Monday, January 19, 2015

The Jose Movie Review
Hijab

Overview

Di ranah film Indonesia, nama Hanung Bramantyo sudah jadi salah satu nama sutradara papan atas yang dikenal selalu menggarap film-filmnya dengan serius. Lebih dari itu, film-film Hanung selalu membidik fenomena-fenomena (khususnya yang bersifat sosial, religi, atau politik) yang terjadi di masyarakat. Sempat dikenal lewat drama-drama dengan sentuhan komedi seperti Catatan Akhir Sekolah, Brownies, Jomblo, dan yang jadi franchise box office, Get Married. Namun sejak Ayat-Ayat Cinta, Hanung jadi punya label baru: sutradara film religi (baca: islami). Mulai dari Perempuan Berkalung Sorban, Sang Pencerah, dan Cinta tapi Beda. Padahal jika menganalisa lebih dalam film-filmnya yang berbau religi, sebenarnya Hanung mengkritisi berbagai fenomena sosial yang terjadi di masyarakat kita, apalagi ketika harus berbenturan dengan nilai-nilai agama yang masih ... Religi hanya berfungsi sebagai background cerita. Hanung yang “rebel” lebih menunjukkan realitas di masyarakat ketimbang berceramah. In that fact, menurut saya karya-karyanya tidak bisa dikatakan sebagai film religi.
Sayang semakin lama Hanung seolah-olah terlalu tenggelam (dan terlalu serius) dalam berbagai protesnya dalam karya-karyanya sehingga menimbulkan kejenuhan dan semakin jauh pula untuk bisa dinikmati. Apalagi ketika menggarap film-film biopic, seperti Sang Pencerah dan Soekarno: Indonesia Merdeka, terasa datar dan hanya seperti sekedar meruntut timeline. Ada kerinduan untuk menikmati film Hanung yang ringan, menghibur, namun masih merupakan refleksi sosial yang relevan dan dalam. Maka Hijab bisa jadi salah satu jawabannya.
Tidak seperti judulnya, Hijab nyatanya sama sekali tidak membahas seperti apa hijab yang benar menurut agama, atau apa perlunya memakai hijab. Seperti sebelum-sebelumnya, Hanung sangat menghormati berbagai pilihan wanita dalam berhijab, termasuk jika memilih untuk tidak berhijab. Lebih dari itu, konflik Hijab jauh lebih substansial dan universal. Terutama sekali tentang independensi wanita terutama setelah berumah tangga, bahkan jika punya suami yang modern dan liberal sekalipun. Saya yakin tidak hanya bagi muslim, konflik peran wanita dalam rumah tangga masih sering jadi perdebatan. Apapun agamanya.
Tak hanya itu, Hijab juga menyentil berbagai fenomena kekinian, mulai online shop, lifestyle sosialita, sampai ketergantungan masyarakat terhadap gadget. Tentu saja semua dirangkai dengan cukup solid, natural, tidak terasa dipaksakan, dan yang pasti dalam kemasan yang lucu dan fresh. Humornya mungkin tidak selalu berhasil (tergantung selera humor dan preferensi masing-masing penonton sih), namun secara keseluruhan humornya mampu bersinergi dengan sangat baik dengan plot.
Dengan alur yang sangat enak untuk dinikmati, Hanung juga tidak terjebak dalam drama berlebihan. Endingnya mungkin sangat bisa ditebak, namun justru itulah yang membuat Hijab terasa realistis, natural, manis, sekaligus hangat. Toh berbagai permasalahan di kehidupan nyata sebenarnya juga sebenarnya punya penyelesaian yang nggak ribet-ribet amat kan?

The Casts

Keberhasilan dalam menghidupkan film sangat dipengaruhi oleh cast-nya yang mampu mengisi peran masing-masing dengan sangat hidup, segar, dan chemistry yang saling kuat. Carissa Putri, Tika Bravani, Zaskia Adya Mecca, dan Natasha Rizky mampu membangun chemistry persahabatan yang solid dan very convincing. Masing-masing pula membuktikan mampu tampil segar dan hidup, baik ketika adegan comedic maupun mellow.
Tak hanya 4 karakter utamanya, Mike Lucock, Nino Fernandez, Ananda Omesh, dan Dion Wiyoko yang berperan sebagai pasangan mereka pun mampu mengimbangi porsi para wanita. Pun juga masing-masing mampu tampil dengan porsi yang pas dan seimbang. Begitu pula puluhan pemeran pendukung yang sengaja dipilih all-star. Mulai Sophia Latjuba, Jajang C Noer, Rina Hassim, Marini Soerjosoemarno, Meriam Bellina, Mathias Muchus, Slamet Rahardjo Djarot, Epy Kusnandar, Mpok Atiek, Cici Tegal, hingga yang katanya dijadikan gimmick promosi, Dijah Yellow yang nyatanya cukup berhasil sebagai bahan humor.

Technical

Tak perlu meragukan kualitas Faozan Rizal dalam merangkai gambar. Art-nya yang punya tone warna vibrant terekam dengan sangat cantik dalam framing serta angle sinematis yang indah.
Tata musik yang pop dan komikal mampu menghidupkan nuansa film menjadi lebih terasa urban ketimbang religi. Apalagi suara Andien yang menyumbangkan beberapa lagu, termasuk Let It Be My Way dan Satu yang Tak Bisa Lepas mampu memaksimalkan emosi sesuai dengan adegannya.
Terakhir, teknis yang patut mendapatkan apresiasi lebih adalah tata kostum yang mampu menampilkan variasi hijab dengan sentuhan lifestyle modern, sekaligus juga warna-warni yang mendukung konsep tone warna film secara keseluruhan.

The Essence

Seperti biasa, Hanung berusaha mengajak untuk menghormati segala perbedaan. Dengan konteks kali ini, dalam hal pilihan berhijab dan juga dalam pilihan mengijinkan istri bekerja. Semua harus tepat pada porsinya masing-masing agar berjalan harmonis.

They who will enjoy this the most

  • Hijabers
  • Woman in general, especially modern and stylish young adult ones
  • Mature men
  • General audiences who seek for a light and enjoyable entertainment
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates