The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Opens August 16.

Thursday, April 10, 2014

The Jose Movie Review
Sepatu Dahlan

Overview

Lagi-lagi film diangkat dari novel yang sama-sama menjual motivasi dan inspirasi. Well, dalam kamus saya, yang berhak memberi label “motivasi” dan “inspirasi” adalah pihak yang merasakan manfaat dari sesuatu dan bisa mengubah hidupnya, bukan pihak yang (merasa) memberikan motivasi dan inspirasi. Pede dan sok sekali orang yang mengatakan dirinya mau dan/atau bisa menginspirasi dan memotivasi orang lain. Well, keadaan masyarakat kita yang udah kelewat mengenaskan membuat apapun yang berlabel “motivas” dan “inspirasi” selalu laris. Iya, semenyedihkan itulah masyarakat kita. Tapi apa yang terjadi kemudian? Hanya euforia perasaan sesaat saat menonton atau membaca saja, setelah itu tidak ada perubahan apa-apa. Motivasi dan inspirasi pun tinggal sekedar delusional. Apa yang salah? Let’s say, cara menyampaikan atau kemasannya, mungkin.
Beralih ke Benni Setiawan, salah satu sutradara film Indonesia yang lagi high demand. Berbekal prestasi gemilang di FFI untuk 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta (3H2D1C), Benni dipercaya untuk menggarap skenario sekaligus menyutradarai film-film adaptasi novel seperti Madre, Edensor, dan Bangun Lagi Dong Lupus. Well, jujur hasilnya jauh dari harapan dan sangat menurun drastis dari 3H2D1C. Novella Madre yang punya filosofis mendalam jatuh menjadi just another sweet romantic movie, Lupus yang selama ini punya image keren dan gaul jadi film remaja preachy dan penuh pesan moral, dan Edensor yang motivasional menjadi film cinta-cintaan tanpa arah cerita yang jelas. Entah kesemuanya memang permintaan produser atau memang asli keluar dari Benni sendiri. Yang pasti karya-karya terakhirnya ini membuat para penggemar menjadi khawatir kalau-kalau novel favoritnya diangkat ke film dengan melibatkan Benni.
Puas dengan hasil Edensor (yang padahal secara penghasilan jauh di bawah Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi), Mizan Productions mempercayai Benni untuk menggarap novel biografi dari salah satu tokoh paling berpengaruh (atau setidaknya paling banyak dibicarakan saat ini) di Indonesia, Dahlan Iskan.
Seperti yang bisa diduga sebelumnya, Benni kembali menggunakan formula lamanya untuk Sepatu Dahlan (SD). Tanpa ada konsep dasar yang jelas, matang, dan fokus, cerita SD dibiarkan bergulir apa adanya dengan berbagai konflik-konflik klise yang mungkin sudah bosan kita saksikan di ratusan film, sinetron, maupun FTV yang mengangkat (baca: mengeksploitasi)  kemiskinan. Semua konflik yang ada pun diselesaikan dengan kalimat ajaib, “ya sudah...” atau “yo wis, yang penting...”. Coba hitung ada berapa kali kalimat senada terlontar sepanjang film. Karakter utama pun dibuat bak malaikat yang selalu melakukan hal benar. Kalaupun salah, itu pasti karena ketidakadilan dan pun begitu ia diam saja menerima nasib. Jauh dari manusiawi yang menjadi sangat menjengkelkan karena diulang berkali-kali hanya dengan peristiwa yang berbeda. Berniat ingin menguras emosi penonton? Well, better use another way because our audiences have already had it thousands times. Alur cerita yang dirangkai menjadi seperti sekedar bridging antar nasehat.
Sebenarnya bukan berarti tidak ada potensi untuk mengembangkan cerita maupun adegan menjadi lebih menarik. Saya melihat banyak sekali potensi, tapi Benni rupanya lebih memilih untuk melewatkannya begitu saja dan setia pada pola cerita yang lurus-lurus saja. Misalnya saja adegan pertandingan voli yang seharusnya bisa menjadi lebih seru seperti lomba cerdas cermat di Laskar Pelangi. Tapi yang ada di layar, ya sudah lah...
Untuk menyegarkan suasana, dipasanglah karakter komikal seperti Kadir yang punya tawa khas dan karakter juragan yang diperankan oleh Kirun. Bagi sebagian penonton ia berhasil memberikan sedikit penyegaran, namun tak sedikit yang justru menganggapnya (even more) annoying.
In the end, SD jatuh hanya menjadi just another preachy (so-called) motivational movie yang datar, dragging, tanpa konsep cerita yang jelas alias mentah, klise, dan easily forgettable. Sesungguhnya, ini sayang sekali karena niat baiknya menjadi sia-sia. Kalaupun ada yang merasa “tercerahkan” ketika menonton, mari kita lihat beberapa bulan ke depan jika film ini masih punya pengaruh terhadap hidupnya. Kalau iya, syukur deh setidaknya film ini masih punya pengaruh bagi segelentir orang.

The Casts

Kementahan skrip untungnya cukup diselamatkan oleh aktor-aktor yang tampil maksimal (sesuai skrip). Aji Santosa yang sudah cukup punya banyak pengalaman berakting berhasil menghidupkan karakter Dahlan kecil dengan baik, terlepas dari karakternya yang dibuat pasrah. Beberapa adegan yang dilakoninya cukup menyentuh meski klise. Donny Damara seperti biasa tampil dengan kharisma paling kuat, meski tentu bukan penampilan terbaiknya (lagi-lagi karena tuntutan skrip yang menjadikan karakternya terasa biasa saja). Begitu juga Teuku Rifnu Wikana sebagai Kyai yang tetap memperlihatkan kharisma seperti film-film sebelumnya.
Pujian juga sepatutnya ditujukan kepada cast-cast asli Madiun yang di luar dugaan luwes membawakan peran masing-masing. Terutama Sarono Gayuh, pemeran Kadir yang sok tahu tapi polos, selain tentu saja gaya tertawanya yang khas.
Kinaryosih sudah berusaha menghidupkan karakter ibu Dahlan yang lemah lembut, namun somehow suaranya yang berusaha dipelankan masih terdengar dibuat-buat. Sementara Ray Sahetapy terasa mubazir dengan porsi yang teramat kecil dan sama sekali tidak mencolok. Justru Kirun yang tampil lebih menarik. Lebih serius ketimbang biasanya, meski terkadang masih mengundang sedikit tawa.

Technical

Alam pedesaan ditangkap dengan cukup apik oleh Rendra Yusworo meski tidak ada yang begitu istimewa atau memberikan emosi lebih kepada cerita. Tata artistik pun memberikan nafas kemiskinan seperti film-film sejenis. Konon Pak Dahlan Iskan sendiri menyebutkan bahwa kondisi aslinya masih “lebih miskin” dari yang ada di layar. Jelas kebutuhan artistik tetap harus diperhatikan, namun jika jatuhnya memberikan feel yang biasa saja ya percuma juga.
Tata suara sang pakar, Khikmawan Santosa, seperti biasa memberikan detail-detail suara yang cukup terdengar. Namun di beberapa bagian audio terdengar kurang memanfaatkan efek surround untuk lebih menghidupkan suasana. Terakhir, theme song Sepatuku yang dibawakan oleh Repvblik masih kurang memorable untuk menancap lama di kepala. Bahkan bukan tidak mungkin banyak yang tidak menyadari di bagian mana theme song tersebut berkumandang.

The Essence

Kemiskinan bukan alasan untuk menghalalkan segala cara dan tidak memiliki martabat dan harga diri. Kata Bapak Dahlan Iskan, “Kaya bermanfaat, miskin bermanfaat”. Itulah yang seharusnya ditanamkan oleh semua orang tua kepada anak-anaknya.

They who will enjoy this the most

  • Orang tua yang membawa anak-anak berusia 7 tahun ke bawah. Namun si anak entah akan ketiduran, berlarian kesana-kemari, atau ribut sendiri
  • Motivation and inspiration freak
  • Penonton Indonesia yang masih belum sembuh dari sindrom “film Indonesia = film horor cabul”
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, April 7, 2014

The Jose Movie Review
Captain America: The Winter Soldier

Overview

Semenjak diakuisisi oleh Disney, Marvel Studios berkembang menjadi studio film yang semakin tak terbendung. Setiap film yang dirilis selalu berhasil mencetak penghasilan yang fantastis, terutama franchise The Avengers dan film-film solo superhero anggotanya. Jika phase 1 sudah ditutup dengan gemilang, phase 2 masih belum menunjukkan sesuatu yang menarik bagi saya. Iron Man 3 dan Thor: The Dark World menunjukkan penurunan kualitas cerita yang pernah diusung di phase 1. Meski banyak yang mengatakan bahwa keduanya masih merupakan bagian kecil dari pondasi konsep cerita besar yang berujung di The Avengers: Age of Ultron tahun 2015 nanti. Well, bagi saya yang dasarnya sudah kurang menyukai The Avengers pertama, terserah mereka mau bilang apa. Di mata saya, universe The Avengers was just another mediocre superhero story.

Untuk Captain America sendiri, saya cukup menyukai film pertamanya yang menurut saya punya keunikan ciri tersendiri serta kekuatan premise yang digarap dengan baik dibandingkan Thor. Namun harus diakui masih perlu usaha lebih keras lagi untuk menjadikannya superhero iconic setara Iron Man. Maka saya menyambut kehadiran Captain America: The Winter Soldier (CAWS) dengan ekspektasi biasa saja.

Jauh melebihi ekspektasi saya, CAWS ternyata menjadi bagian terkuat dan paling menarik sejauh ini, tak hanya di antara phase 2 lainnya, tetapi juga dari universe The Avengers secara keseluruhan. Entah apa yang merasuki penulis naskah dan para petinggi Marvel/Disney hingga menghasilkan skrip yang jauh dari sekedar just another mediocre superhero story. Selain mengusung isu berbobot yang sedang update di masyarakat Amerika Serikat, ia juga memiliki elemen investigasi yang menarik untuk diikuti dan twist yang tak kalah mengejutkannya. Tak berlebihan jika saya menobatkannya sebagai salah satu penulisan skenario film superhero terbaik pasca trilogi The Dark Knight.

Di sini pula konsep cerita besar dari The Avengers phase 2 mulai terlihat menarik. Ada cukup banyak hal yang sebelumnya hanya tampil sepotong-sepotong di Iron Man 3 dan Thor: The Dark World, dijelaskan dengan masuk akal di bagian ini. Belum lagi clue-clue lain yang membuat siapa saja yang mengikuti kisah The Avengers tak sabar untuk menyaksikan The Avengers: Age of Ultron maupun spin-off-nya Guardians of the Galaxy.

Tak hanya dari segi cerita yang digarap jauh lebih baik, adegan-adegan aksi yang ditunjukkan di CAWS turut mengalami upgrade sehingga (lagi-lagi) tak terkesan just another mediocre superhero movie. Konon menurut sang sutradara, Anthony dan Joe Russo, porsi pertarungan tangan kosong yang terasa lebih keras, rapid, dan dinamis ini banyak terpengaruh oleh The Raid. Well, masuk akal sih. Saya bisa merasakan energi dan style yang serupa. It’s okay selama mampu menaikkan level CAWS dari segi adegan-adegan aksi, and it really really worked.

The Casts

Sekali lagi Chris Evans mampu membawakan karakter Captain America yang dibuat semakin matang dan berkembang dengan gemilang. Layaknya Hugh Jackman yang sudah terlanjur melebur dengan karakter Wolverine, atau Robert Downey, Jr dengan Tony Stark, maka Chris Evans di sini sudah sampai pada tahap tersebut. A very good job. Begitu juga Scarlett Johansson yang semakin mempesona di layar setelah penampilan setengah-setengahnya di The Avengers pertama. Sementara Samuel L. Jackson masih melanjutkan peran tetapnya sebagai Nick Fury.

Sebaliknya, Sebastian Stan yang memerankan karakter villain utama Bucky Barnes alias the Winter Soldier belum mampu tampil mengesankan gara-gara porsi dan perkembangan karakter yang memang teramat terbatas. Atau memang sengaja untuk memberikan kesan misterius? Entahlah, yang pasti karakternya sebagai villain masih kalah jauh mengesankan dibanding villain-villain para avenger lainnya.

Yang tampil paling prima justru Robert Redford yang sebenarnya tak perlu diragukan lagi kualitas aktingnya. Salah satu karakter dan aktor terbaik yang ada di CAWS.

Sisanya adalah karakter-karakter pendukung yang tampil cukup mengesankan di sini meski porsinya tak banyak dan kemungkinan besar punya andil yang cukup besar di seri-seri berikutnya, seperti Sam Wilson alias Falcon (Anthony Mackie), Maria Hill (Cobie Smulders), Kate alias Agent 13 (Emily van Camp), dan Jack Rollins (Callan Mulvey).

Technical

Sebagai film high profile yang punya budget besar, tentu saja CAWS mampu menghadirkan adegan-adegan laga yang dahsyat dan realistis. Mulai car chase, kantor SHIELD, hingga helicarrier project Insight. Tak banyak visual effect maupun CGI digunakan sehingga menghasilkan adegan-adegan menakjubkan yang believable. Ini adalah salah satu kekuatan yang dimiliki CAWS.

Sebagai gantinya, sinematografi dan editing yang dinamis lah yang mampu mempresentasikan adegan-adegan pertarungan tangan kosong dengan maksimal. Ditambah tata suara yang renyah dan dahsyat di setiap kanal surround-nya. Desain produksi yang merupakan perpaduan antara gaya vintage dan futuristik tampil menawan di layar.

Terakhir tentu saja score dari Henry Jackman yang tak sekedar memberikan efek berkelas khas superhero lainnya, tetapi juga memasukkan elemen-elemen suara disturbing techno yang sedikit memberikan kesan kelam.

The Essence

Pasca 9/11 Amerika Serikat berubah dari negara yang dulunya mengusung kebebasan menjadi negara paranoid yang mencurigai berbagai hal. Mengutip salah satu dialog Steve Rogers di sini: “This isn’t freedom. This is fear”. Berbagai cara dilakukan atas nama menyelamatkan banyak pihak. Salah satunya adalah ide dari Minority Report, yaitu membasmi kejahatan sebelum kejahatan itu sendiri terjadi, dengan analisis latar belakang tiap individu. Dengan demikian bukan tidak mungkin jika tak ada satupun manusia yang tersisa di bumi ini, mengingat tiap manusia pasti punya sisi gelap dalam hidupnya, sekecil apapun itu. So mana yang lebih penting, kebebasan atau ketakutan akan ancaman? Dunia memang menjadi semakin tidak aman, tetapi bukan berarti kebebasan yang harus dikorbankan juga kan?

They who will enjoy this the most

  • The Avengers fans
  • Superhero genre fans
  • Hard and rapid action lovers
  • Audience who likes interesting current issue to put in the plot
Lihat data film ini di IMDb.

The 67th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, April 2, 2014

The Jose Movie Review
The Raid 2: Berandal



Overview

Perfilman Indonesia patut berterima kasih atas jasa Gareth Evans yang berhasil menempatkan diri di peta perfilman dunia dengan gemilang. Meski sebelumnya cukup banyak film Indonesia yang dilirik berbagai penghargaan bergengsi internasional, baru The Raid yang berhasil secara komersil. Saya sekaligus kagum atas strategi jitunya dengan menggarap film yang skalanya jauh lebih kecil namun punya kualitas dan gaya yang unik untuk mengumpulkan budget mendanai film yang skalanya jauh lebih besar yang sudah diimpi-impikan dan dipersiapkan sejak lama.

Menyaksikan TR2B mengingatkan saya akan film-film mafia atau gangster bawah tanah yang sepertinya setiap negara penghasil film sudah punya sendiri-sendiri. Sebut saja The Godfather dari Amerika Serikat dan Infernal Affairs dari Hong Kong. Akhirnya Indonesia punya film gangster sendiri dengan berbagai ciri khas lokalnya, namun dengan citarasa berkelas internasional. Maka jadilah The Raid 2 : Berandal (TR2B) yang sejatinya bisa berdiri sendiri, hanya sedikit penyambung di menit-menit awal kemudian langsung “dibersihkan” untuk babak baru yang lebih akbar, baik secara skala cerita maupun adegan-adegan aksinya. Fokus cerita dari sudut pandang Rama pun berubah menjadi pada Uco, anak bos gangster yang melakukan pemberontakan hingga mempengaruhi semua gang tanah air. Kisah Rama pun hanya diletakkan di awal dan akhir film sebagai pamungkas, seolah Rama menjadi one man stand yang membereskan segalanya.

Ada banyak karakter baru yang muncul di sini, namun sama sekali tidak menimbulkan kebingungan bagi penonton (setidaknya saya sendiri) berkat alur cerita yang bak chapter-chapter novel. Setiap karakter pendukung muncul satu per satu sesuai dengan kebutuhan alur cerita. Meski hanya tampil dalam chapter, namun masing-masing mampu tampil mengesankan di benak penonton. Coba tanyakan kepada penonton yang sudah menyaksikan, siapa yang tidak mengingat karakter Prakoso, The Baseball Bat Man, dan Hammer Girl?). Menurut saya, ini merupakan strategi jitu dalam menyusun alur cerita yang rapi, melibatkan banyak karakter dan banyak kejadian. Namun tetap menjadikannya menarik untuk diikuti meski akhirnya durasi harus membengkak menjadi sekitar dua setengah jam. Selain tentu saja faktor cukup banyaknya adegan aksi yang juga sangat mengesankan, seperti adegan pengeroyokan di toilet penjara, kerusuhan di lumpur, pertarungan 1 on 1 berdarah di dapur, Rama vs The Baseball Bat Man dan Hammer Girl, serta tentu saja kejar-kejaran mobil yang epic.

Memang ada banyak sekali style adegan yang mengingatkan akan film-film besar yang pernah ada sebelumnya, seperti film-film action Hong Kong, Taiwan, maupun Korea Selatan, sampai film-film Quentin Tarantino. Tapi Evans masih tidak meninggalkan gaya adegan yang begitu melekat dari The Raid pertama. Kesemuanya menurut saya mampu melebur menjadi satu kesatuan yang solid, baik dari segi alur cerita mapupun adegan-adegan laganya.

So yes, I have to admit, terlepas dari pihak yang menyukainya maupun yang menganggapnya penurunan dibandingkan The Raid pertama, TR2B lebih dari sekedar cukup memuaskan sebagai sebuah sajian film action lokal yang bercita rasa internasional.

The Casts

Seiring dengan kebutuhan cerita yang mengharuskan Rama karakter yang sedikit lebih berkembang meski porsinya tak sebanyak dulu, maka Iko Uwais pun dituntut punya kemampuan akting yang lebih. Untungnya Iko mampu memenuhi tuntutan tersebut dengan baik, menjadikan karakternya lebih hidup secara emosional.

Di barisan pemain-pemain baru hampir semuanya mampu mengisi tiap karakter dengan sangat baik. Arifin Putra sekali lagi memerankan karakter bengis setelah sebelumnya tampil gemilang di Rumah Dara (RD). Terasa masih tidak sebengis di RD namun secara keseluruhan masih mampu cukup meyakinkan sebagai anak kepala gangster yang sejatinya manja namun pemberontak. Alex Abbad sebagai kepala gang baru justru tampil maksimal, apalagi dengan kostum dan gesture bak Adolf Hitler. Tio Pakusadewo, seperti biasa tak perlu diragukan lagi kharismanya dalam peran apapun, seperti halnya Oka Antara. Penampilan paling menarik tentu saja Yayan Ruhian yang sudah menjadi langganan Gareth sejak Merantau, tampil lagi sebagai Prakoso. Dengan karakter yang ditampilkan lebih emosional dan lebih dalam ketimbang Mad Dog di The Raid, Yayan ternyata mampu menampilkan performa akting yang tak kalah apiknya dengan kemampuannya bersilat.

Julie Estelle dan pendatang baru Very Tri Yulisman serta Cecep Arif Rahman harus berterima kasih kepada karakter-karakter menarik yang mereka perankan sehingga menjadi memorable dalam ingatan penonton, selain tentu saja performa gemilang mereka yang mampu menghidupkan kedua karakter ini. Sementara kehadiran Cok Simbara kembali mengingatkan kita akan film-film Indonesia lawas yang pernah diperankannya.

Technical

TR2B masih mempertahankan elemen-elemen khas Gareth Evans yang pernah ditunjukkannya di The Raid. Mulai sinematografi, pace koreografi, hingga editing yang membuatnya terasa mengasyikkan untuk dinikmati. Desain produksi yang stylish mampu membangun alternate universe Jakarta yang meski kelam namun indah, termasuk adegan salju yang terlihat sangat artistik, kontras dengan merahnya darah.

Kehadiran score yang mampu melebur dengan adegan-adegan meski tak semuanya menggunakan materi asli. But hey, siapa yang bisa melupakan scoring ketika momen penting Prakoso?

Satu kekurangan yang sebenarnya bisa diabaikan adalah cukup banyak pengucapan dialog yang tidak begitu jelas. Sayang sekali mengingat mixing sound-nya dilakukan di Skywalker Studio milik George Lucas. Untung saja sound effect sepanjang film mampu memberi tambahan value dalam menghidupkan adegan-adegan kerasnya.

The Essence

Jelas sekali TR2B lebih mengangkat lebih dalam dunia kriminal di tanah air. Kehadiran gangster-gangster yang terdiri dari berbagai etnis, mulai pribumi, Arab, hingga Jepang, mencerminkan hal tersebut. Jika para pemimpin gangster sekalipun biasanya lebih mengedepankan diplomatis dan sikap yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan, Uco yang mewakili generasi sekarang justru tampil meledak-ledak dan sok jagoan. Intinya, jika generasi sang ayah, Bangun lebih mementingkan untuk dihormati, Uco hanya ingin ditakuti. 2 hal yang bertolak belakang ini menggambarkan tipikal orang Indonesia secara umum saat ini.

In the end, sikap ingin ditakuti hanya menghasilkan kekuasaan sesaat namun selalu berakhir dengan tragedi. Pun juga menjadi mudah dimanfaatkan oleh pihak lain yang licik. Sementara kehormatan justru bertahan lebih lama dan menghasilkan persahabatan dari banyak pihak.

They who will enjoy this the most

  • The original The Raid fans
  • Hard gory and bloody action lovers
  • Crime-gangster sub-genre lovers
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates