Guardians of the Galaxy Vol. 2

Star-Lord, Gamora, Rocket, Drax, and Baby Groot were on an adventure to the planet they've never seen before.
Read more.

Critical Eleven

Ika Natassa's best-seller novel about marriage's critical moment is ready to hit the screen!
Read more.

Stip dan Pensil

Ernest Prakasa to go back to the high school and learn to teach people around.
Read more.

Kartini

Hanung Bramantyo pick Dian Sastrowardoyo to portray Kartini in her new version of biopic.
Read more.

Alien Covenant

Another expedition ship to confronted with the Alien's colony .
Opens May 10.

Thursday, May 29, 2014

The Jose Movie Review
X-Men: Days of Future Past

Overview

Franchise X-Men bisa jadi franchise superhero terbesar yang pernah ada. The Avengers, Superman, bahkan Batman sulit untuk menyaingi ke-epic-an kisahnya yang selalu ada yang bisa digali lebih dalam. Setelah berakhir di X-Men: The Last Stand (TLS) dengan kurang begitu memuaskan banyak pihak, terutama fans berat versi komiknya, Fox dan Marvel berpikir keras bagaimana melanjutkan franchise yang sayang untuk disudahi begitu saja. Toh jelas di dalamnya masih banyak karakter mutan yang menarik untuk dibuatkan film sendiri. Terbukti X-Men Origins: Wolverine dan The Wolverine punya hasil yang tidak buruk (setidaknya dari segi penghasilan box office). Lalu upaya prekuel X-Men: First Class (FC) justru mendapatkan sambutan yang luar biasa. Tentu hal ini tak terlepas dari tangan-tangan dingin yang selalu berhasil mengangkat tema-tema baru di setiap serinya. Tak terkecuali juga, dalam upaya menyambungkan antar seri yang meski kadang membingungkan dan terjadi minor continuity error, tetap saja tidak mengurangi spirit universe-nya.

So X-Men: Days of Future Past (DoFP) dihadirkan sebagai upaya untuk menyelesaikan banyak hal. Terutama sekali adalah menyambungkan TLS dan FC. For that purpose, I have to admit, this has been a very brilliant way. Dengan konsep time travel dengan kemungkinan merubah segalanya, membuat segala sesuatunya kembali dari nol, dan mengabaikan bangunan cerita dari X-Men hingga TLS. Saya melihatnya sebagai keputusan yang sangat bagus untuk banyak kepentingan: memperbaiki kesalahan yang terjadi di TLS sehingga mengecewakan banyak fans, yang artinya bisa mengembalikan banyak karakter-karakter penting yang pernah dimatikan. Ini penting untuk membangun kembali kepercayaan fanatik yang sudah terlanjur antipati terhadap salah satu seri. Kedua, tentu saja kesempatan untuk mengembangkan cerita ke arah yang sama sekali berbeda, termasuk kesempatan menghadirkan karakter-karakter serta villain-villain baru ke layar. Yes, DoFP adalah turn-over part yang menyambungkan kesemua seri sebelumnya, dan membuka peluang untuk pengembangan cerita tanpa batas, tanpa perlu mengabaikan seri-seri sebelumnya. Kesemuanya jelas justru memperkaya universe X-Men versi layar lebar tanpa perlu di-reboot.

Terlepas dari konsep cerita yang brilian tersebut, DoFP sendiri sudah sangat berhasil sebagai tontonan yang menghibur. Bagi yang mengikuti kesemua seri X-Men terpuaskan dengan segala bangunan cerita yang disusun, apalagi ending yang mungkin akan menimbulkan haru bahagia. Bagi penonton awam pun tetap akan dibuat nyaman dengan alurnya yang enak untuk diikuti. The action, the drama, the fun, and the thrill, all is in the right dosage and blended perfectly as one entertaining (if not spectacular and fascinating) package.

The Casts

Salah satu poin yang paling menarik dari franchise X-Men adalah banyaknya karakter menarik yang meski tidak semuanya mendapatkan porsi yang sama besar, namun masing-masing mampu menjadi scene stealer yang memperkaya film. Tak terkecuali juga nama-nama besar yang memerankannya dengan gemilang. Hugh Jackman sebagai Wolverine masih menjadi karakter utama yang menjadi penghubung antara masa depan dan masa lalu dan masih menampilkan kharisma yang sama seperti sebelum-sebelumnya. James McAvoy dan Michael Fassbender yang porsinya lebih besar ketimbang versi tua mereka (Patrick Stewart dan Ian McKellen) mampu memberikan emosi yang pas dalam karakter.

Jennifer Lawrence tak usah diragukan lagi pesonanya yang bahkan membuat saya lupa peran Rebecca Romijn dalam menghidupkan karakter Mystique. Kelenturan tubuh dan kemampuannya berbahasa selain Bahasa Inggris semakin menambah pesonanya di sini. Nicholas Hoult sebagai Beast dan Peter Dinklage sebagai Trask pun tampil cukup mengesankan. Tapi scene stealer terbesarnya tentu saja Evan Peters sebagai Peter alias Quicksilver.

Di lini mutan-mutan pendukung, masih ada Halle Berry (Storm), Ellen Page (Kittypride), Shawn Ashmore (Iceman), Omar Sy (Bishop), Fan Bingbing (Blink), Daniel Cudmore (Colossus), mantan anggota tim Jacob Black di franchise Twilight, Booboo Stewart (Warpath), serta mutan-mutan lainnya termasuk yang sebelumnya sudah dimatikan. It’s like a full team package that will amuse all.

Technical

Seperti biasa, DoFP dihiasi oleh visual-visual effect spektakuler, terutama di masa depan dengan kemampuan dari Blink membuka portal-portal, atau Iceman yang menjadikan pertarungan dengan melibatkan es menjadi super-seru. But above all, frozen time keren ala Quicksilver lah yang menjadi adegan favorit saya. One of the best frozen time scene ever!

Visual effect yang spektakuler juga diimbangi sound effect yang tidak kalah menggelegarnya. Pun juga memanfaatkan efek surround semaksimal mungkin, misalnya pada adegan Prof. X menggunakan cerebro. Pemilihan soundtrack-soundtrack yang menandai era 70-an juga turut mendukung DoFP menjadi sajian yang memorable, mulai The First Time Ever I Saw Your Face dari Roberta Flack sampai Time in a Bottle dari Jim Croce.

Desain produksi DoFP wajib turut pula diapresiasi, baik dalam menghadirkan desain-desain interior dan kostum era 70-an, maupun menghadirkan dunia di masa depan yang suram. Belum lagi desain Sentinel yang membelalakkan mata.
Untuk yang tertarik format 3D-nya, tak banyak yang bisa dinikmati. Beberapa adegan memang agak terasa depth-nya, tetapi sayang sekali saya tidak menemukan efek pop-out yang “mencolok”.

The Essence

Seringkali kita beranggapan seseorang tidak mungkin bisa berubah. Tapi kenyataannya, setiap orang punya harapan untuk berubah menjadi lebih baik. Mungkin yang dibutuhkannya hanya sedikit bantuan dari orang lain.

They who will enjoy this the most

  • X-Men fanatics, either the comic or the movie
  • General audiences who seek for exciting and spectacular entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for


  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Godzilla (2014)

Overview

Amerika Serikat (atau Hollywood) boleh saja punya banyak monster, raksasa, alien, atau makhluk-makhluk fiktif lainnya. Tapi tetap saja the king of them all adalah monster raksasa asal Jepang, Gojira (atau yang oleh orang Amerika disebut sebagai Godzilla). Sejak kemunculannya pertama kali tahun 1954, Godzilla sudah menggemparkan dunia. Terbukti film-film dengan karakter Godzilla terus diproduksi hingga era 2000-an. Bahkan tahun 1998 Hollywood pernah memboyongnya dengan taste Amerika Serikat lewat Godzilla dengan arahan spesialis film bencana, Roland Emmerich. Bukan karya yang buruk sebenarnya untuk sebuah film disaster hiburan. Tapi bagi orang Jepang dan fanatik Godzilla asli di seluruh dunia, Godzilla versi Emmerich adalah sebuah pelecehan dengan memposisikan sang Mother Monster sebagai pengacau. So, Hollywood mencoba sekali lagi mengangkatnya dengan konsep yang jauh lebih setia pada sumber materi aslinya.
Maka fanatik Godzilla asli boleh bersorak dengan versi Gareth Edwards tahun 2014. Menampilkan Godzilla sebagai sosok makhluk raksasa yang menjaga keseimbangan alam adalah keputusan bagus yang pertama. Selain menggembirakan fanatik aslinya, tentu bagi penonton awam, konsep ini adalah sesuatu yang baru (atau setidaknya, jarang diangkat) untuk genre giant monster. So, one differentiation has already in hand. Keputusan bagus kedua adalah menggunakan formula yang bisa diterima dan dinikmati oleh penonton awam yang biasa datang ke bioskop hanya untuk mencari hiburan: formula survival ala Jurassic Park ditambah drama keluarga yang selalu manjur untuk merengkuh emosional penonton.
Tetapi Gareth tahu betul sisi apa yang ingin ditonjolkannya: sang raksasa, Godzilla, bukan karakter-karakter manusianya. So, tak heran jika porsi pengembangan karakter-karakter manusianya diberi secukupnya saja. Bagi beberapa penonton yang lebih menyukai perkembangan karakter yang mumpuni di film mungkin akan mengeluhkan hal ini, tapi akan dianggap cukup bagi penonton umum dan fanatik Godzilla. Kalau menurut saya pribadi sih porsinya sudah cukup, tetapi yang cukup mengusik saya adalah perbedaan usia antar generasi karakter yang agak janggal (Ford yang kira-kira berusia 25 tahunan punya anak Sam yang usianya sekitar 10 tahunan?)
Sebagai film bertemakan monster raksasa, Edwards tahu betul bagaimana menyusun ketegangan adegan yang slow-burn. Tidak terburu-buru tapi cukup efektif menjaga intensitasnya sepanjang durasi. Bahkan di saat adegan dialog pun, saya masih diliputi rasa was-was dan penasaran dengan sosok Godzilla yang dinanti-nantikan. Namun begitu sosoknya terlihat penuh untuk pertama kalinya, Edwards sekali lagi berhasil membuat penonton terpana oleh sosoknya berkat permainan tata kamera, tata suara, dan editing yang pas. Yes, that’s exactly how you make a giant monster movie!
Sayangnya beberapa adegan Godzilla dan MUTO (termasuk adegan pertarungan mereka) lebih banyak diambil dari sudut pandang karakter manusia. Kemungkinan efeknya bagi penonton bisa terpecah dua: ada yang menyukainya karena menimbulkan fantasi tersendiri dalam benak, tetapi ada pula yang kecewa karena visualisasinya dianggap kepalang tanggung. Lagipula pemilihan porsi sang Godzilla yang lebih banyak seharusnya lebih berfokus pada sudut pandang Godzilla ketimbang karakter manusianya sendiri.
Yah itulah Godzilla versi 2014. Dengan segala upaya, Edwards berusaha untuk memuaskan semua kalangan. Hasilnya tentu saja ada yang menyambutnya dengan sorak sorai, namun tidak sedikit pula yang merasakan biasa saja. As for me, it’s still a good thriller about giant monster movie, especially Godzilla’s, but nothing’s really really impressive so that I can remember the sequences for a long time. Mungkin karena usaha untuk memuaskan semua pihak tersebut yang membuatnya terasa serba tanggung. But hey, at least it’s still an entertaining and thrilling two hours to enjoy. Take it as it is.

The Casts

Para cast utama rata-rata sudah memberikan performa yang maksimal meski porsi perannya yang masih terasa serba tanggung. Misalnya saja Aaron Taylor-Johnson dan Elizabeth Olson yang cukup lovable. Bryan Cranston yang meski porsinya hanya sekitar setengah durasi film juga tampil cukup berkesan. Sayang Ken Watanabe kali ini seperti kehilangan kharisma seperti yang terpancar di peran-peran sebelumnya. Bukan salah dia, tapi memang skripnya yang mengharuskan ia seolah tak begitu penting, hanya penyambung asal-muasal sang Godzilla.

Technical

Film bergenre giant monster dan destruksi jelas bertumpu pada kedahsyatan tata suara. And for that purpose, Godzilla 2014 adalah juaranya. Dengarkan saja auman sang Godzilla, gedung-gedung berguguran... semuanya terdengar bombastis dari tata suara bioskop. Belum lagi efek surround yang dimanfaatkan dengan maksimal. Untuk visual effect, juga tak perlu diragukan lagi. Tampilan Godzilla dan MUTO beserta gedung-gedung yang hancur tampak begitu fantastis, melebihi film-film bergenre sejenis sebelumnya.

The Essence

Manusia seringkali merasa punya kuasa dan kendali atas alam semesta. Padahal yang sesungguhnya terjadi justru sebaliknya. Alam semesta selalu menemukan jalan untuk menjaga keseimbangan dan eksistensinya meski sering diusik oleh manusia. Don’t play with mother nature!

They who will enjoy this the most

  • Original Japanese Godzilla’s fanatics
  • General audiences who seek for thrilling and spectacular entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 3, 2014

The Jose Movie Review
The Amazing Spider-Man 2


Overview

The Amazing Spider-Man (TAS) harus diakui memang punya konsep yang berbeda dengan Spider-Man (SM) versi Sam Raimi-Tobey Maguire. Masing-masing punya fans sendiri, dan saya memilih untuk lebih menyukai SM versi Raimi-Maguire dengan berbagai alasan. Meski punya pendekatan yang juga menarik dan belum tereksplor di versi Raimi, menurut saya TAS masih belum mampu menjadi karya yang iconic. Tapi bukan berarti tertutup kemungkinan untuk tampil lebih baik di seri-seri berikutnya. Hal tersebut yang berhasil dengan gemilang dibuktikan di The Amazing Spider-Man 2 (TAS2).

Dari segi naskah, TAS2 jelas terasa punya materi yang lebih menarik dan juga tersusun dengan rapi, termasuk momen-momen penting yang potensial menjadi adegan-adegan iconic. Dimulai dengan penokohan, jika beberapa tahun terakhir sosok villain lebih banyak di-ekspose untuk menjadi jalinan cerita yang menarik, TAS2 justru mengembalikan fokus cerita ke sosok jagoan kita, Spider-Man alias Peter Parker yang adalah seorang remaja SMA biasa dengan segala kelemahan-kelemahan manusiawinya. Jadi jangan protes jika porsi kisah si villain utama, Electro, tidak begitu banyak. Namun bukan berarti karakternya tidak jelas atau asal ada. Di awal-awal, penokohan Max (alias Electro) sudah cukup jelas dan menarik tanpa perlu dikembangkan terlalu banyak sehingga durasi bisa digunakan untuk fokus cerita lainnya.

Porsi cerita terbesar adalah hubungan antara Peter Parker-Gwen Stacy yang harus saya puja-puji sebagai salah satu naskah romantis terbaik yang pernah ada di film. Favorit saya adalah ketika Peter dan Gwen saling melemparkan pujian dengan wujud aturan larangan. Manis, cerdas, dan jauh dari kesan picisan. Hingga klimaks hubungan mereka di hampir penghujung film, hubungan kedua karakter ini terasa begitu kuat dan meyakinkan, melebihi kekuatan hubungan antara Peter-Mary Jane di versi Raimi.

Porsi terbesar kedua adalah hubungan antara Peter Parker-Harry Osborn yang masih mengingatkan saya dengan versi Raimi, meski dengan style dan aura hubungan yang berbeda. Kesemuanya masih ditulis dengan baik hingga titik balik karakter Harry yang menjadi villain lebih penting ketimbang Electro. Kedua porsi besar tersebut, ditambah konflik-konflik personal menjadikan perkembangan karakter Peter Parker hingga penghujung film terasa solid dan masuk akal.

So I have to admit, TAS2 menjelma menjadi sekuel yang jauh lebih baik daripada pendahulunya, bahkan melebihi pencapaian SM versi Raimi manapun. Durasi yang nyaris dua setengah jam menjadi tak begitu terasa berkat tata adegan yang menarik antara drama dan adegan-adegan aksi spektakuler.

Jangan lupa siapkan aplikasi Shazam di smartphone Anda dan nyalakan ketika theme song It’s on Again milik Alicia Keys dan Kendrick Lemar berkumandang di credit title untuk menikmati feature tambahan The Sinister Six.

The Casts

Saya berani mengatakan semua aktor pendukung di TAS2 tampil maksimal dengan porsi masing-masing yang pas. Andrew Garfield dan Emma Stone tampil semakin hidup dan menyatu dengan karakter masing-masing, sejalan dengan chemistry antara keduanya yang semakin kuat berkat cinlok di kehidupan asli mereka.

Jamie Foxx berhasil membawakan karakter Max/Electro yang socially outcast dengan kepribadian narsistik dengan baik, bahkan ketika setelah berubah menjadi Electro berkulit biru. Dane DeHaan pun mampu membawakan peran Harry Osborn yang berbedan dengan versi James Franco. Masih mengingatkan saya akan perannya di Chronicle, tetapi cukup mampu memberi warna baru bagi karakter Harry Osborn.

Sally Field masih memberikan performa yang sama baiknya sebagai Aunt May seperti di seri sebelumnya. Terakhir, kejutan datang dari Paul Giamatti yang jauh berbeda dengan peran-peran yang dilakoninya sebelumnya. Saya masih mengharapkan porsi peran Aleksei Sytsevich alias Rhino yang cukup banyak di seri berikutnya.

Technical

TAS2 memang masih menghadirkan visual effect yang tidak begitu realistis seperti pendahulunya, terutama untuk tampilan adegan-adegan swinging through buildings. Tetapi masih bisa ditoleransi berkat sinematografi yang berhasil merekam semua adegan aksi dengan cantik dan membawa penonton seolah ikut berayun keliling pencakar langit New York dan bertarung melawan para villain bersama Spider-Man. Tata kamera juga merekam kemegahan New York, terutama gedung Oscorp, serta adegan-adegan dramatis antara Peter-Gwen.

Tata suara menghadirkan efek-efek suara yang menggelegar dan memanfaatkan efek surround dengan maksimal. Score yang kali ini ditangani Hans Zimmer dan tim yang sengaja dibentuk demi menghidupkan adegan demi adegan TAS, The Magnificent Six, serta Pharrell Williams, memberikan warna baru. Tak hanya menghadirkan kemegahan score asli, tetapi juga perpaduan dengan berbagai genre musik, seperti hip-hop, techno yang memberikan berbagai kesan, mulai evil, dark, dan chaotic, hingga alternative yang menghidupkan suasana galau maupun manis. Sungguh merupakan eksplorasi musik pengiring yang penuh warna dan pastinya, berhasil menyatu dengan adegan-adegan film secara maksimal.

The Essence

Hal baik dan buruk akan selalu terjadi dalam hidup secara bergantian. Yang terpenting adalah terus memiliki dan memberikan harapan. Begitulah kurang lebih isi pidato dari Gwen Stacy yang menjadi highlight TAS2.

They who will enjoy this the most

  •  Fans of Spider-Man and general superhero genre
  • Audience who loves romantic moments
  • General audiences who seek for an exciting entertainment

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
The Other Woman


Overview

Nama Nick Cassavetes sudah begitu lekat dengan image drama yang menguras air mata, seperti The Notebook dan My Sister’s Keeper. Sehingga begitu namanya muncul di bangku sutradara sebuah film yang dipromosikan sebagai romantic comedy, The Other Woman (TOW), saya meragukan hasilnya. Kekhawatiran saya jangan-jangan di ending ia justru menyuguhkan tangis haru-biru. TOW sebenarnya kurang cocok disebut sebagai romantic comedy karena kadar “romantis”-nya hanya sekitar 10-20%. Yes it is talking about relationship, tetapi lebih sebagai chick flick komedi gokil sejenis The Sweetest Thing, John Tucker Must Die, atau Bride Wars. Jadi lebih tepat untuk menonton TOW bersama gank wanita ketimbang dengan pasangan. Trust me.

Sebenarnya tak ada yang baru ditawarkan oleh TOW dari segi cerita. Semuanya serba formulaic, simple, dan bahkan nyaris klise. Tapi hey, alasan utama penonton menyaksikan film sejenis TOW ini adalah untuk dihibur dengan suguhan adegan yang bisa mengundang tawa. Selama misi ini tersampaikan, sudah lebih dari cukup. Kekuatan utama TOW jelas terletak pada karakter-karakter utama yang menarik. Mulai Kate King (Leslie Mann), ibu rumah tangga yang terbiasa manja tetapi sebenarnya lugu, Carly (Cameron Diaz) tipikal wanita karir cerdas, dan Amber (Kate Upton) yang menambah daftar panjang karakter hot dumb blonde. Perpaduan ketiga karakter yang unik ini berhasil disatukan dan dilebur dalam adegan-adegan komedik yang tak hanya mengandalkan kelakuan-kelakuan menggelitik dan terkadang terasa slapstick, tetapi juga celetukan-celetukan cerdas bereferensi, terutama antara Kate dan Carly. Dan di tangan Cassavetes, semuanya menjadi kesatuan paket komedi yang menghibur dan segar. Yes, I have to admit, he did a good job here.

So sebagai film untuk seru-seruan bersama teman se-gank (for ladies), dan kalau mau nekad, boleh juga untuk ditonton bersama pasangan, TOW jelas pilihan film yang segar dan menghibur. Sedangkan buat para pria, jelas kehadiran Cameron Diaz dan Kate Upton adalah tawaran yang irresistible.

The Casts

Sebagai objek utama kelucuan, Leslie Mann jelas memegang peranan penting sepanjang film dan she did it on her own charm. Tingkah lakunya yang menggelikan, lugu, spontaneous, dan doyan nyeletuk bisa dengan mudah mencuri perhatian penonton. Begitu juga Cameron Diaz yang selalu berhasil menjadi objek becandaan di balik image-nya yang cerdas dan eksklusif. Sementara Kate Upton… oh well perannya memang sebagai the hot dumb blonde, so her extraordinary boobies and ass can easily forgive anything she lacks of.

Nikolaj Coster-Waldau yang selama ini kita kenal lewat serial Game of Thrones, ternyata cukup bagus memerankan karakter komedik di balik auranya yang serius. Taylor Kinney yang porsinya tidak begitu banyak cukup memperlihatkan kharismanya sebagai charming gentleman. Sementara rapper Nicki Minaj masih butuh pembuktian akting dengan porsi karakter yang lebih banyak, tetapi setidaknya suara cempereng-nya yang sudah jadi signature-nya tidak sampai terbawa dalam karakter.

Technical

Sebuah drama komedi, apalagi dengan embel-embel romantis, jelas butuh desain produksi yang indah dan tata kamera yang mampu merekam keindahan-keindahan yang ada. TOW bisa dibilang cukup baik menonjolkan kedua aspek tersebut. Lihat saja desain interior rumah keluarga King atau rumah pantai Phil yang langsung menjadi tipikal dream house saya. Setting resor di Bahama pun mampu di-eksplorasi dengan cukup maksimal.

Satu kelemahan yang menjadi komplain saya adalah soundtrack-soundtrack yang mengiringi sepanjang durasi film. Pilihan lagunya sih oke-oke banget, tetapi sayang beberapa (paling parah ada di menjelang klimaks film) yang diletakkan dan diedit dengan kasar bak pergantian lagu di FTV-FTV remaja Indonesia.

The Essence

Dalam sebuah relationship, ada saatnya hal-hal tertentu harus menjadi hal yang ditoleransi demi menjaga keutuhan hubungan. Tetapi ada beberapa hal sulit diubah dan unacceptable yang mau-tidak mau harus menyudahi hubungan sebelum berkembang menjadi jauh lebih buruk lagi.

They who will enjoy this the most

  • Gank of ladies who seek for a fun moment together
  • Gank of gentlemen who seek for a fresh and hot view
  • Fan of Leslie Mann’s comedic style
  • Fan of Cameron Diaz
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Jalanan


Overview

Mengangkat tema manusia-manusia ‘jalanan’, sinema Indonesia tak pernah jauh-jauh dari eksploitasi kemiskinan, kemalangan, serta sisipan-sisipan pesan moral atau kamuflase inspirasi. Manusia-manusia yang hidup di jalanan selalu digambarkan sebagai sosok malang yang hidup menderita. Entah mau sebesar apapun usahanya, hanya kemalangan yang didapatkan. Intinya, asal bisa membuat penonton merasa iba, menitikkan air mata sebagai bukti masih punya sisi manusiawi, dan meneladani apa yang ditontonnya.

Maka Jalanan justru tampil dengan angle yang berbeda. Penonton diperkenalkan sekaligus diajak memandang dunia dari sudut pandang tiga karakter utama: Titi, Ho, dan Boni. Oh iya, hidup mereka tampak penuh perjuangan dan sering mengalami hal-hal tak mengenakkan. Tapi tak sedikitpun karakter-karakter ini tampak dieksploitasi secara berlebihan. Mungkin karena kemasannya yang merupakan sebuah dokumenter, maka segalanya terlihat apa adanya. Namun dampak pada penonton in the end bukanlah rasa iba, tapi justru senyum bangga karena mereka bertiga menjalani segala bentuk nasib dengan ikhlas, tanpa muka murung, serta struggle yang tiada henti. Lihat saja betapa santainya Ho menghadapi hidup seperti tanpa beban menyandang status ‘manusia jalanan’ yang identik dengan kemiskinan. Dengan komentar-komentar cerdas dan gaya bicara bak kaum intelek, Ho seperti membiarkan hidupnya mengalir, termasuk ketika melamar seorang janda. Tidak ada satu pun, termasuk kemiskinan, yang membuatnya merasa minder atau rendah diri. Atau Titi yang menikmati berbagai peran dalam hidupnya, baik sebagai pengamen, istri dari suami yang tidak bisa diandalkan, maupun sebagai ibu yang (mencoba memberikan yang ter-) baik bagi ketiga anaknya yang hidup terpisah. Pun ia masih berusaha meraih pendidikan yang lebih tinggi demi pekerjaan serta hidup yang lebih baik meski usianya sudah lewat jauh. Atau juga Boni yang tak terbebani apa-apa walaupun hidup di bawah kolong jembatan yang terancam diusir kapan saja. Ia pun cukup tahu diri bahwa tempat ia tinggal yang bahkan dirawatnya dengan baik  itu bukanlah milik pribadi dan harus siap pindah kapan pun ada penertiban.

Sayangnya, dari ketiga karakter utama yang di-representasi-kan di sini tidak diberi porsi yang seimbang. Saya merasakan porsi yang lebih banyak dari Ho dan Titi sehingga mudah bagi penonton untuk bersimpati pada mereka berdua. Sementara Boni terasa memiliki porsi yang paling sedikit sehingga kurang mampu tampil sekuat Ho dan Titi. Tetapi sebenarnya ini bukanlah kesalahan atau kekurangan, mengingat Jalanan adalah sebuah film dokumenter yang riil dan tidak bisa diatur sedemikian rupa. Pengambilan gambar yang konon sampai memakan waktu 5 tahun dengan footage berdurasi total 2000 jam lebih sudah lebih dari cukup untuk merangkum kehidupan ketiganya dengan keunikan karakter serta problematika masing-masing. Setidaknya Daniel Ziv sudah mampu mempresentasikan ketiga karakter dengan jelas.

Meski memuat sindiran terhadap hedonisme masyarakat kota yang ignorant dan pemerintah (termasuk calon wakil rakyat) yang korup dan penuh omong kosong, namun Jalanan jauh dari kesan cerewet, preachy, maupun rebel. Justru dengan caranya sendiri, termasuk humor, sindiran-sindiran tersebut lebih efektif tersampaikan dan mengusik hati penonton yang malah mungkin adalah salah satu dari objek sindiran tersebut.
At last, ketiga karakter Jalanan mungkin hanya mempresentasikan sekian persen dari semua manusia jalanan yang ada di Indonesia. Namun ia berhasil membawa penontonnya memandang kota Jakarta dari sudut pandang yang Ho, Titi, dan Boni, sekaligus mengubah image manusia jalanan selama ini. Setidaknya masih ada harapan dari dan untuk manusia jalanan seperti mereka bertiga.

The Casts

Gampang-gampang susah mengarahkan sebuah dokumenter, apalagi mengarahkan objek yang tidak punya background akting sama sekali. Seringkali objek tampak canggung dengan kehadiran kamera di sekitarnya dan cenderung jaim atau bingung harus bersikap seperti apa. Namun entah dengan pendekatan apa, Ziv berhasil membuat ketiganya nyaman menjalani kehidupan sehari-hari dengan kamera yang selalu merekam langkah mereka. Mungkin saja Ziv melakukan adaptasi dengan waktu yang tidak sebentar kepada ketiga objek, dan itulah yang membuat Jalanan sebuah dokumenter yang nyaman dinikmati. Ketiga objek yang pada dasarnya sudah punya karakter kuat menjadi terasa lebih mengena di benak penonton. Apalagi dengan bakat menyanyi yang tidak bisa dipandang sebelah mata, terutama dari Ho dan Titi.

Technical

Tata kamera dan editing menjadi penentu kualitas sebuah dokumenter, dan Jalanan termasuk mumpuni di kedua aspek ini. Meski terkadang ketajaman gambar tampak tidak begitu konsisten, namun angle-angle cantik serta steadycam yang cukup stabil membuatnya lebih dari sekedar layak dinikmati di layar lebar. Well, ketajaman yang berbeda-beda justru memberikan kesan real, terutama pada adegan dalam ruang remang seperti di dalam bui. Editing pun berhasil menjadikan hasil akhirnya terasa efektif, padat, dan tanpa mengabaikan momen-momen emosional-nya.

Tata suara juga termasuk bagus dan stabil untuk kategori dokumenter. Voice over dan dialog terdengar sama jelasnya, seimbang dengan scoring serta lagu-lagu yang dibawakan secara live.

The Essence

Kemiskinan dan hidup sebagai marjinal bukan alasan untuk tidak mensyukuri segala yang dimiliki dan menjalani hidup dengan normal. It’s all in our mindset. Just enjoy the process while keep struggling with it.

They who will enjoy this the most

  • Open-minded audiences
  • They who are concerned in social issues
  • They who loves music
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Lihat situs resmi film ini.
Bantu Ho, Titi, dan Boni membangun rumah mereka di sini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Transcendence

Overview
Nama Johnny Depp sudah sangat identik dengan peran-peran nyentrik, terutama Captain Jack Sparrow di Pirates of the Caribbean. Begitu kuat melekat pada dirinya hingga sulit untuk tidak melihat sosok Jack Sparrow di setiap peran yang dilakoninya. Kali ini dengan naskah sci-fi, Depp kembali mencoba untuk keluar dari bayang-bayang peran tersebut.

Naskah Transcendence sedianya akan dikerjakan oleh the one and only Christopher Nolan. Namun rupanya ia lebih memilih untuk menyelesaikan project Interstellar, sehingga bangku sutradara pun diberikan kepada DoP langganannya sejak Memento hingga The Dark Knight Rises, Wally Pfister. Nolan sendiri masih duduk di salah satu bangku executive producer.

Di atas kertas, Transcendence jelas punya premise yang sangat menarik. Apalagi kecenderungan ketergantungan manusia pada teknologi (internet) sudah semakin kritis. Trailer yang menjanjikan sci-fi thriller gelap dengan special effect memukau jelas menjadi daya tarik yang tak terelakkan. Tapi rupanya trailer dan premise yang ditulis di mana-mana termasuk misleading dengan hasil akhir film utamanya. Oh yes, it’s still a dark sci-fi. Tetapi nuansa thriller yang dibangunnya tidak seperti yang dijanji-janjikan di trailer. Awalnya ia memang membangun kisah dengan tensi yang cukup menjanjikan. Namun ketika penonton mengharapkan klimaks yang semakin epic, Transcendence beralih menjadi drama gelap yang sejatinya adalah kisah romance dengan balutan sci-fi. Tak ada pula destruktif masif skala besar di dalamnya, dan karakter Will Caster yang diperankan Johnny Depp tidak berubah menjadi evil villain tanpa wujud yang mengerikan. Ketegangan dan kengerian dibangun dengan suasana sunyi dan tenang, seperti halnya yang pernah ditunjukkan Solaris dari Steven Soderbergh. Jelas gaya seperti ini hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil penonton. Bukan berarti susah dipahami, hanya memang sulit untuk dinikmati.

Jika dicermati lebih dalam, sebenarnya dari naskah saja sudah kebingungan hendak membawa cerita ke arah mana: thriller sci-fi yang menyindir ketergantungan manusia terhadap teknologi yang berbuah kengerian berkat ambisi Will, atau romance antara Will Caster dan istrinya, Evelyn, atau juga perjuangan kaum anti teknologi yang mencoba menghentikan ambisi Will Caster? Ketiganya menjadi saling tumpang tindih dan berebutan porsi sehingga hasil akhirnya menjadi serba mentah. Kalau mau dibanding-bandingkan, pada akhirnya porsi romance Will-Evelyn lah yang menjadi paling kuat sebagai konklusi. Manis dan romantis, tapi tetap saja kurang bisa menjadi berkesan untuk jangka waktu yang lama bagi banyak penonton karena kemasannya yang gelap, serta berbagai kepentingan yang ingin disisipkan.

Transcendence memang bukan termasuk karya yang buruk-buruk sekali, namun promosi yang misleading telah meracuni ekspektasi penonton dan gagal untuk tampil berkesan. Bahkan ia masih terlalu lemah untuk bisa jadi karya cult beberapa tahun ke depan. Not a bad debut for Wally Pfister, but still not an impressing one either.

The Casts

Johnny Depp sebagai magnet utama penonton memang tampil memukau, as usual. Terutama sekali ketika berwujud digital, dimana ia bisa terasa mengintimidasi dan mengerikan meski tanpa harus menunjukkan ekspresi fierce. Tapi di saat yang sama, ia juga menunjukkan kelembutan kasih sayang kepada istrinya, Evelyn. Sehingga penonton tidak sampai membenci, malah memiliki sedikit empati kepada karakter Will. Rebecca Hall juga berhasil mengimbangi akting Johnny, meski ada sedikit kelepasan tampil biasa, padahal seharusnya tampak depresi dengan apa yang dialami suaminya.

Di lini pemeran pendukung, Paul Bettany terasa menonjol, melebihi karakter-karakter yang pernah dilakoninya sebelum ini. Tapi sayangnya, naskah benar-benar menyia-nyiakan kehadiran Morgan Freeman, Cillian Murphy, Kate Mara, dan Cole Hauser. Karakter mereka seperti tidak menjadi masalah jika tidak diperankan oleh mereka. Sayang sekali.

Technical

Ternyata tak banyak visual effect yang diumbar seperti harapan penonton, tetapi bukan berarti tidak mengesankan juga. Karena faktor kedekatan dengan realita, cukup banyak visual effect yang membelalakkan mata, seperti reparasi organ manusia, dan partikel-partikel unsur alam yang terlepas. Tidak istimewa, tetapi terlihat indah berkat sinematografi yang juga piawai merekam gambar.

Sementara di lini sound effect, fasilitas surround cukup dimanfaatkan dengan baik. Score dari Mychael Danna yang menggabungkan suara-suara musik tradisional (sekilas seperti kulintang) berhasil membangun ketegangan di balik kesunyiannya, meski sedikit mengingatkan akan score Life of Pi  yang juga hasil garapannya.

The Essence

Ide membuat dunia lebih baik memang terdengar mulia, tetapi perwujudannya bisa jadi mengerikan. Apalagi in worse scenario, jika manusia sampai kehilangan sisi manusiawi-nya dan tergantikan oleh teknologi. So beware on realizing that goal.

They who will enjoy this the most

  • Audience who can enjoy dark drama
  • Techno freak
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates