Wednesday, February 25, 2015

The Jose Flash Review
Shaun the Sheep Movie

Setiap dekade pasti ada satu atau beberapa karakter animasi yang menjadi icon. Tak terkecuali Shaun the Sheep yang populer sejak pertama kali ditayangkan di TV tahun 2007. Diproduksi oleh Aardman Animations yang pernah sukses melahirkan franchise  Wallace & Gromit, dan digandeng berbagai studio Hollywood untuk film animasi macam Chicken Run dan Flushed Away bersama DreamWorks, serta  Arthur Christmas dan The Pirates! Band of Misfits bersama Sony Pictures Animations. Franchise Shaun the Sheep (StS) sendiri menjelma menjadi semacam icon di generasinya yang tinggal menunggu waktu saja untuk diangkat ke layar lebar. Maka tahun 2015 jadi momentum yang tepat untuk mengenalkan karakter StS ke pasar yang lebih luas, masih dengan teknik clay stop animation yang menjadi ciri khasnya.

Tak berbeda jauh dengan versi segmen pendeknya di layar TV, Shaun the Sheep Movie (StSM) masih memiliki formula yang sama: fabel personifikasi yang membuat karakter-karakter hewannya, mulai domba, babi, anjing, hingga hewan-hewan hybrida lainnya bisa bertindak dan bahkan berpikir seperti karakter manusianya. Kesemuanya dipresentasikan dalam gerak tubuh dan komat-kamit, tanpa dialog. Keuntungannya, anak-anak dari usia berapapun dan yang berasal dari berbagai latar belakang bahasa pun bisa memahami dengan mudah jalan ceritanya. Namun membangun cerita tanpa dialog bukanlah hal yang mudah. Salah sedikit saja bisa-bisa membuat penonton bingung dengan jalannya cerita. Untunglah naskah yang sederhana tapi tetap menarik mampu diterjemahkan dengan sangat baik ke dalam 85 menit durasinya. Sebuah segmen animasi pendek pun terekspansi menjadi sebah petualangan seru Shaun dan gerombolan dombanya dari Mossy Bottom Farm di kota besar. Seperti bisa ditebak, bakal seperti apa kekacauan demi kekacauan yang disebabkan oleh mereka. Meski demikian, kesemuanya disajikan dengan porsi yang serba pas sehingga tak terlalu terasa dragging maupun berlebihan. Bahkan ia juga punya momen-momen kekeluargaan yang hangat dan hearty.

Hal mengasyikkan lain yang turut diselipkan oleh StSM adalah referensi-referensi ke budaya pop, seperti misalnya karakter Wolverine dari X-Men dan Hannibal Lecter, yang akan menarik perhatian penonton dewasanya.

Theme song yang sudah cukup melekat pada benak penonton versi TV-nya tetap dihadirkan, dengan scoring Ilan Eshkeri yang semakin mendukung keseruan cerita, termasuk versi yang diremix oleh rapper Rizzle Kicks.

Dengan segala yang sengaja dihadirkan dan disisipkan di sana-sini, StSM menjadi tontonan yang cocok dan pas untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga dari berbagai range usia.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Animated Feature Film of the Year    
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates