Saturday, January 31, 2015

The Jose Flash Review
Foxcatcher

Gulat bukan olahraga yang populer di Indonesia. Paling-paling masyarakat kita mengenal gulat dalam kemasan entertainment macam WCW atau WWE. Itupun di TV nasional sempat dilarang tayang. Maka ketika muncul sebuah drama yang bercerita di balik olah raga gulat, apalagi sebuah based on true story, sebenarnya Foxcatcher adalah sebuah tawaran film yang menarik. Belum lagi dukungan Steve Carell dan Channing Tatum yang bermain di luar tipikal peran mereka sebelumnya.

Sejatinya Foxcatcher punya cerita yang cukup kelam dan depresif, namun tetap menarik. Bercerita tentang tragedi yang terjadi antara seorang konglomerat yang terobsesi akan olahraga gulat, John du Pont, pegulat juara Olimpiade, David Schultz, dan adiknya Mark Schultz, yang juga seorang pegulat tapi ingin lepas dari bayang-bayang kesuksesan sang kakak. Maka terjalinlah sebuah cerita menarik dari masing-masing karakter yang akhirnya saling terkoneksi, terutama karena ambisi. Plot yang sebenarnya menarik bukan? Sayangnya sutradara Bennett Miller yang sebelumnya dikenal lewat Moneyball dan Capote membawa Foxcathcer ke dalam jurang kekelaman dan depresi yang begitu dalam, sehingga sulit untuk bisa dinikmati.

Jika dianalisis dari segi skrip, sebenarnya saya menemukan tidak ada yang salah. Bisa saja Foxcatcher disajikan lewat sebuah drama yang padat, efektif, dan punya penekanan emosi yang lebih dalam, sehingga penonton bisa bersimpati lebih dalam lagi terhadap tiap karakternya. Nyatanya, Foxcatcher dibawa ke sebuah drama dengan alur yang serba lambat, lebih banyak hening, dan mengandalkan mimik serta aksi dari para karakternya dalam bercerita. Konsep ini sebenarnya tidak menjadi masalah jika diperlukan dalam menyampaikan cerita. In my opinion, lebih cocok untuk film-film yang lebih bersifat mind-provoking ketimbang emotion-stirring. In the end, hasilnya mungkin memang akan “mengusik” penonton karena memang shocking, tapi tidak akan mengundang simpati penonton terlalu jauh.

Keheningan Foxcatcher begitu terasa hingga membuat seolah fasilitas surround-nya terasa mubasir. Hanya dialog yang terdengar crisp dan suara tembakan yang durasinya tidak sampai semenit beserta suara gemanya yang membuat audio Foxcatcher terasa layak dinikmati di layar bioskop. Bahkan adegan pertandingan gulat pun terdengar jauh dari gemuruh suara penonton. Selain itu tone color yang sengaja dibuat kusam semakin membuatnya terasa depresif.

Satu-satunya yang membuat Foxcatcher terasa masih worth to watch adalah performa yang luar biasa, terutama dari Steve Carell dan Channing Tatum. Bisa dibilang performance mereka di sini adalah sebuah turnover yang patut diapresiasi lebih. Steve berhasil keluar dari image komikal menjadi karakter kelam yang bengis, dingin, sekaligus rapuh. I have to say, he’s the best performer in Foxcatcher. Sementara untuk Channing Tatum sebenarnya tidak terlalu istimewa. Namun mengingat peran-peran “ringan” yang diambil Channing selama ini, penampilan seriusnya kali ini harus diakui memang berhasil dibawakan dengan maksimal. Sementara Mark Ruffalo sebenarnya juga tampil baik  tapi karena porsi perannya yang memang secukupnya, maka penampilannya tidak begitu mengesankan.


Hate it or love it, Foxcatcher punya banyak potensi yang luar biasa. Tak heran jika diganjar penghargaan di mana-mana, tak terkecuali Academy Awards yang memberikannya 5 nominasi di kategori-kategori utama kecuali Best Motion Picture of the Year. Tapi kegagalannya masuk nominasi tertinggi itu, menurut saya, bukan tanpa alasan. John du Pont mungkin masih masuk nominasi sebagai sutradara terbaik karena dianggap berhasil mengarahkan aktor-aktornya, namun kurang membuat sebagian besar penontonnya nyaman dengan gaya penceritaan yang demikian. One viewing has been disturbing yet a little impressive enough. Menonton ulang adalah sebuah keputusan yang sangat sulit.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for:

  • Best Performance by an Actor in a Leading Role - Steve Carell
  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Mark Ruffalo
  • Best Achievement in Directing - Bennett Miller
  • Best Writing, Screenplay Written Directly for the Screen - E. Max Frye & Dan Futterman
  • Best Achievement in Makeup and Hairstyling - Bill Corso & Dennis Liddiard
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates