Tuesday, February 3, 2015

The Jose Flash Review
Project Almanac

Tema time travel sudah sangat sering diangkat ke layar lebar dengan berbagai treatment. Mulai petualangan, thriller, action, hingga komedi. Bermacam-macam metode, teori, dan aturan-aturan pula yang pernah diterapkan dalam konsep time travel-nya. Namun Project Almanac (PA) menawarkan sesuatu yang cukup segar. Tidak terlalu baru sebenarnya, karena bisa dibilang mencampurkan formula-formula lain ke dalam tema time travelnya. Hasilnya adalah sebuah film sci-fi dengan gaya found footage atau mockumentary, seperti hibrida antara Chronicle  dan Project X.

Kesan fresh terutama sekali terasa berkat konsepnya yang memang membidik cerita dari sudut pandang remaja. Tidak mau berpusing-pusing dengan berbagai macam teori atau beban moral dari time travel, PA justru mengajak penontonnya berfantasi dan bersenang-senang: how wild would it be if you can travel through times. Termasuk berbagai macam kejadian naif yang membuat penonton dewasa mengenang indahnya masa remaja (bagi mereka yang memang punya masa muda yang menyenangkan lho :p).

Sayangnya, semakin lama alur cerita bergerak ke arah yang jauh lebih serius dan akhirnya punya konklusi yang tidak berbeda dengan film-film bertemaka time travel lainnya. But hey, I don’t mind with that. Bagi saya, PA sudah memanjakan tidak hanya secara visual maupun auditori, tapi pengalaman sinematik yang seutuhnya: gila-gilaan, do whatever we’ve ever dreamed of, memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu, sampai merasakan romansa. Bayangkan, betapa gilanya menggunakan mesin waktu hanya untuk menonton konser Lollapalooza? Nggak penting sih, tapi keren banget. Trust me, it’s a whole lot of fun. Apalagi didukung pilihan-pilihan soundtrack yang mampu memompa semangat youth, seperti dari Press Play, Atlas Genius, hingga Imagine Dragons.

Konsep mockumentary nyatanya tidak diterapkan secara sepenuhnya. Ada beberapa angle yang kalau dipikir-pikir, mustahil jika benar-benar diambil oleh tangan manusia, tanpa bantuan alat apapun. Namun buat saya, ini justru sebuah nilai plus karena film bisa dinikmati sepenuhnya dan yang paling penting, tidak menyebabkan pusing. Sebagai sebuah mockumentary, tentu saja shaky cam ada di sana-sini, setidaknya sebagai bagian dari konsep sekaligus menambah keseruan adegan, tapi dimasukkan dalam takaran yang masih sangat wajar dan tidak mengganggu kenyamanan menonton sama sekali.

Dari jajaran cast, PA menyuguhkan aktor-aktor muda yang begitu menjanjikan, terutama tentu saja Jonny Weston dan Sofia Black-D’Elia yang porsinya paling dominan, namun mampu memberikan kharisma serta chemistry yang cukup hidup. Padahal bisa dibilang keduanya masih tergolong pendatang baru di ranah film Hollywood mainstream. I have to say keduanya punya potensi yang luar biasa untuk berkembang menjadi aktor-aktris populer dengan kharisma masing-masing.

Meski berkonsep mockumentary, aspek audio ditata dengan begitu maksimal. Menghasilkan tata suara yang terdengar begitu dahsyat di banyak adegan, termasuk fasilitas surround yang juga dimanfaatkan secara maksimal. Visual effect pun terlihat keren dan nyata dengan sinematografi ala mockumentary-nya.


So yes, PA adalah tontonan hiburan yang begitu seru dan menyenangkan. Buang jauh-jauh logisme cerita terkait dengan time travel yang bahkan memang belum pernah ada yang terbukti valid. Nikmati saja tiap adegannya dan kembali mengenang masa-masa remaja yang indah.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates