Saturday, February 7, 2015

The Jose Flash Review
Nada untuk Asa


Salah satu komoditas terbesar di ranah perfilman Indonesia adalah tearjerker, selain tentu saja horor dan drama percintaan remaja. Sudah puluhan bahkan ratusan film Indonesia yang kebanyakan sukses secara komersial dengan formula yang kurang lebih sama. Apalagi yang mengangkat penderita penyakit parah, seperti kanker atau HIV/AIDS. Plot yang cliché maupun kedangkalan cerita yang sudah sangat formulaic nyatanya masih mampu menyedot penonton yang berbondong-bondong untuk “membuktikan diri masih manusia” dengan menangis. Asal berderai tangis, penonton dengan mudah memberikan cap “inspiratif”. Padahal seringkali tema penyakit atau yang kami, para moviegoers, sebut sebagai disease-and-suffering-porn, yang hampir selalu berakhir dengan kematian si karakter utama, lupa bagaimana efeknya terutama bagi si penderita yang sebenarnya. Dengan eksploitasi penderitaan yang luar biasa, bukannya memberikan semangat sembuh, atau lebih besar lagi, semangat hidup, malah justru menjadikan momok yang depresif. Lantas inspirasi seperti apa yang sebenarnya didapat penonton? Yep, maafkan, tapi kenyataannya penonton kita seringkali suka diberikan inspirasi palsu yang tidak jelas. Jarang atau malah hampir tidak pernah saya menemukan film tentang penyakit yang dengan positif memberikan bisikan “everything will be just alright in the end”, baik bagi penonton umum maupun penderitanya sendiri.

Maka Nada untuk Asa (NuA) mencoba membuat film bertemakan HIV/AIDS dengan pendekatan yang berbeda. Berangkat dari inisiatif Charles Gozal dari MagMa yang terinspirasi dari kisah nyata seorang ibu bernama Yurike Ferdinandus, kemudian didukung Komsos KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang kebetulan sedang mengkampanyekan Sahabat Positif sebagai program mereka, NuA memulai misin positifnya. Meski didukung oleh Keuskupan Agung, nyatanya NuA berhasil menyatukan cast yang berasal dari agama berbeda-beda ke dalam suatu karya yang menyuarakan message yang juga sangat universal.

NuA mengangkat dua storyline melalui kacamata dua karakter dengan setting berbeda: Nada, seorang ibu rumah tangga yang suaminya baru meninggal dunia, mendapati bahwa dirinya dan putri bungsunya sudah terinfeksi HIV dari sang suami. Sementara yang kedua adalah Asa, seorang wanita muda yang sebenarnya punya karir cemerlang. Namun harus terhambat karena ia mengidap HIV, entah dari mana. Jika storyline pertama lebih banyak menguras air mata, meski ditampilkan dengan serba natural dan masuk akal, maka storyline kedua justru memberikan keceriaan. Kedua storyline yang kontras ini berjalan secara paralel dan bertemu di satu titik menjelang akhir, yang sekaligus menjadi konklusi dari keseluruhan cerita. I have to say, konsep cerita yang dibuat seperti ini tidak hanya mampu dengan efektif menyampaikan message positifnya, tapi juga memberikan gambaran yang positif pula terhadap virus HIV maupun penderitanya. Tak ada adegan-adegan tearjerker berlebihan yang mengeksploitasi penderitaan. Bukannya menangis hancur setelah film berakhir, penonton justru diajak tersenyum lega dan salut. Penderita HIV yang menonton pun ditantang untuk berani tetap hidup ketimbang berani mati. Efek yang jarang ditemukan di ranah film Indonesia.

Namun konsep cerita yang ditulis dengan positif dan serba natural ini bukannya tanpa efek negatif. Jika Anda merasakan FTV-feel sepanjang film, Anda tidak salah. Harus diakui, karena saking natural dan “kurang dramatisasi” maupun “kurang klimaks”, di beberapa adegan NuA terasa seperti sebuah FTV. Apalagi sinematografi di beberapa adegan yang semakin memperkuat feel itu. Tak salah pula jika ada yang menganggap NuA punya gaya penceritaan dan sinematografi film drama keluarga Indonesia di era 80-an, yang kemudian menginspirasi gaya FTV saat ini. Toh, menurut saya ini bukanlah suatu hal yang buruk. FTV juga bisa punya naskah yang bagus, bukan?

Dukungan performance para aktornya yang begitu powerful, punya andil yang cukup besar dalam menghidupkan adegan-adegan NuA menjadi begitu natural. Terutama sekali Marsha Timothy yang dengan mudah menjadi perhatian utama sepanjang film. Meski di beberapa bagian tangisannya terasa sedikit berlebihan, namun secara keseluruhan mampu menghidupkan karakternya dengan sangat-sangat baik. Acha Septriasa, seperti biasa, masih mampu memikat dengan kharismanya. Di deretan pemeran pendukung, Inong Ayu Nidya dan Wulan Guritno terasa paling menonjol. Meski aktor-aktor pendukung populer lainnya, seperti Darius Sinathrya, Mathias Muchus, Nadila Ernesta, Donny Damara, Irgi Fahrezi, Butet Kertaradjasa,  sampai Sakurta Ginting dan Bisma “SMASH”, juga memberikan performa yang baik sesuai dengan porsi masing-masing. Tak ketinggalan penampilan aktor cilik, Muhammad Zidane dan Mallaki Gruno, yang dengan mudah menjadi sweetheart bagi penonton.

Dengan berbagai dukungan yang serba sederhana tapi tidak main-main, message positif yang tepat, performa yang begitu powerful, NuA adalah sebuah film drama keluarga Indonesia yang patut mendapatkan apresiasi lebih. Apalagi seluruh penjualan tiket di bioskop kabarnya akan didonasikan untuk pembangunan Rumah Sakit St. Carolus. 

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates