It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Wednesday, February 25, 2015

The Jose Flash Review
Shaun the Sheep Movie

Setiap dekade pasti ada satu atau beberapa karakter animasi yang menjadi icon. Tak terkecuali Shaun the Sheep yang populer sejak pertama kali ditayangkan di TV tahun 2007. Diproduksi oleh Aardman Animations yang pernah sukses melahirkan franchise  Wallace & Gromit, dan digandeng berbagai studio Hollywood untuk film animasi macam Chicken Run dan Flushed Away bersama DreamWorks, serta  Arthur Christmas dan The Pirates! Band of Misfits bersama Sony Pictures Animations. Franchise Shaun the Sheep (StS) sendiri menjelma menjadi semacam icon di generasinya yang tinggal menunggu waktu saja untuk diangkat ke layar lebar. Maka tahun 2015 jadi momentum yang tepat untuk mengenalkan karakter StS ke pasar yang lebih luas, masih dengan teknik clay stop animation yang menjadi ciri khasnya.

Tak berbeda jauh dengan versi segmen pendeknya di layar TV, Shaun the Sheep Movie (StSM) masih memiliki formula yang sama: fabel personifikasi yang membuat karakter-karakter hewannya, mulai domba, babi, anjing, hingga hewan-hewan hybrida lainnya bisa bertindak dan bahkan berpikir seperti karakter manusianya. Kesemuanya dipresentasikan dalam gerak tubuh dan komat-kamit, tanpa dialog. Keuntungannya, anak-anak dari usia berapapun dan yang berasal dari berbagai latar belakang bahasa pun bisa memahami dengan mudah jalan ceritanya. Namun membangun cerita tanpa dialog bukanlah hal yang mudah. Salah sedikit saja bisa-bisa membuat penonton bingung dengan jalannya cerita. Untunglah naskah yang sederhana tapi tetap menarik mampu diterjemahkan dengan sangat baik ke dalam 85 menit durasinya. Sebuah segmen animasi pendek pun terekspansi menjadi sebah petualangan seru Shaun dan gerombolan dombanya dari Mossy Bottom Farm di kota besar. Seperti bisa ditebak, bakal seperti apa kekacauan demi kekacauan yang disebabkan oleh mereka. Meski demikian, kesemuanya disajikan dengan porsi yang serba pas sehingga tak terlalu terasa dragging maupun berlebihan. Bahkan ia juga punya momen-momen kekeluargaan yang hangat dan hearty.

Hal mengasyikkan lain yang turut diselipkan oleh StSM adalah referensi-referensi ke budaya pop, seperti misalnya karakter Wolverine dari X-Men dan Hannibal Lecter, yang akan menarik perhatian penonton dewasanya.

Theme song yang sudah cukup melekat pada benak penonton versi TV-nya tetap dihadirkan, dengan scoring Ilan Eshkeri yang semakin mendukung keseruan cerita, termasuk versi yang diremix oleh rapper Rizzle Kicks.

Dengan segala yang sengaja dihadirkan dan disisipkan di sana-sini, StSM menjadi tontonan yang cocok dan pas untuk dinikmati bersama seluruh anggota keluarga dari berbagai range usia.

Lihat data film ini di IMDb.

The 88th Annual Academy Awards nominees for:

  • Best Animated Feature Film of the Year    
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 24, 2015

The Jose State of Mind
The 87th Academy Awards: Hopes & Facts

Gelaran Academy Awards ke-87 baru saja berakhir. Seperti biasa, meski selera juri Oscar termasuk tipikal dan predictable, tetap saja kita selalu berharap pilihan favorit kita yang keluar sebagai pemenang. Tentu dengan alasan dan argumen pribadi. Tahun ini saya mencoba membagikan prediksi (baca: pilihan favorit) saya sebelum diumumkan dan hasil akhirnya. And as usual, I will be opened for discussion.

Best Achievement in Visual Effects

Hope & Fact Interstellar (Paul J. Franklin, Andrew Lockley, Ian Hunter, Scott R. Fisher)
Note Kesemua nominee di kategori ini punya kekuatan masing-masing di aspek visual effect. Dawn of the Planet of the Apes unggul di teknologi motion capture, begitu juga dengan Guardians of the Galaxy yang punya motion capture dan visual effect lain khas luar angkasa. X-Men: Days of Future Past pun sarat visual effect yang memanjakan mata, terutama adegan slow-mo Quicksilver ketika membawa kabur Magneto.  Namun siapapun yang pernah menyaksikan Interstellar, pasti sepakat bahwa film sci-fi karya Chritopher Nolan ini punya teknologi visual effect terdepan dan terbanyak. So yes, it deserves to win.

Best Achievement in Sound Editing

Hope Interstellar (Richard King)
Fact American Sniper (Alan Robert Murray, Bub Asman)
Note Interstellar punya sound editing yang sangat rapi dan menggelegar sesuai kebutuhan. Apakah mungkin kontroversi masalah audio dimana beberapa dialog tidak terdengar gara-gara sound effect yang terlalu riuh?

Best Achievement in Sound Mixing

Hope Interstellar atau Unbroken
Fact Whiplash (Craig Mann, Ben Wilkins, Thomas Curley)
Note Tak membantah Whiplash punya keseimbangan sound mixing yang bagus antara kedahsyatan suara musik sebagai elemen utama, sound effect, dan dialog. Namun menurut saya pribadi, Interstellar dan Unbroken punya detail suara yang begitu kaya.

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song

Hope & Fact Selma - Glory by Common and John Legend
Note Lost Stars dari Begin Again mungkin pilihan yang paling populer dan disukai banyak orang, namun tak bisa dipungkiri Glory dari John Legend dan Common punya materi yang paling kuat dan sebelumnya juga sudah menang di berbagai ajang penghargaan bergengsi, termasuk Golden Globes yang sering dijadikan proyeksi hasil Academy Awards.

Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score

Hope & Fact The Grand Budapest Hotel (Alexandre Desplat)
Note Alexandre Desplat memang luar biasa. Ia mampu meletakkan dua karyanya langsung di kategori yang sama di saat yang bersamaan pula, yaitu untuk The Grand Budapest Hotel dan The Imitation Game. Namun harus diakui juga karyanya di The Grand Budapest Hotel punya melodi yang unik, iconic, dan begitu pas dengan nuansa filmnya yang fantastik, dinamis, dan penuh warna. Sementara pilihan lain yang juga bagus adalah score Interstellar gubahan Hans Zimmer. Sayangnya menurut saya, score-nya masih terasa ‘sangat’ The Dark Knight Trilogy yang pernah dikerjakannya juga untuk Christopher Nolan.

Best Achievement in Makeup and Hairstyling

Hope Foxcatcher (Bill Corso, Dennis Liddiard)
Fact The Grand Budapest Hotel (Frances Hannon, Mark Coulier)
Note The Grand Budapest Hotel memang punya makeup dan hairstyling yang unik, sesuai dengan konsepnya yang memang fantasi. Namun makeup Foxcatcher berhasil menyulap Steve Carrell menjadi sosok John du Pont yang begitu khas. Meski selain dari itu termasuk biasa-biasa saja, keunggulan dalam menghadirkan ‘keajaiban’ tersebut memang begitu mencolok dan layak diapresiasi lebih. But well yeah... Saya juga tidak akan protes dengan hasil pemenangnya yang juga layak.

Best Achievement in Costume Design

Hope and Fact The Grand Budapest Hotel (Milena Canonero)
Note Masih adakah yang menyangsikan desain kostum The Grand Budapest Hotel yang begitu remarkable?

Best Achievement in Production Design

Hope and Fact The Grand Budapest Hotel (Adam Stockhausen, Anna Pinnock)
Note Semua nominee di kategori ini punya kekuatan dan kekhasan masing-masing sesuai dengan kebutuhan. Namun hanya 3 yang menurut saya layak untuk menang, yaitu The Grand Budapest Hotel, The Imitation Game, dan Interstellar yang punya desain produksi unik dan remarkable. Maka saya tidak akan kecewa jika salah satunya yang keluar sebagai pemenang final.

Best Achievement in Editing

Hope and Fact Whiplash (Tom Cross)
Note Jagoan utama saya di kategori ini sebenarnya The Grand Budapest Hotel yang diedit dengan cantik dan sesuai kebutuhan, namun Whiplash juga diedit dengan sangat rapi dan mengalir lancar serta nyaman. So, yes it still deserved to win.

Best Achievement in Cinematography

Hope and Fact Birdman (Emmanuel Lubezki)
Note Oh, come on. It’s so obvious. Meski nominee lainnya punya sinematografi yang begitu cantik (terutama The Grand Budapest Hotel, Unbroken, dan Ida), pergerakan kamera yang mulus dan tetap nyaman diikuti meski sebagian besar adegannya berupa long take, bukanlah pekerjaan yang mudah. Namun Lubezki berhasil melakukannya dengan hasil yang maksimal. Justru aneh jika tidak memenangkan Emmanuel Lubezki.

Best Animated Feature Film of the Year

Hope How to Train Your Dragon 2 or The Tale of The Princess Kaguya
Fact Big Hero 6
Note Sebenarnya sampai sekarang saya masih tidak memahami apa yang menjadi pertimbangan dalam menentukan pemilihan kategori ini. Secara teknis, sebenarnya saya sangat menjagokan The Boxtrolls atau yang gagal masuk nominasi, The Book of Life. Namun dari berbagai aspek, How to Train Your Dragon 2 lah yang paling layak menang. Atau setidaknya giliran Studio Ghibli, maestro animasi dari Jepang, The Tale of The Princess Kaguya. Sayangnya, juri Oscar ternyata masih belum bisa berpaling dari winning formula Disney di Big Hero 6.

Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published

Hope and Fact The Imitation Game (Graham Moore)
Note Sejak awal saya menjagokan naskah The Imitation Game yang begitu saya kagumi dalam membangun konsep ceritanya dari kisah nyata kehidupan Alan Turing. Termasuk juga dialog-dialog yang meaningful dan memorable. Selain itu, saya juga akan tetap puas jika naskah The Theory of Everything atau Whiplash yang keluar sebagai pemenang.

Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen

Hope and Fact: Birdman (Alejandro González Iñárritu, Nicolás Giacobone, Alexander Dinelaris, Armando Bo)
Note Birdman adalah film paling favorit saya di jajaran nominee Oscar tahun ini dan menurut saya aspek terkuatnya adalah naskah yang mampu merangkum berbagai fenomena industri hiburan Hollywood dalam satu paket namun masih saling relevan. Juga termasuk penerjemahan konsep ceritanya ke dalam dialog-dialog yang menggelitik dan cerdas. Favorit saya yang lain di kategori ini adalah naskah Nightcrawler yang digarap oleh Dan Gilroy. Simple namun padat dan powerful.

Best Achievement in Directing

Hope Richard Linklater  (Boyhood)
Fact Alejandro González Iñárritu (Birdman)
Note Birdman memang jadi film paling favorit saya. Tapi dedikasi dan kepiawaian Richard Linklater dalam menggarap Boyhood secara realtime selama 12 tahun yang tidak mudah dan butuh kesabaran ekstra, patut diapresiasi lebih. Tapi Iñárritu juga pilihan yang sangat layak.

Winners in acting categories: JK Simmons (Whiplash), Patricia Arquette (Boyhood),
Julianne Moore (Still Alice), and Eddie Redmayne (The Theory of Everything).

Best Performance by an Actress in a Supporting Role

Hope Emma Stone (Birdman) or Keira Knightley (The Imitation Game)
Fact Patricia Arquette (Boyhood)
Note Mungkin preferensi pribadi, tapi dari deretan aktris yang dinominasikan, Emma Stone lah yang paling mencuri perhatian saya. Begitu juga Keira Knightley di The Imitation Game. But Patricia Arquette also deserve it.

Best Performance by an Actor in a Supporting Role

Hope and Fact J.K. Simmons (Whiplash)
Note Oh, kharisma-nya ketika memerankan Fletcher tak terkalahkan. Malah bisa jadi karkternya yang begitu kuat itu bakal lama menempel pada dirinya. Pilihan lain yang juga jadi favorit saya adalah Robert Duvall di The Judge.

Best Performance by an Actress in a Leading Role

Hope Rosamund Pike (Gone Girl)
Fact Julianne Moore (Still Alice)
Note Rosamund Pike di Gone Girl begitu memikat dan berhasil memanipulasi banyak penonton, termasuk saya. Namun rupanya juri Oscar lebih iba dengan penampilan Julianne Moore sebagai penderita alzheimer di Still Alice yang harus diakui, juga powerful. Saya cukup ikhlas dengan pilihan juri.

Best Performance by an Actor in a Leading Role

Hope Steve Carell (Foxcatcher) or Benedict Cumberbatch (The Imitation Game)
Fact Eddie Redmayne (The Theory of Everything)
Note Pilihan nominee di kategori ini termasuk susah karena semuanya punya kekuatan sendiri-sendiri dan mampu memikat penontonnya. Namun ingat anekdot di Oscar sejak dulu; jika ingin menang Oscar untuk kategori akting, ambillah karakter nyata atau penderita penyakit parah. Tahun ini, 3 di antara nominee yang masuk, memerankan karakter nyata dan sama-sama powerful dan uniknya. Tapi yang paling memikat saya adalah Steve Carell (mungkin karena transformasi akting dari tipikal biasanya yang cukup signifikan dan mengagumkan) dan Benedict Cumberbatch yang begitu hidup. Eddie Redmayne sendiri sebenarnya pilihan alternatif berikutnya, namun baiklah, saya bisa menerima pilihan juri.

Best Motion Picture of the Year

The Hollywood Reporter cover
for Oscars 2015
representing all of Best Picture nominees.
Hope and Fact Birdman (Alejandro González Iñárritu, John Lesher, James W. Skotchdopole)
Note Dilihat dari jajaran nominee kategori ini tahun ini, kesemuanya punya kesempatan yang sama jika membaca dari selera juri Oscar dalam memilih pemenang tahun-tahun sebelumnya. American Sniper punya semangat nasionalisme yang mengingatkan saya akan kemenangan The Hurt Locker, The Imitation Game dan Selma membawa pesan anti diskriminasi, Boyhood dan Whiplash yang simple namun begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari, The Theory of Everything yang merupakan biopic dengan karakter utama pengidap penyakit parah, dan Birdman yang semacam metafora dan kritik terhadap dunia showbiz yang sangat dekat dengan Hollywood. Sementara The Grand Budapest Hotel adalah pilihan yang paling terakhir saya jagokan meski saya termasuk fan berat Wes Anderson. Sorry Wes, The Grand Budapest Hotel memang fun dan seru tapi menurut saya yang paling tidak berisi dibanding karya-karya Anda sebelumnya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, February 23, 2015

The Jose Flash Review
Unbroken

Angelina Jolie jelas bukan aktris biasa. Dengan talenta yang luar biasa sekaligus passion yang besar, Angie sudah menjalankan peran sebagai duta besar PBB, relawan di berbagai yayasan sosial, dan yang sedang getol-getolnya dikejar: menjadi sutradara. Setelah film panjang pertamanya, In the Land of Blood and Honey yang tergolong sangat indie, Angie kembali dipercaya untuk menggarap proyek dengan skala yang lebih besar dan tentu saja diproyeksikan untuk mendapatkan perhatian di berbagai penghargaan bergengsi dunia. Dengan konsep biopic dari tokoh sebesar Louis Zamperini, dan nama The Coen Brothers di jajaran penulis naskahnya, otomatis Unbroken tampak seperti proyek yang sangat high profile.

Sebelum menilai hasil akhirnya, ada baiknya Anda mengenal sosok Louis Zamperini terlebih dulu. Ia adalah atlet Olimpiade cabang olahraga lari yang berasai dari Amerika Serikat namun berdarah Italia. Sayangnya, jalan hidup mengharuskan dia bergabung dengan angkatan bersenjata di Perang Dunia II dan mengalami berbagai peristiwa naas yang bertubi-tubi serta menguji mentalnya. Mulai menjadi sedikit dari survivor ketika pesawatnya jatuh, terombang-ambing di lautan luas selama 47 hari, dan menjadi tawanan perang Jepang. Iya, kesemuanya ini adalah pengalaman nyata yang dialami oleh Louis Zamperini hingga sekarang dia mengabdikan diri sebagai misionaris Gereja, bukan sebuah cerita atau sinetron religi. Maka sekarang tergantung bagaimana menerjemahkan cerita yang penuh dengan penderitaan bertubi-tubi ini agar tetap terasa roller coaster emosinya, tak terasa bertele-tele, serta padat secara esensi. Tentu ini bukanlah PR yang gampang dengan materi yang sudah terlanjur se-‘dramatis’ itu.

Sayangnya Unbroken menurut saya masih jauh dari kata berhasil dalam menerjemahkan kisahnya menjadi lebih menarik. Apa yang terangkai di layar hanyalah sebuah runtutan peristiwa yang dialami Zamperini. Satu jam pertama durasi dihabiskan hingga survival Zamperini di lautan, sedangkan satu jam sisanya di kamp tawanan perang Jepang. Bisa dibayangkan bagaimana melelahkannya mengikuti cerita Zamperini. Alur maju-mundur terutama dalam menyelipkan kisah masa kecil dan kejayaan Zamperini sebagai atlet terbukti tidak begitu berhasil membuat jalinan kisahnya menjadi lebih menarik maupun memberikan relevansi apa-apa terhadap alur cerita utamanya.

Mungkin alurnya akan menjadi lebih lancar berjalan dan efektif jika dipilih hanya beberapa adegan penting yang ditonjolkan, sedangkan sisanya ditampilkan seperlunya. Misalnya fokus ketika Zamperini berada di kamp. Menampilkan kesemua peristiwa dengan porsi yang sama besarnya terasa berlebihan dan sangat-sangat melelahkan. Apalagi kita hanya disuguhi penderitaan demi penderitaan. Belum lagi plotnya yang begitu penuh mukjizat dan sulit diterima akal sehat (surviving dalam berbagai peristiwa yang mengancam jiwa bertubi-tubi?). Memang ini adalah sebuah kisah nyata, namun seharusnya bisalah ditampilkan lebih rasional dan lebih smooth agar tak terasa terlalu pretensius.

Di jajaran cast sebenarnya sama sekali tak buruk. Jack O’Connell sebagai pemeran utama mampu mengemban beban berat dengan penampilannya yang lovable dan cukup hidup. Sementara itu meski tidak punya porsi yang cukup, penampilan Domnhall Gleeson dan Garrett Hedlund ternyata mampu menjadi menarik sekaligus menyentuh. Namun penampilan Takamasa Ishihara atau yang dikenal sebagai rocker bernama Myiavi, pemeran Watanabe yang porsinya cukup banyak, terasa miscast. Gara-gara kharismanya yang salah, bukannya mampu menarik simpati penonton, tak jarang penampilannya jadi bahan tertawaan.

Meski punya presentasi cerita yang terasa membosankan, Unbroken didukung dengan teknis yang sangat mumpuni. Terutama sekali dari segi sinematografi yang membingkai tiap detail set, seperti interior pesawat perang, kamp tawanan perang Jepang, stadion Olimpiade, hingga gedung-gedung di Jepang, dengan sangat cantik. Ditambah tata suara yang begitu menggelegar dan maksimal dalam hal pemanfaatan fasilitas surround (mungkin adegan pesawat perang bakal lebih dahsyat dengan dukungan Dolby Atmos).

Dari berbagai dukungannya, Unbroken jelas diproyeksikan untuk bisa berbicara banyak di berbagai ajang penghargaan film internasional. Sayangnya, usaha yang terasa trying too hard ini masih jauh dari kata berhasil. Selebihnya, akan lebih baik jika Anda santai saja mengikuti alur kisah hidup Zamperini, sambil menikmati sajian gambarnya yang cantik dan tata suaranya yang dahsyat.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Achievement in Cinematography – Roger Deakins
  • Best Achievement in Sound Mixing - Jon Taylor, Frank A. Montaño, David Lee
  • Best Achievement in Sound Editing - Becky Sullivan, Andrew DeCristofaro
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Whiplash

Damien Chazelle termasuk kasus yang jarang sekali terjadi. Di usianya yang masih 30 tahun, ia sudah menerima banyak penghargaan film internasional, termasuk masuk nominasi Oscar lewat film berjudul Whiplash.  Lebih istimewa lagi, Whiplash adalah film panjang keduanya sebagai sutradara, yang diangkat dari film pendek berjudul sama garaan dirinya sendiri. Sebuah catatan yang termasuk jarang terjadi di dunia film, bahkan di Hollywood sekalipun. Maka Whiplash menjadi sebuah film yang menarik perhatian.

Di atas kertas, Whiplash punya premise yang sangat sederhana. Ambisi drummer muda di sekolah musik prestisius karena di keluarganya dianggap paling tidak berprestasi, yang harus berbenturan dengan guru musik yang tak kalah ambisius, perfeksionis, dan temperamen. Namun dengan penanganan dan tentu saja performance para aktornya yang kuat, premise yang sederhana ini bisa bertransformasi jadi sajian yang istimewa.

Seiring dengan ketukan irama drum, Whiplash dikemas dengan lugas, terfokus, dan dinamis. Ini tercermin dalam alur kisahnya yang all about Andrew, our young drummer, and his mentor, Fletcher, with each of their own agenda. Namun tenang saja, Chazelle membuat perjalanan interaksi kedua karakter ini tidak semudah itu dan justru membuat jalan ceritanya menjadi lebih menarik. Terutama dari sisi Andrew yang obsesinya berjalan cukup ekstrim, namun masih tergolong wajar dan rasional, tak sampai sesakit jiwa Nina Sayers di Black Swan. Begitu juga karakter Fletcher yang berfungsi memanipulasi alur cerita untuk mengecoh penonton hingga akhir cerita.

So secara keseluruhan Whiplash seperti cerita adu mental dan trik yang membuat penonton menebak-nebak yang sebenarnya terjadi, termasuk dalam hal yang mungkin sulit disadari oleh penonton awam, seperti ketukan drum yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Alhasil penonton dibuat berdebar-debar sambil menikmati komposisi musik jazz yang memanjakan telinga, seiring dengan editing gambarnya yang dinamis dan jazzy, mengikuti dentuman drum Andrew.

Kekuatan plot yang menarik masih ditambah performance yang luar biasa dari para aktornya, terutama sekali JK Simmons yang memerangkan mentor kharismatik sekaligus temperamen, Fletcher. Pewatakan Fletcher yang begitu kuat dan bisa jadi iconic sampai beberapa tahun ke depan, melebihi performa Miles Teller yang sebenarnya juga tampil bagus dan pas sesuai porsinya.

Tidak seperti tipikal film nominee Oscar di kategori Best Motion Picture of the Year lainnya yang cenderung serius dan inaccessible, Whiplash justru tampil sebagai film dengan plot paling sederhana tapi menarik, dan disajikan dengan energi jazzy yang enak untuk dinikmati. Terutama sekali karena intensitas dan kualitas audio dari musik-musiknya, sayang sekali jika tidak sampai menikmati Whiplash di layar bioskop.

Lihat data film ini di IMDb

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - JK Simmons
  • Best Achievement in Film Editing - Tom Cross
  • Best Achievement in Sound Mixing - Craig Mann, Ben Wilkins, David Lancaster
  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Adapted Screenplay - Damien Chazelle
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 22, 2015

The Jose Flash Review
Kapan Kawin?

Pertanyaan “Kapan Kawin” memang menjadi fenomena sosial, khususnya di Indonesia. Bagaimana sejak sekian generasi yang lalu, baik pria apalagi wanita berumur 20-30 sudah dihantui untuk segera menikah seperti halnya generasi 50 tahun yang lalu. Usia demikian dianggap paling ideal dan normal untuk menikah dan melanjutkan keturunan. Tentu saja seiring dengan tuntutan jaman yang makin modern dan dinamis, pertanyaan dan tuntutan itu semakin menjadi momok. Maka fenomena ini adalah aset yang sangat berharga untuk diangkat ke layar lebar. Lebih dari sekedar eksploitasi fenomena menjadi tontonan hiburan, tapi bisa juga sekaligus menjadi bahan refleksi dari pihak yang terlibat, terutama generasi yang lebih tua yang menjadi subjek tekanan sosial ini. Mungkin itu yang ada di benak Robert Ronny lewat karya perdana lewat PH yang baru dibentuknya, Legacy Pictures, bersama istri tercinta yang juga sekaligus corporate secretary group XXI, Catherine Keng.

Di atas kertas, Kapan Kawin? (KK) didukung oleh orang-orang yang sangat menjanjikan untuk mejadi karya yang bagus. Mulai penulis naskah yang disusun Robret Ronny sendiri (Hattrick, Dilemma), dibantu oleh Monty Tiwa, sutradara Ody C. Harahap (Kawin Kontrak), editor Aline Jusria, dan tentu saja aktor-aktris berkualitas serta populer yang mengisi jajaran cast-nya.

Ternyata “dream-team” ini memang mampu menghadirkan sebuah komedi romantis yang pas dalam segala aspeknya. Meski menggunakan formula komedi romantis ringan yang cukup familiar dan cliché, KK dikemas dengan sangat santai, mengalir, manis, dan hangat. Tak seperti beberapa tuduhan jiplak The Proposal, alur KK terasa lebih mengalir lancar, termasuk komedi-komedinya yang jauh lebih halus dan elegan (baca: tidak slapstick maupun meledak-ledak).

Tak hanya kemasannya yang menarik dan ringan untuk diikuti, KK ternyata mengupas lebih dalam fenomena pertanyaan “kapan kawin?” lebih dalam daripada sekedar permasalahan tidak kawin-kawin di usia matang. KK menelurusi lebih dalam sebab-akibat di balik fenomena ini, terutama sekali yang berkaitan dengan hubungan orang tua-anak yang dianut masyarakat kita. Namun baiknya lagi, KK tidak memihak salah satu kubu dan menyalahkan kubu yang lain. Keduanya seolah diperdamaikan di klimaks film. Inilah yang membuat KK terasa sebagai film “keluarga” yang hangat.

Aspek yang menjadikan KK semakin enak dinikmati adalah chemistry yang dibangun antara aktor-aktris papan atas Indonesia saat ini; Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Sementara Reza sekali lagi tampil memikat dengan akting komikal namun masih terasa wajar dan tetap mengundang tawa, Adinia terasa pas dengan tipikal perannya di sini. Selain itu, pasangan Adi Kurdi-Ivanka Suwandi juga mampu tampil mencuri perhatian, tanpa harus mendistraksi porsi Reza-Adinia.

Di lini teknis pun, KK tidak main-main. Terutama sekali sinematografi yang ditata dengan sangat baik dalam merekam desain produksinya yang juga sangat indah, termasuk dalam hal tone warna. Mulai tata interior rumah orang tua Dinda, lanskap alam perkebunan, hingga pantai. Editing Aline Jusria yang pas sesuai dengan mood KK turut membuatnya menjadi enak dinikmati. Satu aspek yang membuat saya turn off adalah pemilihan lagu Panah Asmara dari Afgan yang image-nya sudah terlanjur sangat FTV.

In the end, KK hadir sebagai romantic comedy dengan tampilan yang fresh dan penggalian fenomena yang cukup mendalam dan disajikan dengan hangat. Sayang untuk melewatkannya begitu saja.

Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Kingsman: The Secret Service


Sepak terjang secret agent atau agen rahasia di dalam film sudah hampir setua sejarah perfilman itu sendiri. Sudah puluhan karakter agen rahasia yang dilahirkan ke dunia. Mulai dari yang paling legendaris hingga saat ini, James Bond, yang aristokrat seperti The Avengers, spoof macam In Like Flynt dan Austin Powers, sampai generasi-generasi baru yang lebih “keras” macam Jack Ryan, Jason Bourne, dan bahkan xXx. Genre secret agent pun berevolusi mengikuti perkembangan jaman dan selera pasar.

Diangkat dari novel grafis karya Mark Millar, Kingsman punya konsep yang cukup unik; menggabungkan style secret agent klasik yang aristokrat dan sangat “gentleman” dengan kemampuan-kemampuan modern yang lebih brutal. Blend yang pas antara keduanya menjadikan Kingsman tontonan secret agent yang unik dan sangat menjanjikan.

Masih mengusung spirit yang senada dengan Kick-Ass, Matthew Vaughn jadi pilihan yang tepat untuk menghidupkan universe, cerita, serta karakter-karakter Kingsman. Hasilnya adalah sebuah film action secret agent yang punya semua formula-formula suksesnya: karakter-karakter iconic (termasuk villain-nya) lengkap dengan gadget serta adegan-adegan  aksi yang sangat memorable dan khas, jalinan cerita yang tak terlalu rumit namun tetap enjoyable, bikin penasaran, dan shocking di sana-sini, nuansa aristokrat berkelas yang begitu kuat, serta tentu saja gore action sequence yang dinamis dan bad-ass.

Cerita yang menampilkan generasi tua dan muda juga merupakan winning formula dalam merangkul penonton yang berasal dari kedua generasi. Semacam mengajarkan generasi muda menjadi seorang gentleman ala classic British dengan cara yang sangat mengasyikkan. Durasi yang mencapai 2 jam lebih menjadi sama sekali tidak terasa berlalu. Bahkan ia menyelipkan cukup banyak referensi-referensi populer di dalam dialog maupun adegannya, termasuk sindiran terhadap film-film agen rahasia sekarang yang tidak se-fun  dan tidak punya karakter villain se-iconic dulu. Kingsman seolah menawarkan semacam obat rindu bagi penggemar genre agen rahasia. Oh yes, jika Anda mengharapkan Kingsman akan menjadi film action yang serius, maka Anda salah besar. Kingsman mengajak Anda akan bersenang-senang dengan rollercoaster ceritanya.

Above all, kekuatan utama yang ditawarkan Kingsman adalah adegan-adegan iconic yang tidak hanya mengejutkan namun juga punya kekuatan wow-factor yang begitu kuat hingga membuat saya terpana beberapa menit ketika adegan berlangsung. Apalagi kesemuanya terangkai dan terekam dalam bingkai sinematografi George Richmond.

Dukungan cast pun tak main-main. Siapa sangka seorang Colin Firth yang selama ini lebih dikenal sebagai aktor spesialis drama (termasuk The King’s Speech dan A Single Man) ternyata bisa memainkan karakter action yang kharismatik dan tetap bad-ass? Michael Caine seperti biasa masih punya kharisma gentleman yang selalu terpancar. Samuel L. Jackson pun sangat pantas menjadi villain yang unik: kejam dan bengis namun tidak tahan melihat darah.

Di deretan cast muda, Taron Egerton mampu mengemban tugas berat sebagai peran utama yang tak kalah kharismatik dibandingkan cast-cast seniornya. Hasilnya, Taron layak menjadi idola muda baru. Sofia Boutella sebagai villain berkaki pisau, Gazelle, juga sangat mencuri perhatian. Bisa jadi karakternya bakal jadi icon villain terkuat untuk jangka waktu yang cukup lama. Meski running time-nya tergolong sedikit, aktris muda Sophie Cookson sebagai Roxy juga cukup memorable dengan aura seksinya.

Teknis yang mumpuni juga mendukung keseruan sinematik Kingsman. Terutama sekali tata suara yang terdengar maksimal meski pada teater dengan dukungan 7.1 saja. Dentuman bass yang deep dan ketajaman suara yang crisp memperkaya tata suaranya. Apalagi penggunaan musik-musik yang familiar dan diletakkan pada adegan-adegan yang makin terasa gokil.

In short, Kingsman adalah paket hiburan sinematik yang begitu memuaskan dan elemen-elemennya akan menjadi icon yang berlangsung lama. Maka sayang jika sampai melewatkannya. Adegan keren pembantaian di gereja yang sayangnya harus terpotong oleh gunting sensor LSF pun, tidak layak menjadi alasan untuk tidak mengalaminya di layar bioskop. Pun saya berharap Kingsman bakal jadi franchise yang berkembang ke depannya.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 15, 2015

The Jose Flash Review
The Boy Next Door

Jika di Indonesia sempat trend film bergenre erotic horror, di Hollywood sempat pula booming erotic thriller di era 80-90’an. Tapi jangan salah, meski premisenya tergolong formulaic, nyatanya banyak yang digarap serius dan sampai sekarang adegan-adegannya tetap menjadi iconic. Sebut saja yang paling populer Basic Instinct, Fatal Attraction, dan Disclosure. Premise-nya rata-rata seragam: affair yang berujung petaka. Namun tak sedikit juga yang langsung dirilis dalam format home video, seiring dengan menurunnya popularitas genre ini yang semakin jenuh. Maka ketika Rob Cohen, sutradara yang gemar mencoba menangani berbagai genre, mulai The Fast and the Furious, xXx, hingga Dragonheart, kali ini menangani sebuah erotic thriller dengan bintang sex symbol MILF terkini, Jennifer Lopez, siapa yang tidak tergoda? Apalagi disandingkan dengan aktor muda yang tak kalah seksi, Ryan Guzman yang sempat kita lihat di Step Up Revolution dan Step Up All In.

Masih menggunakan premise lama, affair yang berujung petaka, The Boy Next Door (TBND) punya alur cerita yang sangat formulaic dengan pendahulu-pendahulunya. Cheesy, predictable sesuai formula-formula dasarnya, dan tidak punya kedalaman karakter maupun cerita tersendiri. What you see on the screen is everything it is. Sebenarnya hal ini tidak menjadi masalah jika apa yang ditampilkan sesuai dengan ekspektasi penonton dari film sejenis. Sayangnya sebagai sebuah erotic thriller, ia termasuk dalam ketagori tanggung. Terutama sekali dalam hal “erotic” yang harus diakui menjadi komoditas utamanya. Terhitung sepanjang durasi hanya ada 1 adegan bercumbu dari J-Lo dan Ryan Guzman (itupun di versi yang dirilis di Indonesia dibabat habis). Penyebabnya adalah karakter Claire yang diperankan J-Lo, dibuat terlalu cepat menyadari kesalahannya dan menghindari Noah (Ryan Guzman), sebelum cukup puas menikmati affair-nya dengan tetangga brondong baru ini.

Selanjutnya, porsi cerita TBND didominasi adegan kucing-kucingan yang sebenarnya menjadi thriller yang cukup bikin gregetan dan penasaran, meski kebanyakan penonton sebenarnya sudah hafal ke mana alur cerita akan bermuara. Sebagai bonusnya, beruntung TBND menawarkan sedikit gore yang levelnya sedikit tak terduga di penghujung film.

Penampilan J-Lo seperti di film-film sebelumnya, tergolong mediocre dan bermain aman. Tapi ini bukan sepenuhnya kesalahan dirinya karena memang tuntutan skenario yang tidak memerlukan dirinya tampil lebih. Setidaknya J-Lo sangat pas memerankan karakternya. Begitu juga dengan Ryan Guzman yang selangkah lebih maju dari tipikal peran-peran yang pernah ia ambil sebelumnya. Di deretan pemeran pendukung, Kristin Chenoweth yang memerankan karakter Vicky, tampil paling menarik perhatian. Sayang porsi yang diberikan tergolong kurang untuk membuat karakternya terasa lebih kuat lagi.

Dengan segala aspek yang serba tanggung, sebenarnya TBND punya potensi lebih. Sayangnya harus menjadi just another erotic thriller yang sekedar menghibur sesaat, tanpa memberikan kesan yang bisa bertahan lama bagi penontonnya. But as it is, TBND is actually pretty entertaining.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, February 11, 2015

The Jose Flash Review
Jupiter Ascending


Wachowski Brothers pernah mengukir sejarah dengan trilogi The Matrix. Duo bersaudara Andy dan Larry (sekarang berubah menjadi Lana) ini kemudian mencoba melanjutkan sukses dengan menghadirkan signatural visual spectacle (yang pasti juga dengan budget gila-gilaan), seperti lewat Speed Racer dan Cloud Atlas. Namun sayangnya secara komersial, keduanya tidak begitu menggembirakan. Meski demikian, saya sangat menyukai kedua film tersebut dengan konsepnya masing-masing. Tahun 2015, mereka berdua lagi-lagi mempertaruhkan budget ratusan juta dolar untuk film dengan visualisasi yang semakin spektakuler, Jupiter Ascending (JA).

Dilihat dari trailer maupun materi-materi promosinya, JA tampak seperti sebuah sci-fi spektakuler dengan skala cerita yang besar. Tak salah, bangunan konsep universe, mulai planet, makhluk, bangunan, hingga kostum, kesemuanya ditata dengan begitu luar biasa. Namun sayang, kenyataannya semua konsep universe yang serba megah ini ternyata hanyalah latar yang terlalu besar untuk konsep ceritanya yang tak lebih dari sebuah space opera. JA tak lebih dari space opera yang terlalu bertele-tele. Berawal dari karakter Jupiter yang menjalani kehidupan membosankan di bumi, tiba-tiba dikejar-kejar oleh gerombolan alien. Untung saja ia diselamatkan olah pria yang juga tak kalah asing dan anehnya, Caine Wise. Barulah penonton diperkenalkan dengan keseluruhan konsep cerita dan universe yang lebih luas lagi.

Seperti Clout Atlas, sekali lagi The Wachowskis mencoba untuk berfantasi tentang sejarah eksistensi planet bumi di JA. Memang sangat jauh dari segi ilmiah, namun konsep ceritanya cukup menarik. Sayangnya modal ini dikembangkan dengan sangat minim, dan lebih parahnya lagi bertele-tele. Kehadiran 3 kubu antagonis yang punya tujuan sendiri-sendiri menjadi salah satu penyebabnya. In short, terjadi beberapa adegan yang seolah mengulang dengan karakter antagonis yang berbeda. Toh sebenarnya cerita juga tidak begitu jauh berkembang juga. Belum lagi humor-humornya yang terasa seperti parodi Star Wars versi tipsy. Tak heran jika ada penonton yang merasa bosan atau bahkan tertidur.

Cerita yang bertele-tele diperparah dengan aspek lainnya yang semakin membuat JA terpuruk. Terutama sekali jalinan asmara antara Caine-Jupiter yang tidak hanya terasa terlalu dibuat-buat, tapi juga didukung chemistry yang nihil dari keduanya. Alhasil, secara keseluruhan JA terasa begitu dangkal.

Untung saja JA masih punya beberapa adegan aksi yang cukup membuat mata terbelalak. Terutama adegan kejar-kejaran antara Caine-Jupe (iya, Jupiter panggilannya Jupe di film!) dan pasukan Balem. Sayangnya, beberapa adegan aksi lainnya justru terasa begitu cepat dan chaotic sehingga tidak bisa dinikmati ketegangannya.

Sebagai karakter-karakter utama, baik Channing Tatum maupun Mila Kunis tidak memberikan kontribusi positif apa-apa. Keduanya replaceable, tapi sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Naskah memang tidak memberikan banyak kesempatan bagi keduanya untuk memperdalam karakter. Yang terjadi justru karakter-karakter yang diisi aktor pendukung yang mencuri perhatian. Eddie Redmayne yang semakin matang di film-film kelas award, tampil cukup menarik sebagai karakter antagonis, meski karakternya sendiri tidak ditampilkan dengan cukup mendalam. Douglas Booth, Tuppence Middleton, dan Sean Bean pun tampil memikat dengan peran masing-masing, di luar porsi yang cukup terbatas.

Nilai positif patut diberikan kepada sinematografi John Toll yang mampu merekam berbagai keindahan desain produksi dengan sangat maksimal, baik yang berupa visual effect alias CGI, maupun yang practical.

Dari segi desain produksi seperti desain kostum, bangunan tata kota, maupun berbagai kendaraan, harus diakui menjadi perhatian sekaligus komoditas utama dari JA. Meski tidak mengelak jika ada aspek desain produksi yang bersifat hate it or love it, terutama desain androgyny yang bisa dipahami berasal dari faktor Lana Wachowski yang seorang transsexual.

Tata suara yang menggelegar mendukung adegan-adegan megahnya, termasuk scoring Michael Giacchino yang super grande. Ditambah efek surround (bahkan Dolby Atmos) yang semakin menghidupkan adegan-adegan aksinya.

Dengan cukup banyaknya kelemahan di sana-sini, JA masih merupakan sajian yang masih menghibur, terutama dari segi visual dan audio yang sayang jika tidak dinikmati di layar lebar dengan dukungan audio maksimal, seperti Dolby Atmos misalnya. Just the enjoy the ride, even sometimes it’s tiring.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 7, 2015

The Jose Flash Review
Nada untuk Asa


Salah satu komoditas terbesar di ranah perfilman Indonesia adalah tearjerker, selain tentu saja horor dan drama percintaan remaja. Sudah puluhan bahkan ratusan film Indonesia yang kebanyakan sukses secara komersial dengan formula yang kurang lebih sama. Apalagi yang mengangkat penderita penyakit parah, seperti kanker atau HIV/AIDS. Plot yang cliché maupun kedangkalan cerita yang sudah sangat formulaic nyatanya masih mampu menyedot penonton yang berbondong-bondong untuk “membuktikan diri masih manusia” dengan menangis. Asal berderai tangis, penonton dengan mudah memberikan cap “inspiratif”. Padahal seringkali tema penyakit atau yang kami, para moviegoers, sebut sebagai disease-and-suffering-porn, yang hampir selalu berakhir dengan kematian si karakter utama, lupa bagaimana efeknya terutama bagi si penderita yang sebenarnya. Dengan eksploitasi penderitaan yang luar biasa, bukannya memberikan semangat sembuh, atau lebih besar lagi, semangat hidup, malah justru menjadikan momok yang depresif. Lantas inspirasi seperti apa yang sebenarnya didapat penonton? Yep, maafkan, tapi kenyataannya penonton kita seringkali suka diberikan inspirasi palsu yang tidak jelas. Jarang atau malah hampir tidak pernah saya menemukan film tentang penyakit yang dengan positif memberikan bisikan “everything will be just alright in the end”, baik bagi penonton umum maupun penderitanya sendiri.

Maka Nada untuk Asa (NuA) mencoba membuat film bertemakan HIV/AIDS dengan pendekatan yang berbeda. Berangkat dari inisiatif Charles Gozal dari MagMa yang terinspirasi dari kisah nyata seorang ibu bernama Yurike Ferdinandus, kemudian didukung Komsos KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang kebetulan sedang mengkampanyekan Sahabat Positif sebagai program mereka, NuA memulai misin positifnya. Meski didukung oleh Keuskupan Agung, nyatanya NuA berhasil menyatukan cast yang berasal dari agama berbeda-beda ke dalam suatu karya yang menyuarakan message yang juga sangat universal.

NuA mengangkat dua storyline melalui kacamata dua karakter dengan setting berbeda: Nada, seorang ibu rumah tangga yang suaminya baru meninggal dunia, mendapati bahwa dirinya dan putri bungsunya sudah terinfeksi HIV dari sang suami. Sementara yang kedua adalah Asa, seorang wanita muda yang sebenarnya punya karir cemerlang. Namun harus terhambat karena ia mengidap HIV, entah dari mana. Jika storyline pertama lebih banyak menguras air mata, meski ditampilkan dengan serba natural dan masuk akal, maka storyline kedua justru memberikan keceriaan. Kedua storyline yang kontras ini berjalan secara paralel dan bertemu di satu titik menjelang akhir, yang sekaligus menjadi konklusi dari keseluruhan cerita. I have to say, konsep cerita yang dibuat seperti ini tidak hanya mampu dengan efektif menyampaikan message positifnya, tapi juga memberikan gambaran yang positif pula terhadap virus HIV maupun penderitanya. Tak ada adegan-adegan tearjerker berlebihan yang mengeksploitasi penderitaan. Bukannya menangis hancur setelah film berakhir, penonton justru diajak tersenyum lega dan salut. Penderita HIV yang menonton pun ditantang untuk berani tetap hidup ketimbang berani mati. Efek yang jarang ditemukan di ranah film Indonesia.

Namun konsep cerita yang ditulis dengan positif dan serba natural ini bukannya tanpa efek negatif. Jika Anda merasakan FTV-feel sepanjang film, Anda tidak salah. Harus diakui, karena saking natural dan “kurang dramatisasi” maupun “kurang klimaks”, di beberapa adegan NuA terasa seperti sebuah FTV. Apalagi sinematografi di beberapa adegan yang semakin memperkuat feel itu. Tak salah pula jika ada yang menganggap NuA punya gaya penceritaan dan sinematografi film drama keluarga Indonesia di era 80-an, yang kemudian menginspirasi gaya FTV saat ini. Toh, menurut saya ini bukanlah suatu hal yang buruk. FTV juga bisa punya naskah yang bagus, bukan?

Dukungan performance para aktornya yang begitu powerful, punya andil yang cukup besar dalam menghidupkan adegan-adegan NuA menjadi begitu natural. Terutama sekali Marsha Timothy yang dengan mudah menjadi perhatian utama sepanjang film. Meski di beberapa bagian tangisannya terasa sedikit berlebihan, namun secara keseluruhan mampu menghidupkan karakternya dengan sangat-sangat baik. Acha Septriasa, seperti biasa, masih mampu memikat dengan kharismanya. Di deretan pemeran pendukung, Inong Ayu Nidya dan Wulan Guritno terasa paling menonjol. Meski aktor-aktor pendukung populer lainnya, seperti Darius Sinathrya, Mathias Muchus, Nadila Ernesta, Donny Damara, Irgi Fahrezi, Butet Kertaradjasa,  sampai Sakurta Ginting dan Bisma “SMASH”, juga memberikan performa yang baik sesuai dengan porsi masing-masing. Tak ketinggalan penampilan aktor cilik, Muhammad Zidane dan Mallaki Gruno, yang dengan mudah menjadi sweetheart bagi penonton.

Dengan berbagai dukungan yang serba sederhana tapi tidak main-main, message positif yang tepat, performa yang begitu powerful, NuA adalah sebuah film drama keluarga Indonesia yang patut mendapatkan apresiasi lebih. Apalagi seluruh penjualan tiket di bioskop kabarnya akan didonasikan untuk pembangunan Rumah Sakit St. Carolus. 

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 3, 2015

The Jose Flash Review
Project Almanac

Tema time travel sudah sangat sering diangkat ke layar lebar dengan berbagai treatment. Mulai petualangan, thriller, action, hingga komedi. Bermacam-macam metode, teori, dan aturan-aturan pula yang pernah diterapkan dalam konsep time travel-nya. Namun Project Almanac (PA) menawarkan sesuatu yang cukup segar. Tidak terlalu baru sebenarnya, karena bisa dibilang mencampurkan formula-formula lain ke dalam tema time travelnya. Hasilnya adalah sebuah film sci-fi dengan gaya found footage atau mockumentary, seperti hibrida antara Chronicle  dan Project X.

Kesan fresh terutama sekali terasa berkat konsepnya yang memang membidik cerita dari sudut pandang remaja. Tidak mau berpusing-pusing dengan berbagai macam teori atau beban moral dari time travel, PA justru mengajak penontonnya berfantasi dan bersenang-senang: how wild would it be if you can travel through times. Termasuk berbagai macam kejadian naif yang membuat penonton dewasa mengenang indahnya masa remaja (bagi mereka yang memang punya masa muda yang menyenangkan lho :p).

Sayangnya, semakin lama alur cerita bergerak ke arah yang jauh lebih serius dan akhirnya punya konklusi yang tidak berbeda dengan film-film bertemaka time travel lainnya. But hey, I don’t mind with that. Bagi saya, PA sudah memanjakan tidak hanya secara visual maupun auditori, tapi pengalaman sinematik yang seutuhnya: gila-gilaan, do whatever we’ve ever dreamed of, memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lalu, sampai merasakan romansa. Bayangkan, betapa gilanya menggunakan mesin waktu hanya untuk menonton konser Lollapalooza? Nggak penting sih, tapi keren banget. Trust me, it’s a whole lot of fun. Apalagi didukung pilihan-pilihan soundtrack yang mampu memompa semangat youth, seperti dari Press Play, Atlas Genius, hingga Imagine Dragons.

Konsep mockumentary nyatanya tidak diterapkan secara sepenuhnya. Ada beberapa angle yang kalau dipikir-pikir, mustahil jika benar-benar diambil oleh tangan manusia, tanpa bantuan alat apapun. Namun buat saya, ini justru sebuah nilai plus karena film bisa dinikmati sepenuhnya dan yang paling penting, tidak menyebabkan pusing. Sebagai sebuah mockumentary, tentu saja shaky cam ada di sana-sini, setidaknya sebagai bagian dari konsep sekaligus menambah keseruan adegan, tapi dimasukkan dalam takaran yang masih sangat wajar dan tidak mengganggu kenyamanan menonton sama sekali.

Dari jajaran cast, PA menyuguhkan aktor-aktor muda yang begitu menjanjikan, terutama tentu saja Jonny Weston dan Sofia Black-D’Elia yang porsinya paling dominan, namun mampu memberikan kharisma serta chemistry yang cukup hidup. Padahal bisa dibilang keduanya masih tergolong pendatang baru di ranah film Hollywood mainstream. I have to say keduanya punya potensi yang luar biasa untuk berkembang menjadi aktor-aktris populer dengan kharisma masing-masing.

Meski berkonsep mockumentary, aspek audio ditata dengan begitu maksimal. Menghasilkan tata suara yang terdengar begitu dahsyat di banyak adegan, termasuk fasilitas surround yang juga dimanfaatkan secara maksimal. Visual effect pun terlihat keren dan nyata dengan sinematografi ala mockumentary-nya.


So yes, PA adalah tontonan hiburan yang begitu seru dan menyenangkan. Buang jauh-jauh logisme cerita terkait dengan time travel yang bahkan memang belum pernah ada yang terbukti valid. Nikmati saja tiap adegannya dan kembali mengenang masa-masa remaja yang indah.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, February 1, 2015

The Jose Flash Review
Wild Card


Tak terbantahkan, Jason Statham adalah action hero era 2000-an, setidaknya bagi penonton Indonesia. Meski kiprahnya di Hollywood sebenarnya termasuk biasa-biasa saja, jauh dari, katakanlah Dwayne Johnson atan Vin Diesel. Namun trend seperti ini bukan hanya terjadi sekarang. Sebelumnya action hero nomer 1 di Indonesia juga seringkali biasa saja di Hollywood (malah kebanyakan film-filmnya langsung dirilis dalam format home video). Contoh yang paling jelas Steven Seagal, Chuck Norris, Dolph Lundgren, dan bahkan Jean-Claude Van Damme. Namun harus saya akui juga, sebenarnya Jason Statham punya kemampuan akting di atas aktor-aktor action yang saya sebutkan sebelumnya. Tak heran jika banyak filmnya yang sebenarnya tidak hanya mengumbar adegan aksi, tapi juga punya skrip dan akting yang cukup prima. In this case, saya menyukai Hummingbird dan The Mechanic. Sayangnya, Wild Card (WC) bukanlah termasuk film Statham yang punya skrip bagus maupun yang hanya mengumbar adegan aksi namun spektakuler.

Merupakan remake dari film Heat (1986) yang dibintangi aktor legendaris Burt Reynolds, WC sebenarnya punya konsep yang cukup menarik. Cerita berkembang melalui perkembangan karakter utama, Nick Wild, seorang bodyguard yang dekat dengan dunia kriminalitas dan bawah tanah lainnya di Las Vegas. Satu per satu sub plot ditampilkan untuk memberikan gambaran seperti apa sosok seorang Nick Wild. Kesemua sub plot lantas ditujukan pada satu konklusi di akhir yang menentukan bagaimana nasib Nick selanjutnya. Sayangnya masing-masing sub plot ini terasa seperti berdiri sendiri-sendiri. WC gagal mengikat kesemuanya menjadi satu kesatuan yang solid dan terasa saling terkait. Tak heran jika beberapa penonton menganggap cerita WC tidak jelas. Inilah yang menjadi penyebab utama WC gagal dalam menyampaikan konsep ceritanya, sekaligus gagal membuat penonton bersimpati terhadap karakter Nick Wild.

Kegagalan diperparah porsi adegan aksi yang sangat-sangat minim. Padahal harus diakui inilah yang menjadi ekspektasi utama penonton dari film-film Statham. Saya menghitung hanya ada 2 adegan aksi sadis yang menampilkan keahlian Statham dengan tangan kosong maupun benda-benda tak terpikirkan di sekitarnya sebagai senjata, yang harus saya akui, cukup seru, meskipun juga tidak terasa begitu spektakuler.

Dukungan aktor-aktris ternama, seperti Michael Angarano, Anne Heche, Milo Ventimiglia, Sofia Vergara, bahkan Stanley Tucci pun terasa mubazir. Tak lebih dari sekedar etalase untuk menarik lebih banyak penonton, tapi akhirnya tidak menolong apa-apa.

Aspek yang membuat saya masih menikmati WC adalah sinematografi cantik dari Shelly Johnson, dan pilihan-pilihan soundtrack yang “sangat Vegas” serta diletakkan di adegan-adegan kontras, seperti adegan aksi, sehingga menghasilkan perpaduan yang terasa gokil.

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates