Tuesday, January 27, 2015

The Jose Flash Review
The Imitation Game

Tak banyak orang awam yang mengenal nama Turing. Mungkin hanya mereka yang punya background informatika yang mengenal mesin Turing. Tak heran, konon cerita di balik mesin Turing baru diungkap setelah sekitar 50 tahun kemudian. Maka sebuah film yang mengangkat biografi Alan Turing, sosok di balik mesin Turing, bisa jadi hal yang menarik. Apalagi ada yang mengatakan bahwa mesin Turing adalah cikal bakal komputer yang kita pakai sehari-hari. Siapa yang tidak penasaran?

Sebagai porsi utamanya, The Imitation Game (TIG) menyuguhkan cerita penciptaan mesin Turing yang dikembangkan untuk memecahkan kode rahasia NAZI Jerman saat Perang Dunia II. Karena melibatkan perpacuan dengan waktu dan resiko yang besar, maka porsi ini menjadi kekuatan utama TIG sebagai sebuah permainan yang seru, menegangkan, sekaligus mengasyikkan. Porsi ini pulalah yang mampu menarik perhatian penonton untuk mengikuti alurnya yang ditata dengan sangat pas sebagai sebuah tontonan menghibur.

Namun lebih dalam lagi, TIG menggali tentang sosok Alan Turing secara keseluruhan. Mulai dari bagaimana perkembangan kepribadiannya yang menjadi arogan berkat kejeniusan otaknya, keberaniannya mendobrak cara-cara lama untuk memecahkan kode rahasia, sampai sisi yang dianggap borok di masa itu. Ya, ketika porsi permainan serunya memuncak, barulah terkuak konsep besar TIG sebagai sebuah metafora. Sosok Alan Turing sebagai seorang homoseksual mulai dimunculkan. Bagi beberapa penonton turning over cerita ini bisa jadi mengganggu fokus cerita yang sudah tersusun dengan rapi sejak awal. Apalagi dengan adanya epilog di ending yang lebih menekankan pada sisi homoseksual ketimbang sebagai sebuah cerita penciptaan sebuah teknologi, membuat TIG seolah semakin kehilangan fokusnya. Padahal menurut saya pribadi, TIG secara terang-terangan memaparkan metafora cara berpikir antara manusia dan mesin dengan manusia straight dan homoseksual. Ada dialog yang saya cantumkan di sini, yang cukup mewakili hal tersebut.

Belum lagi ditambah dengan performa akting yang luar biasa dari Benedict Cumberbatch. Tak hanya mampu menirukan mimik unik dari Alan Turing, Benedict berhasil menghidupkan sosok Turing dengan maksimal. Keira Knightley seperti biasa, mampu membuat karakternya menjadi menarik berkat kharisma khasnya. Sementara di jajaran pemeran pendukung, Matthew Goode, Rory Kinnear, Allen Leech, Matthew Beard, dan Mark Strong juga cukup tampil menarik mengisi peran masing-masing meski porsinya tak begitu banyak.

Terakhir, tentu saja scoring yang begitu menyatu dan cocok dengan karakter musik Alexandre Desplat yang klasik, misterius, sekaligus membangkitkan rasa penasaran.

Dengan jalinan permainan seru yang mengasah otak tanpa melibatkan jargon-jargon atau teori-teori yang susah dicerna, sebagai pengantar ke esensi utama cerita yang sangat menyentuh, TIG jelas punya skrip yang ditulis serta disusun dengan sangat bagus dan rapi, serta disutradarai dengan craftsmanship yang tepat sasaran dan serba pas. Menjadikan TIG sebuah tontonan yang sangat menghibur meski tidak terlalu ringan, dan dengan konsep besar yang cukup mendalam.


Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Performance for an Actor in a Leading Role – Benedict Cumberbetch
  • Best Performance for an Actress in a Supporting Role – Keira Knightley
  • Best Achievement in Directing – Morten Tyldum
  • Best Writing, Screenplay Based on Material Previously Produced or Published – Graham Moore
  • Best Achievement in Editing – William Goldenberg
  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score – Alexandre Desplat

Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates