Monday, February 23, 2015

The Jose Flash Review
Whiplash

Damien Chazelle termasuk kasus yang jarang sekali terjadi. Di usianya yang masih 30 tahun, ia sudah menerima banyak penghargaan film internasional, termasuk masuk nominasi Oscar lewat film berjudul Whiplash.  Lebih istimewa lagi, Whiplash adalah film panjang keduanya sebagai sutradara, yang diangkat dari film pendek berjudul sama garaan dirinya sendiri. Sebuah catatan yang termasuk jarang terjadi di dunia film, bahkan di Hollywood sekalipun. Maka Whiplash menjadi sebuah film yang menarik perhatian.

Di atas kertas, Whiplash punya premise yang sangat sederhana. Ambisi drummer muda di sekolah musik prestisius karena di keluarganya dianggap paling tidak berprestasi, yang harus berbenturan dengan guru musik yang tak kalah ambisius, perfeksionis, dan temperamen. Namun dengan penanganan dan tentu saja performance para aktornya yang kuat, premise yang sederhana ini bisa bertransformasi jadi sajian yang istimewa.

Seiring dengan ketukan irama drum, Whiplash dikemas dengan lugas, terfokus, dan dinamis. Ini tercermin dalam alur kisahnya yang all about Andrew, our young drummer, and his mentor, Fletcher, with each of their own agenda. Namun tenang saja, Chazelle membuat perjalanan interaksi kedua karakter ini tidak semudah itu dan justru membuat jalan ceritanya menjadi lebih menarik. Terutama dari sisi Andrew yang obsesinya berjalan cukup ekstrim, namun masih tergolong wajar dan rasional, tak sampai sesakit jiwa Nina Sayers di Black Swan. Begitu juga karakter Fletcher yang berfungsi memanipulasi alur cerita untuk mengecoh penonton hingga akhir cerita.

So secara keseluruhan Whiplash seperti cerita adu mental dan trik yang membuat penonton menebak-nebak yang sebenarnya terjadi, termasuk dalam hal yang mungkin sulit disadari oleh penonton awam, seperti ketukan drum yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Alhasil penonton dibuat berdebar-debar sambil menikmati komposisi musik jazz yang memanjakan telinga, seiring dengan editing gambarnya yang dinamis dan jazzy, mengikuti dentuman drum Andrew.

Kekuatan plot yang menarik masih ditambah performance yang luar biasa dari para aktornya, terutama sekali JK Simmons yang memerangkan mentor kharismatik sekaligus temperamen, Fletcher. Pewatakan Fletcher yang begitu kuat dan bisa jadi iconic sampai beberapa tahun ke depan, melebihi performa Miles Teller yang sebenarnya juga tampil bagus dan pas sesuai porsinya.

Tidak seperti tipikal film nominee Oscar di kategori Best Motion Picture of the Year lainnya yang cenderung serius dan inaccessible, Whiplash justru tampil sebagai film dengan plot paling sederhana tapi menarik, dan disajikan dengan energi jazzy yang enak untuk dinikmati. Terutama sekali karena intensitas dan kualitas audio dari musik-musiknya, sayang sekali jika tidak sampai menikmati Whiplash di layar bioskop.

Lihat data film ini di IMDb

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - JK Simmons
  • Best Achievement in Film Editing - Tom Cross
  • Best Achievement in Sound Mixing - Craig Mann, Ben Wilkins, David Lancaster
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Adapted Screenplay - Damien Chazelle
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates