegan-adegan gila yang bikin menahan nafas serta memacu adrenalin, lagi dan lagi, bukan? Memang itu formula jualan utama franchise F7 yang selalu berhasil. Jujur, meski adegan-adegan aksi di F7 tidak semenegangkan seri-seri sebelumnya, tapi harus diakui stunt performance di sini semakin gila, dengan dosis yang semakin banyak, serta semakin mustahil namun berhasil tampil sangat convincing (we call it cinematic magic!), dan tetap terasa mengasyikkan. Tentu ini tak lepas dari pengaruh James Wan yang memberikan ‘bahan bakar’ segar lewat penyutradaraan dan camera work yang dinamis, serta adegan-adegan keren lain yang tanpa henti ditampilkan. Very intense, very loud, and that’s made the max of the cinematic experience you always want for more.

Above all, pengaruh James Wan juga semakin positif dengan treatment tribute yang sangat-sangat bagus dan cerdas untuk Paul Walker. Pertama, bantuan CGI untuk menyempurnakan stunt double dari kedua adik Paul, Cody dan Caleb Walker untuk sampling gesture dan sorot mata. Beberapa adegan tampak nyata, sementara ada juga yang terlihat jelas bedanya, terutama dari segi postur tubuh. Namun best part-nya adalah, alih-alih mematikan karakter, ia membuat karakter Brian O’Connor tetap hidup, ditampilkan dengan adegan farewell yang begitu poetic, dibumbui dialog, adegan-adegan flashback, dan music (tak heran jika lantas lagu See You Again dari Wiz Khalifa dan Charlie Puth jadi hits di mana-mana), menjadikan endingnya kekuatan tersendiri bagi seri ini. Sebagai salah satu fans yang mengikuti kesemua serinya, treatment tribute dari Wan untuk Walker ini membuat saya sedih, merinding karena kepergian Paul, namun sekaligus membuat ikhlas melepas kepergiannya dengan senyum bahagia. Sungguh merupakan sebuah treatment tribute yang sangat menjunjung tinggi penghormatan terhadap karakter dan si aktor sendiri. Yes, kematian Paul Walker memang berhasil mengundang penonton berbondong-bondong ke bioskop, tapi sama sekali tidak terasa seperti sebuah eksploitasi. Salute to the team, especially James Wan.

Kekuatan lain yang terus dikembangkan di franchise ini adalah penambahan aktor-aktris legendaris dan/atau populer yang turut meramaikan. Selain Jason Statham yang sudah sempat muncul sebagai hint di Furious 6, kali ini hadir pula aktor legendaris Kurt Russell, Djimon Hounsou, bintang Ong Bak legendaris, Tony Jaa, bintang serial Game of Thrones, Nathalie Emmanuel, petinju UFC wanita, Ronda Rousey, sampai Iggy Azalea.


Anyway, sejauh saya menuliskan review ini memang belum ada berita tentang kelanjutan franchise ini. Di film pun ditunjukkan seolah-olah seri ketujuh ini sebagai seri terakhir dari franchise. Namun, when money talks, we’ll never know. Merujuk dari endingnya, kemungkinan terbesar adalah sebuah spin-off tentang petualangan karakter Dominic Toretto. Who knows? Let’s just wait and see.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates