It

The Pennywise devilish clown is back to spread terror after 23 years.
Read more.

Petak Umpet Minako

Are you brave enough to play the deadly Hikori Kakurenbo, a life betting Hide-and-Seek game?
Read more.

Kingsman: The Golden Circle

Manners to maketh more men.
Opens Sept 20.

Gerbang Neraka

Reza Rahadian and Julie Estelle to investigate the scary myth about the Pyramid of Gunung Padang.
Opens Sept 20.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Opens Sept 28.

Monday, July 21, 2014

The Jose Movie Review
Step Up All In

Overview

Yang namanya franchise tidak perlu susah-susah untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Dengan formula yang sama atau setidaknya mirip-mirip, sebuah franchise film bisa terus mengulang sukses secara komersial. Apalagi jika awalnya hanyalah film berbudget rendah seperti Step Up. Tak perlu nama-nama besar pula untuk mengundang penonton. Justru sebaliknya, film franchise-lah yang akan mendongkrak pamor aktor-aktris baru. Seperti yang selalu saya komentari tentang franchise Step Up, tak perlu pusing-pusing mikir bagaimana story line-nya, yang penting adegan-adegan dance yang inovatif, niscaya kesuksesan akan selalu menyertai. Bahkan sekarang sudah sampai installment ke-5.

Masih dengan kisah dreams come true yang klise, Step Up All In (SUAI) mencoba menarik perhatian penonton dengan menampilkan sebagian besar karakter-karakter yang ada sejak installment pertama. Sayang Channing Tatum dan Jenna Dewan-Tatum yang mengawali franchise ini malah absen. Tapi tunggu dulu, Adam G  Sevani, si Moose yang paling signatural dari semua installment, mendapatkan porsi yang jauh lebih banyak di sini. Sementara karakter-karakter utamanya dan kisahnya cenderung melanjutkan langsung dari installment ke-4, Step Up Revolution alias Miami Heat.

Meski secara keseluruhan menampilkan nuansa yang lebih fun dengan humor-humornya, sayangnya tidak mampu mendongkrak kualitas SUAI secara keseluruhan. Abaikan dulu storyline-nya yang klise, terkesan terlalu gampangan, dan penokohan yang semakin kekanakan dalam bersikap (padahal secara usia seharusnya semakin dewasa), tampilan adegan-adegan dance di sini saja masih jauh dari kata spektakuler. Jauh dari adegan dance di installment-installment sebelumnya. Bahkan koreografi yang ditampilkan tim Grim Knights tampak asal hentak tangan dan kaki. Tak ada sisi keindahan sama sekali. Entah disengaja untuk memberikan kontras dengan penampilan The Mob dan LMNTRX atau memang begitu adanya.

Adegan final battle yang biasanya ditampilkan maksimal dan spektakuler, di sini lagi-lagi terasa gagal mencapai klimaks. Terutama penampilan LMNTRX yang sebenarnya berpotensi tampil keren dengan iringan musik-musik middle-up, namun tak sampai music dengan beat yang lebih intense, adegan langsung disudahi. Seperti sebuah grafik adegan yang seharusnya terus meningkat, namun saat hendak mencapai klimaks justru meluncur turun begitu saja. Adegan dance yang paling berkesan dan punya emosi yang bagus menurut saya justru dance duet ala James Brown yang dilakukan Sean dan Andie di tengah wahana komidi putar. Adegan yang berhasil membuat saya terkesan, seperti halnya adegan dance duet Moose dan Camille di Step Up 3D dengan iringan I Won’t Dance dari Fred Astaire.

With all of its pluses and minuses, memang sejak awal tidak ada yang bisa diharapkan dari SUAI selain tayangan hiburan bak music video berdurasi satu setengah jam dengan bridging sisipan kisah persaingan, percintaan, dan teamwork yang generik. Bisa jadi installment terburuk dari Step Up, namun masih watchable dan menghibur berkat nuansanya yang lebih fun ketimbang installment-installment sebelumnya dimana punya nuansa drama serius yang lebih dominan.

The Casts

Tak ada aktor yang tampil lebih menonjol ketimbang yang lain. Semua rata-rata tampil merata. Ryan Guzman sebagai Sean masih sama seperti di Step Up Revolution. Briana Evigan sebagai Andie tampil lebih menonjol dan menarik ketimbang di Step Up The Streets. Sedangkan Adam G. Sevani sebagai Moose juga terlihat lebih menarik dengan fisiknya yang lebih berisi namun dengan pesona dance yang masih sama.

Di antara karakter-karakter baru, Izabella Miko sebagai Alexxa Brava tampil paling menarik perhatian penonton. Selain gesture dan kostumnya yang mengingatkan kita akan Elizabeth Banks di franchise The Hunger Games. Tidak sekharismatik Banks sih, tapi lumayanlah buat sindiran terhadap karakter sejenis.

Technical

Seperti biasa, adegan-adegan koreografi dance direkam sedemikian rupa sehingga terlihat dan terasa menarik. Tata artistik yang indah, seperti komidi putar James Brown, menambah keindahan visual-nya. Meski ada juga yang tata artistiknya aneh bin ajaib, seperti video audisi LMNTRX, but it's still okay. Ada beberapa gerakan yang terlihat mencolok ingin memberikan efek 3D pop-out. Sayang versi 3D-nya tidak beredar di Indonesia.

Untuk tata suara, music dan sound effect seperti hentakan kaki dapat berpadu dengan baik sehingga terkesan nyata. Efek surround pun dimanfaatkan dengan cukup maksimal dalam menghadirkan riuh rendah ambience, terutama saat The Vortex.

The Essence

Di kebanyakan kompetisi, kemenangan sering menjadi satu-satunya tujuan dari peserta. Tanpa disadari kemenangan dalam kompetisi seringkali dipengaruhi oleh faktor-faktor luar yang kurang objektif. Misalnya koneksi peserta dengan panitia atau juri, atau sistem vote yang semakin mengurangi sisi objektif kualitas sebuah kompetisi. Padahal kalau mau berpikir panjang, bukan kemenangan yang penting, tapi bagaimana tampil semaksimal mungkin saat berkompetisi. Dengan demikian bukan tidak mungkin ada pihak lain yang melirik. Bukan mustahil jika dari situ muncul kesempatan lain yang siapa tahu lebih besar. So get it all in!

They who will enjoy this the most

  • Dance enthusiast
  • The franchise’s fans
  • General audiences who seek for an entertaining show, especially teenagers
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 15, 2014

The Jose Movie Review
Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya
(Peculiar Vacation and Other Illnesses)

Overview

Art house film Indonesia sebenarnya sudah cukup dikenal lewat film-film yang rajin dikirimkan ke berbagai festival international bergengsi. Sebut saja Puchon Film Festival, SXSW, Locarno International Film Festival, dan bahkan Cannes Film Festival. Memang tak banyak yang sebenarnya ditayangkan di bioskop komersil tanah air, mengingat penontonnya yang sangat terbatas. Lagi-lagi tempat alternatif untuk bisa menyaksikannya adalah festival film lokal. Namun ketika berhasil ditayangkan di bioskop komersil, tentu ini menjadi sebuah prestasi tersendiri. Apalagi mengingat jaringan bioskop komersil terbesar di Indonesia termasuk susah untuk ditembus film nasional jika bukan produser besar.
Tentu menyaksikan dan menikmati film art house memerlukan kacamata yang berbeda dengan film-film biasa. Namanya juga art house, jadi eksplorasinya bisa ke mana-mana dan seringkali tak lazim. Baik dari segi cerita yang diangkat maupun gaya penceritaannya. Jadi tak heran jika penontonnya masih tergolong segmented. Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (VyJ) karya Yosep Anggi Noen adalah salah satu art house asal Indonesia produksi 2012 yang sukses berkeliling berbagai festival film dunia dan kini akhirnya menyambangi layar beberapa bioskop secara terbatas.
Sebenarnya VyJ termasuk art house yang tak terlalu susah untuk menterjemahkan bahasa-bahasa gambar dan semiotika-nya. Seperti yang pernah disampaikan saat pidato kemenangan di Apresiasi Film Indonesia 2013, Yosep mengajak untuk memperlakukan film bukan hanya sebagai produk hiburan, melainkan juga sebagai produk budaya. Maka melalui VyJ, ia tak hanya memperkenalkan budaya melalui dialog, gambar-gambar panorama alam, dan perilaku masyarakat Jawa Tengah yang terasa begitu otentik dan natural, tetapi juga melalui unsur-unsur psikologis yang mewakili masyarakat Jawa pada umumnya. Bagaimana karakter utamanya membiarkan permasalahan (dalam konteks ini, rumah tangga) dalam keheningan. Tapi seperti kebiasaan kita pula, kita jadi bisa tau permasalahannya melalui percakapan-percakapan yang terjadi dan menyimpulkannya sendiri. Tak hanya memasukkan dialog dan adegan yang relevan dengan alur cerita utama. Terkadang VyJ juga mendokumentasikan ”produk-produk” budaya lokal yang mungkin suatu hari bakal jadi barang langka, misalnya proses membotolkan bensin curah yang akan dijual lagi, mitos tentang cacar air yang masih sering dipercaya oleh masyarakat setempat, sampai mitos sial jika menabrak kucing. Mungkin tak semua bisa memahami apalagi menikmatinya, tetapi pasti ada juga penonton yang tersenyum-senyum menyaksikan adegan dan mendengarkan dialog-dialog seperti ini.
Tak sulit sebenarnya memahami dan menikmati VyJ, karena ia tak terlalu bermain-main dengan bahasa simbol alias semiotik yang rumit. Sama seperti menganalisa sesuatu dari kejadian sehari-hari untuk memahaminya, VyJ terasa mengalir begitu saja. Tanpa tujuan maupun solusi tertentu. Menarik, tetapi tak sampai menjadi film yang kelewat istimewa. Ya anggap saja diajak jalan-jalan seputar Jawa Tengah dengan bonus bisa ngepoin konflik rumah tangga orang. Simple, tapi siapa sangka kita juga bisa belajar dari sana.

The Casts

Agak susah menilai penampilan aktor-aktor yang bermain di VyJ, termasuk karakter-karakter utamanya. Faktor utamanya adalah kamera yang seringkali membidik karakter-karakternya dari belakang. Tapi dari dialog-dialog yang dibawakan dengan kental logat Jawa Tengah-nya, kesemuanya tampil natural. Tak perlu kemampuan akting tertentu, kesemua aktornya seperti sedang menjadi diri sendiri dan melakukan kegiatan sehari-hari. Namun yang pasti chemistry antara Christy Mahanani (Ning) dan Muhammad Abe Baasyin (Mur) terasa sangat kuat sepanjang durasi.

Technical

VyJ termasuk film indie yang sangat terasa dari segi gambar dan tata suaranya. Meski demikian gambar VyJ tidak sampai diabaikan begitu saja. Terutama sekali ketika mengambil gambar-gambar panorama alam Dieng dan wideshot. Di adegan-adegan dengan cahaya minim pun tak tampak mengganggu penglihatan. Semuanya tersaji dengan pas. Begitu juga tata suara yang terdengar seimbang antara dialog, ambience, dan scoring-nya. Meski sesekali masih ada dialog yang terdengar kurang menyatu dengan ambience-nya. But overall it’s still fine to me.

The Essence

VyJ membidik permasalahan rumah tangga, terutama karena tak berfungsinya peran dari suami. Meski demikian kedua pihak memilih untuk berdiam dan mencari pelariannya sendiri-sendiri. Memang tak sampai merusak rumah tangga (kita tidak tahu itu), tetapi mau sampai kapan membiarkan permasalahan berlarut-larut tanpa ada solusi?

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang dekat dengan budaya Jawa, terutama Jawa Tengah
  • Arthouse enthusiast
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, July 13, 2014

The Jose Movie Review
Dawn of the Planet of the Apes

Overview

Planet of the Apes (PotA) bisa dikatakan sebagai salah satu franchise sci-fi paling tua di ranah dunia hiburan populer. Diangkat dari novel Perancis karya Pierre Boulle tahun 1963, PotA pertama kali diangkat ke layar lebar tahun 1968 dengan bintang papan atas saat itu, Charlton Heston, dan sudah dibuatkan sampai seri ke-5. Sempat diangkat menjadi serial TV dan di-remake dengan visi ala Tim Burton tahun 2001 dengan bintang Mark Wahlberg, Helena Bonham Carter, dan Michael Clarke Duncan. Update terbaru adalah reboot yang dilakukan sutradara Rupert Wyatt tahun 2011 dengan titel Rise of the Planet of the Apes. Tak hanya me-reboot cerita, ia memulai dengan sebuah prekuel dengan berbagai referensi dari materi aslinya dan modifikasi cerita agar terasa lebih modern dan real. Hasilnya cukup luar biasa. Berhasil mempertahankan reputasi PotA sebagai salah satu franchise sci-fi yang tak hanya cerdas dari segi filosofis dan konsep besar cerita, namun juga menyajikan thriller yang haunting.

Maka Dawn of the Planet of the Apes (Dawn) menjadi salah satu film paling dinantikan di tahun 2014 ini. Menurut saya, agak susah membandingkan Dawn dengan Rise, karena universe-nya (terutama dari segi karakter-karakter manusia) benar-benar berbeda. Ia mengambil setting 10 tahun setelah ending Rise dimana manusia sudah bukan lagi menjadi spesies dominan di muka bumi gara-gara virus yang tersebar di ending Rise. Cerita yang disajikan di sini merupakan perkembangan jauh ke depan dari sebelumnya. Style story telling-nya pun mengalami perubahan yang cukup signifikan sebagai imbas dari berpindahnya bangku sutradara ke Matt Reeves. Maka jika ditanya bagus mana antara Rise dan Dawn, saya tidak bisa memutuskannya begitu saja. Jawabannya bisa berbeda antara satu penonton dengan yang lainnya, sesuai selera masing-masing.

Benang merah yang masih bisa dilihat antara kedua seri ini adalah karakter kera mutasi, Caesar, dan beberapa karakter kera lainnya seperti Koba dan Maurice. Hampir lebih dari separuh porsi cerita Dawn adalah perkembangan ketiga karakter ini. Jadi bersiap-siaplah untuk mengikuti cerita dengan tak banyak dialog di separuh awal film, karena karakter-karakter kera ini lebih banyak menggunakan bahasa isyarat. Ketegangan cerita mulai terasa ketika karakter-karakter manusia mulai dimunculkan. Dan semakin kedua kubu ini saling berinteraksi, cerita berkembang menjadi semakin gelap dan mengerikan. In a positive way, of course. Dilematis antara membuat penonton pro-manusia atau pro-kera menjadikan point of view Dawn menarik. In the end ia menampilkan keseimbangan yang sangat pas antara kedua point of view ini hingga penonton menemukan kesimpulannya sendiri melalui filosofisnya yang ironis.

Jangan khawatir jika Anda termasuk penonton yang mengharapkan adegan battle yang seru dan memanjakan mata-telinga. Dawn menyimpannya di klimaks dan berhasil terlihat epic. That’s the best part of Dawn, yang mungkin juga turut menjadikannya salah satu film terbaik tahun ini.

The Casts

Perhatian utama sepanjang film tentu saja kera-kera yang tampak begitu menakjubkan dan hidup. Totally apes namun dengan improvement-improvement khas manusia. Menakjubkan sekaligus mengerikan membayangkan jika benar-benar ada. Peran Andy Serkis semakin penting seiring dengan porsi yang semakin besar di sini. Karakter Caesar menjadi yang paling menarik dengan kharismanya.
Di sisi karakter manusia, Jason Clarke tampil cukup mengesankan. Begitu juga Keri Russell yang mengimbangi kharisma Jason dengan karakternya yang hearty dan loveable. Namun penampilan khas dari Kodi Smit-McPhee sebagai Alexander lah yang paling mencuri perhatian penonton. Wajahnya yang khas dan kharismatik berhasil menutupi peran karakternya yang sebenarnya tak begitu banyak.

Sementara aktor watak yang sering memerankan karakter-karakter nyentrik, Gary Oldman, kali ini mengisi peran yang tak begitu menarik dan cenderung biasa saja. Meski masih mampu memerankannya dengan baik, namun sebenarnya saya merasakan sayang dengan kemampuan akting Gary yang saya yakin worth a much much more interesting character.

Technical

Seperti biasa, pertama saya harus menyematkan kredit terbesar untuk tim make up dan visual effect yang berhasil menghidupkan kera-kera ini menjadi jauh lebih real dibandingkan sebelum-sebelumnya. Didukung akting para pemerannya dengan teknik motion capture, kera-kera ini tampak sangat real, baik dari segi tampilan fisik maupun gesture.

Aspek teknis lain yang paling menonjol bagi saya adalah score dari Michael Giacchino. Tak hanya memberikan kesan ironic, epic, dan berkelas, Michael juga menyelipkan beberapa elemen yang mengingatkan saya akan film-film thriller 70-80’an. Memberikan warna tersendiri dalam menghidupkan adegan-adegannya.

Kredit berikutnya saya berikan kepada sinematografi Michael Seresin yang berhasil merekam semua desain produksi dalam angle-angle yang sempurna.

The Essence

Sama seperti Caesar, kita sebagai manusia sering merasa sebagai makhluk yang paling sempurna, jauh lebih baik dibandingkan makhluk atau spesies lain. Padahal apapun spesiesnya, bisa saja menjadi pihak yang baik maupun licik.

They who will enjoy this the most

  • The franchise’s fans
  • Sci-fi enthusiast
  • Audiences who like movies with certain philosophical base
  • General audiences who seek for exciting entertainment 
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Transformers: Age of Extinction

Overview

Transformers again. Terakhir, Michael Bay sudah menyatakan tidak tertarik untuk menggarap lagi seri franchise termegah dan terbesar itu. Saya sempat sedikit bernafas lega karena tidak akan melihat robot-robot ini berkeliaran lagi, setidaknya selama beberapa tahun ke depan, sebelum Paramount-Hasbro merasa perlu untuk me-reboot franchise akbar ini dengan tangan komando lain. Well money talks, and here we are… Michael Bay has swallowed his own saliva and returned with the fourth installment yang konon katanya sebuah permulaan yang baru bagi franchise ini. Melihat karakter yang memang benar-benar dirombak, hal ini sempat membuat rasa ketertarikan saya sedikit muncul. Apalagi ternyata trailernya juga sangat menjanjikan. So yes, I gave him one more chance, tetapi tentu saja dengan ekspektasi serendah-rendahnya. Sama rendahnya ketika menyaksikan Revenge of the Fallen (RotF) dan Dark of the Moon (DotM).

Oh yes, Michael Bay masih menorehkan ke-khas-annya di sana-sini. Baik yang bagus maupun yang mengganggu dari seri-seri Transformers sebelumnya. Mulai frog shot, flare, hingga slow-mo dengan patriotic score, semuanya masih dipertahankan. Bahkan durasinya pun terus membengkak menjadi 165 menit. Tapi satu hal yang patut saya akui adalah Age of Extinction (AoE) punya storytelling yang jauh lebih nyaman untuk diikuti dan dinikmati dibandingkan RotF maupun DotM. Karakter-karakter manusia baru memang tak banyak memberikan kontribusi cerita, bahkan cenderung mencoba untuk mengulang formula Armageddon, meski belum bisa mencapai tingkat emosional yang setara. Tetapi effort-nya untuk merefresh kisah manusiawi di balik bombardir pertarungan akbar para robot raksasa, boleh lah. Penambahan karakter robot-robot justru menjadi refresh yang paling menarik dan harus diapresiasi. Interaksi dan dialog antar robot yang di seri-seri sebelumnya tergolong terabaikan dan tidak begitu penting, di sini menjadi jauh lebih menarik dan hidup. Setidaknya sentuhan midas milik tangan Bay yang sempat membuatnya berjaya di scene film action era 90-an perlahan telah kembali. Semoga saja perkembangan bagus ini terus terjadi di seri-seri bahkan film-film action lainnya.

Tentu saja continuity error dan logic error bertebaran di sana-sini dan mungkin bisa mengganggu kenyamanan menonton. Tetapi dua aspek ini sudah saya abaikan jauh-jauh sejak RotF, sehingga ketika masih menjadi penyakit di AoE, saya memilih untuk tetap mengabaikannya demi kenyamanan tujuan utama saya menonton seri Transformers: menikmati pertarungan-pertarungan epic para robot yang sukses menghancurkan peradaban manusia. Yes, I have to admit the fun of destruction movies. Thanks to Bay and his Transformers universe.

Dua setengah jam lebih bukanlah durasi yang aman untuk film yang sebenarnya hanya menjual adegan-adegan aksi tanpa henti seperti Transformers. AoE pun masih dengan formula lama Bay yang membombardir penontonnya dengan adegan aksi demi adegan aksi tanpa henti. Bagi beberapa penonton mungkin lama-kelamaan akan terasa melelahkan. Tapi jika Anda sama halnya dengan saya, just enjoy the moment which just flow, you will find it very enjoyable and worth every penny and time you’ve spent to queue.

The Casts

Mark Wahlberg menjadi sorotan utama sepanjang cerita dan dengan kharisma aktingnya yang sudah khas, menjadikan kisah manusiawi AoE hidup dan menarik. Lebih menarik ketimbang kisah Sam Witwicky di seri-seri sebelumnya yang sudah mulai melelahkan. Daya tarik seksual Nicola Peltz mungkin tidak sebesar Megan Fox ataupun Rosie Huntington Whiteley, namun harus diakui karakter yang mainkan masih jauh lebih hidup dan menarik ketimbang Mikaela maupun Carly yang hanya terkesan tempelan pemanis. Pendatang baru lainnya, Jack Reynor yang memerankan Shane pun tampil cukup menarik.

Di deretan aktor senior, Stanley Tucci memerankan karakter yang berbeda dari tipikal peran yang biasa ia mainkan. Dengan gesture dan tampilan ala Steve Jobs, karakternya menjadi salah satu yang memorable sepanjang durasi. Tentu saja penampilan Li Bingbing yang berhasil mencuri perhatian, tak boleh dilupakan begitu saja untuk diberikan kredit.

Technical

What’s best about Transformers jelas adalah visual effect-nya. Tak terkecuali di AoE, Anda akan memaafkan segala kekurangannya berkat sinergi luar biasa dari visual effect dan sound effect-nya yang memang paling maksimal. Efek surround dan deep bass belum pernah sedahsyat, semantap, dan sehidup ini. Meski demikian, tak pernah sampai terkesan berisik dan berlebihan.

Efek 3D yang digunakan pun menambahkan kesan hidup dan real dari adegan-adegan dahsyat yang ia bombardir sepanjang durasi. Sangat mengesankan. Rugi jika Anda sampai tak menyaksikan versi 3D-nya.

The Essence

Manusia selalu merasa paling pintar dalam segala hal, untuk hal-hal licik sekalipun. Tanpa disadari sebenarnya pihak musuh bisa saja lebih cerdas dan membalik keadaan. Bukan mereka yang dimanfaatkan, tetapi sebaliknya, justru mereka yang memanfaatkan manusia untuk memuluskan rencana yang lebih besar. So human, keep your arrogance away!

They who will enjoy this the most

  • Transformers fans
  • Visual effects enthusiast
  • General audiences who seek for exciting instant entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates