Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Opens April 19.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 19.

Fast and Furious 8

When someone has broken the solid family, will they still believe in theirs?
Read more.

Tuesday, December 30, 2014

The Jose Flash Review
Paddington

Entah disengaja atau tidak, liburan Natal dan tahun baru 2014-2015 kali ini kita di Indonesia disuguhi 2 pilihan film keluarga yang sangat layak ditonton bersama seluruh anggota keluarga. Meski setiap tahun selalu ada pilihan film yang sengaja dirilis saat liburan Natal, tapi tidak setiap tahun ada pilihan yang benar-benar menarik dan bagus. Beruntung tahun ini ada 2 film sekaligus; Night at the Museum: Secret of the Tomb dan Paddington. Uniknya lagi, kedua film ini punya adegan yang settingnya di British Museum of National History. Keduanya punya juga share produser dengan franchise Harry Potter (Chris Columbus, produser NatM3 adalah produser 3 seri pertama HP, sementara David Heyman, produser Paddington adalah produser kesemua seri HP).

Paddington adalah sebuah film petualangan keluarga dengan menggabungkan karakter CGI dengan live action seperti halnya Alvin and the Chipmunk, Garfield, dan Smurfs. Diangkat dari buku dongeng anak-anak yang akhirnya mendunia berkat bonekanya, premise Paddington sebenarnya cukup familiar dengan genre sejenis: seekor beruang langka yang bisa bicara harus mengungsi ke London setelah habitat aslinya di pedalaman Peru terancam rusak. Maka Paddington, nama beruang itu, bertualang mencari keluarga di tengah masyarakat London yang individualis. Ditambah lagi ia harus berhadapan dengan kolektor hewan langka untuk diawetkan. Sederhana, cenderung cliché, tapi digarap dengan berbagai aspek yang luar biasa.

Sebagai film keluarga, Paddington masih tergolong cocok dan aman untuk disaksikan seluruh anggota keluarga, termasuk balita. Lebih dari itu, ia termasuk film keluarga yang sangat hangat dan menyenangkan. Sebagai film petualangan, ia juga menyajikan berbagai adegan petualangan yang seru dan dinamis, tanpa terkesan terlalu chaos seperti yang terjadi pada genre sejenis (terutama buatan Hollywood). Dijamin, Anda akan dibuat jatuh cinta dengan karakter Paddington sejak pertama kali kemunculannya hingga ending. Anda juga akan dibuat tersenyum sepanjang film, menikmati tiap ups and downs adegan, terutama adegan-adegan kekeluargaan yang mengalami pasang-surut dengan flow yang pas dan enak diikuti.

Paddington jelas jadi highlight utama, tentu saja juga tak lepas dari peran Ben Whisaw yang menjadi voice talent-nya. Nicole Kidman pun terasa begitu pas mengisi perannya, villain komikal yang membuat penonton sebal sekaligus tertawa. Sementara Sally Hawkins tampil charming dan easily lovable. Terakhir, Hugh Bonneville yang memerankan karakter Mr. Brown dan punya perkembangan karakter paling terasa, mampu mengisi perannya dengan sangat hidup dan menarik.

Art directing patut mendapatkan kredit tersendiri dalam membangun universe Paddington yang penuh warna, cantik, dan tetap terasa London banget. Elemen-elemen fantasi yang dihadirkan, seperti gedung kantor Geographer’s Guild, pun ditampilkan dengan remarkable. Ditambah lagi dengan camera work yang sangat mendukung panorama-panorama dan kebutuhan cerita serta menghadirkan pengalaman sinematis yang sangat memuaskan. So, sayang jika tidak menyaksikannya di layar lebar.
Elemen lain yang menjadi keunggulan Paddington adalah scoring dari Nick Urata yang mengiringi adegan-adegan dengan sangat pas. Belum lagi live music yang dibawakan oleh D Lime featuring Tabago Crusoe sepanjang adegan yang berhasil semakin mewarnai tiap adegan. Sedikit mengingatkan saya dengan elemen yang sama di There’s Something About Mary.

Dengan berbagai keunggulan yang dimilikinya, saya berani menobatkan Paddington sebagai film petualangan keluarga terbaik dalam beberapa tahun terakhir ini, dan bahkan salah satu yang terbaik sepanjang masa. Hiburan ringan yang sangat menyenangkan bagi penonton anak-anak, sekaligus menyentuh penonton dewasa dengan childhood joy dan family warmth themed-nya. 

Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 28, 2014

The Jose Flash Review
Night at the Museum: Secret of the Tomb

Sejak lama Chris Columbus dikenal sebagai produser sekaligus sesekali sutradara film-film bertemakan keluarga. Franchise fenomenal Home Alone, Percy Jackson, bahkan tiga seri pertama Harry Potter lahir dari tangan dinginnya. Salah satu yang paling berpengaruh adalah franchise Night at the Museum (NatM) yang dimulai liburan Natal 2006. Tak hanya berhasil mengumpulkan dollar hingga mencetak box office di mana-mana, pengunjung museum di lokasi aslinya, Museum of Natural History meningkat cukup signifikan pasca perilisannya. Impact yang masih jarang terjadi di ranah perfilman sampai sekarang sekalipun. Maka sekuelnya yang punya sub-title Battle of the Smithsonian di tahun 2009 pun juga mendulang sukses meski tak sebesar seri pertamanya. Di tahun 2014, tim yang sama mencoba untuk membuat seri ketiganya, dan digadang-gadang sebagai penutup franchise (setidaknya seri dengan karakter Larry sebagai  karakter utamanya).

NatM sebenarnya masih menggunakan formula yang sama hingga seri ini. Pola pengembangannya pun juga sama; pemindahan lokasi setting cerita dan penambahan karakter-karakter penghuni museum yang dihidupkan. Namun seri ini rupanya secara kebetulan dan juga secara konseptual yang disengaja, menawarkan lebih banyak ketimbang dua seri sebelumnya.

Jika di seri kedua menampilkan Smithsonian Institution sebagai lokasi tambahan, maka kali ini British Museum of Natural History dipilih untuk memperkaya adegan. Makin banyak lokasi, maka makin banyak karakter baru yang dihidupkan secara magis. Tidak tanggung-tanggung, di seri ini dipilih lebih banyak aktor-aktris populer untuk meramaikan. Mulai Sir Ben Kingsley, Dan Stevens, hingga Rebel Wilson yang penampilannya selalu menarik perhatian penonton. Bahkan sebagai cameo dipilih aktor yang pasti mengejutkan penonton yang belum mengetahui keterlibatannya di sini (clue: inisial HJ). In short: Secret of the Tomb (SotT) otomatis menjadi lebih menarik dan meriah berkat pemilihan cast tambahan yang tepat.

Faktor lain yang turut membuat SotT terasa berbeda dengan seri-seri sebelumnya adalah keterikatan emosi yang lebih kuat dengan penonton. Penampilan terakhir Robin Williams dan Mickey Rooney jelas membawa keuntungan tersendiri bagi film. Tidak sedikit penonton yang rela menyaksikan seri ini hanya untuk menyaksikan keduanya di layar untuk terakhir kalinya. Tapi bukan berarti tidak ada usaha lain yang membuat SotT terasa lebih kuat secara emosi. Tim penulis naskah dan sutradara Shawn Levy berhasil menampilkan adegan-adegan perpisahan di menjelang akhir film yang sangat menyentuh, tanpa harus habis-habisan menguras air mata, malahan tetap membubuhkan senyum di dalamnya. Franchise (utama) NatM pun berhasil ditutup dengan manis, masih dengan daya magis yang sama, dan tingkat keseruan petualangan yang setara.

Ada beberapa bagian yang awalnya terasa tidak begitu penting, seperti misalnya saat Jedediah dan Octavius terpisah dan bertualang sendiri. Namun skrip berhasil menyatukan sub-plot ini ke plot utama dengan mulus dan menarik. Special effect yang digunakan sepanjang film pun terasa cukup banyak berkembang. Yang paling membuat saya tercengang adalah tampilan constellation di awal film yang sangat indah.


SotT memang disebut-sebut sebagai pamungkas franchise NatM. Tapi melihat endingnya, bukan tidak mungkin ke depan muncul spin-off-nya. Mengingat di sini jelas-jelas Rebel Wilson bisa meneruskan tongkat estafet cerita dari Ben Stiller. Jika benar, jelas franchise NatM masih potensial untuk dikembangkan dan justru menjadi semakin menarik. Meski harus saya akui, agak mengganggu juga jika harus mendengarkan aksen British Rebel Wilson seperti di sini untuk porsi yang jauh lebih banyak.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, December 24, 2014

The Jose Movie Review
Pendekar Tongkat Emas



Overview

Bersamaan dengan sejarah filmnya, Indonesia sebenarnya juga punya sejarah film bergenre silat yang cukup panjang, bahkan sempat mencapai masa kejayaannya. Siapa yang tidak mengenal kisah seperti Saur Sepuh, Tutur Tinular, Misteri Gunung Merapi, Si Buta dari Gua Hantu, Si Pitung, dan Si Jampang? Well, mungkin generasi-generasi muda yang baru lahir 90-an ke atas dan hanya mengenal silat Indonesia melalui sinetron dan FTV silat seadanya yang ditayangkan di TV-TV lokal kita. Dengan eksistensi yang sudah berpuluh-puluh tahun vacuum dan image yang sudah terlanjur ternodai (begitu lama juga), effort Mirles untuk menghadirkannya lagi perlu dihargai. Padahal tantangan dan resikonya besar sekali. Budget yang sudah pasti besar (konon mencapai 25 milyar rupiah), tapi dengan pasar yang bisa dibilang masih sangat belum akrab dengan genre ini. Well, anyway Mirles sejak dulu memang dikenal selalu berani mencoba genre baru serta pasar yang berbeda dengan yang sudah ada sebelumnya, dan sukses.  Terbukti Petualangan Sherina dan Ada Apa dengan Cinta menjadi pertaruhan yang berbuah manis bagi Mirles. Toh Mirles selalu menjaga kualitas, setidaknya secara teknis, sehingga selalu menjadi pioneer di ranah perfilman Indonesia.

Pendekar Tongkat Emas (PTE) nyatanya tidak se-epic bayangan saya ketika pertama kali mendengar dan melihat materi-materi promosinya yang begitu menjanjikan. Alih-alih berlabel film silat, PTE lebih tepat disebut sebagai film drama tentang silat. Premise-nya sendiri tergolong biasa dan klise, apalagi bagi yang sudah cukup familiar dengan genre serupa, baik produksi lokal maupun import. Meski begitu, berkat flow cerita yang mengalir cukup lancar dan performance aktor-aktris-nya yang serba prima, menjadikan PTE film yang masih enjoyable, di balik alurnya yang tergolong lambat.

Secara keseluruhan, PTE memang menyajikan sebuah karya yang menghibur dan dipresentasikan dengan cukup baik. Meski harus diakui bukanlah karya terbaik produksi Mirles selama ini. Menarik, namun tidak sampai menjadi sesuatu yang terlampau istimewa. Kendati demikian, effort-nya dalam menawarkan genre yang sudah lama usang dan memperbaiki image film bertemakan silat di ranah film Indonesia patut mendapatkan kredit tersendiri. Kebangkitan genre silat yang sangat layak dan digarap dengan tidak main-main. Itulah mengapa, terutama bagi yang jarang menyaksikan film Indonesia, PTE terasa begitu fresh dan menampilkan sesuatu yang begitu istimewa bagi film Indonesia. Kisah silat yang kental rasa dan nuansa Indonesia-nya, dengan treatment kelas dunia.

The Casts

Setelah menganalisa lebih jauh dan lebih dalam pasca menonton, PTE barulah terbaca beberapa kekurangannya. Yang terasa jelas adalah karakteristik para tokoh yang (entah disengaja atau tidak) tidak digali lebih dalam. Alhasil, cerita hanya fokus pada pengenalan karakter-karakter dengan latar belakang secukupnya, lantas cerita dibiarkan mengalir begitu saja hingga akhir. Tidak salah jika konsepnya memang demikian, namun hasilnya juga tidak bisa membuat para karakternya menempel kuat di benak penonton pasca menyaksikannya. Untung pemilihan aktor-aktrisnya cukup membantu membuat setiap karakter masih cukup membekas. Apalagi performa beladiri yang ditampilkan masing-masing karakter cukup meyakinkan. Tidak terlalu mampu terlihat luar biasa, namun effort-nya patut dihargai lebih.

Dari jajaran cast all-star, yang patut paling saya puji adalah penampilan Eva Celia yang ternyata sangat baik. Meningkat cukup drastis dari penampilannya terakhir di Adriana. Beban karakter utama yang cukup berat dan punya porsi yang paling banyak, tidak menjadi sebuah masalah baginya, justru memperkuat image-nya di mata penonton. Lewat penampilannya di sini, Eva Celia berhasil membuktikan diri sebagai aktris muda yang sangat menjanjikan, di tengah membanjirnya aktor-aktris muda masa kini yang lebih banyak jual tampang daripada kualitas akting.

Nicholas Saputra yang punya pengalaman jauh lebih banyak pun turut mengimbangi Eva Celia dengan sangat baik. Tidak sampai menggusur kharisma Eva Celia, namun mampu menarik perhatian penonton dengan caranya sendiri.

Reza Rahadian tetap memberikan performa yang begitu pas dengan karakternya. Namun karena ini adalah seorang Reza Rahadian yang kelasnya sudah jauh di atas aktor rata-rata, maka penampilannya di sini sudah termasuk golongan biasa saja. Cukup pas mengisi perannya meski tidak begitu istimewa pula. Sementara Tara Basro cukup berhasil membangun image antagonisnya dengan baik lewat garis wajah yang terlukis di wajahnya yang eksotis dan berkarakter kuat.

Penampilan Christine Hakim yang tak begitu banyak, seperti biasa, mampu memberikan kesan tersendiri dengan ekspresi wajahnya yang entah bagaimana, dari sananya sudah cocok memerankan karakter serius apapun. Ditambah kemampuan bela diri yang “wah”.

Di jajaran pemeran pendukung lainnya, penampilan Prisia Nasution dan Darius Sinathrya cukup memberikan kesan tersendiri.

Terakhir, tentu saja pendatang baru Aria Kusumah yang menurut saya diberikan pengembangan karakter paling menarik dan banyak meski bukan di porsi utama, mampu menghidupkannya dengan cukup mengesankan.

Technical

Kekuatan utama dari teknis PTE jelas adalah sinematografi dari Gunnar Nimpuno, terutama dalam menangkap gambar-gambar lanskap Sumba dengan sangat cantik, sekelas National Geographic. Namun pergerakan kameranya masih belum secara maksimal merekam adegan-adegan pertarungan. Alhasil tidak banyak adegan pertarungan yang terasa luar biasa seru, most of them karena tidak dibingkai dengan close-up dan editing yang juga kurang mampu memberikan kesan dinamis di tengah-tengah pace film yang memang bergerak lambat. Untung di adegan pertarungan akhir yang cukup penting dan nyatanya mampu membekas di benak penonton, kendala-kendala ini cukup diperbaiki. Tata kamera sebenarnya juga masih kurang menutupi pergantian stunt di adegan pertarungan, yang otomatis juga mungkin akan membuat editor susah untuk menutupinya. Namun bagi mata awam, mungkin minus ini tidak akan begitu terasa.

Above all, ada beberapa shot yang luar biasa cantiknya, bahkan in term of cinematography, namun ada juga beberapa yang cukup mengganggu. Saya mencatat setidaknya ada 2 shot yang saya pertanyakan. Pertama shot wide Christine Hakim di tengah ilalang-ilalang yang entah kenapa fokusnya tanggung. Tetap terasa aneh jika sengaja dikonsep blur. Kedua, pergerakan kamera lambat setelah Eva Celia dan Aria jatuh ke jurang, yang terasa kurang smooth (terasa patah-patah).

Tata suara dari Satrio Budiono dan Yusuf Patawari, serta scoring dari Erwin Gutawa turut membangun adegan-adegan dengan baik. Meski gaya film yang sejak awal digunakan, terasa mendadak berubah drastis di adegan terakhir, terutama dari aspek scoring-nya. Jika di awal hingga pertengahan menggunakan orkestra dengan nuansa etnik Indonesia dan lebih terkesan arthouse, di adegan pertarungan final berubah menjadi pop. Sedikit mengingatkan akan film-film silat Mandarin era kejayaan Shaw Brothers yang kasar. Bagi penonton awam, perubahan ini mungkin tidak akan begitu menjadi masalah. Toh tetap mendukung adegan dengan sangat baik. Tapi bagi yang terbiasa menganalisa setiap aspek detail film, ini bisa jadi sebuah inkonsistensi.

Untuk artistik, saya menyukai tata kostum yang sederhana namun cantik dan cukup ikonik dari karakter-karakter utamanya. Fusion antara kostum silat umum dan nuansa etnik Sumba berpadu dengan sangat indah. Anyway, PTE adalah sebuah karya fantasi yang tidak perlu menggunakan fakta sejarah apa-apa. Sehingga sah-sah saja dalam menampilkan artistik yang fusion dan tidak terlalu otentik. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang patut dicatat dari tata artistik (terutama dalam ranah fiksi dan fantasi), kekuatan artistik sebagai aspek yang ikonik dan mampu terus diingat jauh lebih penting daripada otentisitas-nya. Jadi saya jelas-jelas menentang kritikus yang menganggap PTE terlalu Cina dalam artistiknya (terutama dari tata kostum). Once again, tidak ada yang salah dengan itu!

The Essence

Dalam hidup, tidak hanya di dunia persilatan, membuat kesalahan terhadap seseorang tidak bisa dihindari. Sometimes, memang diperlukan. Namun yang terpenting adalah bagaimana menebusnya dengan cara yang lebih berguna di kemudian hari.

They who will enjoy this the most


  • Penggemar film silat klasik, terutama produksi Indonesia
  • Penonton umum yang mencari tontonan ringan namun menghibur dan seru
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 21, 2014

The Jose Flash Review
The Hobbit: The Battle of the Five Armies

Sekali lagi Peter Jackson harus mengakhiri tambang emasnya. The Hobbit akhirnya sudah mencapai bagian terakhirnya yang sudah ditunggu-tunggu penggemar beratnya. Tapi jangan salah, fans berat seri The Lord of the Rings (TLOTR) bukan berarti otomatis menjadi fans The Hobbit versi Peter Jackson. Kali ini Peter memang punya ambisi yang sama besarnya saat menggarap trilogy TLOTR, meski source aslinya (novel The Hobbit) punya materi cerita yang tidak se-epic TLOTR. Maka 1 seri novel pun menjadi 3 film dengan durasi masing-masing sekitar dua setengah jam. Jika cerita seri pertamanya (The Hobbit: An Unexpected Journey – AUJ) dibangun dengan baik, seri keduanya (The Hobbit: The Desolation of Smaug – TdoS) baru mulai terasa dragging. Untung Peter piawai menjejalkan adegan-adegan petualangan dan pertarungan seru yang mampu membuatnya terasa enjoyable meski alur ceritanya tidak berjalan terlalu banyak. Kini tinggal satu seri terakhir untuk mengakhiri semuanya.

Selayaknya Return of the King (RotK), seri pemungkas trilogi TLOTR, The Hobbit: The Battle of the Five Armies (BFA) juga punya formula yang sama. Hampir keseluruhan durasi dijejali dengan adegan-adegan pertarungan non-stop dan dengan tensi yang semakin meningkat. Saya sempat melihat jam, dari durasi total 144 menit, sepanjang 2 jam diisi adegan pertarungan yang melibatkan 5 bangsa seperti sub-judulnya, sisanya setengah jam terakhir diisi epilog yang sekaligus menghubungkan dengan trilogy TLOTR. Feel The Hobbit selama ini yang skala ceritanya tak sebesar TLOTR otomatis terasa ter-upgrade menjadi setara. Konsekuensinya, tak banyak perkembangan karakter yang ditampilkan. Apalagi dari karakter (yang seharusnya jadi yang) utama, Bilbo Baggins yang sejak awal menjadi fokus cerita.  Di seri ini Bilbo seolah-olah kalah porsi ketimbang karakter-karakter yang sebelumnya hanya jadi pendukung, seperti Bard, Tauriel, dan Thorin. Bahkan karakter Alfrid yang sebenarnya ditampilkan sebagai penyegar adegan semata, punya porsi yang lebih banyak dan bahkan mungkin lebih diingat penonton ketimbang Bilbo. Bandingkan dengan RotK yang tetap konsisten memberikan porsi cukup untuk Frodo Baggins dan Samwise Gamgee.

Bukan berarti BFA tidak menampilkan perkembangan karakter sama sekali. Yang paling terasa adalah dilematis Thorin sebagai raja; antara ambisi pribadi dan kebijaksanaan. Namun perkembangannya terasa memang ditujukan untuk anak-anak. Begitu cliché dan dikembangkan dengan sederhana. Lebih sederhana ketimbang pergulatan batin Aragorn di RotK. So, dengan subplot-subplot yang terkesan asal ada, nikmati saja seri terakhir ini sebagai sebuah tontonan aksi seru tanpa henti yang mengasyikkan. Mungkin sedikit melelahkan di satu jam pertama, namun saya berhasil sangat menikmati satu jam berikutnya, yang sangat stylish.

Howard Shore masih konsiten memberikan score yang sama megah dan mampu menghidupkan setiap adegan dengan maksimal. Billy Boyd yang memerankan karakter Peregrin Took di trilogy TLOTR, di sini menyumbangkan lagu berjudul The Last Goodbye yang menjadi theme song. Meski tidak se-memorable I See Fire dari Ed Sheeran maupun Misty Mountains, nyatanya cukup berhasil menutup film dengan sangat memuaskan. 


The Hobbit mungkin memang disiapkan Peter Jackson sebagai trilogy prekuel yang bersambung langsung dengan trilogy TLOTR, seperti halnya Star Wars Saga. Tidak ada salahnya dengan konsep seperti itu selama mampu menghadirkan cerita yang memang menarik, tidak sekedar mengulang formula. Kita lihat saja bagaimana lagi Peter Jackson akan memanfaatkan franchise TLOTR ini untuk dikembangkan, terutama karena memang tidak ada materi universe TLOTR lagi sebagai dasar cerita. Merangkai cerita sendiri? Kenapa tidak? Let’s just wait and see.

Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Sound Editing
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, December 14, 2014

The Jose Flash Review
Stand by Me Doraemon

Siapapun yang pernah melewati era 90-an pasti mengenal tokoh-tokoh kartun Doraemon yang selalu menyambangi tiap Minggu pagi di salah satu TV swasta. Sebagai salah satu serial kartun yang paling lama tayang di TV, Doraemon jelas adalah ikon lintas generasi. Maka ketika muncul Stand by Me (SbM) yang disebut-sebut sebagai film layar lebar terakhir dari Doraemon, siapapun yang merasa punya kenangan atau sekedar tumbuh bersama Doraemon mau tidak tergelitik untuk menonton. Thanks to Jive! (group Blitz Megaplex) yang mau mengimpor SbM ke Indonesia, di tengah hampir mustahilnya importer film utama di Indonesia memasukkan film anime dan film-film yang berasal dari Jepang lainnya.

Angka 1 juta penonton di minggu ketiga jelas menorehkan sejarah baru di perbioskopan Indonesia. Apalagi dengan jumlah layar yang konon hanya sekitar 20-an layar. Sepanjang 2014 saja, perlu film dengan hype sebesar Transformers 4 dan Annabelle untuk bisa meraih 1 juta penonton. Itupun keduanya masing-masing ditayangkan di ratusan layar dan dalam waktu sebulan lebih.

Sebenarnya apa yang menjadikan SbM begitu istimewa? Harus diakui, tidak ada yang benar-benar baru di SbM selain format 3D dari yang biasanya hanya anime 2D tradisional. Ceritanya pun sebenarnya meringkas beberapa episode pertama dari serialnya. Tapi justru di situlah letak kekuatan SbM. Episode-episode yang dipilih untuk ditampilkan benar-benar yang terpenting dari keseluruhan episode yang ada. Perkenalan karakter-karakter utama, universe Doraemon, hubungan antar karakter, semuanya terangkum lengkap dan esensial di SbM.

Bagi yang tumbuh bersama Doraemon, SbM jelas menjadi mesin waktu yang mengingatkan kembali masa-masa indah bersama Doraemon sekaligus memahami lebih dalam konsep cerita Doraemon yang begitu penuh makna namun dengan kemasan pop yang begitu menarik. Tentu saja juga dengan tampilan 3D yang begitu memanjakan mata. Saya begitu menikmati perjalanan meruntut memori-memori indah bersama Doraemon dengan visualisasi modern. It was like a fantasy comes true. Universe Doraemon yang kita kenal selama ini benar-benar dihidupkan dengan sempurna lewat visualisasinya yang dimanfaatkan secara maksimal di beberapa adegan sinematis, seperti terbang menyusuri kota dengan baling-baling bambu. Sayang untuk melewatkannya di bioskop, apalagi dengan format 3D.


Bagi yang belum pernah mengenal Doraemon, SbM adalah ekstraksi yang esensial untuk memahami kisah Doraemon secara keseluruhan, yang mungkin akan membuat Anda tertarik mengikuti serialnya yang merupakan ekstensi dan perkembangan dari kisah utama ini. Selamat jatuh cinta (sekali lagi) dengan Doraemon, Nobita, Shizuka, Suneo, dan semua karakter lainnya!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates