Monday, February 23, 2015

The Jose Flash Review
Unbroken

Angelina Jolie jelas bukan aktris biasa. Dengan talenta yang luar biasa sekaligus passion yang besar, Angie sudah menjalankan peran sebagai duta besar PBB, relawan di berbagai yayasan sosial, dan yang sedang getol-getolnya dikejar: menjadi sutradara. Setelah film panjang pertamanya, In the Land of Blood and Honey yang tergolong sangat indie, Angie kembali dipercaya untuk menggarap proyek dengan skala yang lebih besar dan tentu saja diproyeksikan untuk mendapatkan perhatian di berbagai penghargaan bergengsi dunia. Dengan konsep biopic dari tokoh sebesar Louis Zamperini, dan nama The Coen Brothers di jajaran penulis naskahnya, otomatis Unbroken tampak seperti proyek yang sangat high profile.

Sebelum menilai hasil akhirnya, ada baiknya Anda mengenal sosok Louis Zamperini terlebih dulu. Ia adalah atlet Olimpiade cabang olahraga lari yang berasai dari Amerika Serikat namun berdarah Italia. Sayangnya, jalan hidup mengharuskan dia bergabung dengan angkatan bersenjata di Perang Dunia II dan mengalami berbagai peristiwa naas yang bertubi-tubi serta menguji mentalnya. Mulai menjadi sedikit dari survivor ketika pesawatnya jatuh, terombang-ambing di lautan luas selama 47 hari, dan menjadi tawanan perang Jepang. Iya, kesemuanya ini adalah pengalaman nyata yang dialami oleh Louis Zamperini hingga sekarang dia mengabdikan diri sebagai misionaris Gereja, bukan sebuah cerita atau sinetron religi. Maka sekarang tergantung bagaimana menerjemahkan cerita yang penuh dengan penderitaan bertubi-tubi ini agar tetap terasa roller coaster emosinya, tak terasa bertele-tele, serta padat secara esensi. Tentu ini bukanlah PR yang gampang dengan materi yang sudah terlanjur se-‘dramatis’ itu.

Sayangnya Unbroken menurut saya masih jauh dari kata berhasil dalam menerjemahkan kisahnya menjadi lebih menarik. Apa yang terangkai di layar hanyalah sebuah runtutan peristiwa yang dialami Zamperini. Satu jam pertama durasi dihabiskan hingga survival Zamperini di lautan, sedangkan satu jam sisanya di kamp tawanan perang Jepang. Bisa dibayangkan bagaimana melelahkannya mengikuti cerita Zamperini. Alur maju-mundur terutama dalam menyelipkan kisah masa kecil dan kejayaan Zamperini sebagai atlet terbukti tidak begitu berhasil membuat jalinan kisahnya menjadi lebih menarik maupun memberikan relevansi apa-apa terhadap alur cerita utamanya.

Mungkin alurnya akan menjadi lebih lancar berjalan dan efektif jika dipilih hanya beberapa adegan penting yang ditonjolkan, sedangkan sisanya ditampilkan seperlunya. Misalnya fokus ketika Zamperini berada di kamp. Menampilkan kesemua peristiwa dengan porsi yang sama besarnya terasa berlebihan dan sangat-sangat melelahkan. Apalagi kita hanya disuguhi penderitaan demi penderitaan. Belum lagi plotnya yang begitu penuh mukjizat dan sulit diterima akal sehat (surviving dalam berbagai peristiwa yang mengancam jiwa bertubi-tubi?). Memang ini adalah sebuah kisah nyata, namun seharusnya bisalah ditampilkan lebih rasional dan lebih smooth agar tak terasa terlalu pretensius.

Di jajaran cast sebenarnya sama sekali tak buruk. Jack O’Connell sebagai pemeran utama mampu mengemban beban berat dengan penampilannya yang lovable dan cukup hidup. Sementara itu meski tidak punya porsi yang cukup, penampilan Domnhall Gleeson dan Garrett Hedlund ternyata mampu menjadi menarik sekaligus menyentuh. Namun penampilan Takamasa Ishihara atau yang dikenal sebagai rocker bernama Myiavi, pemeran Watanabe yang porsinya cukup banyak, terasa miscast. Gara-gara kharismanya yang salah, bukannya mampu menarik simpati penonton, tak jarang penampilannya jadi bahan tertawaan.

Meski punya presentasi cerita yang terasa membosankan, Unbroken didukung dengan teknis yang sangat mumpuni. Terutama sekali dari segi sinematografi yang membingkai tiap detail set, seperti interior pesawat perang, kamp tawanan perang Jepang, stadion Olimpiade, hingga gedung-gedung di Jepang, dengan sangat cantik. Ditambah tata suara yang begitu menggelegar dan maksimal dalam hal pemanfaatan fasilitas surround (mungkin adegan pesawat perang bakal lebih dahsyat dengan dukungan Dolby Atmos).

Dari berbagai dukungannya, Unbroken jelas diproyeksikan untuk bisa berbicara banyak di berbagai ajang penghargaan film internasional. Sayangnya, usaha yang terasa trying too hard ini masih jauh dari kata berhasil. Selebihnya, akan lebih baik jika Anda santai saja mengikuti alur kisah hidup Zamperini, sambil menikmati sajian gambarnya yang cantik dan tata suaranya yang dahsyat.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Achievement in Cinematography – Roger Deakins
  • Best Achievement in Sound Mixing - Jon Taylor, Frank A. MontaƱo, David Lee
  • Best Achievement in Sound Editing - Becky Sullivan, Andrew DeCristofaro
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates