Wednesday, February 11, 2015

The Jose Flash Review
Jupiter Ascending


Wachowski Brothers pernah mengukir sejarah dengan trilogi The Matrix. Duo bersaudara Andy dan Larry (sekarang berubah menjadi Lana) ini kemudian mencoba melanjutkan sukses dengan menghadirkan signatural visual spectacle (yang pasti juga dengan budget gila-gilaan), seperti lewat Speed Racer dan Cloud Atlas. Namun sayangnya secara komersial, keduanya tidak begitu menggembirakan. Meski demikian, saya sangat menyukai kedua film tersebut dengan konsepnya masing-masing. Tahun 2015, mereka berdua lagi-lagi mempertaruhkan budget ratusan juta dolar untuk film dengan visualisasi yang semakin spektakuler, Jupiter Ascending (JA).

Dilihat dari trailer maupun materi-materi promosinya, JA tampak seperti sebuah sci-fi spektakuler dengan skala cerita yang besar. Tak salah, bangunan konsep universe, mulai planet, makhluk, bangunan, hingga kostum, kesemuanya ditata dengan begitu luar biasa. Namun sayang, kenyataannya semua konsep universe yang serba megah ini ternyata hanyalah latar yang terlalu besar untuk konsep ceritanya yang tak lebih dari sebuah space opera. JA tak lebih dari space opera yang terlalu bertele-tele. Berawal dari karakter Jupiter yang menjalani kehidupan membosankan di bumi, tiba-tiba dikejar-kejar oleh gerombolan alien. Untung saja ia diselamatkan olah pria yang juga tak kalah asing dan anehnya, Caine Wise. Barulah penonton diperkenalkan dengan keseluruhan konsep cerita dan universe yang lebih luas lagi.

Seperti Clout Atlas, sekali lagi The Wachowskis mencoba untuk berfantasi tentang sejarah eksistensi planet bumi di JA. Memang sangat jauh dari segi ilmiah, namun konsep ceritanya cukup menarik. Sayangnya modal ini dikembangkan dengan sangat minim, dan lebih parahnya lagi bertele-tele. Kehadiran 3 kubu antagonis yang punya tujuan sendiri-sendiri menjadi salah satu penyebabnya. In short, terjadi beberapa adegan yang seolah mengulang dengan karakter antagonis yang berbeda. Toh sebenarnya cerita juga tidak begitu jauh berkembang juga. Belum lagi humor-humornya yang terasa seperti parodi Star Wars versi tipsy. Tak heran jika ada penonton yang merasa bosan atau bahkan tertidur.

Cerita yang bertele-tele diperparah dengan aspek lainnya yang semakin membuat JA terpuruk. Terutama sekali jalinan asmara antara Caine-Jupiter yang tidak hanya terasa terlalu dibuat-buat, tapi juga didukung chemistry yang nihil dari keduanya. Alhasil, secara keseluruhan JA terasa begitu dangkal.

Untung saja JA masih punya beberapa adegan aksi yang cukup membuat mata terbelalak. Terutama adegan kejar-kejaran antara Caine-Jupe (iya, Jupiter panggilannya Jupe di film!) dan pasukan Balem. Sayangnya, beberapa adegan aksi lainnya justru terasa begitu cepat dan chaotic sehingga tidak bisa dinikmati ketegangannya.

Sebagai karakter-karakter utama, baik Channing Tatum maupun Mila Kunis tidak memberikan kontribusi positif apa-apa. Keduanya replaceable, tapi sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Naskah memang tidak memberikan banyak kesempatan bagi keduanya untuk memperdalam karakter. Yang terjadi justru karakter-karakter yang diisi aktor pendukung yang mencuri perhatian. Eddie Redmayne yang semakin matang di film-film kelas award, tampil cukup menarik sebagai karakter antagonis, meski karakternya sendiri tidak ditampilkan dengan cukup mendalam. Douglas Booth, Tuppence Middleton, dan Sean Bean pun tampil memikat dengan peran masing-masing, di luar porsi yang cukup terbatas.

Nilai positif patut diberikan kepada sinematografi John Toll yang mampu merekam berbagai keindahan desain produksi dengan sangat maksimal, baik yang berupa visual effect alias CGI, maupun yang practical.

Dari segi desain produksi seperti desain kostum, bangunan tata kota, maupun berbagai kendaraan, harus diakui menjadi perhatian sekaligus komoditas utama dari JA. Meski tidak mengelak jika ada aspek desain produksi yang bersifat hate it or love it, terutama desain androgyny yang bisa dipahami berasal dari faktor Lana Wachowski yang seorang transsexual.

Tata suara yang menggelegar mendukung adegan-adegan megahnya, termasuk scoring Michael Giacchino yang super grande. Ditambah efek surround (bahkan Dolby Atmos) yang semakin menghidupkan adegan-adegan aksinya.

Dengan cukup banyaknya kelemahan di sana-sini, JA masih merupakan sajian yang masih menghibur, terutama dari segi visual dan audio yang sayang jika tidak dinikmati di layar lebar dengan dukungan audio maksimal, seperti Dolby Atmos misalnya. Just the enjoy the ride, even sometimes it’s tiring.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates