The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Read more.

Sunday, September 28, 2014

The Jose Movie Review
Tabula Rasa

Overview
Tak banyak ada tema kuliner di ranah perfilman Nasional. Padahal sebagai salah satu komponen kebudayaan, bangsa kita punya banyak sekali ragam kuliner yang menarik untuk diangkat. Belum lagi Rendang yang pernah menjadi peringkat teratas makanan terlezat dunia, dan pencapaian-pencapaian internasional lainnya yang didapatkan justru dari dunia kuliner kita. Maka sudah waktunya kuliner Nusantara diangkat ke layar lebar, dengan kesempatan untuk memperkenalkannya ke dunia internasional yang lebih luas. Maka Lifelike Pictures yang selalu memproduksi film dengan pasar internasional dan suka mengeksplor tema-tema baru, mencoba mengangkatnya. Apalagi tema kuliner punya target audience yang lebih luas ketimbang 2 produksi sebelumnya, Pintu Terlarang dan Modus Anomali.

Tabula Rasa (TR) akhirnya hadir sebagai sebuah sajian cerita sederhana yang hangat, dengan konsep dasar idealisme kebhinekaan, dan dengan kemasan kuliner yang cukup kental dan menyatu dalam cerita. Terdengar seperti sebuah paket yang sangat menjanjikan? Memang. Tapi mari kita bedah satu per satu komponennya. Produser Sheila Timothy kali ini dengan berani menggandeng dua nama yang namanya cukup populer di ranah perfilman indie art house nasional, Tumpal Tampubolon (Rocket Rain, Belkibolang) sebagi penulis naskah dan Adriyanto Dewo (segmen Menunggu Warna di Sanubari Jakarta dan Pasar Setan di Hi5teria) sebagai sutradara. Sebuah pondasi yang menarik secara kualitas, tapi cukup mengkhawatirkan untuk target audience umum yang cenderung lebih pop. Untung saja ternyata skrip dari Tumpal masih tergolong aman dalam arti bisa dinikmati dan dipahami oleh penonton awam sekalipun. Dengan cerita sederhana yang sehari-hari, namun punya “mimpi” idealisme kebhinekaan yang kalau mau dicari di dunia nyata tergolong mustahil. Produser memahami ini lantas menjadikannya salah satu frase untuk jualan: “Rumah Makan Padang Juru Masaknya Papua”. Menurut salah satu teman yang kebetulan orang Minang, hal ini mustahil karena orang Minang dikenal sangat menjaga kuat keaslian tradisi budayanya. But yeah, once again in the name of ideal society, ini bukan menjadi permasalahan yang substansial. Apalagi tema kebhinekaan saat ini masih gencar-gencarnya digaungkan lewat medium film.

Permasalahan terbesar dari TR adalah keinginannya untuk memuaskan penonton awam yang cenderung lebih menyukai film dengan kemasan pop, sekaligus mencapai idealis-idealis ala indie. Kalau dari premise-nya, TR jelas sangat simple dan pop. Namun visualisasinya ternyata lebih cenderung ala indie yang senyap dan banyak menyampaikan message secara metafora. Termasuk dalam pemilihan endingnya yang membuat banyak penonton awam (baca: pop) bingung dan menganggapnya tidak jelas. Akan lebih menarik, memuaskan, dan sangat relevan dengan tagline utamanya, “Makanan adalah iktikad baik untuk bertemu” jika endingnya, misalnya mempertemukan karakter-karakternya yang tercerai berai dalam satu ruangan. Cukup disayangkan potensi-potensi yang dimiliki TR untuk menarik penonton lebih luas namun gagal diraih.

But overall, baik skrip dari Tumpal maupun penyutradaraan Adriyanto termasuk berhasil dalam menggabungkan berbagai komponen ceritanya; mulai kebhinekaan, sosial, konflik keluarga, persaingan, dan yang pastinya makanan, menjadi satu kesatuan yang solid. Makanan pun jadi punya makna yang lebih luas bagi tiap individu, ketimbang sekedar perkara lidah dan perut. Cerita yang disampaikan juga bergulir dengan nyaman dan mengalir, tanpa terasa dipaksakan. Dan yang paling penting, karena melibatkan tidak terlalu banyak karakter dan dituliskan dengan perkembangan karakter yang pas dan efektif (serta diperankan dengan sangat bagus pula oleh daftar cast-nya), film terasa begitu  hangat, feel-good, dan karakter-karakternya terasa begitu dekat dengan penonton. Terakhir tentu saja, sajian-sajian visual makanan Padang yang pasti menggugah selera siapa saja yang menontonnya.

The Casts

TR punya 4 karakter utama yang berbeda-beda dan sama menariknya. Beruntung keempatnya diisi oleh cast yang sangat pas dan berhasil menghadirkan chemistry antar karakter. Jimmy Kobogau yang baru pertama kali berakting tampil cukup baik dalam menghadirkan karakter Hans yang porsinya paling banyak. Begitu juga dengan Ozzol Ramdan yang menariknya adalah orang Sunda, tapi beberapa kali memerankan karakter Minang seperti di sitkom Suami-suami Takut Istri beserta versi ‘the movie’-nya, masih memberikan performa orang Minang asli yang meyakinkan. Berikut dengan karakternya yang didesain untuk memberikan unsur humor di dalam cerita, yang berhasil berfungsi dengan baik.

Tak perlu meragukan performa akting Dewi Irawan yang begitu menonjol sepanjang film. Tak hanya logat Minang yang terasa begitu fasih, tapi juga karakter kompleks yang diperankannya terasa begitu hidup. Begitu juga dengan Yayu Unru yang bahkan sampai berhasil membuat saya hening terbawa suasana di satu adegan solo-nya. Bisa jadi di sini adalah salah satu penampilan terbaik Yayu Unru.

Technical

Sebuah film kuliner butuh sekali sinematografi yang cantik untuk bisa membuat penonton seolah mencium langsung aroma makanan di layar. Untuk tujaun itu, TR termasuk berhasil. Tidak hanya adegan-adegan memasak atau makanan, hampir setiap adegan ditata dengan cantik dari segi sinematografi. Baik itu close up, medium close up, maupun panoramic. Kudos to penata sinematografi, Amalia TS.

Pemilihan scoring dan lagu yang terasa sangat kental nuansa tradisionalnya, berpadu dengan sentuhan scoring elegan ala internasional, menjadikan musik TR seolah menghantarkan penonton ke tengah-tengah budaya Minang yang sederhana dan etnik, namun dengan nuansa berkelas.

Terakhir, entah faktor bioskop tempat saya menonton yang masih “klasik” atau memang bagian dari desainnya, sehingga tata suara TR terdengar seperti sinema era 80-awal 90’an. Tidak buruk, namun di tengah gempuran film-film dengan tata suara digital yang serba jernih dan crisp, tata suara TR terasa unik. Semoga saja ini memang bagian dari desain film, karena ketika menonton film lain di bioskop yang sama, ternyata tata suaranya memang setara bioskop-bioskop digital lain.

The Essence

Sama seperti komponen-komponen budaya lainnya, makanan tidak hanya sekedar soal lidah dan perut. Ada banyak makna yang berbeda-beda bagi tiap individu yang terkait dengan pengalaman dan memori. Tabula Rasa mampu menghadirkan berbagai makna ini dalam satu kemasan yang nikmat dan hangat.

They who will enjoy this the most

  • Food and culinary enthusiast
  • Audiences who love movie with personal approachment
  • Audiencew who love movie with traditional cultural elements
  • Feel-good movie fans
  • Orang dengan latar belakang budaya Minang atau Papua
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id 
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, September 20, 2014

The Jose Movie Review
The Maze Runner

Overview

Kisah young adult dengan latar belakang dystopian memang sedang menjadi trend di ranah novel dan akhirnya merambah juga dunia film dengan maraknya film adaptasi dari novel. Meski punya tema yang mirip dan dibuat dengan budget yang tidak begitu fantastis untuk ukuran Hollywood, The Hunger Games (THG) dan Divergent berhasil membuktikan diri tetap bisa tampil mengesankan baik secara kualitas maupun penghasilan di box office. Saat keduanya masih akan terus dilanjutkan dalam sekuel-sekuelnya, muncul satu lagi dystopian young adult yang diangkat ke layar lebar, The Maze Runner (TMR) yang novelnya ditulis oleh James Dashner.

Tak beda jauh dengan THG maupun Divergent, di TMR sekelompok remaja dikumpulkan di suatu tempat untuk bertahan hidup. Uniknya, ada sebuah labirin raksasa yang berubah-ubah dan mereka tidak tahu apa-apa selain berusaha tetap hidup. Yang penasaran dan ingin keluar akan mencari jalan untuk kabur, meski tak jelas resiko yang harus mereka hadapi di ujung labirin. Sedangkan yang pasrah berusaha untuk menikmati hidup di lingkungan yang baru dan bisa dikatakan alam liar.

Meski secara garis besar premise-nya mirip, tapi harus saya akui punya konsep cerita yang menarik dan potensial untuk menjadi film petualangan yang seru dan mendebarkan. Dengan dukungan bintang-bintang muda yang sedang naik daun, semakin besar potensi TMR menjadi tontonan yang menarik. Nyatanya TMR memang punya cukup banyak adegan yang mendebarkan, terutama di dalam labirin dan serangan griever, makhluk semacam gabungan organisme serangga dan cyborg. Namun keseruannya hanya bisa dinikmati jika sebagai sepotong-sepotong adegan saja. Secara keseluruahn, entah faktor apa saja yang membuat TMR berjalan tidak nyaman dan membosankan.

Saya sempat mencoba menemukan faktor apa yang membuat TMR jatuh menjadi tidak menarik dan cenderung membosankan. Ternyata ada beberapa faktor yang saya temukan. Paling pertama dan utama adalah skripnya yang tidak luwes dalam menyusun adegan dan cerita secara keseluruhan. Entah bagaiman jalan cerita versi novelnya, tapi yang pasti menurut saya untuk tipe film berseri, tiap seri harus punya jalinan cerita yang bisa berdiri sendiri. Setidaknya ada hal-hal yang terungkap dengan jelas. Barulah di seri berikutnya mengembangkan dari basic cerita bagian pertama. Namun yang terjadi di TMR adalah alur ceritanya tidak banyak berkembang. Alih-alih satu per satu rahasia diungkapkan agar penonton semakin penasaran dengan akhir cerita, naskah membiarkan karakter-karakternya sama clueless-nya dengan penonton tentang apa yang terjadi. Alhasil baru menjelang akhir, barulah dibeberkan rahasia besarnya. Itupun ditampilkan dengan standard (seperti yang sudah bisa kita tebak seperti di cerita young-adult dystopian lainnya) dan tidak banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penonton. In short, penantian mencari jawaban yang cukup melelahkan hingga membuat penonton tidak lagi pedulu, tidak dibayar dengan sesuatu yang menarik dan benar-benar jelas. Lihat saja dialog yang paling sering muncul sepanjang durasi; “I don’t know”, “he’s right”, dan sejenisnya.

Kelemahan kedua adalah tidak ada satupun karakter yang dikembangkan dengan cukup. Bahkan untuk karakter utama, Thomas. Kemungkinan terbesar adalah film terlalu sibuk untuk menceritakan kejadian demi kejadian hingga penyikapan rahasia, sampai-sampai lupa untuk mempedulikan karakter-karakternya. Padahal menurut saya karakter-karakter utama yang ditampilkan punya potensi menjadi menarik jika saja dikembangkan dan diberi porsi yang lebih banyak. Setidaknya, bisa menimbulkan rasa simpati dari penonton. Sehingga ketika karakternya dimatikan, penonton bisa merasakan emosi kehilangan. Tapi TMR memilih untuk mengabaikan faktor “emosi” ini demi terlihat trying too hard to look cool dengan ceritanya yang ternyata jatuh biasa saja.

Well, in the end nikmati saja beberapa adegan seru yang dimiliki TMR secara terpisah. Tak perlu repot-repot berusaha mengikuti alur ceritanya. Percayalah, Anda tidak akan melewatkan apa-apa, sekaligus menghemat kinerja otak.

The Casts

Sebagai karakter utama, Dylan O’Brien yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu cast serial Teen Wolf tidak berhasil menarik perhatian. Karakternya berusaha tampil keren dan pemberani, tapi aura awkward dan dungunya lebih mendominasi, sehingga menggusur semua karakteristik sebenarnya yang ingin ditampilkan. Sebaliknya, Will Poulter justru sukses mengubah otal image-nya yang selama ini cukup kuat melekat lewat We’re the Millers. Karakternya yang cocky dan sok jagoan berhasil dihidupkan dengan gemilang. Begitu juga aktor Korea, Ki Hong Lee yang beru pertama kali tampil di layar lebar, justru punya charm yang jauh lebih baik ketimbang Dylan.

Sisanya, Thomas Brodie-Sangster  masih belum berubah jauh secara tampilan fisik dan karakteristik dari penampilannya di Love Actually dan Nanny McPhee. Sementara Kaya Scodelario, salah satu dari sebagian kecil aktris di film, belum cukup punya kharisma (dan juga porsi peran) untuk menarik perhatian penonton. Sayang sekali di lini pemeran pendukung dewasa, tidak diisi oleh aktor maupun aktris ternama seperti yang pernah dilakukan THG maupun Divergent untuk menarik perhatian lebih banyak range penonton.

Technical

Sebenarnya tak ada masalah berarti di divisi visual. Labirin raksasa, griever, maupun markas besar WICKED ditampilkan dengan cukup mengesankan, baik dari segi desain maupun kualitas CGI. Aspek audio pun menurut saya di atas rata-rata genre sejenis, terutama dalam hal pemanfaatan fasilitas surround yang sangat impressive. Score dari John Paesano meski tidak begitu signatural, tapi lebih dari cukup untuk membangun suasana sepanjang film.

Yang cukup mengganggu saya mungkin adalah tampilan karakter-karakter utama, terutama dari segi rambut Minho yang tetap dengan potongan rapi (dan mungkin juga tampak menggunakan gel rambut) meski sudah tinggal di dalam Maze selama bertahun-tahun. I wonder, apakah mungkin di dalam box supply termasuk hair razor?
Cukup disayangkan juga TMR tidak memberikan original soundtrack yang menarik, seperti halnya THG dan Divergent. Keduanya justru menjadikan original soundtrack sebgai aspek penting untuk menarik perhatian audience sekaligus sarana promosi.

The Essence

Ada 2 tipe manusia secara garis besar, ketika harus memilih jalan hidup. Kebanyakan ada yang memilih untuk berusaha beradaptasi dan membuat hidupnya saat ini senyaman mungkin (dengan kata lain: nerimo). Tapi ada juga yang lebih memilih untuk mencari tahu “dunia luar”.

Tapi kalau mau dianalisis lebih dalam lagi, sikap berusaha beradaptasi dan mencoba menikmati apa yang dimiliki sekarang tidak membuat seseorang menjadi berkembang. Pertanyaannya: mau sampai kapan ia mau bertahan seperti itu? Jika memilih untuk mencari tahu “dunia luar”, mungkin punya resiko yang besar, tapi setidaknya memiliki kesempatan dan harapan untuk menjadi lebih baik ketimbang hanya diam di comfort zone.

They who will enjoy this the most

  • Fans of the novel
  • Fans of young adult dystopian adventure
  • General audiences who seek for instant exciting adventure movie, especially teenagers
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 14, 2014

The Jose Movie Review
The Purge: Anarchy

Overview

Tahun 2013 Hollywood digemparkan oleh The Purge, sebuah film horor thriller low budget yang punya premise sangat berani dan provokatif: apa jadinya jika di masa depan Amerika Serikat punya satu hari khusus dimana warganya boleh melakukan kejahatan apapun tanpa ada hukum yang berlaku selama 12 jam? Hasilnya tidak begitu buruk meski banyak penonton yang merasa kecewa dengan hasil akhirnya. Well, penghasilan worldwide US$ 89 juta lebih dari budget yang hanya sekitar US$ 3 juta jelas sebuah angka yang termasuk fantastis. Maka tak heran jika setahun kemudia dibuatkan sekuelnya.

Sebenarnya saya agak bingung dengan penonton yang kecewa dengan film pertamanya. Apa yang salah? The Purge pertama menggunakan pendekatan home-invasion-psycopath yang sangat efektif memompa ketegangan dengan maksimal, tanpa meninggalkan esensi-esensi yang mempertanyakan banyak hal tentang psikologis manusia dan juga dari segi sosial. I love the first installment, maka begitu mendengar sekuelnya, The Purge: Anarchy (TPA), tak lagi membidik teror dalam rumah, tapi scope yang lebih luas dan berpotensi menjadi lebih mengerikan; outdoor, oh yes, I’m so fuckin’ in!

Bagi yang belum nonton installment pertamanya, sebenarnya tak masalah langsung menonton TPA. Toh tidak ada karakter yang sama ataupun berkaitan dengan di seri pertama. Benang merahnya hanya kebijakan The Purge, yang mana sekali lagi dijelaskan dengan gamblang di TPA. Tapi sekedar saran, akan lebih baik menonton The Purge terlebih dahulu sebelum TPA. Keduanya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan tahapan pengalaman menegangkannya juga terasa berkesinambungan. Anggap saja The Purge sebagai pemanasan sebelum mengalami TPA. Jika urutannya dibalik, bisa jadi pengalaman ketegangannya akan antiklimaks. Bagaimana pun, kita harus mulai dari dalam rumah terlebih dahulu sebelum ke luar, bukan?

Ternyata ekspektasi saya tak berlebihan. TPA menjelma menjadi teror yang berlipat-lipat dibandingkan installment pertamanya. Apalagi kali ini ada 5 karakter utama yang berasal dari berbagai latar belakang dan motif, dipertemukan untuk survive bersama-sama. Pendekatannya lebih ke ala zombie survival macam Dawn of the Dead, tetapi tentu saja dengan treatment yang jauh lebih menarik dan mencekam. Well, bagaimanapun manusia biasa bisa jauh lebih mengerikan dan tak terduga ketimbang zombie atau makhluk jadian apapun. Faktor kemungkinan benar-benar terjadi yang tinggi membuat teror TPA terasa maksimal. Pun James DeMonaco sekali lagi tak menyia-nyiakan bakatnya dalam menciptakan atmosfer yang mencekam, storyline yang sama sekali tak terasa melelahkan meski konsisten menebar teror sepanjang durasi, dan dengan kejutan-kejutan yang disusun dengan pas serta pace yang tepat. Bahkan di adegan-adegan yang dirasa ‘aman’ pun, terornya masih terasa. Dan benar saja, the terror never really stopped. Saya berani mengatakan TPA menawarkan teror dan ketegangan di film yang paling maksimal dalam beberapa tahun terakhir.

Tak hanya mengandalkan ketegangan, skrip TPA pun disusun dengan cukup rapi. Selain membuat porsi tiap karakternya pas sehingga sama-sama mengesankan penonton, TPA seolah seperti penyeimbang dari The Purge pertama. Jika di installment pertama cerita hanya berfokus pada keluarga yang mencoba survive di rumahnya sendiri dan kaum intelek yang memanfaatkan momen The Purge untuk melampiaskan kebiadabannya, maka TPA juga menampilkan sekelompok rebel yang menolak kebijakan The Purge. Tak ketinggalan seperti installment pertamanya, masih dimunculkan karakter-karakter yang digambarkan masih punya hati nurani di tengah lingkungan yang buas. Sebuah keseimbangan dan penegasan yang lebih terasa di tengah-tengah scoop yang lebih luas. If you love the first installment, you will easily love TPA. And if you don’t really like the first, you’ll probably love this one. Tidak ada salahnya dicoba. Kalau menurut saya sih, The Purge malah punya potensi untuk menjadi sebuah franchise yang layak dikembangkan. Semoga saja.

The Casts

Tak ada satupun nama populer di jajaran cast-nya. Rata-rata hanya punya daftar filmografi sebagai pemeran pendukung. Namun begitu bukan berarti TPA tidak punya greget. Justru TPA bisa jadi batu loncatan buat aktor-aktornya karena penampilan yang pas sesuai dengan kebutuhan, selain porsi masing-masing yang memberikan cukup ruang bagi setiap karakter untuk mencuri perhatian. Sebagai aktor utama, Frank Grillo jelas tampil paling menonjol. Dengan tatapan dingin dan tak terlalu banyak bicara, Frank dengan mudah menarik perhatian penonton. Zöe Soul yang memerankan gadis cerdas, Cali, juga cukup mencuri perhatian. Serta Carmen Ejogo, Zach Gilford, dan Kiele Sanchez pun memberikan performa yang cukup menarik simpati.

Sementara yang tak kalah menarik perhatian meski running time-nya terbatas adalah John Beasley sebagai ayah Eva dan Michael K. Williams sebagai pemimpin pemberontak, Carmelo Johns.

Technical

Dalam menampilkan adegan-adegan mencekam, sinematografi Jacques Jouffret merekam tiap gambar dengan cantik dan efektif. Ditambah desain produksi dari Brad Ricker dan tim artistiknya yang berhasil membuat berbagai settingnya mencekam, seperti jalanan Los Angeles yang sepi, rumah Lorraine, dan tentu saja labirin pembantaian kaum aristokrat.

Tata suara yang renyah dan dahsyat terpompa dari setiap kanal berkat pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal. Thanks buat departemen tata suara yang sudah membuat saya paranoid setiap kali mendengar sirine berkumandang. Scoring dari Nathan Whitehead turut menambah atmosfer mencekam sepanjang film, termasuk selipan lagu America the Beautiful yang ironically creepy.

The Essence

Program tahunan Purge diadakan dengan dasar teori bahwa tiap manusia punya sisi buas yang harus dilampiaskan untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan emosi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah teori ini bisa diterapkan pada setiap individu? Lantas jika di dunia benar-benar tak ada hukum yang berlaku, apakah manusia akan lebih memilih untuk membunuh terlebih dahulu sebelum menjadi korban? Di lingkungan yang buas, apakah manusia akan lebih memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain yang terancam? Di saat dibebaskan melakukan apa saja, apakah manusia lebih memilih mengikuti naluri buasnya atau hati nuraninya? Apakah The Purge murni atas nama psikologis, bukan motif untuk 'seleksi alam'; mengeliminasi yang lemah, termasuk dalam hal ekonomi.

Pertanyaan-pertanyaan penting terkait dengan psikologis manusia dan aspek sosial inilah yang menjadi esensi seri The Purge.

They who will enjoy this the most

  • Horror-thriller fans
  • They who enjoyed the first installment
  • Bloody gore fans
  • Audiences who are interested in psychological and social aspect in a movie
  • General audiences who seek for thrilling entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Haunt

Haunt termasuk film horor yang menggunakan konsep dasar cerita sebuah rumah. Cukup cliche dan basi, tapi sebenarnya background premise yang cukup menarik. Sayang harus gagal gara-gara storytelling yang tidak menarik, murahan, dan skrip yang berantakan. Mulai dari proses jatuh cinta karakter utamanya yang tergolong instan dan "gampangan", storyline yang melelahkan (padahal durasinya termasuk pendek), visualisasi background story yang murahan, hingga fokus yang tidak konsisten ingin membawa cerita ke arah mana. 

Pendekatan drama yang coba dihadirkan juga terasa tanggung. Menarik di awal hingga pertengahan, tapi harus dibuyarkan oleh gaya penceritaan bak FTV dan horor-horor Nayato.

"Penampakan-penampakan" yang muncul dengan blak-blakan semakin menambah kegagalan dalam membawa aura horor film secara keseluruhan. Padahal atmosfer thriller-nya sudah cukup lumayan bikin penasaran. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, September 7, 2014

The Jose Flash Review
Muppets Most Wanted

Mengambil setting langsung setelah ending film pertamanya, Muppets Most Wanted (MMW) sebenarnya secara teknis merupakan film layar lebar The Muppets kedua belas. Namun di bawah bendera Disney, ini adalah installment kedua. Jujur, saya sangat menantikan MMW karena saya sangat menyukai installment pertamanya. Komedi khas Muppets yang mengingatkan saya akan masa kecil, tak ketinggalan juga joke-joke cerdas yang menyindir isu-isu terkini, dan yang pasti punya hati yang secara ajaib menyentuh saya in any senses. Sedih, terharu, gembira, semuanya terasa dalam satu paket. Otomatis saya masih mengharapkan hal yang sama di installment ini.

Well, secara keseluruhan MMW masih menawarkan semua gaya komedi khasnya. Sangat menghibur. Namun sayang sekali, hanya aspek itulah yang ditawarkan MMW. Tak ada lagi perasaan ajaib yang sempat dihadirkan di installment pertama. Entah karena ceritanya yang memang dibuat lebih "gelap" dibandingkan sebelumnya, atau memang tidak ada unsur emosi yang dilibatkan kali ini. Murni hiburan yang memang benar-benar menghibur, meski tak begitu berkesan. Masih pula diisi lagu-lagu yang enak didengarkan dan bikin spontan ikut bersenandung, meski tak se-memorable di The Muppets.

Penampilan cameo-cameonya masih menarik dan bisa jadi hiburan tersendiri karena penampilannya yang tak terduga. Mulai Tina Fey, Danny Trejo, P Diddy, Zach Galfianakis, Salma Hayek, Tom Hiddleston, James McAvoy, Christoph Waltz, Til Schweiger, Saoirse Ronan, Lady Gaga, Tony Bennett, hingga yang tak terduga seperti... ah sudahlah lebih baik menonton sendiri dan bersorak gembira ketika kemunculan mereka.

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Hercules (2014)

Overview

Siapa yang tidak tahu kisah mitologi Hercules? ‘Anak haram’ Dewa Zeus ini sudah sejak lama dan sering sekali diangkat ke berbagai medium. Mulai komik, serial, animasi, hingga film. Namun sejauh yang saya ingat, di ranah layar lebar hanya Hercules in New York (1969) dan versi animasi Disney tahun 1997 yang benar-benar melekat. Sedangkan di ranah serial, versi Kevin Sorbo dan Ryan Gosling yang saya ingat. Maklum, sesuai dengan era ketika saya tumbuh. Tahun 2014, sutradara aksi era 90-an, Renny Harlin (Die Harderm, Cliffhanger, dan Deep Blue Sea) sempat mencoba peruntungan dengan menjadikan Kellan Lutz sebagai Hercules di The Legend of Hercules. Sayang hasilnya tak lebih dari sekedar film kelas B dan easily forgettable. Tak mengapa, karena di tahun yang sama, sutradara yang dikenal jauh lebih berkelas, Brett Ratner, juga mengangkat kisah Hercules dengan treatment yang jauh lebih berkelas, tentu saja.

Bedanya, Hercules versi Ratner diangkat dari novel grafis karya Steve Moore, sahabat Alan Moore (penulis novel grafis Watchmen dan V for Vendetta). Sayang setelah Steve Moore meninggal dunia, Alan justru memboikot versi film karya Ratner ini. Sebuah black bash yang bisa berdampak kurang bagus bagi penghasilan box office-nya. Well, before judging this installment, we better look at the movie first.

Saya menyaksikan Hercules versi Ratner tanpa ekspektasi apa-apa. Jujur, saya tidak begitu semangat menyaksikannya karena kebosanan saya akan film bertemakan mitologi Yunani dan sejenisnya masih belum hilang juga. Ternyata saya salah. Hercules versi Ratner ini jauh melebihi ekspektasi saya. Even more, I really enjoyed and dare to say, it’s one of the best version of Hercules’ story ever put in cinemas.

Jika Anda mengharapkan kisah Hercules sebagai tokoh mitologi yang merupakan anak haram dari Zeus dengan kekuatan tak terkalahkan, maka mungkin Anda akan kecewa. But as for me, justru versi manusiawi dan realistis dari Hercules inilah yang menjadi kekuatan utamanya. Tak hanya sekedar ikut-ikutan tren treatment film superhero saat ini, perubahan di sini justru bisa dengan lebih mudah dan lebih dalam menyampaikan tema kepahlawanan dan harapannya, seperti halnya esensi dari kisah aslinya. Lebih baik lagi, kisahnya tak sampai terjerumus dalam cliché-cliché yang hampir selalu terjadi di film sejenis, misalnya penyisipan kisah cinta. Tidak pula terjerumus dalam nuansa gelap (yang juga menjadi trend film saat ini), ia justru berani mempertahankan kemasannya sebagai tontonan pure hiburan yang fun dan seru.

Tak hanya storyline saja, Hercules versi Ratner mampu dengan adil membagi porsi karakter-karakter pendukungnya sehingga kesemuanya mampu tampil sama kuat dan mengesankannya bagi penonton, tanpa terasa tumpang tindih ataupun serakah ingin menampilkan semua. Hal yang sulit dilakukan, tapi Ratner mampu melakukannya dengan sangat baik.

Turnover cerita di klimaks bisa jadi mudah ditebak, namun keseluruhan adegan aksi yang ditawarkan dengan seru dan menegangkan (menurut saya hanya minus cipratan darah saja yang menjadi kekurangannya) plus humor di sana-sini (that’s why Dwayne ‘The Rock’ Johnson was hired), membuatnya menjadi tontonan mengasyikkan, dengan pondasi konsep cerita yang cukup kuat dan fresh pula.

The Casts

Dwayne ‘The Rock’ Johnson memang punya signatural look yang pasti memberikan efek komedi ke film. Jujur, saya tidak melihat Dwayne sebagai sosok Hercules yang cocok dan cukup kharismatik. Entah faktor garis wajah atau usia, yang pasti sosok Hercules yang selama ini ada di benak saya, sama sekali tak tergambarkan di versi Ratner ini. Seperti Dwayne menciptakan karakternya sendiri yang kebetulan bernama ‘Hercules’ dan memanfaatkan mitos ‘putra Zeus’. Menurut saya ini tidak berarti buruk. Sah-sah saja sosok Hercules seperti apa yang mau ditampilkan, toh Hercules bukanlah tokoh asli yang harus dijaga keotentikannya. In the name of entertainment, Dwayne still delivered a good performance.

Di lini pemeran pendukung, Ian McShane, Rufus Sewell, Aksel Hennie, Ingrid Bolsø Berdal, dan Reecee Ritchie mampu tampil memikat dengan karakter masing-masing yang unik, ditunjang pembagian porsi peran yang merata. Begitu pula John Hurt, Joseph Fiennes, dan Rebecca Ferguson yang tak kalah menariknya. Terakhir, siapa saja pasti menantikan penampilan Irina Shayk sebagai Megara meski running time-nya sangat sedikit.

Technical

Hercules versi Ratner adalah project berbudget besar yang tentu saja tak perlu meragukan lagi kualitas visual dan audionya. Meski tak terlalu signatural dan remarkable, visual effect-nya termasuk mampu mendukung kebutuhan cerita dengan cantik, termasuk desain kota-kota yang indah.

Efek 3D tak disangka memberikan kontribusi yang besar dalam membuat visualisasi Hercules menjadi outstanding. Didukung efek depth dan pop-out yang mencolok dan banyak, efek 3D dipertajam dengan angle kamera yang dibuat sedekat mungkin. Sayang sekali jika Anda berkesempatan menyaksikan versi 3D tapi melewatkannya begitu saja.

Score-nya yang cukup membangun nuansa grande, berhasil semakin menghidupkan emosi di setiap adegan, meski tak begitu memorable. Terakhir, sound effect yang dahsyat dan memanfaatkan efek surround secara maksimal, turut memberikan pengalaman menonton yang sangat memuaskan.

The Essence

Manusia butuh sosok dan cerita-cerita hebat untuk memberikan motivasi serta menumbuhkan rasa percaya diri. Mungkin terkesan khayal dan tidak masuk akal, tetapi efek psikologisnya bisa jadi cukup mempengaruhi.

They who will enjoy this the most

  • Mythological stories’ fans
  • Dwayne ‘The Rock’ Johnson’s fans
  • General audiences who seek for light and exciting entertainment, but still open minded about a different version of the original material 
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, September 1, 2014

The Jose Movie Review
Sin City: A Dame to Kill For

Overview

Tahun 2005 sutradara nyentrik yang gemar membuat film dengan gaya B-class (atau yang ia sebut sebagai grindhouse), Robert Rodriguez, menggarap film adaptasi dari novel grafis karya Frank Miller, Sin City (SC). Dengan visualisasi ala novel grafisnya, SC karya Robert Rodriguez lebih tepat sebagai “memindahkan” dari panel-panel gambar ke adegan-adegan di layar bioskop. Ditambah dengan adegan-adegan gokil, gila, dan remarkable khas Rodriguez, jadilah SC jenis film yang unik dan bagi saya, bikin kangen. Maka ketika 9 tahun kemudian muncul sekuelnya, segera antusiasme saya naik.

Sekedar informasi, SC sebenarnya tersusun dari beberapa cerita dengan sudut pandang karakter utama masing-masing, tapi berada di universe yang sama, yaitu Basin City. Sehingga kesemua cerita bisa saling berkaitan (interwoven). Premise utamanya adalah pengalaman beberapa karakter yang tak hanya berjuang demi self-survival, tetapi juga aksi vigilante melawan penguasa yang korup. Dilihat dari timeline, Rodriguez juga memilih cerita yang diangkat ke layar lebar secara acak. Sehingga bisa jadi di satu film, kesemua ceritanya tak berada pada satu timeline yang paralel. Begitu juga di Sin City – A Dame to Kill For (ADTKF), Rodriguez lebih memilih mengklasifikasi cerita sesuai tema ketimbang urutan novel grafisnya. Jika SC berfokus pada kisah-kisah dari sudut pandang pria, maka sesuai yang dipilih sebagai judul utamanya, ADTKF berisi kisah-kisah dari sudut pandang karakter wanita. Ada 4 segmen berbeda, tapi hanya 3 segmen yang benar-benar diangkat dari novel grafis Frank Miller, yaitu Just Another Saturday Night yang berfokus pada kisah Marv, A Dame to Kill For yang berfokus pada kisah Dwight dan Ava, serta The Long, Bad Night yang konon belum pernah dipublikasikan dan berfokus pada kisah Johnny. Satu lagi, kisah Nancy Callahan di Nancy’s Last Dance yang bisa dibilang expansion story dari That Yellow Bastard.

Dibandingkan dengan SC, ADTKF punya kelebihan dan kelemahan. Susah jika menilai storyline dan story telling Rodriguez di sini, karena sudah punya basic source yang jelas dan sangat dipatuhi oleh Rodriguez, yaitu novel grafisnya, meski ada segmen yang direka sendiri olehnya. Bagaimanapun saya harus mengakui adegan-adegan di ADTKF tak se-remarkable dan segokil SC. Plot-plotnya pun tak dikembangkan lebih dalam hingga kesemuanya terasa biasa saja. Pun demikian, signatural-signatural khas SC sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduan saya. Meski adegan-adegannya tak segila dan seklimaks SC, visualisasi ADTKF masih cukup unggul terutama dari segi sinematografi yang serba indah dan visual effect yang semakin halus. Satu hal lain yang tak boleh dipungkiri menjadi kelebihan ADTKF adalah dialog-dialognya yang terasa lebih punya depth dan cerdas ketimbang SC.

So yes, nikmati ADTKF sebagaimana memang tujuan ia dibuat: hiburan unik. Segmented, tapi storyline dan adegan-adegannya cukup asyik dinikmati tanpa melibatkan emosi dan logika. Lose yourself and you’ll still enjoy its every moment, just like the first installment.

The Casts

Aktor-aktor yang pernah tampil di installment pertamanya, seperti Mickey Rourke, Jessica Alba, Rosario Dawson, Bruce Willis, dan Power Boothe masih menampilkan kualitas performa yang kurang lebih sama.

Sementara di jajaran pemain baru, Eva Green terasa paling menonjol dan sangat pas memerankan karakter Ava. Tentu saja penampilan ‘berani’-nya di beberapa adegan semakin menambah daya tariknya yang menonjol sepanjang durasi. Josh Brolin mampu meneruskan karakter yang diwariskan Clive Owen dengan mulus, tanpa terasa timpang. Sementara Joseph Gordon Levitt juga mampu tampil menonjol berkat karakter yang punya porsi cukup banyak, di samping gelaran plot segmennya yang memang sudah menarik.

Satu hal yang paling saya sayangkan adalah digantinya pemeran Miho dari Devon Aoki menjadi Jamie Chung. Meski sebenarnya Chung tak tampil buruk, entah kenapa perubahan (fisik) karakternya terasa tak semulus perubahan Brolin-Owen. Untung saja porsi karakternya tak sebanyak di installment pertama.

Technical

Seperti yang sudah saya sampaikan di segmen sebelumnya, ADTKF punya visualisasi nyentrik hitam-putihnya yang jauh lebih baik dan halus. Didukung pula dengan sinematografi yang mempresentasikan angle-angle sempurna nan indah. Editing juga turut memberikan kontribusi yang cukup besar dalam merangkai koneksi tiap segmen dengan smooth, sehingga tidak membingungkan dan tak terasa tumpang tindih.

Aspek audio pun ditata dengan sangat mumpuni. Tak hanya menghadirkan suara-suara gemuruh deru mesin mobil, pecahan kaca, hingga tembakan serta ledakan yang terdengar renyah, tapi juga memanfaatkan gimmick surround secara maksimal. Ditambah scoring yang berkarakter khas, ADTKF sangat memanjakan telinga.

The Essence

Hidup di tengah-tengah masyarakat yang serba korup bukan berarti harus beradaptasi ikut-ikutan korup. Tak mudah memang berusaha memperjuangkan sesuatu yang kita anggap benar. Tapi ikut-ikutan menjadi salah tidak akan membuat hidup otomatis menjadi lebih mudah. Tetap bertahan dan berjuang melawan mayoritas masyarakat yang korup sekalipun, justru membuat hidup terasa lebih punya makna.

They who will enjoy this the most

  • Audiences who enjoyed the first installment
  • Bloody and gory action fans
  • The original Frank Miller’s graphic novel fans
  • General audiences who seek for an instant and exciting entertainment, without emotion nor logic involved 
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates