Tuesday, March 24, 2015

The Jose Flash Review
The Divergent Series: Insurgent

Di tengah maraknya novel young adult bertema dystopian, Divergent karya Veronica Roth berhasil mengikuti kesuksesan seri The Hunger Games yang juga diproduksi oleh Lions Gate, hanya saja Divergent dikerjakan oleh salah satu anak perusahannya, Summit Entertainment. Mengumpulkan US$ 288 juta lebih di seluruh dunia, tak perlu menunggu lama bagi Summit memutuskan melanjutkan franchise-nya. Tak tanggung-tanggung, Insurgent diberi kucuran dana yang lebih besar, yaitu sekitar US$ 110 juta. Bahkan bagian pamungkasnya, Allegiant, mendapatkan treatment yang sama seperti franchise Harry Potter, The Twilight Saga, dan The Hunger Games, yaitu dibagi menjadi 2 bagian. Tentu saja yang terakhir adalah upaya untuk memperpanjang usia franchise sehingga bisa menghasilkan lebih banyak pundi-pundi.

Insurgent punya formula yang kurang lebih sama dengan franchise sejenis. Tak hanya itu, treatment adegannya pun tak jauh berbeda. Dibuka dengan sebuah adegan mimpi, penambahan karakter-karakter baru yang mungkin mengejutkan dan punya pertalian dengan karakter utama, dan juga revealing rahasia yang selama ini disembunyikan oleh karakter utama, namun masih punya goal utama yang tetap. Insurgent has it all. Tidak ada yang baru. Bisa jadi menarik jika disampaikan dengan menarik pula. Terutama sekali dilematis moral yang dialami Tris, yang realistis dan menarik untuk diangkat. Sayangnya sutradara Robert Schwentke (RED, R.I.P.D.) masih kurang luwes dalam bercerita. Alhasil  storyline Insurgent berjalan begitu saja, tanpa emosi yang berarti, sehingga menjadikan film secara keseluruhan kurang terasa hidup. Belum lagi banyak kejadian yang terasa begitu bertele-tele dan seperti pengulangan semata. Sedikit melelahkan untuk diikuti, apalagi dengan cerita yang sudah formulaic.

Namun Summit paham betul bagaimana men-treat sebuah sekuel sehingga terasa lebih megah daripada sebelumnya. Ya, dana yang lebih besar tentu saja digunakan untuk lebih banyak adegan dengan visual effect bombastis. Benar saja, ada banyak adegan yang ditampilkan sangat spektakuler, terutama simulasi kesemua faksi yang harus dilalui Tris untuk menguji divergent level-nya. Adegan-adegan aksi yang terutama melibatkan Tris dan Four, karakter utama kita, juga punya level dan kadar yang meningkat. Sangat intens dan thrilling. Setidaknya part ini berhasil menghibur dan cukup membayar kelemahan storytelling-nya.

Shailene Woodley tak begitu mengalami perkembangan akting dari seri sebelumnya, namun ini bukan berarti buruk karena ia sudah memulainya dengan cukup bagus. Begitu juga pria-pria yang sebagian pernah menjadi pasangannya di film lain, mulai Theo James, Ansel Elgort, sampai Miles Teller. Kate Winslet masih punya kharismatik yang sama sebagai karakter antagonis Jeanine. Tapi karakter baru yang berhasil mencuri perhatian adalah Evelyn yang diperankan oleh aktris papan atas lainnya, Naomi Watts. Dengan kharisma yang setara Kate (dan juga Julianne Moore di franchise The Hunger Games), karakter yang diperankan Naomi seharusnya bisa jadi perhatian yang menarik untuk digali di seri berikutnya.

Dukungan soundtrack yang memenuhi seri pertamanya juga masih mendukung di seri ini, terutama M83. Sayangnya sepanjang film, tak satupun lagu yang digunakan untuk mengiringi adegan. Lagu-lagu ini hanya diputar saat credit title. Itu pun ternyata lagu-lagunya tidak se-ear catchy di seri pertama. Untung saja score dari Joseph Trapanese cukup mampu sedikit mewarnai nuansa intensitas film.

Tak hanya visual effect yang dilipat gandakan, tata suara pun mendapatkan peningkatan yang cukup signifikan. Apalagi dengan memanfaatkan fasilitas Dolby Atmos yang mampu menghasilkan suara yang lebih detail dan efek surround yang lebih hidup.

In the end, meski punya storyline yang sudah formulaic, Insurgent sebenarnya menggali lebih dalam isu pembagian manusia dalam faksi-faksi. Bahkan ia juga menjelaskan tujuan pembagian faksi-faksi. Karakter Tris juga mendapatkan perkembangan yang cukup menarik. Sayang storytelling yang bertele-tele tak mampu memoles maupun menutupi elemen-elemen cerita yang menarik ini. Untung saja akhirnya bisa sedikit terbayar dengan tampilan visual yang megah dan adegan-adegan aksi yang mendebarkan, sehingga hasil akhirnya bisa cukup menghibur. Kita lihat saja bagaimana jadinya Allegiant yang malah dibagi menjadi 2 bagian. Apakah akan mengulang kesalahan The Hunger Games: Mockingjay Part 1 yang terasa tak punya perkembangan cerita berarti dan terkesan membosankan karena harus dibagi menjadi 2 bagian? Let’s see in incoming years!


Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates