Sunday, November 9, 2014

The Jose Movie Review
Interstellar

Overview

In Nolan we trust. Bukan tanpa sebab istilah itu muncul. Karirnya di Hollywood selalu ditandai dengan karya-karya yang unik secara storytelling maupun subject-subject yang diangkat. Mulai short term memory loss (Memento), mind-trick di balik pertunjukan sulap (The Prestige), sampai manipulasi mimpi bertingkat (Inception). Bahkan Nolan juga yang membawa Batman ke level yang sama sekali berbeda dengan superhero lainnya. Jenius? Bisa jadi. Tapi yang pasti karya-karyanya jelas punya ciri  plot yang rumit tapi tetap terjalin dengan rapih, dengan referensi dan detail yang luar biasa, serta twist yang selalu ditunggu-tunggu para fansnya. Tidak heran jika ending film-filmnya kerap menjadi bahan pembicaraan tanpa akhir karena menimbulkan multi interpretasi. Tak terkecuali karya termutakhirnya, Interstellar.
Kali ini Nolan bermain-main dengan genre sci-fi yang melibatkan luar angkasa. Seperti biasa, ada banyak teori-teori yang dilibatkan untuk membangun plotnya dengan sangat detail dan blended so well. Mulai (terutama sekali) teori relativitas, gravitasi, blackhole, sampai dimensi kelima. Tidak ketinggalan plot pendukung seperti mengapa dipilih jagung sebagai bahan pangan terakhir yang bertahan di bumi. Tapi tidak perlu khawatir, karena Nolan menyampaikan teori-teori yang dilibatkan ini dengan sangat sederhana dan mudah dicerna melalui dialog. Setidaknya bagi penonton yang pernah mengenyam pendidikan Fisika tingkat SMA. Dengan catatan, tentu saja jika Anda tidak doyan bolos atau tidur saat pelajaran Fisika ya. Tidak semuanya adalah fakta, lebih banyak yang masih berupa spekulasi. Selama masih logis, sebenarnya tidak menjadi masalah. Toh begitulah sci-fi seharusnya, bukan?
Secara struktur cerita, sebeanrnya tidak jauh berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Terbaca dengan sangat mudah, tapi tetap membuat saya penasaran ke mana Nolan akan membawa arah cerita selanjutnya. Meski in the end, saya hanya akan berujar dalam benak, “oh”, tidak akan sampai membuat saya katarsis atau orgasme.
Kali ini yang membedakan adalah dimasukkannya unsur humanity dan fatherhood sebagai tema utama yang mendasari keseluruhan cerita. Inilah yang membuat karya Nolan kali ini terasa melibatkan lebih banyak “hati” dan menyentuh, dibandingkan sebelum-sebelumnya yang lebih mengajak penontonnya memutar otak untuk mencerna. Meski tidak disajikan dengan dramatisir yang mampu menguras air mata saya, tapi setidaknya masih mampu membuat saya tersentuh dan berintrospeksi.
Namun bukan berarti saya lantas bisa puas dan menobatkan Interstellar sebagai masterpiece cinema. Ada satu aspek yang dimaksudkan menjadi titik balik cerita, namun gagal membuat saya terkesan. Di antara jajaran paparan-paparan ilmiah yang logis, satu aspek ini langsung terasa terperosok ke dalam ranah fantasi. Memang sih masih nyambung dengan keseluruahan plot sejak awal, sehingga terkesan sudah dipersiapkan sejak awal. Tapi di mata saya jatuhnya justru menjadi multiinterpretasi yang serba tidak memuaskan.


Above all, aspek yang membuat saya menjadikan Interstellar bukan sebagai karya terbaik Nolan ini mungkin karena saya tidak percaya hal tersebut adalah hal yang logis. Tapi jika Anda tidak terlalu mementingkan mana aspek yang logis, mana yang fantasi, mungkin Interstellar bisa dengan mudah menjadi pilihan teratas film terbaik tahun ini. Kepiawaian Nolan dalam menuturkan cerita dengan menarik dan penuh detail meski dalam durasi yang termasuk super panjang (169 menit), masih tetap tak terbantahkan. Bagaimana pun Interstellar adalah salah satu cinematic event terbesar tahun ini yang haram untuk dilewatkan begitu saja.

The Casts

Matthew McConaughey memberikan performance yang luar biasa, melebihi perannya di Dallas Buyers Club. Meski masih membawakan tipikal southern American guy, Matthew memberikan emosi yang maksimal namun tidak berlebihan ke dalam peran Cooper. Saya sulit untuk melupakan adegan dirinya menangis namun tetap memancarkan kharismatik seorang gentleman. Begitu juga chemistry yang luar biasa kuat dengan karakter putrinya, Murph, yang dibawakan juga dengan sangat luar biasa, terutama oleh Mackenzie Foy (masih ingat Renesmee di Twilight Saga?). Jessica Chastain yang memerankan Murph dewasa pun turut memberikan performa terbaik dalam melanjutkan peran Foy.
Sementara Anne Hathaway mungkin tampil tidak sekuat dan semenonjol Sandra Bullock di Gravity, namun penampilannya patut mendapatkan kredit tersendiri. Malah mungkin bisa dimasukkan sebagai salah satu penampilan terbaiknya setelah di Les Miserables.

Technical

Bukan karya Nolan jika tidak menampilkan teknis-teknis yang serba megah dan penuh detail. Mulai visual effect yang belum pernah ditampilkan di layar sebelumnya, seperti visualisasi blackhole, perbedaan gravitasi yang menyebabkan pelambatan gerakan dan daratan yang melengkung (seperti yang pernah ditunjukkan di Inception), hingga lanskap-lanskap ruang angkasa dan tiap planet yang berhasil direkam dengan sangat indah dan megah oleh sinematografi Hoyte Van Hoytema (Her dan Tinker Tailor Soldier Spy).
Tata suara juga patut diapresiasi dalam menghadirkan kedahsyatan sound effect di banyak kesempatan, serta juga hadirnya beberapa silent moment, mengikuti hukum perambatan suara di ruang kedap udara yang sering dilanggar di kebanyakan sci-fi. Meski sempat ada kabar ketidaknyamanan audio yang berasal dari kesalahan tata suara di mana-mana, saya sendiri tidak merasakannya.
Scoring Hans Zimmer yang tak kalah grande turut menambah nuansa megah film, seperti karya-karya Nolan sebelumnya. I can call it one of the best movie score ever.

The Essence

Ada banyak aspek yang dibahas Nolan di sini. Tapi yang menjadi lineup utamanya adalah pertanyaan atas dilematis moral manusia ketika harus memilih antara mementingkan kepentingan pribadi (dalam konteks ini, anak kandung) atau kelangsungan spesies manusia secara keseluruhan dalam jangka panjang.

They who will enjoy this the most

  • Nolan’s big fans
  • Sci-fi enthusiast with high details and logic accuracies
  • The fathers
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
  • Best Achievement in Sound Mixing
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates