Tuesday, March 17, 2015

The Jose Flash Review
Cinderella (2015)

Siapa yang tidak kenal Cinderella? Selain menjadi salah satu dongeng princess paling populer sepanjang masa, premise dasarnya sudah digunakan berkali-kali di berbagai ranah film dunia dengan berbagai modifikasinya mulai modern ala A Cinderella Story sampai feminisme ala Ever After: A Cinderella Story. Bahkan namanya masuk dalam judul film macam Cinderella Man. Cinderella bukan lagi hanya sekedar nama, namun juga istilah untuk menjelaskan keadaan seseorang. Disney sebagai salah satu pemegang hak untuk kisah Cinderella, tak lupa untuk mengangkat animasi klasiknya ke live action, setelah Maleficent tahun lalu, dan sebelum Beauty and the Beast tahun 2017 nanti.

Di bawah komando Kenneth Branagh, Cinderella versi 2015 ternyata memilih untuk setia terhadap materi aslinya. Tidak ada lagi pandangan-pandangan feminisme modern ala Ever After atau yang pernah diselipkan Disney di Maleficent. Storyline dan desain karakternya masih sama dengan materi aslinya. Namun bukan berarti Cinderella kali ini kehilangan gregetnya. Pembaruan-pembaruan visualisasinya berhasil memperbarui visi dan aspek magical dari Cinderella. Mulai desain set, desain produksi karakter-karakter sekaligus property-property magisnya, hingga tentu saja costume design Sandy Powell yang tak perlu lagi diragukan kualitas dan kecantikannya

Penampilan Lily James sebagai karakter utama sudah cukup merepresentasi karakter Cinderella. Tak sampai remarkable, tapi cukup mengesankan. Sementara seperti karakter antagonis di dongeng lainnya, penampilan Cate Blanchett berhasil mencuri perhatian sepanjang film.  Sayangnya karakter sang pangeran kurang menarik perhatian di tangan Richard Madden. Namun bukan sekali ini saja karakter pangeran menjadi tenggelam di antara karakter-karakter kuat lainnya di sebuah film berdasarkan dongeng. Sebelumnya, Brenton Thwaites juga tidak begitu menonjol dan diingat sebagai pangeran di Maleficent. Yang tampil lebih mengesankan justru Helena Bonham Carter sebagai Fairy Godmother meski durasinya sangat terbatas. Well, harus diakui Helena memang cocok untuk peran-peran negeri dongeng seperti ini.

Sama seperti film-film Disney lain, Cinderella versi 2015 juga dibekali soundtrack yang diisi oleh penyanyi Inggris, Sonna Rele lewat lagu Strong. Sayang, lagu ini terasa kurang kuat sehingga tidak begitu bergema. Lagu tradisional Lavender’s Blue yang dinyanyikan karakter ibu Ella di awal film justru lebih familiar dan terus terngiang di ingatan saya.


Overall, tidak ada sesuatu yang baru dari Cinderella versi 2015 ini. Tak sampai menjadi sesuatu yang istimewa, namun harus diakui berhasil memperbarui kisahnya sekaligus me-revive franchise-nya yang harus di-pass on antar generasi, lewat berbagai elemen desainnya. Ditambah iming-iming short Frozen Fever di opening yang tentu mengundang penasaran banyak penonton, meski nyatanya biasa saja walau cukup menghibur.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominee for:

  • Best Achievement in Costume Design - Sandy Powell
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates