Sunday, January 18, 2015

The Jose Flash Review
Blackhat

Michael Mann dikenal sebagai sutradara spesialis action thriller yang punya gaya sendiri, baik dari segi visual maupun pengadeganan. Tidak seperti sutradara spesialis action lain, Michael Bay misalnya, Mann tidak tertarik untuk membuat adegan-adegan action yang serba dinamis dan short shot. Sebaliknya, Mann tak jarang sering memberikan adegan-adegan aksi yang realistis dan mampu menciptakan thrill tersendiri. Terkadang kita bisa disuguhi adegan diam atau percakapan panjang yang mungkin bagi beberapa orang tidak penting. Tidak selalu berhasil, terkadang ia pernah berlarut-larut hingga gagal menciptakan atmosfer thrill di adegan-adegan aksinya seperti di Miami Vice. Suka, tidak suka, begitulah gaya visualisasi dan bercerita dari seorang Michael Mann. Sekali lagi, bagi penonton ini soal bisa menerima gayanya atau tidak.

Blackhat menjadi highlight film 2015 yang menarik, khususnya bagi kita yang tinggal di Indonesia. Bagaimana tidak, sekitar seperempat film mengambil lokasi di Jakarta yang syutingnya berlangsung saat Lebaran 2014. Tak heran jika menjelang klimaks dan endingnya, konsentrasi penonton kita tidak lagi pada alur cerita, namun seringkali tak bisa menahan tawa dengan berbagai elemen-elemen Indonesia di film. Well, that’s okay, secara penonton kita masih suka minder dan mentertawai bangsanya sendiri.

Secara keseluruhan, Blackhat mengangkat tema cybercrime yang semakin menghantui semua orang di dunia, seiring dengan perkembangan internet yang makin membuat manusia tergantung padanya. Jika tahun lalu kita cukup dihantui oleh ancaman privasi di Transcendence, maka Blackhat mengajak dampak terburuk yang lebih jauh lewat jalur internet. Bayangkan, sebuah PLTN bisa meledak dan menyebarkan radiasinya yang berbahaya ke sekeliling, hanya karena reaktornya di-hack lewat internet. Premise-nya sebenarnya sangat-sangat sederhana dan sudah sering diangkat. Pun juga plot dan berbagai sub-plot yang cliché, seperti hubungan asmara antar karakter beda ras. Memang ada cukup banyak jargon-jargon dunia cyber yang cukup spesifik. Tak perlu sampai menjadi expert internet, tapi setidaknya penonton perlu tahu basic cara kerja jaringan internet untuk bisa memahami plot utamanya.

Selain detail hacking melalui jaringan internet beserta trik-triknya, nyaris tidak ada yang istimewa dari segi plot. Namun bukan berarti Blackhat lantas menjadi film action investigasi yang gagal sepenuhnya. Mann masih tahu bagaimana mempermainkan emosi penonton dengan timing, framing, pace, dan kejutan-kejutan terutama saat adegan-adegan aksi. Meski alurnya tergolong lambat, dengan detail adegan yang sedikit agak bertele-tele dan shot-shot panjang khasnya, terutama di paruh awal film, semakin ke belakang film menjadi semakin bikin penasaran dan menarik. Well, my advice, tidak perlu pusing-pusing berusaha mencerna cerita ataupun terlalu keras menantikan kejutan-kejutannya. Nikmati saja apa yang disajikan di layar dan ketika saatnya tiba, nikmati kekhasan Mann yang (setidaknya bagi saya) sudah dinanti-nantikan.

Mann memang tidak begitu banyak memberikan perkembangan karakter baik utama maupun pendukung. Ia lebih fokus menggerakkan cerita investigasinya. Tapi bukan berarti cast-nya tampil tidak mengesankan. Chris Hemsworth semakin mengukuhkan image-nya sebagai action hero yang keras, brutal, dan patut diperhitungkan, lebih dari sekedar karakter superhero Marvel. Tang Wei memang lebih terasa sebagai sidekick pemanis ketimbang peran yang cukup penting bagi karakter utama, namun pesonanya tereksploitasi dengan cukup baik. Sementara Wang Leehom juga masih cukup meninggalkan kesan dengan karakternya yang cerdas dan mudah mendapatkan simpati dari penonton.

Peran Viola Davis mungkin terasa tidak begitu memberikan pengaruh lebih, namun setidaknya performance Viola berhasil menjadikan karakter Barrett menjadi lebih memorable dan cukup khas. Sayang sekali, sosok villain yang diperankan oleh … tidak berkesan karena selain kemunculannya hanya di klimaks di menjelang ending.

Salah satu kekuatan terbesar Blackhat adalah visualisasinya. Seperti biasa, Mann menampilkan visual-visual yang unik sebagai signature-nya. Khusus di Blackhat, Mann memberikan beberapa shot yang super keren. Opening title yang stunning dan shot dari bawah keyboard komputer adalah contoh dari sekian banyak shot menarik. Mann juga masih membuat beberapa adegan dengan teknik shaky handheld. Namun porsinya hanya untuk adegan kejar-kejaran. Karena tidak terlalu banyak dan diaplikasikan pada adegan kejar-kejaran yang tidak punya banyak detail adegan, sehingga tidak terasa begitu mengganggu.


Ya, secara plotline Blackhat memang tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, bahkan ada cukup banyak plot hole serta adegan-adegan yang terasa aneh dan canggung. Tapi overall, saya masih sangat menikmati Blackhat as it is. Mann’s usual thrilling action, and it’s still grippin’ and kickin’ it.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates