Thor: Ragnarok

Thor found Hulk to save Asgard from apocalypse caused by his eldest sister.
Read more.

Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak

After glorious trip worldwide, the latest feminist heroine from Mouly Surya comes home.
Opens November 16.

Justice League

The DC superheroes are finally united, bringing justice for all.
Opens November 15.

Paddington 2

The British's most popular bear is back for some more family adventure.
Opens November 10.

Jigsaw

John Kramer a.k.a. Jigsaw is apparently still far away from death.
Read more.

Friday, November 21, 2014

The Jose Flash Review
Third Person

Di antara jajaran penulis naskah handal yang juga sering merangkap sutradara, nama Paul Haggis adalah salah satu yang paling atas di Hollywood. 2 Oscar untuk naskah sekaligus mengantarkan Crash menjadi Best Motion Picture of the Year, sudah menjadi buktinya. Sekali lagi Paul Haggis membuktikan diri sebagai maestro penulis naskah sekaligus sutradara handal lewat Third Person (TP) yang tergolong proyek indie.
Keunggulan utama dari TP adalah naskahnya yang tidak hanya punya story telling unik, tapi juga dialog yang cerdas dan memberikan banyak hint menuju konklusi cerita, dan mampu memanipulasi plot utama. Mengusung konsep interwoven omnibus, TP pun sebenarnya punya konsep cerita yang tidak bisa dibilang baru, meski memang masih sangat jarang digunakan. Dengan memasang seorang penulis novel sebagai karakter utama, sebenarnya bisa ditebak arah cerita yang interwoven ini akan dibawa ke mana. Namun Haggis mampu memoles konsep penceritaan dengan lebih menarik hingga terasa beda dan unik, terutama dalam menyampaikan poinnya. Anda hanya perlu menganalisa benang merah dari ketiga karakter utama di tiap segmen; Julia (Mila Kunis), Scott (Adrien Brody), dan Anna (Olivia Wilde). Itu pun tetap akan menimbulkan rasa penasaran dari penonton (yang peduli) jauh setelah film berakhir, hingga mengundang diskusi untuk menyatukan kepingan-kepingan puzzle yang ditebar sepanjang film menjadi satu konsep cerita yang utuh dan kuat. Multiple viewing mungkin diperlukan bagi beberapa penonton yang penasaran. Di situlah letak menariknya TP yang ditulis dengan detail sangat rapi, meski punya banyak metafora yang bertebaran untuk mengidentifikasi mana yang real, mana yang fiktif. Tak heran jika penonton pasif yang tidak mau repot-repot memahami ceritanya, akan dengan mudah menganggap TP film tidak jelas dan super pretensius. But that’s a warning, terserah Anda merasa termasuk penonton yang mana.
Didukung aktor-aktris papan atas, turut menambah value TP. Saya sangat menyukai akting Mila Kunis sebagai Julia di sini. Menurut saya dia yang paling terasa kuat sepanjang film, sekaligus peran yang paling kuat sepanjang karirnya selama ini. Olivia Wilde pun tampak lebih mempesona dari biasa berkat peran yang sedikit ‘nakal’ namun tetap emotionally gripping dan elegan. Moran Atias juga mencuri layar berkat permainannya yang tak kalah mengundang simpati sekaligus memanipulasi penonton. Sementara di lini aktor, baik Liam Neeson, Adrien Brody, maupun James Franco cukup memberi warna film meski secara emosional tidak sekuat para aktrisnya.
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, November 12, 2014

The Jose Movie Review
Big Hero 6

Overview

Langkah Walt Disney mengakuisisi Marvel tentu punya tujuan dan rencana yang besar. Secara finansial, jelas Marvel mampu mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar berkat portfolio lusinan superhero yang bisa dieksploitasi semaksimal mungkin. Tapi siapa sangka ternyata Disney juga berniat “mengawinkan” karakter-karakter Marvel dengan portfolio karakteristik animasinya yang sangat khas. Maka sebagai permulaan, Disney meluncurkan Big Hero 6 (BH6).
Dilihat dari desain karakter-karakternya, BH6 jelas sekali terasa memadukan versi komiknya yang bergaya manga dengan khas Disney. Hasilnya ternyata menarik. Tanpa menghilangkan kekhasan dari keduanya, karakter-karakter BH6 berhasil menjadi satu gaya unik tersendiri, yang lantas menjadi kekuatan utama filmnya.
Dilihat dari premise-nya, sebenarnya tergolong klise: seorang anak jenius menemukan dirinya melalui robot ciptaan almarhum kakaknya, lantas menyempurnakannya dan menghentikan penjahat yang diduga juga menjadi tersangka pembunuh sang kakak. But hey, it’s primarily targeted for kids anyway. Selama punya adegan-adegan menggelitik, momen-momen menyentuh, dan yang pasti punya pesan moral yang positif, BH6 sudah bisa dianggap berhasil.
Tapi sayang, hanya sampai sejauh itu saja pencapaian BH6. Adegan-adegan yang dirangkai dengan sangat rapi hanya mampu menghantarkan BH6 menjadi tontonan dengan emosi yang standard. Ya, ia memang punya momen emosional, namun hanya sekedar ada, tidak sampai digali semaksimal mungkin. Even more, sisi yang paling menonjol adalah humornya yang lebih mengandalkan tingkah lugu karakter-karakternya, terutama karakter robot gemuk Baymax. Beberapa dari Anda mungkin masih akan tertawa terbahak-bahak. Tapi jika hanya mampu membuat Anda tersenyum atau malah tanpa ekspresi sama sekali, kesalahan bukan pada diri Anda juga. Karena memang hanya seperti demikianlah BH6 didesain.
Sebagai film aksi petualangan, BH6 tentu menawarkan porsi yang cukup mendominasi (selain sisi humornya). Namun sekali lagi, karena ditata dengan sangat rapi, adegan-adegan aksi BH6 pun hanya menjadi cinematic eye candy yang memanjakan mata, tanpa menimbulkan thrill sama sekali.
In short, BH6 adalah tontonan yang sangat menghibur dan cocok untuk disaksikan oleh semua umur. Tidak banyak yang akan membekas lama dalam ingatan Anda selain sosok dan tingkah laku Baymax.
Opening short animation Feast pun terasa biasa saja. Tampak manis, tapi sama sekali tidak terasa sampai benak saya. Tidak seperti animasi-animasi pendek pembuka Disney sebelumnya. Untung saja after-credit-nya tidak terduga dan sangat menyenangkan untuk diketahui, terutama bagi fans superhero-superhero Marvel.

The Casts

Semua pengisi suara terdengar mengisi perannya dengan sangat pas, pun juga tak ada yang lebih menonjol ketimbang yang lain. Terkecuali tentu saja suara Baymax yang diisi oleh Scott Addist akan menjadi ikonik selama beberapa tahun ke depan. Nama-nama populer yang didapuk menjadi pengisi suara, seperti Daniel Henney, T. J. Miller, Jamie Chung, Damon Wayans Jr., dan James Cromwell, cukup memberikan warna tersendiri di setiap karakternya.

Technical

Selain desain karakter yang sangat menggemaskan dan mengesankan, desain produksi BH6 secara keseluruhan pun tampak sangat indah. Mulai desain kota San Fransokyo yang unik, perpaduan San Francisco dan Tokyo yang megah sekaligus indah. Dan yang paling membuat saya terkesan adalah tampilan microbot yang berubah-ubah bentuk. Untuk efek 3D-nya, hanya efek depth yang paling terasa, sedangkan gimmick pop-outnya tidak begitu banyak dan tidak begitu terasa.
Visual yang mumpuni didukung pula tata suara yang tak kalah dahsyatnya. Suara bass yang dalam dan efek surround yang dimanfaatkan secara maksimal berhasil menciptakan dimensi ruang yang nyata. Henry Jackman semakin memberikan nafas megah dan keseruan ke dalam adegan-adegan melalui scoring-nya.

The Essence

Kelebihan yang dimiliki tidak akan berarti jika tidak digunakan untuk sesuatu yang positif. Toh dendam tidak akan menghilangkan perasaan kosong.

They who will enjoy this the most

  • All ages, especially kids under 10
  • General audiences who seek for an exciting instant entertainment
  • Audiences who is easily love adorable characters
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Animated Feature Film of the Year
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, November 9, 2014

The Jose Movie Review
Interstellar

Overview

In Nolan we trust. Bukan tanpa sebab istilah itu muncul. Karirnya di Hollywood selalu ditandai dengan karya-karya yang unik secara storytelling maupun subject-subject yang diangkat. Mulai short term memory loss (Memento), mind-trick di balik pertunjukan sulap (The Prestige), sampai manipulasi mimpi bertingkat (Inception). Bahkan Nolan juga yang membawa Batman ke level yang sama sekali berbeda dengan superhero lainnya. Jenius? Bisa jadi. Tapi yang pasti karya-karyanya jelas punya ciri  plot yang rumit tapi tetap terjalin dengan rapih, dengan referensi dan detail yang luar biasa, serta twist yang selalu ditunggu-tunggu para fansnya. Tidak heran jika ending film-filmnya kerap menjadi bahan pembicaraan tanpa akhir karena menimbulkan multi interpretasi. Tak terkecuali karya termutakhirnya, Interstellar.
Kali ini Nolan bermain-main dengan genre sci-fi yang melibatkan luar angkasa. Seperti biasa, ada banyak teori-teori yang dilibatkan untuk membangun plotnya dengan sangat detail dan blended so well. Mulai (terutama sekali) teori relativitas, gravitasi, blackhole, sampai dimensi kelima. Tidak ketinggalan plot pendukung seperti mengapa dipilih jagung sebagai bahan pangan terakhir yang bertahan di bumi. Tapi tidak perlu khawatir, karena Nolan menyampaikan teori-teori yang dilibatkan ini dengan sangat sederhana dan mudah dicerna melalui dialog. Setidaknya bagi penonton yang pernah mengenyam pendidikan Fisika tingkat SMA. Dengan catatan, tentu saja jika Anda tidak doyan bolos atau tidur saat pelajaran Fisika ya. Tidak semuanya adalah fakta, lebih banyak yang masih berupa spekulasi. Selama masih logis, sebenarnya tidak menjadi masalah. Toh begitulah sci-fi seharusnya, bukan?
Secara struktur cerita, sebeanrnya tidak jauh berbeda dengan karya-karya sebelumnya. Terbaca dengan sangat mudah, tapi tetap membuat saya penasaran ke mana Nolan akan membawa arah cerita selanjutnya. Meski in the end, saya hanya akan berujar dalam benak, “oh”, tidak akan sampai membuat saya katarsis atau orgasme.
Kali ini yang membedakan adalah dimasukkannya unsur humanity dan fatherhood sebagai tema utama yang mendasari keseluruhan cerita. Inilah yang membuat karya Nolan kali ini terasa melibatkan lebih banyak “hati” dan menyentuh, dibandingkan sebelum-sebelumnya yang lebih mengajak penontonnya memutar otak untuk mencerna. Meski tidak disajikan dengan dramatisir yang mampu menguras air mata saya, tapi setidaknya masih mampu membuat saya tersentuh dan berintrospeksi.
Namun bukan berarti saya lantas bisa puas dan menobatkan Interstellar sebagai masterpiece cinema. Ada satu aspek yang dimaksudkan menjadi titik balik cerita, namun gagal membuat saya terkesan. Di antara jajaran paparan-paparan ilmiah yang logis, satu aspek ini langsung terasa terperosok ke dalam ranah fantasi. Memang sih masih nyambung dengan keseluruahan plot sejak awal, sehingga terkesan sudah dipersiapkan sejak awal. Tapi di mata saya jatuhnya justru menjadi multiinterpretasi yang serba tidak memuaskan.


Above all, aspek yang membuat saya menjadikan Interstellar bukan sebagai karya terbaik Nolan ini mungkin karena saya tidak percaya hal tersebut adalah hal yang logis. Tapi jika Anda tidak terlalu mementingkan mana aspek yang logis, mana yang fantasi, mungkin Interstellar bisa dengan mudah menjadi pilihan teratas film terbaik tahun ini. Kepiawaian Nolan dalam menuturkan cerita dengan menarik dan penuh detail meski dalam durasi yang termasuk super panjang (169 menit), masih tetap tak terbantahkan. Bagaimana pun Interstellar adalah salah satu cinematic event terbesar tahun ini yang haram untuk dilewatkan begitu saja.

The Casts

Matthew McConaughey memberikan performance yang luar biasa, melebihi perannya di Dallas Buyers Club. Meski masih membawakan tipikal southern American guy, Matthew memberikan emosi yang maksimal namun tidak berlebihan ke dalam peran Cooper. Saya sulit untuk melupakan adegan dirinya menangis namun tetap memancarkan kharismatik seorang gentleman. Begitu juga chemistry yang luar biasa kuat dengan karakter putrinya, Murph, yang dibawakan juga dengan sangat luar biasa, terutama oleh Mackenzie Foy (masih ingat Renesmee di Twilight Saga?). Jessica Chastain yang memerankan Murph dewasa pun turut memberikan performa terbaik dalam melanjutkan peran Foy.
Sementara Anne Hathaway mungkin tampil tidak sekuat dan semenonjol Sandra Bullock di Gravity, namun penampilannya patut mendapatkan kredit tersendiri. Malah mungkin bisa dimasukkan sebagai salah satu penampilan terbaiknya setelah di Les Miserables.

Technical

Bukan karya Nolan jika tidak menampilkan teknis-teknis yang serba megah dan penuh detail. Mulai visual effect yang belum pernah ditampilkan di layar sebelumnya, seperti visualisasi blackhole, perbedaan gravitasi yang menyebabkan pelambatan gerakan dan daratan yang melengkung (seperti yang pernah ditunjukkan di Inception), hingga lanskap-lanskap ruang angkasa dan tiap planet yang berhasil direkam dengan sangat indah dan megah oleh sinematografi Hoyte Van Hoytema (Her dan Tinker Tailor Soldier Spy).
Tata suara juga patut diapresiasi dalam menghadirkan kedahsyatan sound effect di banyak kesempatan, serta juga hadirnya beberapa silent moment, mengikuti hukum perambatan suara di ruang kedap udara yang sering dilanggar di kebanyakan sci-fi. Meski sempat ada kabar ketidaknyamanan audio yang berasal dari kesalahan tata suara di mana-mana, saya sendiri tidak merasakannya.
Scoring Hans Zimmer yang tak kalah grande turut menambah nuansa megah film, seperti karya-karya Nolan sebelumnya. I can call it one of the best movie score ever.

The Essence

Ada banyak aspek yang dibahas Nolan di sini. Tapi yang menjadi lineup utamanya adalah pertanyaan atas dilematis moral manusia ketika harus memilih antara mementingkan kepentingan pribadi (dalam konteks ini, anak kandung) atau kelangsungan spesies manusia secara keseluruhan dalam jangka panjang.

They who will enjoy this the most

  • Nolan’s big fans
  • Sci-fi enthusiast with high details and logic accuracies
  • The fathers
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Production Design
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score
  • Best Achievement in Sound Mixing
  • Best Achievement in Sound Editing
  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, November 4, 2014

The Jose Flash Review
Ouija (2014)

Perayaan Halloween biasanya diramaikan oleh film-film horor high profile. Tahun ini sudah ada Annabelle yang ternyata mengecewakan banyak pihak tapi tetap mencetak hits. Mendekati hari H Halloween, Universal Pictures menawarkan sebuah horor yang didasarkan dari papan permainanan bernama Ouija. Mirip Jaelangkung di Indonesia, Ouija adalah papan permainan yang dipercaya bisa digunakan untuk memanggil dan berkomunikasi dengan arwah di sekitar. Sebenarnya sudah beberapa kali papan Ouija menjadi dasar film horor, tapi hanya merupakan proyek indie. Baru kali ini Ouija menyambangi layar lebar dengan status film Ouija pertama yang mendapatkan license resmi dari Hasbro selaku produsen papan permainan ini.
Ouija versi 2014 ini ternyata masih menawarkan horror generic yang lebih mengandalkan jump scare sebagai menu utamanya. Storyline-nya masih menyimpan rahasia yang cukup umum di film horror sejenis. Semua itu sebenarnya tidak menjadi masalah selama perannya sebagai horror yang mengerikan (atau setidaknya, mendebarkan) berhasil dijalankan. Nyatanya Ouija ternyata masih belum berhasil menciptakan thrill yang cukup untuk memacu adrenalin penontonnya, meski sebenarnya punya potensi di sana-sini. Eksekusi tiap korban yang terlalu cepat, menurut saya, menjadi penyebabnya. In the end, adegan-adegan yang tergelar sepanjang durasi terasa terlalu rapi dan generik. Twist yang coba diselipkan di menjelang akhir pun belum berhasil membuat penonton merasakan “katarsis” yang lebih.
Penggunaan aktor-aktris yang belum begitu dikenal sudah wajar dilakukan film horror sejenis. Di Ouija mungkin hanya nama Olivia Cooke (The Quiet Ones) yang populer. Sisanya, benar-benar nama baru dan wajah-wajah all-American-teenage yang cukup pas memerankan karakter masing-masing.
Overall, Ouija memang sebuah horror standard yang cukup menghibur secara instant. Sama sekali tidak buruk, meski juga tidak akan begitu berkesan untuk jangka waktu yang lama.
Lihat data film ini di IMDb
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, November 3, 2014

The Jose Movie Review
John Wick

Overview

Di dunia film, ada semacam “kutukan” buat aktor-aktor yang menjadi bagian di sebuah franchise besar: karirnya pasca franchise besar bakal semakin meredup. Memang tidak mutlak terjadi, tapi ada cukup banyak yang naas harus mengalami hal ini. Contoh yang paling mudah adalah Hayden Christensen yang memerankan karakter penting di franchise Star Wars Episode 1-3, atau Daniel Radcliffe dan Robert Pattinson yang lebih sering bermain di film-film indie pasca Harry Potter dan Twilight Saga. Keanu Reeves bisa dibilang sebagai salah satu “korban kutukan” ini yang mencoba terus bangkit pasca The Matrix Trilogy. Untung nasibnya masih lebih baik dibandingkan yang lain. Setidaknya dia masih membintangi proyek studio besar macam Constantine, The Lake House, dan A Scanner Darkly. Namun karirnya semakin lama semakin menurun pasca The Day the Earth Stood Still yang gagal total. Effort terakhirnya, Man of Tai Chi dan 47 Ronin ternyata belum mampu menaikkan lagi pamornya. Maka masih dengan proyek yang termasuk indie, Keanu mencoba sekali lagi peran yang sudah menjadi signature image-nya yang dingin di John Wick (JW).
Melihat dari profil proyeknya, JW tampak seperti film indie kelas B karena dukungan nama-nama di belakangnya. Disutradarai duo David Leitch dan Chad Stahelski yang punya background stuntman film-film Hollywood high profile, serta naskahnya ditulis oleh Derek Kolstad yang filmografi sebelumnya baru diisi 2 film indie. Tapi bukan berarti kualitas JW termasuk kelas B. In matter of fact, JW menjadi tontonan action yang unik dan sangat stylish.
JW memang punya premise yang tergolong cliche dan tiring: balas dendam pribadi seorang heroine misterius terhadap sebuah kelompok gangster. Bahkan belum lama ini sudah ada The Equalizer yang tergolong sangat mirip. But the best of JW adalah konsepnya yang seolah-olah bersetting di universe tersendiri, bukan di dunia nyata kita. Lihat saja mulai penggunaan koin sebagai mata uang sampai orang-orang yang mengenal karakter utamanya dengan ciri-ciri yang khas. Belum lagi koreografi aksi yang sangat stylish. Tidak hanya saat barehand fighting, tapi juga semua gunfight, terutama yang dilakukan dengan jarak dekat. Hasilnya tentu saja adegan-adegan aksi yang tergeber secara intens dari awal hingga akhir, tanpa terasa melelahkan. JW pun seolah menjadi non-stop pure action entertainment yang tanpa basa-basi. Sekonsep dengan The Raid atau The Raid: Berandal, dengan derajat keseruan dan keasyikan yang lebih tinggi. I have to say, JW has it all to be the most stylish action thriller of the year so far. And I think it will not be that easy to beat ‘em.

The Casts

Sejak awal karirnya, Keanu Reeves memang bukan tergolong aktor yang versatile. Mustahil membayangkan karakter emosional dibawakan oleh Keanu yang kalem dan dingin. Memahami fakta ini, Keanu adalah pilihan yang paling pas dan mungkin juga tak tergantikan untuk memerankan karakter John Wick. Alhasil sedikit adegan emosional di awal pun masih bisa ditampilkan Keanu dengan cukup meyakinkan.
Di lini aktor pendukung meski porsinya kalah jauh dibandingkan Keanu, tetap saja berhasil cukup menancap di benak penonton. Sebut saja Alfie Allen sebagai Iosef, Michael Nyqvist sebagai Viggo, Adrianne Palicki, dan tentu saja Willem Dafoe. Tidak ketinggalan penampilan singkat John Leguizamo dan Bridget Moynahan yang juga berhasil mencuri perhatian.

Technical

Koreografi yang menjadi kekuatan utama JW diiringi oleh soundtrack-soundtrack sinting dan scoring gokil sehingga menambah nilai stylish adegan-adegan yang disajikan di layar. Siapa yang tidak kangen Marilyn Manson mengisi soundtrack film action dan tentu saja penempatan lagu Think dari Kaleida yang susah dilupakan. Tata suara pun terjaga dengan prima dan crisp sepanjang film, termasuk pemanfaatan efek surround yang maksimal.
Sinematografi Jonathan Sela juga berhasil membingkai desain produksi yang serba indah dan adegan-adegan aksi stylish menjadi sebuah cinematic experience yang unik dan menyenangkan.

The Essence

Something we’re really good at will always be inside us, no matter how hard we try to get away. At some point, it will blow out anyway.

They who will enjoy this the most

-          Pure action movie’s fans
-          Stylish thriller action movie’s enthusiast
-          General audiences who seek for exciting entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates