Selamat Hari Film Nasional

Celebrate Film Nasional by watching Film Indonesia. Find one suits you here.

The Guys

Raditya Dika on his following project in 2017.
Opens April 13.

Smurfs: The Lost Village

The Smurfs are back in their fittest form: 3D animated!
Opens March 28.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Opens April 21.

Beauty and the Beast

Disney to bring the classic magical animation to live action with Emma Watson!
Opens March 17.

Monday, October 27, 2014

The Jose Flash Review
Happy New Year

Bollywood semakin lama semakin layak menyandang status high demand. Rilisan demi rilisan saling mengejar angka box office worldwide, terlepas dari review-review negatif yang jelas-jelas menilai film-film blockbuster Bollywood dengan kacamata yang salah. No, of course this kind of movies were not Oscar or any other awards material. Mereka ada murni untuk menghibur dengan segala ke-khas-annya. Jadi permasalahannya terletak pada apakah tipe hiburan seperti ini sesuai dengan yang Anda suka atau tidak, bukan perkara bagus atau tidak.

Happy New Year (HNY) jelas tipikal film blockbuster Bollywood yang punya hampir semua formula sukses ala Bollywood. Jajaran bintang kelas A, check! Lagu-lagu dan tarian spektakuler, check! Komedi slapstick, check! Setting artistik megah, check! Plot balas dendam, check! So, it’s all about how it was executed. But hey, it’s Farah Khan yang sudah berpengalaman sebagai koreografer di puluhan film Bollywood high profile, mulai Kuch Kuch Hota Hai, Kabhi Khushi Kabhie Gham, Student of the Year, Chennai Express, sampai film Hollywood Vanity Fair. Dari portfolionya, setidaknya HNY tetap menjadi tontonan yang semarak dan sangat menghibur. Mengambil plot yang seperti perpaduan Now You See Me dan Step Up (terlalu snob jika menyebut ini rip-off dari film-film Hollywood, since those are not really original anyway), ia punya banyak kesempatan untuk menghibur penonton dengan gelaran kekonyolan dan performance-performance spektakuler.

Benar saja, di tengah trend film Bollywood yang “semakin Hollywood” dengan durasi yang “hanya dua setengah jam” dan minim lagu/tarian, HNY (seperti halnya film-film rilisan Yash Raj lainnya) berani tetap dengan pakem asli Bollywood: durasi 3 jam dan dipenuhi kemeriahan lagu-lagu serta tarian spektakuler. Namun yang mungkin menjadi permasalahan utama bagi kebanyakan penonton adalah konsepnya yang memang sebagai komedi slapstick. Kekonyolan demi kekonyolan (atau malah terkadang menjual stupidity di mana-mana) tersebar di hampir ¾ durasi awal. Tapi saya pribadi masih bisa menerima dan tertawa terbahak-bahak di beberapa jokes tanpa merasakan eneg. Once again, ini perkara selera, apakah Anda termasuk yang bisa accept guyonan slapstick dan stupid jokes atau tidak.
Namun di beberapa adegan penting (baca: klimaks), HNY masih mampu menciptakan suasana tegang dan menyentuh, meski hanya pada kadar yang pas, tidak sampai maksimal.

Dengan karakter utama yang berjumlah 6 orang, HNY mampu membagi porsi dengan pas untuk tiap karakter dikenal dan diingat penonton. SRK tampil sebagai perpaduan pria kharismatik, garang, badass (terutama di awal-awal film), dan tak ketinggalan sisi komedik yang pas. Jujur, saya lebih suka SRK dengan peran seperti ini ketimbang pria melankoli. Deepika Padukone seperti biasa, mempesona. Abhisek Bachchan dan Boman Irani mampu menampilkan sisi komedik mereka dengan pas dan natural. Sementara pendatang baru Vivaan Shah cukup menarik perhatian.


Anyway, HNY membuktikan bahwa orang India (terutama industri perfilmannya) tahu betul bagaimana bersenang-senang dan menghibur penontonnya. Lihat saja credit title-nya yang melibatkan seluruh kru di balik layar untuk adu dance. Yes, this is silly and maybe stupid, but it’s definitely spectacular, and the most important thing of all, very entertaining without leaving its big heart.

Lihat data film ini di IMDb.

Sunday, October 26, 2014

The Jose Flash Review
Chef (2014)

Nama Jon Favreau melambung begitu menyutradarai 2 film Iron Man. Judul seperti Cowboys and Aliens serta Zathura turut memberikan predikat film action petualangan sarat CGI. Maka ketika ia membuat (menulis dan menyutradarai) sendiri film drama komedi bertemakan keluarga (bertemakan keluarga, bukan berarti cocok ditonton sekeluarga, apalagi keluarga dengan anak-anak di bawah umur) berjudul Chef, tentu ini menjadi hal yang menarik.

Di Chef, Jon mencoba menggabungkan berbagai isu kekinian menjadi satu adonan yang bisa jadi cukup real dan relevan, serta ter-blend dengan sangat menarik. Ia mengangkat isu dealing with critics, berani ber-entrepreneur, father-and-son, sampai the power of social media. Belum membahas tentang foodtruck yang beberapa bulan terakhir sempat trending di khazanah kuliner, tak terkecuali Indonesia. Hasilnya memang menjadi tontonan yang sangat menarik untuk diikuti, meski ceritanya sangat terasa personal sekali. Sayangnya, sebagai hasil dari cerita serba realistis, alurnya menjadi biasa saja, tanpa lonjakan emosi yang signifikan. Ya, mungkin memang konsepnya yang dibuat feel-good. I can feel it. Tapi tetap saja terasa ada yang kurang kuat secara keseluruhan.

Dari segi cast, Jon Favreau sendiri ternyata mampu menjadi aktor yang cukup menarik, apalagi dengan peran serius tapi sebenarnya sangat comedic di mata penonton. Menarik juga menyaksikan Sofia Vergara tidak se-medhok biasanya. Hasilnya peran Inez menjadi sedikit lebih serius (in a good way) ketimbang peran-peran Vergara sebelumnya, tapi tetap mampu menampilkan kelucuan tersendiri. Bintang cilik Emjay Anthony pun cukup mampu mencuri simpati penonton bekat kecerdasan dan “nasib” yang harus dialaminya.

Tapi jajaran cast yang paling menarik tentu saja penampilan sekejap dari Robert Downey, Jr dan mungkin juga ada yang menyukai performa Scarlett Johansson yang juga tampil sedikit berbeda ketimbang biasanya.

Hal menarik lain yang membuat Chef jadi hidangan yang sangat nikmat, menutupi kekurangannya, adalah sinematografi yang berhasil merekam adegan-adegan foodporn menjadi begitu menggugah selera. Ditambah musik-musik beraliran Cuban yang menambah eksotisme film.


So jika Anda termasuk foodish atau menyukai tema-tema sosial, Chef adalah tontonan yang pantang untuk dilewatkan.

Lihat data film ini di IMDb.

Thursday, October 23, 2014

The Jose Movie Review
Fury

Overview

Film bertemakan Perang Dunia II sudah tak terhitung lagi banyaknya dan rata-rata memang punya kualitas yang baik. Berbagai fokus dan pendekatan pun sudah dilakukan untuk memberikan insight yang berbeda. Namun ketika sutradara sekelas David Ayer mencoba untuk membuat film bertemakan PD II, jelas ini jadi sesuatu yang menarik. Bukannya apa, selama ini Ayer dikenal spesialis film bertemakan modern street violence dengan pendekatan personal antar karakter utama, seperti Harsh Times, Street Kings, dan End of Watch. Maka dengan memindahkan style yang serupa ke setting PD II pasti bikin penasaran, terutama bagi fans Ayer.
What you do expect from Ayer, that’s what you got from Fury. Di tangan Ayer, Fury menggambarkan neraka perang yang begitu mengerikan, tak hanya karena adegan-adegan sadisme yang di atas rata-rata, tapi juga bangunan nuansanya yang bahkan lebih mencekam daripada film horor. Namun kemudian ia mengontraskan nuansa mengerikan dengan karakter-karakter yang masih punya hati tulus dan bersih, yang hidup di tengah-tengah neraka. Karakter kharismatik Wardaddy dan Norman seolah sengaja ditulis untuk menunjukkan kontras itu. Tak ketinggalan karakter-karakter pendukung seperti Bible, Gordo, dan Grady, yang mengamini tipikal prajurit perang: beringas dan tak berperikemanusiaan, sebagai kontras yang semakin mencolok.
Seperti biasa, tema bromance juga diselipkan sebagai nafas emosi dan dramatisasi dalam cerita. Tak seperti Street Kings, End of Watch, dan Training Day yang menjadikan koneksi antar karakternya sebagai penggerak cerita utama, kali ini Ayer membubuhkan dalam kadar secukupnya saja. Tak begitu mendalam tergali, namun at some point berhasil menjadi adegan-adegan yang cukup emosional dan memorable.
Overall, Fury menawarkan nuansa haunting dari perang dengan kadar yang belum pernah dicapai film bertemakan serupa sebelumnya, tanpa melupakan pure heart humanity yang ditampilkan dengan kadar yang pas. Dari jajaran film yang pernah digarap Ayer, Fury mungkin jadi yang paling high profile dan dengan pencapaian yang tertinggi dari berbagai aspek.

The Casts

Sekilas Brad Pitt seolah memerankan karakter yang mirip dengan perannya di Inglourious Basterds. Namun ternyata di sini ia tak hanya memerankan karakter yang berbeda, tapi juga dengan kharismatik dan penghayatan yang jauh lebih hidup. Peningkatan kelas juga dialami Logan Lerman yang sebelumnya memainkan karakter-karakter tipikal. Di sini ia menunjukkan transformasi karakter yang hidup dan wajar sejak awal hingga akhir film.
Shia LaBeouf yang selama ini masih sering terjebak dalam karakter serupa (termasuk ketika di Nymphomaniac sekalipun), kali ini akhirnya berhasil keluar dan menampilkan karakter yang lebih dewasa dengan penghayatan yang juga lebih baik. Sementara aktor langganan Ayer, Micael Peña, masih tak jauh-jauh dari peran-peran yang diberikan Ayer kepadanya sebelum ini.
Scene stealer? Tentu kecantikan dan keanggunan Alicia von Rittberg yang memukau meski tanpa dialog dan porsi yang sedikit.

Technical

Seperti film-film bertemakan perang lainnya, Fury juga menyuguhkan tata suara yang menggelegar namun tetap terdengar jernih. Mulai suara tembakan hingga dentuman peledak terdengar luar biasa.
Kekuatan paling mencolok dari Fury adalah scoring Steven Price yang tak hanya memberikan kesan grande tapi juga haunting dan bernuansa okultisme. Benar-benar menghadirkan horor yang lebih mengerikan dari film horor manapun.
Sementara sinematografi Roman Vasyanov dan editing Jay Cassidy serta Dody Dorn membuat pace Fury terasa begitu pas untuk dinikmati dan sesuai dengan konsep secara keseluruhan.

The Essence

Even in the deepest hell, you can create your own heaven by doing so and make everyting felt better.

They who will enjoy this the most

  • World War II themed fans
  • Brotherhood themed fans
  • Gore and graphic violence enthusiasts
  • General audiences who seek for thrilling and exciting entertainment
Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Movie Review
The Book of Life 3D

Overview

Reel FX selama ini dikenal sebagai studio kreator special effect dan desain grafis. Film animasi layar lebar pertamanya, Free Birds, punya potensi yang bagus dengan pengisi-pengisi suara aktor terkenal. Sayang distribusi yang tidak termasuk The Big Six, membuat gaungnya tidak terlalu besar. Maka dengan diproduseri oleh Guillermo del Toro dan dukungan distribusi 20th Century Fox, kali ini Reel FX punya kesempatan lebih besar untuk menjadi studio animasi yang sejajar dengan Disney, Pixar, maupun DreamWorks, lewat The Book of Life (TBoL).
Di luar dugaan, TBoL berhasil menjadi sajian film animasi yang segar, terutama dari segi visualisasi. Dengan mengangkat kebudayaan Meksiko, TBoL tampil unik dengan desain karakternya yang seolah seperti boneka kayu khas Meksiko. Sedikit mengingatkan saya dengan The Lego Movie, tetapi dengan ciri khasnya sendiri. Belum lagi dukungan ornamen-ornamen yang sangat detail dan penuh warna vibrant yang menambah cantik visualisasinya.
Plot dasar TboL sebenarnya cukup klise, yaitu cinta segitiga dengan latar budaya Meksiko, terutama perayaan Day of the Dead. Tapi plot dasar itu dibumbui dengan berbagi pemikiran modern, seperti tentang emansipasi wanita dan pilihan hidup sesuai passion. Kesemuanya menjadikan BoL terasa lebih dewasa dan lebih cocok untuk penonton di atas usia 10 tahun ketimbang visualisasi dan joke-jokenya yang lebih childish meski tidak sampai sampai jadi garing. Namun the best of all adalah penggalian emosi yang cukup membuat penonton berempati di banyak adegan. Apalagi dengan dukungan scoring yang mengiringi dengan sangat pas.
Sayang segala kelebihan yang dimiliki TBoL tidak diimbangi dengan storytelling-nya yang masih terasa tiring di beberapa bagian. Awalnya alur berjalan dengan lancar dan enak dinikmati. Tapi di beberapa adegan alur terasa agak melelahkan, terutama karena faktor joke yang nyaris tanpa henti diselipkan. Untung tidak sampai menghambat pergerakan cerita dan tidak berlangsung sepanjang film. Chaotic yang ditampilkan di hampir semua adegan juga berpotensi merusak alur seperti yang terjadi di Hotel Transylvania. Namun karena disajikan dengan pace yang tepat (baca: tidak terasa terlalu cepat), ternyata hasilnya masih bisa dinikmati dengan nyaman.
In the end, TBoL bisa jadi salah satu animasi terbaik tahun ini, apalagi dengan visualisasinya yang sangat stunning. Dengan berbagai unsur kanak-kanak dan dewasanya, TBoL adalah paket hiburan yang cukup lengkap untuk segala usia.

The Casts

Hampir semua cast mampu menghidupkan karakter-karakternya melalui sumbangan suara. Terutama sekali Zoe Saldana dan Diego Luna yang mendapat porsi paling banyak. Channing Tatum yang cocky pun berhasil terdengar nyata.
Ron Perlman yang punya suara khas juga turut menghidupkan karakter Xibalba. Namun tentu saja yang paling mencuri perhatian adalah Ice Cube dengan suara khasnya yang membuat nuansa TBoL semakin terasa groovy.

Technical

TBoL jelas punya desain produksi yang begitu kuat dan khas. Sedikit mengingatkan saya akan desain produksi Tim Burton’s Corpse Bride, namun dengan warna-warni yang lebih vibrant dan ornamen-ornamen yang lebih khas.
Efek 3D yang jadi opsi penonton bukanlah pilihan yang mubazir, meski bukan juga menjadi kewajiban. Depth-nya memang memberikan dimensi tersendiri dan memperkaya keindahan gambar, namun tak banyak efek pop-out yang ditawarkan.
Tata suara juga patut mendapatkan kredit yang cukup tinggi, terutama dalam menghadirkan suara yang crisp dan dahsyat, serta efek surround yang juga terasa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Scoring yang digubah Gustavo Santaolalla turut memberikan kontribusi yang pas dengan emosi. Fun, pride, dan sorrow, jadi bisa begitu dirasakan oleh penonton lewat iringan musiknya. Belum lagi pilihan lagu-lagu populer seperti Creep milik Radiohead, Da Ya Think I’m Sexy dari Rod Stewart, dan Just A Friend dari Biz Markie, serta banyak lagu-lagu baru yang menambah poin keindahan TBoL sebagai piece of art.

The Essence

Pria perlu keseimbangan antara hati yang tulus dan keberanian untuk menjadi pria sejati yang didambakan wanita manapun.  And yeah, if you’re certain about true love, no effort is for nothing.

They who will enjoy this the most

  • The whole family member, from infant to the eldest
  • Sweet romance fans
  • Musical movie enthusiasts
  • Ethnic cultural lovers
Lihat data film ini di IMDb.

The Jose Movie Review
3 Nafas Likas

Overview

Salah satu formula film Indonesia agar dilirik oleh penonton adalah biopic. Akan lebih baik lagi jika punya dua aspek favorit penonton sini: romance dan special effect memukau. Terbukti Habibie & Ainun yang berhasil menjadi box office di mana-mana. Berangkat dari analisis selera penonton inilah film 3 Nafas Likas (3NL) mencoba peruntungannya di pasar lokal. 3NL mengangkat kisah hidup inspiratif seorang wanita bernama Likas yang berjuang melewati 3 era berbeda.
Apa yang ditawarkan 3NL sebenarnya berpotensi menjadi sajian tontonan yang menarik. Namun karena trying too hard untuk memenuhi semua syarat dalam menggaet penonton, 3NL jadi terasa kurang maksimal dalam bertutur. Fokus cerita yang seharusnya pada perkembangan karakter Likas, harus terdistraksi oleh unsur romance dengan karakter Djamin Gintings yang mendadak jadi dominan, juga adegan-adegan perang yang seharusnya hanya sekedar menjadi background cerita. Akibatnya, ruang untuk menuturkan perkembangan Likas menjadi terbatas dan dengan rentang waktu cerita yang panjang, jadi terkesan terburu-buru. Apalagi ketika akan memasuki stage ke tiga pasca masa orde baru.
Memang sih, beberapa adegan penting masih berhasil menyentuh penonton. Namun secara keseluruhan, adegan-adegan 3NL seolah berdiri sendiri-sendiri sehingga emosi serta empati penonton terhadap karakter Likas menjadi kurang tereksplor lebih dalam.
Namun di balik storytelling-nya yang kurang maksimal, 3NL tetap saja harus diapresiasi berkat performa akting dan production value yang matang serta memukau. Setidaknya 3NL masih menjadi produksi film Indonesia yang sayang untuk dilewatkan di layar bioskop.

The Casts

Atiqah Hasiholan yang mengisi peran utama menunjukkan performa akting yang semakin matang dan gemilang dari film ke film. Tak hanya urusan logat Karo, tapi juga naik-turun emosi yangbegitu hidup. Sayang performa maksimal Atiqah masih belum bisa diimbangi oleh akting Vino G. Bastian. Memang sih di beberapa bagian Vino mampu mengeluarkan emosi yang pas, tapi masih sering belum bisa lepas dari tipikal karakter Vino biasanya, sehingga terkesan komikal dan dibuat-buat.
Di deretan pemeran pendukung ada nama-nama senior yang tak perlu diragukan lagi performa aktingnya. Mulai Jajang C. Noer yang mampu menjadi ibu dengan penuh tekanan batin, dan Arswendi Nasution yang kharismatik. Namun tentu saja scene stealer paling memukau adalah Tissa Biani Azzahra sebagai Likas kecil yang mampu menjembatani peran Atiqah Hasiholan dengan sangat baik.

Technical

3NL jelas mempersiapkan teknisnya dengan sangat baik. Mulai penggunaan CGI yang memukau, sinematografi yang mampu merekam gambar-gambar menjadi terasa sangat sinematis, hingga tone color yang memanjakan mata dengan keindahan warna-warna vibrant-nya.
Scoring dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Tak hanya mampu memperkuat emosi adegan, tapi juga memadukan berbagai unsur musik etnis yang relevan dengan adegan menjadi komposisi yang variatif serta berkelas.

The Essence

Kehidupan adalah roda yang selalu berputar. Kita tidak pernah tahu kapan di atas dan kapan bakal jatuh terjerembab. Yang penting kita selalu siap menghadapi apapun yang terjadi dan tak pernah kehabisan semangat untuk terus bangkit tiap kali jatuh.

They who will enjoy this the most

  • Pecinta film biopic
  • Pecinta film romance
  • Pecinta film inspiratif
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.

Wednesday, October 22, 2014

The Jose Movie Review
The Judge

Overview

Genre drama courtroom pernah cukup booming di era 90-an. Apalagi adaptasi dari novel-novel John Grisham seperti The Firm dan The Pelican Brief. Namun semakin lama selera pasar bergeser sehingga kurang meminati film-film yang memerlukan kinerja otak untuk menganalisis kasus pidana, meski seringkali jadi menarik berkat twist yang sering diletakkan di keputusan hakim ketua. Maka drama courtroom pun semakin jarang muncul di layar lebar dan lebih sering muncul di layar kaca. Maka kemunculan The Judge di tengah-tengah gegap gempita film bang bang boom blockbuster dan teenage romance menjadi semacam oase yang cukup menyegarkan.
Jujur, ketika menyaksikan trailernya, saya kurang begitu tertarik untuk menyaksikan film utamanya. Terutama karena serasa seperti film yang terlalu serius, namun juga tidak menyajikan ketegangan khas courtroom drama. Namun ternyata The Judge menawarkan lebih dari sekedar courtroom drama. Secara garis besar, The Judge sebenarnya punya premise utama father-and-son drama yang dikembangkan dengan background ruang persidangan. Lengkap dengan atribut profesi hakim ketua untuk sang ayah dan pengacara handal untuk sang anak.
Seperti kebanyakan father-and-son drama, The Judge juga punya cerita hubungan ayah-putra yang sudah lama tak akur. Tak jelas penyebab utamanya hingga menjelang klimaks film. Sebuah konsep dasar yang sebenarnya klise, namun di-drive dengan blend bersama tema courtroom yang sangat sangat menarik. Dengan durasi yang termasuk di atas rata-rata (2 jam 21 menit), The Judge sebenarnya punya alur yang lambat. Untungnya adu argumen yang terjadi di tiap adegan berhasil menghiasi storyline menjadi lebih segar dan menarik untuk diikuti. Belum lagi beberapa adegan penting yang dengan sangat maksimal berhasil menyentuh penontonnya. Tidak perlu tampil terlalu mellow atau menye-menye, The Judge cukup menyentuh dengan menyajikan suasana adegan apa adanya serta penampilan akting dari para aktornya yang luar biasa.
Tak hanya berhasil mengembangkan plot father-and-son-nya sebagai menu utama. Koneksi antar karakter lainnya, seperti Hank dengan Samantha serta Hank dengan putrinya, Lauren, juga berhasil berjalan dengan sejajar dan seimbang, tanpa mengganggu fokus plot utamanya.
Dengan blend yang sempurna antara courtroom drama dan koneksi antar karakter di baliknya, saya mengakui bahwa The Judge adalah salah satu film terbaik tahun ini yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Tak hanya sebagai courtroom drama yang memang sudah lama tidak kita saksikan, tapi juga sebagai father-and-son drama yang deeply touching, tanpa harus mendayu-dayu.

The Casts

Salah satu faktor terkuat dari The Judge adalah para aktornya yang bermain dengan gemilang. Robert Downey, Jr. tampil menarik memainkan karakter yang terasa berbeda dengan image Tony Stark yang terlanjur melekat terlalu. Padahal kalau mau diperhatikan lagi, sebenarnya antara karakter Hank dan Tony Stark punya sedikit kemiripan. Terutama dari segi kesinisan dialog. Robrt Duvall juga berhasil mengimbangi penampilan Downey, Jr. dengan akting yang sama gemilangnya.
Di deretan pemeran pendukung, hampir semua menunjukkan kharisma yang sama seimbang kuatnya, tanpa terasa mengalahkan porsi karakter-karakter utama. Terutama sekali Vera Farmiga yang terlihat lebih chubby ketimbang biasanya, Vincent D’Onofrio, dan Billy Bob Thornton. Sementara Leighton Meester dan Emma Tremblay cukup memberi nuansa cute dan manis ke dalam cerita.

Technical

Sinematografi Janusz Kaminski tampak paling menonjol dibandingkan teknis lainnya. Mulai framing dan pergerakan kamera yang cantik, hingga white light yang menjadi signatural tersendiri.
Scoring dari Thomas Newman juga berhasil menghantarkan emosi sesuai kebutuhan dengan maksimal. Terkadang terasa witty, manis, mengharukan, sekaligus berkelas. Tak ketinggalan pilihan-pilihan soundtrack-nya yang turut mewarnai nuansa sepanjang film, terutama The Scientist versi Willie Nelson di credit yang berhasil mengiris-ngiris hati di tengah kesunyian.

The Essence

Meski seringkali punya point of view dan tujuan yang berbeda, koneksi dan naluri antara orang tua dan anak selalu menjadi yang terkuat dan menyatukan. At some point, they will collide somewhere.

They who will enjoy this the most

  • Courtroom drama enthusiast
  • Father-and-son themed fans
  • A father and his mature son
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Performance by an Actor in a Supporting Role - Robert Duvall

Monday, October 20, 2014

The Jose Movie Review
Dracula Untold


Overview

Dracula adalah salah satu sosok monster klasik yang sudah berpuluh-puluh atau beratus-ratus kali diangkat ke medium film dengan berbagai variasinya. Mulai pure horor yang melahirkan sosok klasik Nosferatu dan Count Dracula, teenage romance ala Twilight Saga, sampai komedi seperti animasi Hotel Transylvania. Dengan trend sword and armor yang sebenarnya juga sudah mulai tiring, Dracula Untold (DU) berusaha dibangun.

Sebenarnya premise cerita yang coba ditawarkan oleh DU seperti perpaduan berbagai konsep legendaris sosok Dracula. Terutama sekali versi Bram Stoker yang pernah diangkat dengan begitu memorable oleh Francis Ford Coppola. Bahkan prolog-nya pun begitu terasa tribute kepada Bram Stoker’s Dracula. Lantas digabungkan dengan elemen war action sword-and-armor bak Kingdom of Heaven dan The Lord of the Rings. Buruk? Well, jika Anda belum pernah menyaksikan versi vampire manapun dan referensi-referensi yang saya sebutkan sebelumnya, mungkin jawabannya adalah tidak sama sekali. Tapi jika Anda cukup familiar, maka DU tak punya sesuatu yang baru untuk ditawarkan, selain just another standard blockbuster formula based on sword-and-armor concept.

Jika Anda mengharapkan horor, maka Anda menyaksikan film yang salah. Tapi jika Anda mengharapkan sedikit bumbu romance dan humanity, mungkin Anda akan menemukannya sedikit. Tapi sekali lagi, kesemuanya hanyalah bumbu pelengkap sekaligus penyedap yang sama sekali tidak berhasil membuat DU menjadi lebih menarik secara keseluruhan. Emosi yang dibangun pun masih gagal menggerakkan hati saya, either itu simpati, anger, maupun pain. All’s just in standard level.

In the end, bagi saya DU hanyalah film hiburan standard yang akan dengan mudah dilupakan begitu saja. Upaya Universal untuk mulai membangun Monster Universe masih saja memungkinkan jadi lebih menarik. Tapi untuk saat ini saya masih belum melihatnya di sini. Semoga saja bangunan universe di fase-fase berikutnya bisa semakin kuat seperti layaknya universe The Avengers di ranah superheroes.

The Casts

Cukup mengejutkan Universal tidak memasang aktor-aktor yang sudah punya nama di sini. Bahkan untuk peran pendukung atau figuran. Padahal secara production value, DU jelas termasuk high profile project. Praktis, DU hanya berusaha menjual dengan nama besar “Dracula” dan embel-embel “Untold” yang rentan menjadi bahan bully-an dari penonton yang tidak menyukainya.

Sebagai karakter utama, Luke Evans yang sebelumnya hanya jadi pemeran pendukung, sebenarnya cukup punya kharisma. Porsinya yang memang paling dominan memudahkannya untuk tampil paling menonjol. Tapi masih jauh jika ingin menjadi aktor yang iconic. Apalagi sosoknya di sini sedikit mirip (atau malah sangat mengingatkan saya akan) sosok Orlando Bloom. But he’s still okay so far. Begitu juga dengan Sarah Gadon yang harus saya akui cantik dan mempesona, namun sama-sama belum mampu menjadi aktris yang ikonik dan melekat lama di benak saya.

Dominic Cooper pun masih tampil so-so sebagai villain. Yang cukup menarik sebenarnya adalah penampilan Charles Dance yang sudah kenyang bermain di film sword-and-armor. But yeah, porsinya yang tidak begitu banyak membuatnya terlupakan begitu Vlad terlihat lebih mendominasi layar.

Technical

Harus saya akui, setidaknya DU sangat unggul di divisi teknis. Mulai CGI yang memanjakan mata, terutama transformasi Vlad menjadi gerombolan kelelawar dan sebaliknya. Tata suara juga punya andil yang cukup besar dalam membangun suasana keseruan perang yang setidaknya membuat DU masih layak untuk terus diikuti.

Desain produksi, terutama sekali desain kostum juga terlihat stunning, meski ada beberapa yang begitu mirip dengan Bram Stoker’s Dracula. Sayang scoring dari Ramin Djawadi masih kurang berhasil menjadi alunan nada yang memorable dan hummable. Memang terdengar grande and sometimes, creepy, tapi hanya sampai sebatas mediocre.

The Essence

Meski melalui jalan yang salah dan gelap, suatu niat baik tetap akan berbuah kebaikan. Tentu saja tetap akan menimbulkan konsekuensi yang harus ditanggung.

They who will enjoy this the most

  • General audiences who seek for light entertainment
Lihat data film ini di IMDb.

Sunday, October 12, 2014

The Jose Flash Review
Strawberry Surprise

Hanny R. Saputra termasuk sutradara film Indonesia spesialis drama romantis. Meski sempat mencoba menggarap film motivasional lewat 12 Menit untuk Selamanya dan hasilnya cukup bagus, Hanny masih tidak bisa lepas dari spesialisasinya. Apalagi kali ini ia kembali bekerja sama dengan Acha Septriasa setelah Heart dan Love is Cinta.
Apa yang ditawarkan Strawberry Surprise (SS) sebenarnya tidak terlalu istimewa ataupun baru, yaitu tentang LDR (long distance relationship). Tapi dengan skrip yang dibuat dewasa serta chemistry yang natural dari Reza Rahadian dan Acha Septriasa, SS jelas menjelma jadi tontonan yang lebih menarik dan manis.
Sebenarnya ada yang misleading dari materi promosinya yang seolah menggambarkan sebagai kisah cinta segitiga. Kenyataannya konflik yang dominan adalah konflik internal antara sepasang kekasih yang menjalani LDR. Pihak ketiga bukanlah ancaman atau menjadi pemicu konflik yang begitu berpengaruh pada cerita. Apalagi dengan konsep cerita dewasa yang diusungnya.
Scoring Andhika Triyadi menjadi aspek yang paling menonjol dalam menampilkan nuansa romance yang berkelas dan manis dengan berbagai instrument jazzy. Sekaligus bonus buat penggemar Raissa.
In short, SS memang bukanlah film dengan tema LDR yang begitu istimewa. Tapi dengan beberapa aspek yang memang unggul dan tema romance dewasa yang masih cukup langka di khazanah film Indonesia, SS adalah tontonan ringan yang cukup menghibur dan menyenangkan untuk dinikmati di waktu santai.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id

Thursday, October 9, 2014

The Jose Flash Review
Bang Bang!

Fox semakin gencar penetrasi pasar di luar Hollywood. Setelah remake Bride Wars versi Cina, kini giliran Knight and Day yang di-remake ke dalam versi Bollywood. Dan siap-siap tahun depan untuk menyaksikan The Fault in Our Stars versi Bollywood.

Saya pribadi tidak akan merasa skeptis sedikitpun dengan remake yang dibuat Bollywood. Seperti yang terjadi di Bang Bang, ternyata hanya konsep dasar cerita-nya saja yang diambil: seorang wanita yang tidak sengaja terjebak dalam petualangan penuh aksi bersama seorang pria misterius. Oh iya, satu lagi: adegan signatural Knight and Day yang melibatkan motor yang melaju kencang. Selebihnya, cerita dikembangkan sedemikian rupa sehingga tidak kehilangan khas film aksi Hindi yang tak jauh-jauh dari tema balas dendam.

Dan seperti biasa pula, naskah memberikan twist-twist yang cukup berhasil membuat saya terkejut, meski sebenarnya lagi-lagi bukan hal baru di ranah sinema Bollywood. Semuanya berkat penyusunan alur yang rapi dan adegan-adegan aksi gila-gilaan yang mendistraksi. Speaking of aksi gila-gilaan, Bang Bang cukup banyak memberikan adegan-adegan pemompa adrenalin dengan pace dan porsi yang pas untuk dinikmati. Bahkan adegan yang melibatkan perangkat-perangkat mustahil yang ternyata masih mampu terasa wajar. For this purpose, sudah bisalah disejajarkan dengan film-film aksi Hollywood berbudget puluhan atau malah jutaan dolar Amerika.

Ngomongin film Hindi tak lengkap tanpa lagu-lagu dan tarian yang epic. Meski porsinya minim, tapi cukup memaksimalkan ekspektasi pecinta film Hindi. Apalagi, tidak usah diragukan lagi kepiawaian dance dari seorang Hrithik Roshan.

Dengan kekhasan dan berbagai kelebihannya, in my opinion, Bang Bang mampu tampil sebagai remake yang jauh mengungguli materi aslinya. Have fun!

Lihat data film ini di IMDb.

Tuesday, October 7, 2014

The Jose Movie Review
Annabelle

Overview

Harus saya akui, The Conjuring adalah aset franchise yang begitu berharga dan bisa dikembangkan ke mana-mana untuk mengeruk keuntungan finansial. Tak heran jika lantas Annabelle menjadi incaran para penikmat horor (yang artinya hampir semua penikmat film di bioskop). Jika saja Annabelle dirilis tanpa atau sebelum The Conjuring, saya tidak yakin hasilnya akan sama. So, yes euphoria jelas menjadi materi promosi yang penting di sini. Lantas bagaimana kualitas sebenarnya?

Awalnya saya memang skeptis dengan Annabelle. Terutama sekali sutradaranya adalah John R. Leonetti yang sebelumnya dikenal sebagai director of photography The Conjuring maupun duologi Insidious. Piawai merekam gambar sesuai kebutuhan bukan berarti juga piawai menuturkan cerita sebagai sutradara. DoP langganan Nolan, Wally Pfister, bisa menjadi bukti ketika menggarap Transcendence. Ternyata apa yang menjadi kekhawatiran saya terbukti. Padahal saya harus mengakui sebenarnya Annabelle punya naskah yang disusun dengan rapi dan menarik.

Jika Anda berusaha membandingkan Annabelle dengan The Conjuring, jelas Anda akan kecewa. Di mata saya, keduanya punya gaya horor yang berbeda. Jika The Conjuring menggunakan formula horor klasik yang dimodifikasi dengan selera penonton sekarang, maka Annabelle sebenarnya lebih menjadi sebuah horror thriller psikologis bak Rosemary’s Baby. Begitu pula jika Anda membandingkan Annabelle dengan sosok boneka horor lainnya, Chucky dari seri Child’s Play. Bukan tanpa alasan saya menyebut judul Rosemary Baby, karena banyak sekali elemen dan gaya bertutur Annabelle yang mengingatkan saya (atau malah menjadi semacam referensi atau tribute?) akan horor klasik itu. Tapi tentu saja dalam derajat yang jauh berbeda, terutama dalam hal membangun atmosfer horor-nya.

Maaf kepada sutradara yang masih harus mengasah sense-nya dalam menghadirkan atmosfer horor dan thriller secara konstan dibangun. Yang terjadi pada Annabelle, ada beberapa adegan yang berhasil membangkitkan nuansa eerie, namun seringkali harus menurun secara drastis seiring dengan pergantian adegan. Tensi ketegangan yang saya rasakan pun ikut tidak konstan, dan dengan seiring dengan durasi, lama-kelamaan kebal juga dengan nuansa yang berusaha dibangun. Dengan kata lain, secara keseluruhan Annabelle masih gagal dalam upaya menakut-nakuti saya.

The Casts

Penggunaan cast yang sama sekali tidak popular sebenarnya sudah menunjukkan seperti apa proyek ini sebenarnya didesain. Lihat saja jajaran pemeran utama yang sebelumnya hanya pernah mengisi peran-peran figuran di film-film box office. Tapi bukan berarti buruk. Terutama sekali Annabelle Wallis yang mendapatkan porsi paling dominant, mampu mengisi peran Mia dengan cukup baik. Sementara Ward Horton tidak begitu menonjol. Justru Alfre Woodard mampu tampil cukup mengesankan di balik kemisteriusannya. Peran yang sebenarnya masih tidak jauh beda dengan perannya di serial Desperate Housewives season 2.

Technical

Tidak ada yang begitu istimewa dari teknis Annabelle. Setidaknya semua departemen sesuai dan pas dengan kebutuhannya. Desain produksi yang meliputi desain setting dan kostum cukup baik mendukung nuansa horror dan retro 70-an. Sedikit banyak mengingatkan saya akan desain produksi Rosemary’s Baby, tapi actually in a good way.

Tata suara juga cukup membangun atmosfer seram serta tentu saja efek jumpscare yang maksimal di beberapa bagian. Meski scoring Joseph Bishara tergolong mild dan generik untuk ukuran film horror.

The Essence

  • Satu hal yang bisa mengalahkan kekuatan iblis adalah pengorbanan diri.
  • They who will enjoy this the most
  • Psychological thriller’s fans
Lihat data film ini di IMDb.

Sunday, October 5, 2014

The Jose Movie Review
Haji Backpacker

Overview

Melihat judul dan posternya, mungkin Anda akan berpikir, ah another religious themed movie. Tidak salah jika Anda sudah muak dengan film-film nasional bertemakan reliji. Apalagi semakin banyak yang ala-ala sinetron: menjual drama kacrut dengan label Islami supaya dikira reliji. Tapi tunggu dulu, ada kata ‘backpacker’ di belakangnya. Jadi setidaknya mampu menarik perhatian penonton yang doyan traveling, meski tidak punya latar belakang Islami. Belum lagi trailernya yang ternyata sangat menjanjikan.

Benar saja, Haji Backpacker (HB) ternyata memang tidak termasuk film-film reliji yang preachy. Ditulis oleh Jujur Prananto dan Danial Rifki, HB basically film reliji yang realistis dan logis. Setidaknya berpandangan bahwa iman bertumbuh seiring dengan pengalaman hidup. Pemikiran imani yang masih langka ditemukan di khazanah perfilman kita.

Namun jangan dulu berharap mendapatkan pencerahan spiritual melalui pengalaman selama perjalanan panjang karakter utama kita, Mada, dari Thailand menuju Tanah Suci. Sayangnya HB masih belum sampai tahap mem-blend pencerahan spiritual dengan peristiwa-peristiwa nyata seperti halnya perjalanan spiritual Elizabeth Gilbert di Eat, Pray, Love. Naskah masih membutuhkan literatur-literatur dan preach dari karakter-karakter pendukung yang ditemui sepanjang perjalanan, sebagai penggerak perkembangan spiritual Mada. Dengan demikian, setiap negara yang disinggahi Mada terasa hanya seperti latar belakang semata. Meski adat kebudayaan (terutama yang Islami) di tiap negara ditampilkan dengan cukup detail.

Kekurangan lainnya adalah masih ada beberapa bagian yang membutuhkan peran figuran yang ‘asal masuk dan lewat’ sebagai penggerak adegan. Especially kehadiran karakter yang diperankan Dion Wiyoko dan pria pemilik toko di perbatasan Cina-India.

Tapi yang mampu menutupi semua kekurangan HB adalah beberapa momen penting yang berhasil membangkitkan emosi penonton (setidaknya bagi saya sendiri). Terutama sekali adegan Mada harus mempertaruhkan nasibnya dengan membaca Surat Yassin, diiringi flashback yang menyentuh.

Above all, HB masih termasuk tontonan spiritual yang relevan bagi umat agama manapun, sekaligus menghibur dengan bonus pemandangan landscape maupun gelaran budaya dari negara-negara yang dilewati Mada. Belum mampu dengan maksimal menyentuh emosi dan nurani saya, tetapi sayang juga untuk melewatkan pengalaman di sini begitu saja.

The Casts

Sebagai lead character, Abimana Aryasatya jelas semakin menunjukkan kematangan akting yang cukup signifikan sekaligus terasa natural. Sementara di deretan pemeran wanita, Laura Basuki dan Laudya Cynthia Bella jelas menjadi scene stealer yang tak disangka-sangka. Laura menampilkan karakter yang sedikit berbeda dengan tipikal karakter yang pernah dimainkannya, dan she did it well. Begitu juga Laudya yang tampak semakin matang daripada sebelumnya.

Sementara Dewi Sandra tak begitu memberikan kesan tersendiri karena masih tidak jauh beda dari peran biasanya, atau malah bisa semakin menegaskan image yang sudah melekat pada dirinya beberapa tahun belakangan. Sorry, Dewi! Sosok yang ditampilkan Kenes Andari sebagai kakak Mada justru lebih memorable meski porsinya tak begitu banyak.

Technical

Salah satu yang membuat HB tampak menarik dan tak terasa membosankan adalah sinematografinya yang mampu menangkap keindahan tiap negara dengan maksimal, terutama untuk shot-shot landscape dan penggunaan color tone yang serba vibrant dan dengan saturasi tinggi. Namun saya rasa tidak  perlu juga untuk menggunakan teknik time-lapse di setiap shot landscape.

HB sebenarnya punya scoring yang beragam sesuai dengan karakteristik tiap negara dan bagus. Tapi karena dijejalkan di tiap adegan secara beruntun tanpa henti, sehingga memberikan kesan berisik dan mengganggu kenikmatan menyaksikan panorama yang tersaji di layar maupun merasakan emosi adegan.

The Essence

Sang Pencipta selalu punya cara tersendiri untuk membawa umat kembali kepada jalan-Nya. Pengalaman hidup punya peranan penting dalam membentuk spiritual seseorang yang kuat dan kokoh.

They who will enjoy this the most

  • Religious material’s fans
  • Travelers
  • Audiences who enjoys the story of spiritual journey
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id

The Jose Movie Review
The Equalizer

Overview

Denzel Washington selama ini kita kenal sebagai black action hero yang kharismatik. Apalagi di tangan almarhum Tony Scott yang sudah beberapa kali menjalin kerjasama, mulai Man on Fire, Déjà vu, dan The Taking of Pelham 123, Denzel mampu menjadi salah satu aktor action hero yang patut diperhitungkan dan melahirkan karakter-karakter memorable. Tak hanya Tony, sutradara Antoine Fuqua pun rupanya menjadikan Denzel sebagai aktor favoritnya, terlebih setelah Tony telah tiada. Antoine Fuqua pun yang awalnya punya karya-karya film action yang kuat secara penokohan, akhir-akhir ini lebih banyak memilih film-film action pop-corn seperti terakhir Olympus Has Fallen. Begitu juga dengan The Equalizer yang diangkat dari serial TV tahun 80-an tapi saya yakin tidak banyak yang masih mengingatnya.

Jika membaca premise-nya, The Equalizer mungkin adalah sebuah cerita cliché yang sudah berkali-kali diangkat: bad-ass oldman yang berhasil menghajar musuh-musuhnya tanpa kendala berarti. Ranah yang akhir-akhir ini dikuasai oleh Liam Neeson lewat franchise Taken dan bahkan yang head-to-head langsung dengan The Equalizer, A Walk Among the Tombstones. Tapi siapa yang peduli dengan tired premise jika memang masih punya energi cukup tampil memikat penonton dengan stylish action-nya? Untuk itu The Equalizer sudah memenuhi persyaratan untuk menghibur. Tapi ternyata The Equalizer punya lebih dari sekedar stylish violence untuk ditawarkan.

Mulai dari script serba rapi yang ditulis oleh Richard Wenk. Saking rapinya, kadang terasa kurang kejutan maupun inovasi dan karakter utama, Robert McCall yang terkesan terlalu sempurna. But still, script The Equalizer menyuguhkan alur yang rapi, efektif menyampaikan informasi-informasi tanpa harus dijabarkan terlalu blak-blakan, terutama dalam menjawab pertanyaan penonton tentang jati diri McCall di masa lalu. Meski sebagian dari penonton yang sudah punya jam terbang tinggi tentu dengan mudah menerkanya. Script yang terlalu berfokus pada karakter McCall dan musuhnya, Teddy, membuat karakter Teri yang sebenarnya menjadi motivasi utama aksi McCall jadi dianak tirikan. Padahal di awal-awal film, koneksi dan chemistry yang dibangun antara keduanya terjalin dengan begitu bagus. Sayang jatahnya hanya di awal dan akhir saja.

Untuk meng-counter script yang ‘terlalu rapi’ ini, peran sutradara Antoine Fuqua lah yang bermain dalam memvisualisasikannya secara tepat. Meski ada cukup banyak elemen yang mengingatkan kita akan film Denzel, Man on Fire, namun The Equalizer terasa berbeda dengan pace-nya yang tergolong santai dan slow-burn bak Drive-nya Nicolas Winding Refn. Pace yang mungkin terasa terlalu lambat dan membosankan bagi beberapa penonton, namun akan terasa lebih berkelas bagi penonton yangn lain. Karena meski tergolong lambat dan sunyi, atmosfer dark thriller yang diciptakan masih terasa sangat kuat. Bagi saya pribadi, durasi yang termasuk cukup panjang (131 menit) di sini jadi tak begitu terasa. Setiap momennya, ups and downs, ditata serapi script-nya. Tetap menjadikan The Equalizer terasa menarik dan tetap gripping di genrenya meski sudah berkali-kali diangkat.

The Casts

Seperti biasa, Denzel Washington masih berhasil bermain one man show dengan kharismanya yang perpaduan antara noble heart dan badass attitude. Kharismanya bahkan bisa mengungguli Liam Neeson di franchise Taken. Sementara Chloë Grace Moretz yang meski punya running time yang tidak begitu banyak, namun mampu mencuri perhatian saya, terutama di awal-awal film. Jauh dari image karakter-karakter yang ia perankan selama ini.

Di sisi villain, Marton Csokas mampu mengimbangi ke-badass-an Denzel Washington. Aura evil-nya tak kalah gahar dari attitude Denzel, apalagi dengan tattoo-tattoo Satanic yang diekspos di salah satu adegan.

Technical

Salah satu kekuatan teknis yang melengkapi kerapian script dan visualisasi adalah sinematografi Mauro Fiore yang membingkai adegan-adegan dengan sangat indah, pun juga efektif dalam menyampaikan adegan.

Scoring dari Harry Gregson-Williams serta pemilihan-pemilihan soundtrack lainnya juga mampu memperkuat nuansa silent thriller-nya. Terutama sekali adegan kucing-kucingan di labirin Home Mart menjelang klimaks yang diiringi komposisi dari Zack Hemsey.

The Essence

Masih sama dengan genre sejenis. No matter how hard you try to hide your sense of fighting crime and badass abilities, it’s always in you and will come out anytime needed. Because the crime is never really stopped.

They who will enjoy this the most

  • Action thriller’s fans
  • Audiences who enjoy slow burn action
  • Denzel Washington’s fans
  • Audiences who love badass character with brutal attitude
Lihat data film ini di IMDb.

Saturday, October 4, 2014

The Jose Movie Review
The Giver


Overview

Satu lagi film bertema young adult dengan latar dystopian. Tapi sumber yang dipakai kali ini adalah sebuah novel anak-anak yang sudah rilis jauh sebelum trend sejenis seperti The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner. Yap, novel The Giver karya penulis Lois Lowry sudah keluar sejak tahun 1993. Jadi, salah besar jika Anda mengira The Giver ikut-ikutan trend yang mungkin sekarang sudah mulai melelahkan. Meski karakter anak yang ada di novel harus ‘disesuaikan’ dengan trend, menjadi karakter-karakter remaja. But it’s okay. Tidak ada salahnya menyimak hasil adaptasi dari novel yang sempat membawa pulang banyak penghargaan bergengsi.

Jika mau dicari persamaannya dengan film-film sejenis akhir-akhir ini, secara premise The Giver paling mirip dengan Divergent. Bedanya, The Giver sama sekali tidak menyajikan action adventure sebagai menu utama seperti halnya Divergent. Ia justru fokus pada aspek filosofis dari konsep besar ceritanya. Tapi bukan berarti The Giver jatuh menjadi tontonan yang membosankan dan berat. Sebaliknya, The Giver mampu menarik perhatian saya sepanjang durasi berkat pemaparannya yang tak hanya menarik tapi juga relevan dengan keadaan sekarang. And best of all, beberapa adegan (terutama flashback) mampu membuat saya (dan saya yakin, banyak dari penonton lainnya juga) merasakan emosi yang cukup mendalam.

Secara keseluruhan, The Giver mungkin belum bisa dikatakan sebagai karya utuh yang benar-benar luar biasa. I don’t know why, somehow klimaksnya tidak begitu terasa sehingga ketika film berakhir, kesan yang saya dapatkan tidak begitu mendalam. Tidak, bukan berarti film garapan sutradara Phillip Noyce ini sengaja dibiarkan mengambang untuk membuka kesempatan untuk sekuel. Toh, meski punya 3 seri novel pendamping lainnya, masing-masing punya cerita yang berdiri sendiri. Apalagi, kenyataannya The Giver tergolong flop di box office. Yes, cerita memang dibiarkan terbuka mungkin untuk membiarkan setiap penonton punya persepsi masing-masing.

Anyway, The Giver tetaplah sebuah tontonan yang menarik disaksikan, apalagi jika Anda menggemari tema-tema filosofis sosial dan kemanusiaan. So, tidak ada salahnya mencoba untuk menyaksikan di layar lebar untuk mendapatkan feel yang ultimate.

The Casts

Brenton Thwaites semakin menunjukkan pesonanya sebagai bintang muda baru berbakat. Meski tergolong tidak terlalu istimewa, dari segi porsi dan kapasitas akting, jelas ia menunjukkan peningkatan performa yang cukup mencolok semenjak Maleficent dan Oculus. Sementara Odeya Rush yang seharusnya menjadi pasangan yang sepadan untuk Brenton masih belum bisa mencuri perhatian, apalagi di tengah bintang-bintang senior meski mengisi peran-peran pendukung.

Di jajaran cast pendukung, Jeff Bridges tampil paling mencolok. Begitu juga Meryl Streep yang seperti biasa mencuri perhatian meski dengan peran yang biasa-biasa saja. Kehadiran Katie Holmes pun cukup mampu mengobati kerinduan saya yang merasa sudah lama tidak menyaksikan aktingnya di layar lebar. Terakhir, kredit khusus patut saya sematkan untuk Taylor Swift yang meski porsinya sangat sangat sedikit, namun mampu membuat saya terkecoh. Di sini Swift terlihat dan terasa sedikit berbeda dengan sosoknya sehari-hari yang kita kenal.

Technical

Dengan setting futuristik, The Giver jelas lebih dari cukup dalam menampilkan desain produksi. Futuristik yet simple and elegant. Color tone yang saturasi rendah hingga colorful yang digunakan sepanjang film sesuai dengan konsep cerita, mampu terlihat pas dan sometimes, indah. Tentu saja ini juga berkat sinematografi dari Ross Emery.

Tata suara The Giver patut mendapatkan kredit tersendiri dalam menghidupkan adegan-adegan yang ada. Begitu juga dengan score dari Marco Beltrami yang terkesan minimalis tanpa mengurangi ke-elegan-an cerita. Tidak lupa theme song Only Human dari OneRepublic yang cukup ikonik dan catchy.

The Essence

Manusia selalu berusaha mencapai kesempurnaan, termasuk dalam hidup bermasyarakat. Berbagai upaya dilakukan, berbagai peraturan dibuat agar bisa mencapai tatanan hidup ideal nan sempurna itu. Tapi yang sering dilupakan adalah manusia dilahirkan dengan kodrat yang beragam dan dengan bekal kebebasan. Bagaimanapun kodrat individu yang alami tidak akan bisa begitu saja dikalahkan oleh peraturan yang dibuat manusia. What is perfection, anyway?

They who will enjoy this the most

  • Young adult dystopian’s fans
  • The novel’s fans
  • Audiences who love philosophical aspect in a movie
  • Audiences who enjoy analyzing humanity and social studies 
Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates