Blade Runner 2049

Ryan Gosling continue the replicant's tale as the next generation, K.
Read more.

Geostorm

Gerard Butler, Ed Harris, Andy Garcia, Jim Sturgess, and Abbie Cornish was stuck in an unprecedented series of natural disasters threat.
Read more.

Happy Death Day

What if you have to keep repeating the day you die, which also your birthday, again and again?
Read more.

One Fine Day

Jefri Nichol and Michelle Ziudith to paired up against Maxime Boutierre in Barcelona's exoticisim.
Read more.

Pengabdi Setan

The 1980's classic horror is ready to come back to life by Joko Anwar.
Read more.

Monday, June 30, 2014

The Jose Movie Review
The Fault in Our Stars

Overview

Semua juga tahu bahwa jaman sekarang film dengan naskah asli tidak bisa menjual sebesar film dengan naskah adaptasi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Hollywood. Coba hitung ada berapa banyak film dengan naskah asli yang sukses. Lantas bandingkan dengan film-film yang merupakan franchise atau diadaptasi dari sumber lain, seperti novel. Kalau dianalisis lagi, membuat film adaptasi punya jaminan sukses yang lebih besar daripada naskah asli yang terhitung masih gambling. Setidaknya fans materi aslinya sudah hampir pasti bakal menjadi penonton versi filmnya. Apalagi jika target utamanya remaja yang menjadi konsumen film tertinggi selama ini. Tak heran jika satu per satu novel remaja diangkat ke layar lebar. Yang terbaru, The Fault in Our Stars (TFIOS) karya John Green yang versi novelnya pernah menjadi bestseller di Amerika Serikat dan juga sudah menular ke seluruh dunia.
Saya belum pernah membaca versi novelnya, tapi it’s okay. Dengan demikian saya bisa memberikan insight yang lebih objektif tentang versi filmnya. Toh film adaptasi yang bagus seharusnya bisa berdiri sendiri dan tetap nyaman ditonton tanpa perlu mengetahui versi aslinya. TFIOS adalah film drama romance remaja dengan latar belakang penyakit mematikan. Era film drama yang memanfaatkan penderita penyakit mematikan sebagai bahan eksploitasi air mata sudah jauh lewat. Hollywood sudah beberapa kali mengangkat tema penyakit mematikan dengan sisi yang lebih realistis dan bahkan kemasan yang jauh dari tearjerker. Ambil contoh 50/50 yang justru lebih kental komedi nakalnya, atau My Sister’s Keeper dan Dallas Buyers Club yang lebih menyoroti sisi-sisi realistis lainnya untuk digali lebih dalam. Maka perpaduan genre drama penyakit mematikan dan romantisme remaja sebenarnya masih tergolong satu golongan, sehingga tidak terlalu istimewa, meski jatuhnya bisa manis jika paduannya pas.
Tak seperti Restless yang lebih dark meski tetap romantic dan sweet, TFIOS versi film termasuk yang berhasil tampil dominan manis tanpa harus menjadi terasa gombal. Menyentuh, tanpa harus menjadi tearjerker yang berlebihan. Bumbu yang paling menarik tentu saja dialog-dialognya yang konon sudah menjadi kekuatan versi novelnya. Manis, cerdas, terkadang dalam, dan yang pasti banyak sekali yang quotable. Tak heran jika saya berkali-kali dibuat tersenyum olehnya. Jika Anda mengharapkan TFIOS menjadi tearjerker, mungkin siap-siap sedikit kecewa. Karena TFIOS tidak serta-merta menggelar kepahitan-kepahitan secara vulgar yang memaksa penontonnya menangis. Biarkan diri Anda tenggelam dalam alur yang membelai lembut hingga tanpa terasa mata Anda berkaca-kaca.
Namun secara naskah, TFIOS terasa sekali terlalu sederhana, tanpa ada kelokan-kelokan berarti. Tak ada pula titik yang membuat saya merasakan begitu wow. Tak ketinggalan karakter-karakter pendukung yang seharusnya punya potensi dikembangkan dan dikaitkan lebih banyak dengan kisah ataupun karakter sentral, dibiarkan begitu saja bak tempelan. Skenario seolah membiarkan karakter dua sejoli kita, August Waters dan Hazel Grace hanya tinggal berdua di atas bumi ini. Padahal menurut saya karakter Van Houten sangat menarik dan saya sempat berharap ia bisa menjadi kunci dari inti cerita. Sayang karakternya disia-siakan oleh skenario. Alhasil romance adalah aspek cerita yang paling mendominasi ketimbang esensi-esensi mendalam lain yang terpaksa jadi porsi nomer sekian.
Saya curiga skenario berusaha sesetia mungkin dengan versi novel sehingga enggan untuk membuat terlalu banyak inovasi agar versi filmnya menjadi lebih spicy dan terasa lebih bermakna secara sinematik. Jelas sekali media novel dan film sanagat berbeda, sehingga treatment-nya juga seharusnya berbeda agar bisa “menyentuh” audience-nya. Tak harus menjadi tearjerker nomer satu, yang penting mampu membuat penontonnya merasa klimaks dengan epiphany-nya, sudah lebih dari cukup. Tapi jika Anda adalah fan setia versi novelnya, maka Anda akan berkali-kali bersorak sorai, ikut mengucapkan dialog-dialog favorit Anda, dan bahkan larut dalam tangis haru, karena berbaur dengan pengalaman Anda ketika membaca novelnya.
Well, di balik segala kelebihan dan kekurangannya, TFIOS yang hadir sebagai film remaja dengan kemasan lebih “dewasa” dan “dalam” ketimbang tipikal film remaja umumnya dewasa ini, tetap harus disambut sebagai warna tersendiri yang berbobot namun tetap manis.

The Casts

Salah satu kekuatan terbesar TFIOS adalah chemistry yang klop antara Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Meski sebelumnya pernah tampil bersama di Divergent, namun sebagai saudara kandung di Divergent dan sepasang kekasih di TFIOS jelas butuh chemistry yang berbeda. Dan mereka berhasil menghidupkan chemistry yang pas di sini. Pun sebagai masing-masing karakter, keduanya juga tampil bagus.
Di jajaran pemeran pendukung, Laura Dern dan Willem Dafoe cukup menjadi scene stealer. Sayang keduanya tidak diberikan porsi yang layak sehingga mampu tampil sama kuatnya dengan Shailene dan Ansel. Sementara Nat Wolff (Isaac) juga tampil memikat sebagi penyegar suasana.

Technical

Soundtrack memegang peranan penting dalam mendukung suasana sepanjang film sehingga nuansa bittersweetnya sanagt terasa tanpa harus jatuh menjadi terlalu menye-menye. Mulai Ed Sheeran, Birdy, Charli XCX, hingga M83. Salah satu paket soundtrack yang wajib dimiliki albumnya.
Aspek lain yang patut diapresiasi adalah desain produksi, terutama divisi desain kostum dan setting yang membuat gambar menjadi berwarna dengan konsep yang matang. Sinematografinya berhasil merekam sudut-sudut kota Amsterdam dan interior-eksterior lain dengan indah. Tak ketinggalan editing yang juga memanfaatkan visualisasi text message dan e-mail untuk menambah nuansa youth-nya.

The Essence

Semua manusia dibatasi oleh usia. Meski punya usia hidup yang berbeda-beda, tetap saja semuanya punya batasan. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak waktu yang diberikan hidup, namun memanfaatkan hidup dengan maksimal selama waktu yang diberikan. Salah satunya adalah memiliki seseorang yang paling penting untuk selalu berbagi dalam hidup.

They who will enjoy this the most

  • The novel’s fans
  • Teenagers, especially age 16-25 years old
  • Penggemar film romance yang manis
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, June 28, 2014

The Jose Movie Review
Cahaya dari Timur: Beta Maluku

 

Overview

Melihat trend film Indonesia yang didominasi oleh genre horor-seks, banyak masyarakat yang nyatanya hanya tahu perkembangan film Indonesia dari infotainment, mengharapkan film-film lokal yang “mendidik”. Pejabat-pejabat kita punya istilah yang terdengar lebih intelektual: “mengandung kearifan lokal”. Padahal kita tidak pernah tahu seperti apa “kearifan lokal” yang sebenarnya. Alhasil jangan salahkan jika kesuksesan satu film Indonesia yang bersifat “motivasional” (seperti biasa) membuat latah PH-PH lain untuk menggarap film bertema serupa. Tetapi tanpa konsep yang kuat dan skrip yang matang, tak heran jika banyak yang jatuh menjadi klise, hanya sekedar menggurui, dan seringkali hasilnya tak jauh dari kemasan sinetron. Tentu saja, “mendidik” dan “mengandung kearifan lokal” saja belum cukup untuk memajukan perfilman Indonesia, karena tujuan utama dari film sebenarnya masih sering belum tercapai: menghibur.
Tema persatuan, pluralisme, berlatar belakang konflik sosial yang memang kerap terjadi di negara ini sudah sering diangkat. Bahkan Hanung Bramantyo belakangan ini menjadi salah satu sineas yang paling vokal untuk isu ini. Tema sepak bola juga cukup sering diangkat ke kazanah perfilman nasional, mengingat sepak bola adalah olah raga paling populer di Indonesia. Memadukan kedua tema ini juga sudah pernah dilakukan lewat Hattrick, namun dengan kadar intrik di balik tim sepak bola yang jauh lebih dominan, ketimbang isu sosialnya. Maka sekali lagi sineas lokal mencoba untuk memadukan kedua tema ini ke layar lebar. Hasilnya adalah Cahaya dari Timur: Beta Maluku (CDT) yang konon akan dibuatkan seri-seri lainnya jika sukses di pasaran, dengan produser musisi asli Ambon, Glenn Fredly, dan sutradara Angga Dwimas Sasongko yang sebelumnya dikenal lewat Hari untuk Amanda.
Ternyata apa yang diracik di CDT sungguh merupakan perpaduan yang luar biasa. Dimulai dari skrip yang disusun dengan sangat rapi dan matang. Saya tidak tahu sejauh mana fakta yang ada di layar, namun CDT berhasil menyuguhkan pertautan antar sub plot menjadi realistis dan cantik. Well, oke lah ada beberapa klise, tetapi kesemuanya dirangkai menjadi tak terkesan “gampangan” maupun menggurui. Lalu, Angga selaku sutradara tahu betul bagaimana memvisualisasikan adegan-adegan yang sebenarnya simple menjadi penguras emosi yang maksimal. Agak tertatih menyampaikan cerita di awal, terutama saat memvisualisasikan kerusuhan di Ambon, namun alur berangsur-angsur menjadi jauh lebih lancar ketika penonton mulai diajak mengenal karakter utama, Sani Tawainela,  lebih dalam. Tidak terlihat menye-menye dari luar namun mampu menyentuh perasaan siapa saja. Patah semangat, bangga, ketegangan saat babak penalti, semuanya terasa bagai rollercoaster emosi yang jitu. Itu kelebihan yang dimiliki oleh Angga selaku sutradara. Durasi yang dua setengah jam seolah tak terasa sama sekali. Porsi karakter utama, Sani, juga tak menggerus kharisma karakter-karakter lain yang ditampilkan. Semuanya diberi porsi yang pas untuk menempel di benak penonton, tanpa terkesan penuh sesak dan membingungkan.
Kelebihan lain dari CDT adalah berhasil memvisualisasikan isu konflik SARA dengan halus namun masih jelas. Bandingkan dengan beberapa film yang juga mengangkat isu SARA sebagai latar belakang, seperti ? (Tanda Tanya) yang terkesan vulgar dan blak-blakan dalam menampilkannya. CDT tidak berfokus pada konfliknya, tetapi pada harapan yang diberikan pasca konflik, dan it works very well.
CDT juga berhasil mengangkat content lokal, baik dari segi panorama alam maupun kebudayaannya, tak hanya sekedar ornamen yang menghiasi. Namun menyatu dengan wajar dalam cerita. Contoh yang paling mudah, bahasa dan logat Ambon yang selama ini seringkali hanya dijadikan bahan bercandaan (masih ingat tagline produk minyak angin “seng ada lawan”?), melalui CDT berhasil membuat saya tertarik untuk sedikit demi sedikit mempelajarinya. Semoga saja pengaruhnya tak hanya terjadi pada diri saya.
In short, CDT di mata saya sangat berhasil menjadi tontonan yang “mendidik” serta “mengandung kearifan lokal”, namun digarap dengan hati dan intelektual yang besar. Menghibur serta memberikan harapan yang besar bagi penontonnya, terutama yang mengaku berkebangsaan Indonesia. Saya berani mengklaimnya sebagai salah satu film Indonesia terbaik yang pernah dibuat. Jadi sayang jika Anda yang mengaku peduli film Indonesia dan merindukan film Indonesia yang bermutu, melewatkan yang satu ini di layar bioskop.

The Casts

Chico Jerrico memang bukan aktor Indonesia pendatang baru, tetapi ini adalah pengalaman pertamanya bermain di film layar lebar, setelah sebelumnya lebih sering tampil di layar kaca. Well, he’s good though. Tak hanya dalam hal pengucapan aksen Ambon yang sangat lancar dan wajar, penampilannya sebagai Sani yang perkembangan karakternya paling mendominasi membuktikan ia punya potensi yang besar sebagai aktor layar lebar. Belum sampai tahap luar biasa, namun it’s a very good start.
Begitu pula dengan Safira Umm yang sebelumnya sudah kita kenal sebagai presenter infotainment. Fisiknya yang menunjukkan kecantikan serta eksotisme, diimbangi dengan kemampuan akting yang pas dengan karakter.
Tentu saja pemain-pemain asli dari Ambon yang ternyata juga berhasil mencuri perhatian penonton, terutama Bebeto Leutually (pemeran Salembe) dan Aufa Assegaf (pemeran Hari Zamhari Lestaluhu alias Jago). Terakhir, seperti biasa Jajang C. Noer selalu punya kharisma sendiri di layar, sekecil apapun perannya.

Technical

Sinematografi Robie Taswin menjadi kekuatan utama dari teknis CDT. Lanskap alam Tulehu, tata kampung Tulehu, tata kota Ambon secara keseluruhan, sampai pertandingan sepak bola di Jakarta, mampu direkam dengan sangat maksimal. Indah dan megah, sesuai kebutuhan adegan. Kekuatan kedua adalah tata suara yang memberikan detail yang luar biasa serta clarity yang di atas rata-rata. Keseimbangan antara dialog, sound effect, dan score bersinergi dengan sangat baik dalam memanjakan telinga, meski tidak terlalu memanfaatkan fasilitas efek surround. Catatan khusus untuk departemen musik yang berhasil memadukan nuansa etnik dengan pop menjadi komposisi yang keren, termasuk theme song Tinggikan yang dibawakan oleh Glenn Fredly, dan juga lagu-lagu yang dibawakan oleh artis-artis lokal Ambon.

The Essence

Tragedi kerusuhan di Ambon seharusnya bisa jadi pelajaran untuk bangsa Indonesia seluruhnya akan pentingnya persatuan. CDT menjadi penggugah yang kuat akan semangat tersebut dengan hati yang besar. Dan tentu saja karakter Sani mungkin bisa lebih meng-courage penontonnya untuk berani terus menekuni sesuatu yang dicintainya meski belum menghasilkan materi. Jalankan seimbang dengan hal-hal lain yang penting dalam hidup, and your life will be felt complete.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang menyukai emotional-ride
  • General audiences, especially Indonesian
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id.
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, June 26, 2014

The Jose Movie Review
How to Train Your Dragon 2

Overview

Di antara sekian banyak animasi yang diproduksi oleh DreamWorks, How to Train Your Dragon (HTTYD) termasuk salah satu yang paling tidak memorable bagi saya. Maafkan saya jika judul tersebut masuk dalam daftar film animasi favorit Anda, tetapi memori tidak bisa bohong. Saya sempat mengecek kembali review saya sendiri atas HTTYD pertama. Saya mendapati komentar-komentar positif dari diri saya sendiri (itulah pentingnya mendokumentasikan pendapat tentang film-film yang sudah ditonton, bagi saya), tapi jujur, saya tidak mengingat sama sekali detail film ini, kecuali nama karakter Toothless dan Hiccup. Bukan perkara bagus atau tidaknya, tetapi kekuatan brand franchise bisa punya pengaruh yang lebih besar ketimbang kualitas filmnya sendiri. Coba tanya siapa saja, jika menyebut DreamWorks Animation, maka jawaban yang bakal sering keluar adalah Shrek, Kung Fu Panda, atau Madagascar. Mungkin dengan bertambahnya seri, seharusnya HTTYD bisa juga menjelma menjadi salah satu franchise yang kuat andalan DreamWorks. Semoga.
Maka ketika muncul sekuelnya, HTTYD2, jujur saya tidak begitu bersemangat. But I was watching it anyway with no expectation (and of course with no story of the first part remains on my memory), just to spend my spare time. And hey, ternyata saya sangat menikmati petualangan Hiccup, Toothless, dan karakter-karakter barunya. Ingatan saya tentang cerita dan universe yang dibangun bagian pertamanya sedikit demi sedikit muncul. Kisah yang tergolong sederhana itu ternyata mampu dikembangkan dengan sangat baik di bagian ke-dua ini. Mulai twist bertemakan keluarganya yang hangat dan menyenangkan, hingga tampilan naga-naga yang semakin beragam dan harus saya akui, desain karakternya semakin bagus dan menarik. Kesemuanya menjadi paket cantik yang sayang untuk dilewatkan di layar lebar.
Kisah petualangan yang ditawarkan di sini sebenarnya sudah sering diangkat di film serupa dan tidak begitu memberikan efek ketegangan. Tak ada pula yang istimewa dari perkembangan karakter-karakter yang ada. Sama sekali tidak buruk, tetapi memang tidak ada yang benar-benar baru. Semuanya sudah kerap dilakukan di film-film animasi sejenis. Saya tidak begitu merasakan ketegangan dari adegan-adegan aksinya. Tidak juga merasakan keterancaman dari kehadiran villain utama, Drago Bludvist. Mungkin, cerita dan adegan-adegan yang disajikan lebih ditujukan kepada penonton anak-anak. Tapi yang pasti, saya menikmati petualangan bak mengendarai naga sungguhan berkat tata kamera dan efek 3D yang bekerja dengan sangat efektif.
HTTYD2 mungkin akan lebih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak, namun sisi komikal dan humor yang terasa kurang bisa jadi membuatnya mudah dilupakan oleh penontonnya. Mungkin faktor itu juga yang membuat saya tidak begitu mengingat seri pertamanya. Ada sih momen-momen lucu, tetapi hanya sekilas-sekilas. Sisanya kelewat serius. Hanya penampilan naga-naganya yang menggemaskana yang mungkin akan membuat beberapa penonton otomatis berceletuk “awwww...”.
Di balik segala ke-standard-annya, jelas kemampuannya membawa penonton seolah ikut bertualang naik naga menembus awan serta kehangatan sisi kekeluargaannya, sudah cukup membuat HTTYD2 menjadi sebuah pengalaman yang asyik dan wajib dinikmati di layar lebar. Perkara akan bertahan lama dalam ingatan atau tidak, itu urusan nanti.

The Casts

Tak ada yang begitu unik dan menonjol dari jajaran pengisi suaranya, terutama yang sudah pernah tampil di seri pertamanya, seperti Jay Baruchel (Hiccup), Gerard Butler (Stoick), dan America Ferrera (Astrid). Tapi suara kharismatik Cate Blanchett sebagai Valka menjadi daya tarik tersendiri. Sementara Kit Harington (Eret) dan Djimon Hounsou (Drago) cukup merepresentasi karakter masing-masing dengan baik.

Technical

Seperti yang pertama, HTTYD2 menawarkan visualisasi yang luar biasa. Detail gambar latar yang sangat nyata, sehingga kita tidak akan mengira sebagai film animasi jika tak ada karakter-karakternya. Desain kota Berk dan pulau tempat Valka tinggal terlihat luar biasa indah. Desain karakter-karakter naga yang dihadirkan juga mengalami perkembangan cukup besar dari yang pertama.
Efek 3D menjadi salah satu faktor yang membuat HTTYD2 wajib disaksikan di layar lebar (yang memiliki format 3D, tentu saja). Efek depth-nya sangat luar biasa. Meski tak ada efek pop-out yang begitu terasa, namun efek sinematografinya, terutama setiap kali ada objek bergerak menuju ke arah layar, berhasil membuat saya beberapa kali memicingkan mata. Clever trick.
Tata suara yang menggelegar turut mendukung visualisasi yang membawa penonton ke dalam petualangannya, terutama berkat efek surround yang dimanfaatkan secara maksimal.

The Essence

Well, not everything will work on what we believed in. Sometimes, we need to take other than our way.

They who will enjoy this the most

  • Anak-anak, terutama di bawah usia 10 tahun
  • General audiences who seek for an exciting adventure experience
  • Penggemar makhluk-makhluk menggemaskan
  • Cocok ditonton bersama sekeluarga
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Animated Feature Film of the Year
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, June 25, 2014

The Jose Movie Review
Selamat Pagi, Malam
(In the Absence of the Sun)

Overview

Jakarta tak pernah ada habisnya menjadi sumber inspirasi sineas kita. Bukan hanya karena menjadi ibukota negara, tetapi lebih karena permasalahan-permasalahan klasik yang semakin lama bukannya semakin membaik, tetapi semakin parah. Mulai dari masalah sosial, kemiskinan, kemacetan... banyak lah. Tapi yang menarik untuk dibahas adalah benturan budaya yang terjadi di dalamnya sebagai pot besar, tempat percampuran berbagai keragaman yang luar biasa. Benturan budaya yang menghasilkan lifestyle unik dari masyarakatnya. Sinema kita tak pernah berhenti mengangkatnya ke layar, toh meski problematikanya sama, trend lifestyle selalu bergeser dan berubah-ubah.
Salah satu yang concern (atau gemar?) dengan lifestyle warga ibukota adalah Nia Dinata dan kawan-kawan yang beberapa kali mengangkatnya menjadi komedi satir yang menggelitik. Mulai Arisan! yang menjadi pelopor, dilanjutkan sekuelnya yang lebih menonjolkan sisi komedi satir dengan cerewet ketimbang esensi cerita utamanya, Arisan! 2. Maka kali ini Lucky Kuswandi yang juga masih ’satu genk’ dengan Teh Nia (Lucky pernah menyutradarai Madame X yang merupakan produksi Kalyana Shira milik Teh Nia, serta menjadi editor Arisan! 2), menulis dan menyutradarai film sejenis dengan tajuk Selamat Pagi, Malam (SPM), meski kini berada di bawah bendera Kepompong Gendut yang pernah memproduksi Cin(T)a dan Demi Ucok.
Tak jauh berbeda dengan formula Arisan! dan Arisan! 2, SPM juga kental dengan komedi-komedi satir yang mengolok-olok gaya hidup warga Jakarta. Kacamata yang dipilih untuk mewakili pun sangat menarik. Pertama, Gia, seorang wanita 30 tahunan yang baru pulang dari New York setelah 9 tahun meninggalkan Jakarta. Ia mendapati Jakarta menjadi sekumpulan orang-orang yang harus hidup dengan topeng-topeng urban. Bahkan sahabatnya, Naomi yang dulu menemaninya di New York, sudah menjadi bagian dari kaum hedonis ibukota. Kedua, Indri, wanita 20 tahunan dari kalangan menengah yang berusaha naik status sosial melalui kencan buta dengan pria kaya. Terakhir, Cik Surya, tante-tante etnis Tionghoa yang suaminya baru saja meninggal dunia dan mendapati bahwa selama ini suaminya doyan main perempuan di kawasan remang-remang.
Ketiganya berhasil menyajikan perilaku, dialog, serta situasi yang menggelikan, meski sebenarnya sudah lazim sehari-hari terjadi di ibukota. Hasilnya, penonton seperti diajak mentertawai kehidupan yang dijalaninya sehari-hari, tanpa harus merasa tersinggung. Formula yang sebenarnya sudah kerap diusung ke layar lebar, namun tetap saja menjadi hiburan tersendiri bagi khazanah sinema kita. Memang, SPM hanya bercerita tentang kehidupan di Jakarta, tetapi saya yakin juga terjadi di kota-kota besar Indonesia lainnya. Saya yang tinggal di Surabaya saja sudah bisa merasakannya.
Meski kental dengan komedi satirnya, bukan berarti Lucky membuat SPM tanpa konsep dasar yang kuat. Jika dianalisis lebih dalam, Gia, Indri, dan Cik Surya tengah mencari-cari ’tempat’ yang pas buat mereka di ibukota. Ketiganya digambarkan hidup di salah satu dunia Jakarta dan sedang mencoba hidup di dunia Jakarta yang satunya lagi: kawasan elit dan kawasan remang-remang pinggiran. Semuanya ditampilkan dengan simbol-simbol sosial yang pas namun tetap mudah dipahami dan dinikmati. SPM memang tidak bermaksud untuk menawarkan solusi apa-apa. Toh memang sebenarnya permasalahan yang ada tidak butuh solusi apa-apa. Semua soal pilihan. Ending SPM pun juga tidak memberikan petunjuk pilihan apa saja yang diambil oleh karakter-karakter utama kita. Alur cerita dari masing-masing karakter dibiarkan mengalir seperti apa adanya hidup. Setelah dibuat tertawa sepanjang film, penonton akan dibuat merasakan mellow-nya Jakarta di ending, dan membuat saya merefleksikan semua yang baru saja saya tonton. Terapi yang sederhana, bukan hal yang baru, namun cukup adiktif untuk terus mengalaminya. Sama masokis-nya dengan tinggal di Jakarta: sudah tahu serba susah dan tidak enak, tapi tetap saja bikin kangen.

The Casts

Adinia Wirasti sekali lagi memerankan karakter yang sudah sangat melekat dengan dirinya selama ini. Still charming as usual, meski tipikal. Marissa Anita yang selama ini kita kenal sebagai presenter news, ternyata memiliki bakat akting yang cukup menjanjikan dan ditunjukkannya di sini. Konon, katanya karakter Naomi memang tidak jauh-jauh dari kepribadian Marissa yang asli, tetapi penampilannya di layar harus diakui memikat.
Ina Panggabean cukup baik memerankan Indri meski tak begitu istimewa juga. Sementara scene stealer yang mampu menarik perhatian sepanjang film adalah Dayu Wijanto sebagai Cik Surya dan Trisa Triandesa sebagai Faisal. Waiting forward to see them both in our screen.

Technical

Semangat indie sangat terasa dalam SPM, baik dari segi gambar dan suara. Namun bukan berarti buruk, karena kualitas gambar dan pencahayaannya termasuk sangat baik. Angle-angle cantik pun berhasil membingkai banyak sudut malam Jakarta, termasuk insert-insert adegan yang banyak menyorot kehidupan kalangan bawah ibukota. Editing yang dilakukan oleh Lucky Kuswandi pun tertata dengan rapi dan tidak membingungkan, meski harus bercerita dari tiga kacamata yang berbeda.
Sayang minus kecilnya adalah sound effect yang sering terasa kasar dan kurang menyatu dengan detail-detail suara lainnya. Meski demikian setidaknya dialog dan efek-efek suara lainnya masih nyaman untuk didengarkan.
Bonus lagu Pergi untuk Kembali yang dibawakan oleh Dira Sugandi sebagai penghantar keluar yang lirih dan pahit, tetapi sukses menjadikan SPM sepaket bittersweet yang indah untuk Jakarta di hari jadinya yang ke-487.

The Essence

Kita boleh saja berangan-angan ingin menjadi bagian dari kalangan tertentu karena terlihat serba enak. Padahal belum tentu hidup di kalangan tersebut bisa membuat kita benar-benar nyaman dan bahagia. Semuanya tergantung pilihan akhir. Toh semua pilihan membawa konsekuensi masing-masing yang mau tak mau harus dijalani juga.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang paham dan hidup sehari-hari di lingkungan dengan gaya hidup urban
  • Penggemar humor satir

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 22, 2014

The Jose Movie Review
22 Jump Street

Overview

Diangkat dari serial popular era 90-an, 21 Jump Street (21JS) sukses mengocok perut penonton yang memang cocok dan menyukai guyonan-guyonan demikian. Tapi jangan salah, banyak juga yang tidak suka dengan humor-humor mereka (baca: Tatum dan Hill). So once again, semua tergantung dari cocok-tidaknya jenis humor yang mereka tawarkan dengan selera Anda. Jujur, saya sendiri tidak begitu menikmati joke-joke konyol mereka yang lebih cenderung ke bodoh-bodohan.
Maka ketika muncul sekuelnya, 22 Jump Street (22JS), saya tidak terlalu berharap banyak bakalan cocok. Tapi karena semakin lama saya semakin menikmati humor gokil Jonah Hill di film-film lain, seperti This is Not the End dan bahkan di Wolf of Wallstreet (sekali lagi, ini masalah selera!), maka saya berpikir tidak ada salahnya mencoba sajian yang kali ini. Toh berbekal pengalaman dari seri sebelumnya, saya tidak punya ekspektasi tinggi-tinggi. Just try to enjoy the offered humors, and the whole show.
Saya pun harus mengakui, saya jauh lebih menikmati 22JS ketimbang 21JS. Memang, jenis humor bodoh-bodohan ala 21JS masih bertebaran di sana-sini, seolah sudah menjadi signatural versi layar lebar-nya. Tetapi penulis naskah juga memberikan variasi humor lain untuk menjangkau penonton yang lebih luas. So jika Anda lebih menyukai humor sinikal, sindiran, dan membutuhkan referensi tertentu, terutama budaya populer, maka 22JS jelas menjadi sajian yang lebih menarik untuk dinikmati. Lihat saja villain utamanya yang ternyata tipikal remaja ignorant manja yang sinis ala Gossip Girl. Humor cerdas? Well, ada juga sih kalau Anda mau menganggapnya demikian. In the name of entertainment, istilah apa saja untuk mendeskripsikannya, sah.
Tak hanya dari segi humor, chemistry karakter serta pengembangan antara Schmidt (Jonah Hill) dan Jenko (Channing Tatum) mendapatkan porsi yang jauh lebih banyak serta menarik. Call it bromance or partnership, it’s definitely hilarious to make an ”open relationship” term in a partnership, if you know what I mean.
Lupakan sejenak adegan-adegan aksi yang terkesan konyol dan bodoh, karena memang sengaja dibuat demikian. Semua adegannya adalah bahan bercandaan. Nikmati saja sebagai komedi, bukan film action yang mencoba tampil keren. Well, sometimes lucu juga bisa jadi keren kan? Seperti credit title-nya yang gokil abis dan sayang buat ditinggal keluar studio itu.

The Casts

Chemistry antara Channing Tatum dan Jonah Hill memang semakin kuat di sini, tetapi penampilan Channing Tatum sendiri, menurut saya, jauh mengalami perkembangan. Channing berhasil mengimbangi guyonan Jonah, sekaligus semakin luwes dalam menyelami karakter humor Jenko. Sementara penampilan Jonah Hill tak jauh beda dengan penampilan dirinya di film-film lainnya. Well, you have to admit, he’s here to be his own self, just like any other comedians, right?
Di deretan pemeran pendukung, Amber Stevens sebagai Maya jelas mencuri perhatian berkat dukungan fisik, serta juga kharismanya yang loveable. The Lucas Brothers sebagai si kembar Keith & Kenny Yang juga cukup menjadi scene stealer serta salah satu sumber kelucuan. Terakhir, tak boleh dilupakan Jillian Bell yang berhasil menjadi villain yang bikin gemes sekaligus bikin ngakak.

Technical

Tak banyak yang begitu menonjol maupun istimewa dari teknis 22JS, selain pilihan soundtrack yang sejak awal memang sudah mendukung suasana gokilnya. Bukan berarti buruk, tetapi termasuk standard sehingga tak begitu terasa menonjol. Toh, 22JS tak butuh teknis yang unik atau terlalu mumpuni untuk menghidupkan filmnya. Mungkin editing dan desain produksi yang patut mendapat kredit lebih dalam mendukung kegokilannya.

The Essence

Menjadi partner (in any terms, partnership or relationship) tidak harus selalu sama dalam segala hal. Mungkin dengan berbagi perbedaan yang ada, justru bisa spice it up even more.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang bisa menikmati 21 Jump Street
  • Penyuka humor yang membutuhkan referensi tertentu, satir, dan sindiran
  • Ganks of dudes
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 10, 2014

The Jose Movie Review
Oculus



Overview

Beberapa tahun belakangan genre horor semakin jarang muncul, terutama dari Hollywood. Paling-paling hanya ketika Halloween saja baru bermunculan. Tahun lalu saja bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memorable. Dua di antaranya berasal dari James Wan yang sukses besar dengan The Conjuring dan Insidious: Chapter 2. Namun keduanya bagi saya masih tergolong “biasa” meski harus diakui bagus dalam berbagai aspeknya. Yang sangat “mengganggu” saya hingga kini sebenarnya adalah Sinister yang rilis 2012 lalu. Formula horornya yang lebih memainkan aspek psikologis melalui fantasi, bukan hanya sekedar penampakan atau eerie score, berhasil mengusik pikiran saya untuk jangka waktu yangcukup lama. Tentu saja tidak semua penonton menyukai film horor seperti ini, tapi pendekatan serupa sebenarnya tergolong jarang digunakan. Salah satunya yang saya temukan lagi adalah Oculus.
Meski mungkin efek traumatis dari Oculus tidak sekuat ketika saya menyaksikan Sinister, tapi ia punya pesonanya sendiri. Di awal-awal ketika memperkenalkan karakter dan sosok misterius dari cermin terkutu yang menjadi objek horor di sini, Oculus memang berjalan agak membosankan. Lebih terasa seperti kisah misteri ketimbang aroma horornya. Namun perlahan-lahan cerita bergerak menjadi semakin menegangkan dan mengerikan ketika penonton (dan tentu saja karakter-karakter utamanya, Kaylie dan Tim) tak lagi bisa menebak mana yang nyata dan mana yang merupakan manipulasi dari cermin terkutuk tersebut.
Cerita semakin menarik karena mencampur-adukkan adegan flashback ketika Kaylie dan Tim masih kecil, dengan masa kini yang berjalan back and forth. Penonton bisa jadi sedikit kebingungan, namun pada akhirnya tak sampai membiaskan cerita. Selain mampu menjelaskan kejadian di masa lalu dengan efektif, pencampuran adegan ini dirangkai sedemikian rupa sehingga terasa berhubungan secara langsung antara masa lalu dan masa kini, atau bisa jadi membuat penonton menduga bahwa yang ditampilkan di layar adalah imajinasi yang diciptakan oleh si cermin. Terserah bagaimana persepsi Anda sebagai penonton, yang pasti kesemuanya semakin menambah ketegangan serta kengerian selama durasi berjalan. Selain tentu saja rasa penasaran dengan apa yang sebenarnya dan akan terjadi kemudian.
At the end, Oculus adalah tipikal horor yang membuat penontonnya terdiam karena feel bad dan disturbed for what’s happened to the characters saat credit title mulai berjalan. Bukan karena adegan penampakan (yang meski tetap ada, tetapi bukanlah sumber kengerian yang utama), bukan karena adegan slasher atau gore, tetapi akibat dari permainan fantasi yang diciptakan sepanjang film dan rasa simpati penonton kepada karakter-karakter utamanya.
So Oculus memang bisa jadi menegangkan dan mengerikan bagi penonton yang menyukai tipe horor seperti ini. Secara objektif, ia juga menawarkan pendekatan yang cukup fresh dalam bercerita maupun mengembangkan nuansa horornya. Pretty impressive.

The Casts

Dua bintang utamanya, Karen Gillan dan Brenton Thwaites memang belum begitu dikenal sebelumnya. Namun permainan serta chemistry keduanya terasa pas. Karen Gillan sebelumnya kita kenal lewat serial Doctor Who, tampil memukau. Dengan wajah yang khas dan kharisma aktingnya, bukan tidak mungkin karirnya akan terus menanjak. Sementara Brenton jelas sudah punya karir ke depan yang bagus. Selain di sini, ia juga baru saja kita lihat sebagai Prince Phillip di Maleficent, dan siap-siap di The Giver bersama Meryl Streep dan Alexander SkarsgÄrd, yang diantisipasi sejak lama.
Meski demikian, yang paling mencuri perhatian sepanjang durasi adalah aktor-aktris cilik, Annalise Basso dan Garrett Ryan sebagai Kaylie dan Tim kecil. Kalau mau ditilik dari segi cerita, mereka berdualah yang mendapatkan traumatik paling dalam secara langsung, dan hebatnya, keduanya berhasil mengekspresikannya secara maksimal. Sekedar catatan, Garrett Ryan sebelumnya pernah tampil juga di Insidious: Chapter 2 sebagai Josh cilik.

Technical

Editing yang dipegang oleh sang penulis naskah sekaligus sutradara sendiri, Mike Flanagan, memegang peranan yang paling penting dalam menjaga ketegangan dan kontinuitas cerita dengan baik. Adegan back and forth pada akhirnya tidak menjadi sesuatu yang membingungkan, justru menjadi senjata yang ampuh untuk membangun ketegangan. Ditambah sinematografi yang indah sekaligus efektif oleh Michael Fimognari dan production design dari Russell Barnes yang menambah suasana ngeri.
Tata suara terdengar pas untuk menyampaikan suasana menegangkan dan mengerikannya. Tentu saja score dari The Newton Brothers yang cukup mendukung nuansa seram, meski tak se-disturbing score Insidious: Chapter 2.

The Essence

The best way to handle something we don’t know how to handle at all, is to stay away with it. Tidak ada gunanya berusaha membalasnya, meski dengan tujuan menjaga kehormatan.

They who will enjoy this the most

  • Penonton penyuka horor yang dibangun melalui teror psikologis
  • Pecinta kisah-kisah misteri
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, June 8, 2014

The Jose Movie Review
Maleficent

Overview

Trend mengadaptasi dongeng klasik menjadi versi yang lebih gelap dengan sentuhan action-adventure masih belum habis. Apapun kemasannya, mulai yang melakukan perombakan cerita besar-besaran seperti Red Riding Hood dan Snow White and the Huntsman, retelling dengan gaya yang berbeda seperti Alice in Wonderland, sampai yang menceritakan extended version dari dongeng yang sudah ada seperti Oz: The Great and Powerful. Untuk target audience masih anak-anak, remaja, maupun dewasa seperti Hansel & Gretel. Apapun dilakukan demi mengeruk uang lebih banyak, tanpa mempedulikan apakah perlu tetap setia atau lebih baik “memperkosa” materi aslinya.
Disney sendiri bisa dikatakan cukup berhasil me-remake dongeng-dongeng klasik yang dulu dikenal dalam versi film-film animasi menjadi versi live action. Alice in Wonderland dan Oz: The Great and Powerful meski mendapatkan mix-review dari kritikus, tetapi keberhasilannya mengumpulkan dolar berlipat-lipat dari budget-nya menjadi tolak ukur bagi Disney untuk terus me-remake koleksi dongeng-dongeng klasiknya. Setelah Maleficent, konon Beauty and the Beast yang akan diangkat ke format live action, selain tentu saja sekuel dari Alice in Wonderland yang kini tengah digarap.
So bagaimana dengan Maleficent sendiri, mengingat dongeng Sleeping Beauty tidak sepopuler Snow White atau Cinderella? Bahkan ceritanya sendiri harus diakui punya banyak sekali kemiripan dengan Snow White. Maka apa yang dilakukan Disney untuk Maleficent harus saya akui adalah langkah yang brilian. Tak sekedar mengubah sudut pandang cerita dari Putri Aurora menjadi penyihir jahat Maleficent, tetapi menjadikannya versi extended yang meski secara esensi berbeda sama sekali, tetapi tidak ada bagian dari versi animasinya yang digantikan. Lebih dari itu, seolah kisah Putri Tidur yang selama ini diketahui oleh penonton hanyalah sedikit potongan dari keseluruhan. Penulis naskah Linda Woolverton memanfaatkan celah-celah yang tidak ada di versi animasinya dengan penambahan adegan-adegan untuk mengubah berbagai konsep ceritanya. Maka lewat Maleficent, penonton diajak untuk melihat dan mengetahui berbagai aspek yang tak ditunjukkan di materi aslinya. Terutama sekali, tentu saja, sosok Maleficent sendiri yang tak hanya diberi legitimasi atas perbuatan jahatnya, tetapi juga dibuat merasakan penyesalan. Efeknya terhadap penonton bisa berbeda-beda. Ada yang menyukai perubahan ini, tapi bukan tidak mungkin ada fan karakter Maleficent yang merasa terlecehkan dengan perubahan watak karakter ini. Padahal kalau mau objektif, menampilkan karakter di ranah abu-abu justru terasa lebih realistis. Secara keseluruhan pun, Maleficent tak melulu bernuansa kelam. Masih mempertahankan khas Disney yang terkadang juga manis, seru, menyentuh, dan menggelitik. Cocok dan aman untuk penonton anak-anak sekalipun.
Beberapa film belakangan, Disney seolah menyampaikan pesan bahwa cinta tak harus selalu melulu antar sepasang kekasih, seperti yang terakhir lewat Frozen. Tak terkecuali di sini, Disney sekali lagi menyampaikan pesan serupa. Dengan dukungan berbagai aspek, membuat manis-pahit cerita maupun para karakternya sangat terasa emosional.
Tak hanya drama antar karakter, Maleficent juga menawarkan fantasi khas dongeng Disney yang serba ajaib, terutama makhluk-makhluk magis seperti pixies dan pohon hidup. Lengkap dengan adegan-adegan peperangan yang memanjakan mata dan telinga. So yes, akhirnya Maleficent menjelma menjadi dongeng abadi yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menjadi lebih dalam, meaningful, dan relevan dengan kondisi sosial serta pola pikir masyarakat saat ini yang pastinya jauh lebih kompleks daripada ketika pertama kali dongengnya diceritakan.

The Casts

Angelina Jolie jelas menjadi spotlight utama sepanjang film. Aktingnya berhasil dengan sempurna menghidupkan karakter sentral yang memang juga ditulis dengan sangat baik. Manis-pahit yang dialami Maleficent menjadi begitu terasa berkat permainannya yang begitu prima.
Pun demikian, tak lantas menenggelamkan penampilan karakter-karakter pendukung begitu saja. Itulah kekuatan script Maleficent yang entah bagaimana memberikan porsi yang membuat tiap karakter memorable. Mulai dari Elle Fanning yang mempesona sebagai Putri Aurora, Sam Riley sebagai si burung gagak Diaval, Sharlto Copley sebagai King Stefan, bahkan Brenton Thwaites, peemeran Prince Phillip yang porsinya tergolong sangat sedikit. Khusus untuk Brenton, siap-siap melihat dirinya lebih sering di layar lebar. Setelah di saat yang bersamaan juga bisa menyaksikan penampilannya di Oculus dan selanjutnya di The Giver yang diantisipasi banyak pihak.
Tak ketinggalan pula penampilan trio pixy: Flittle (Lesley Manville), Knotgrass (Imelda Staunton), dan Thistletwit (Juno Temple) yang berhasil memberikan kesegaran tersendiri dengan tingkah komikalnya yang menggelitik.

Technical

Meski banyak bagian yang terasa nuansa gothic-nya, namun Maleficent tak mau tenggelam terlalu dalam dengan desain produksi ala Tim Burton seperti yang ditunjukkan di Alice in Wonderland. Masih bercirikan khas dongeng fantasi ala Disney seperti yang terlihat pada desain karakter, desain setting, serta kostum. Catatan khusus untuk tone warna yang terasa natural atau malah saturasi sedikit rendah untuk memberi kesan nyata. Berbeda dengan trend film fantasi era digital yang mana berlomba-lomba menampilkan warna-warna kontras setajam mungkin.
Apresiasi juga perlu diberikan kepada divisi sound effect yang dengan begitu detail memberikan efek-efek suara, termasuk efek surround bahkan pada adegan-adegan detail seperti sayap Maleficent atau pixies yang melesat, juga pada dialog.
Terakhir, James Newton Howard yang memang sudah berpengalaman puluhan tahun, sekali lagi menggubah score yang sangat khas Disney, pun juga sangat mendukung emosi setiap manis-pahit adegan. Love it a lot. Tak ketinggalan theme song Once Upon a Dream yang dibawakan Lana Del Rey dengan sentuhan eerie.

The Essence

When you don’t believe in true love, it might be yourself who can prove that it does exist.

They who will enjoy this the most

  • Penggemar fairy tale dan film fantasi
  • Penggemar dongeng princess
  • Penonton yang berpikiran modern tentang konsep kasih sayang
  • General audiences who seek for light yet exciting entertainment
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awrads nominee(s) for

  • Best Achievement in Costume Design
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Edge of Tomorrow

Overview

Tom Cruise dikenal sebagai aktor yang hampir selalu menjadi karakter one-man show yang digambarkan sempurna. Punya keahlian apa saja, selalu beruntung dalam segala situasi, dan selalu berhasil menjadi seorang pahlawan meski beraksi seorang diri. Karena fanbase-nya sudah cukup besar, so it’s okay to be that way. Tapi tidak sedikit penonton yang bosan dengan sosok tipikal karakter yang dimainkannya ini, bahkan ada juga yang menganggapnya menyebalkan. So pasca ’prahara’ dengan Paramount yang sampai sekarang masih berujung damai atas nama uang, Tom Cruise kembali berperan murni hanya sebagai aktor, tak lagi duduk di kursi produser seperti selama ini dilakukannya di film-film produksi Paramount yang berpihak pada egonya sebagai one-man show. Jika tahun lalu ia bermain di Oblivion produksi Universal, maka tahun ini pilihannya jatuh pada another sci-fi berjudul Edge of Tomorrow (EoT) yang merupakan produksi Warner Bros.
Diangkat dari novel Jepang berjudul All You Need is Kill dan sutradara Doug Liman yang sudah menjadi semacam jaminan mutu untuk kategori action thriller, EoT jelas menarik untuk disaksikan. Apalagi trailer dan tagline-nya yang sangat menjanjikan: Live. Die. Repeat. Sayang EoT tidak mendapatkan promo yang layak sehingga gaungnya tidak begitu terdengar di mana-mana.
EoT adalah sebuah action thriller sci-fi yang mencampurkan tema alien ala Starship Troopers dengan premise time loop ala Source Code dan Groundhog Day. I know, belum lama ini kita sudah disuguhi tema time travel untuk mengubah masa lalu lewat X-Men: Days of Future Past. Tapi trust me, it’s different. In my opinion, it’s a fresh, interesting, and cool story concept, meski kalau mau dianalsisis sebenarnya bisa dikatakan campuran dari berbagai premise yang sudah ada sebelumnya.
Menggunakan konsep mengulang kejadian berkali-kali bukanlah visualisasi yang mudah. Salah pace dan peletakan sedikit saja beresiko membuat penonton bosan dan akhirnya tak lagi tertarik mengikuti kisahnya. Tetapi apa yang dilakukan Doug dan editor James Herbert untuk EoT adalah sesuatu yang patut diacungi jempol. Jika biasanya adegan yang diulang dibuat berdasarkan sudut pandang karakter utama dimana ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya selanjutnya meski merupakan pengulangan kejadian, maka di sini dibuat campuran. Terkadang dari sudut pandang karakter utama, Cage (Tom Cruise) yang belum tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Di lain adegan visualisasi berada di sudut pandang karakter Rita (Emily Blunt) yang belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi Cage tahu. Percampuran sudut pandang inilah yang membuat alur cerita EoT menjadi lebih menarik. You’ll never really really know what will happen next or how they will be dead next. Thriller pun turut terpompa ketika mengikuti tiap chapter kisahnya, bak menonton Final Destination, dengan sentuhan sense of humor tentunya.
So, EoT jelas menjadi paket hiburan yang sangat menghibur. Bagi penonton yang sudah terbiasa dengan gaya penceritaan seperti ini, jelas akan mampu mengikuti kisahnya dengan asyik. Sementara yang belum terbiasa mungkin akan mendapati alurnya membingungkan. Well, there will always be the first time for everything. Try to understand from scene to scene and think about it using your logic. Hitung-hitung latihan daya analisis otak lah. And at some point, you will find how fun this kind of film is.

The Casts

Tom Cruise masih bisa dikatakan bermain sebagai one-man show, tetapi untunglah tidak digambarkan serba sempurna. Justru sejak awal karakternya digambarkan sebagai karakter yang pengecut atau setidaknya hanya mau main aman dan menghindari konfrontasi. Tetapi lambat laun melalui latihan-latihan yang mungkin akan Anda anggap lucu, perlahan kharisma heroiknya muncul. Cara yang lebih baik untuk mengundang simpati penonton daripada tampil serba sempurna sejak awal. Sisi komikal dari karakter Cage pun sedikit memberikan nilai plus bagi penampilan Tom Cruise yang biasanya selalu terkesan cool.
Pujian juga sepantasnya dialamatkan kepada Emily Blunt yang semakin mantap memerankan karakter kick-ass. Well, cukup impressive ketika di Looper, tetapi ia semakin memantapkannya di sini. Sirna sudah image wanita berkelas angkuh yang melekat pada dirinya sejak The Devil Wears Prada.
Selain mereka berdua, di lini pemeran pendukung tak banyak aktor-aktor yang dikenal. Hanya Bill Paxton dan Brendan Gleeson yang tetap saja kalah oleh kharisma Cruise-Blunt gara-gara porsinya yang memang tidak terlalu mendukung mereka. Justru Noah Tyler sebagai Dr. Carter yang cukup berkesan. Itu pun berkat kemiripan perannya dengan karakter Bryce yang pernah dimainkannya di duologi Tomb Raider.

Technical

Tak perlu diragukan lagi. Selain visual effect yang luar biasa, terutama terlihat pada desain alien Mimics dan kostum-kostum robotic dari pasukan manusia.
Sound effect pun terdengar dengan maksimal dengan suara ledakan, tembakan, dan gerakan alien yang begitu detail serta bombastis, termasuk efek surround yang dimanfaatkan.

The Essence

Ketika apapun yang dilakukan sudah terlanjur menjadi buruk, lebih baik mengulanginya lagi dari awal.

They who will enjoy this the most

  • Penggemar film action sci-fi, terutama yang melibatkan alien, robot, dan time loop
  • Tom Cruise’s fans
  • Audiences who love kick-ass chick
  • Auidences who seek for exciting and entertaining action movie
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates