Sunday, February 22, 2015

The Jose Flash Review
Kingsman: The Secret Service


Sepak terjang secret agent atau agen rahasia di dalam film sudah hampir setua sejarah perfilman itu sendiri. Sudah puluhan karakter agen rahasia yang dilahirkan ke dunia. Mulai dari yang paling legendaris hingga saat ini, James Bond, yang aristokrat seperti The Avengers, spoof macam In Like Flynt dan Austin Powers, sampai generasi-generasi baru yang lebih “keras” macam Jack Ryan, Jason Bourne, dan bahkan xXx. Genre secret agent pun berevolusi mengikuti perkembangan jaman dan selera pasar.

Diangkat dari novel grafis karya Mark Millar, Kingsman punya konsep yang cukup unik; menggabungkan style secret agent klasik yang aristokrat dan sangat “gentleman” dengan kemampuan-kemampuan modern yang lebih brutal. Blend yang pas antara keduanya menjadikan Kingsman tontonan secret agent yang unik dan sangat menjanjikan.

Masih mengusung spirit yang senada dengan Kick-Ass, Matthew Vaughn jadi pilihan yang tepat untuk menghidupkan universe, cerita, serta karakter-karakter Kingsman. Hasilnya adalah sebuah film action secret agent yang punya semua formula-formula suksesnya: karakter-karakter iconic (termasuk villain-nya) lengkap dengan gadget serta adegan-adegan  aksi yang sangat memorable dan khas, jalinan cerita yang tak terlalu rumit namun tetap enjoyable, bikin penasaran, dan shocking di sana-sini, nuansa aristokrat berkelas yang begitu kuat, serta tentu saja gore action sequence yang dinamis dan bad-ass.

Cerita yang menampilkan generasi tua dan muda juga merupakan winning formula dalam merangkul penonton yang berasal dari kedua generasi. Semacam mengajarkan generasi muda menjadi seorang gentleman ala classic British dengan cara yang sangat mengasyikkan. Durasi yang mencapai 2 jam lebih menjadi sama sekali tidak terasa berlalu. Bahkan ia menyelipkan cukup banyak referensi-referensi populer di dalam dialog maupun adegannya, termasuk sindiran terhadap film-film agen rahasia sekarang yang tidak se-fun  dan tidak punya karakter villain se-iconic dulu. Kingsman seolah menawarkan semacam obat rindu bagi penggemar genre agen rahasia. Oh yes, jika Anda mengharapkan Kingsman akan menjadi film action yang serius, maka Anda salah besar. Kingsman mengajak Anda akan bersenang-senang dengan rollercoaster ceritanya.

Above all, kekuatan utama yang ditawarkan Kingsman adalah adegan-adegan iconic yang tidak hanya mengejutkan namun juga punya kekuatan wow-factor yang begitu kuat hingga membuat saya terpana beberapa menit ketika adegan berlangsung. Apalagi kesemuanya terangkai dan terekam dalam bingkai sinematografi George Richmond.

Dukungan cast pun tak main-main. Siapa sangka seorang Colin Firth yang selama ini lebih dikenal sebagai aktor spesialis drama (termasuk The King’s Speech dan A Single Man) ternyata bisa memainkan karakter action yang kharismatik dan tetap bad-ass? Michael Caine seperti biasa masih punya kharisma gentleman yang selalu terpancar. Samuel L. Jackson pun sangat pantas menjadi villain yang unik: kejam dan bengis namun tidak tahan melihat darah.

Di deretan cast muda, Taron Egerton mampu mengemban tugas berat sebagai peran utama yang tak kalah kharismatik dibandingkan cast-cast seniornya. Hasilnya, Taron layak menjadi idola muda baru. Sofia Boutella sebagai villain berkaki pisau, Gazelle, juga sangat mencuri perhatian. Bisa jadi karakternya bakal jadi icon villain terkuat untuk jangka waktu yang cukup lama. Meski running time-nya tergolong sedikit, aktris muda Sophie Cookson sebagai Roxy juga cukup memorable dengan aura seksinya.

Teknis yang mumpuni juga mendukung keseruan sinematik Kingsman. Terutama sekali tata suara yang terdengar maksimal meski pada teater dengan dukungan 7.1 saja. Dentuman bass yang deep dan ketajaman suara yang crisp memperkaya tata suaranya. Apalagi penggunaan musik-musik yang familiar dan diletakkan pada adegan-adegan yang makin terasa gokil.

In short, Kingsman adalah paket hiburan sinematik yang begitu memuaskan dan elemen-elemennya akan menjadi icon yang berlangsung lama. Maka sayang jika sampai melewatkannya. Adegan keren pembantaian di gereja yang sayangnya harus terpotong oleh gunting sensor LSF pun, tidak layak menjadi alasan untuk tidak mengalaminya di layar bioskop. Pun saya berharap Kingsman bakal jadi franchise yang berkembang ke depannya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates