Sunday, October 5, 2014

The Jose Movie Review
The Equalizer

Overview

Denzel Washington selama ini kita kenal sebagai black action hero yang kharismatik. Apalagi di tangan almarhum Tony Scott yang sudah beberapa kali menjalin kerjasama, mulai Man on Fire, Déjà vu, dan The Taking of Pelham 123, Denzel mampu menjadi salah satu aktor action hero yang patut diperhitungkan dan melahirkan karakter-karakter memorable. Tak hanya Tony, sutradara Antoine Fuqua pun rupanya menjadikan Denzel sebagai aktor favoritnya, terlebih setelah Tony telah tiada. Antoine Fuqua pun yang awalnya punya karya-karya film action yang kuat secara penokohan, akhir-akhir ini lebih banyak memilih film-film action pop-corn seperti terakhir Olympus Has Fallen. Begitu juga dengan The Equalizer yang diangkat dari serial TV tahun 80-an tapi saya yakin tidak banyak yang masih mengingatnya.

Jika membaca premise-nya, The Equalizer mungkin adalah sebuah cerita cliché yang sudah berkali-kali diangkat: bad-ass oldman yang berhasil menghajar musuh-musuhnya tanpa kendala berarti. Ranah yang akhir-akhir ini dikuasai oleh Liam Neeson lewat franchise Taken dan bahkan yang head-to-head langsung dengan The Equalizer, A Walk Among the Tombstones. Tapi siapa yang peduli dengan tired premise jika memang masih punya energi cukup tampil memikat penonton dengan stylish action-nya? Untuk itu The Equalizer sudah memenuhi persyaratan untuk menghibur. Tapi ternyata The Equalizer punya lebih dari sekedar stylish violence untuk ditawarkan.

Mulai dari script serba rapi yang ditulis oleh Richard Wenk. Saking rapinya, kadang terasa kurang kejutan maupun inovasi dan karakter utama, Robert McCall yang terkesan terlalu sempurna. But still, script The Equalizer menyuguhkan alur yang rapi, efektif menyampaikan informasi-informasi tanpa harus dijabarkan terlalu blak-blakan, terutama dalam menjawab pertanyaan penonton tentang jati diri McCall di masa lalu. Meski sebagian dari penonton yang sudah punya jam terbang tinggi tentu dengan mudah menerkanya. Script yang terlalu berfokus pada karakter McCall dan musuhnya, Teddy, membuat karakter Teri yang sebenarnya menjadi motivasi utama aksi McCall jadi dianak tirikan. Padahal di awal-awal film, koneksi dan chemistry yang dibangun antara keduanya terjalin dengan begitu bagus. Sayang jatahnya hanya di awal dan akhir saja.

Untuk meng-counter script yang ‘terlalu rapi’ ini, peran sutradara Antoine Fuqua lah yang bermain dalam memvisualisasikannya secara tepat. Meski ada cukup banyak elemen yang mengingatkan kita akan film Denzel, Man on Fire, namun The Equalizer terasa berbeda dengan pace-nya yang tergolong santai dan slow-burn bak Drive-nya Nicolas Winding Refn. Pace yang mungkin terasa terlalu lambat dan membosankan bagi beberapa penonton, namun akan terasa lebih berkelas bagi penonton yangn lain. Karena meski tergolong lambat dan sunyi, atmosfer dark thriller yang diciptakan masih terasa sangat kuat. Bagi saya pribadi, durasi yang termasuk cukup panjang (131 menit) di sini jadi tak begitu terasa. Setiap momennya, ups and downs, ditata serapi script-nya. Tetap menjadikan The Equalizer terasa menarik dan tetap gripping di genrenya meski sudah berkali-kali diangkat.

The Casts

Seperti biasa, Denzel Washington masih berhasil bermain one man show dengan kharismanya yang perpaduan antara noble heart dan badass attitude. Kharismanya bahkan bisa mengungguli Liam Neeson di franchise Taken. Sementara Chloë Grace Moretz yang meski punya running time yang tidak begitu banyak, namun mampu mencuri perhatian saya, terutama di awal-awal film. Jauh dari image karakter-karakter yang ia perankan selama ini.

Di sisi villain, Marton Csokas mampu mengimbangi ke-badass-an Denzel Washington. Aura evil-nya tak kalah gahar dari attitude Denzel, apalagi dengan tattoo-tattoo Satanic yang diekspos di salah satu adegan.

Technical

Salah satu kekuatan teknis yang melengkapi kerapian script dan visualisasi adalah sinematografi Mauro Fiore yang membingkai adegan-adegan dengan sangat indah, pun juga efektif dalam menyampaikan adegan.

Scoring dari Harry Gregson-Williams serta pemilihan-pemilihan soundtrack lainnya juga mampu memperkuat nuansa silent thriller-nya. Terutama sekali adegan kucing-kucingan di labirin Home Mart menjelang klimaks yang diiringi komposisi dari Zack Hemsey.

The Essence

Masih sama dengan genre sejenis. No matter how hard you try to hide your sense of fighting crime and badass abilities, it’s always in you and will come out anytime needed. Because the crime is never really stopped.

They who will enjoy this the most

  • Action thriller’s fans
  • Audiences who enjoy slow burn action
  • Denzel Washington’s fans
  • Audiences who love badass character with brutal attitude
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates