Tuesday, October 7, 2014

The Jose Movie Review
Annabelle

Overview

Harus saya akui, The Conjuring adalah aset franchise yang begitu berharga dan bisa dikembangkan ke mana-mana untuk mengeruk keuntungan finansial. Tak heran jika lantas Annabelle menjadi incaran para penikmat horor (yang artinya hampir semua penikmat film di bioskop). Jika saja Annabelle dirilis tanpa atau sebelum The Conjuring, saya tidak yakin hasilnya akan sama. So, yes euphoria jelas menjadi materi promosi yang penting di sini. Lantas bagaimana kualitas sebenarnya?

Awalnya saya memang skeptis dengan Annabelle. Terutama sekali sutradaranya adalah John R. Leonetti yang sebelumnya dikenal sebagai director of photography The Conjuring maupun duologi Insidious. Piawai merekam gambar sesuai kebutuhan bukan berarti juga piawai menuturkan cerita sebagai sutradara. DoP langganan Nolan, Wally Pfister, bisa menjadi bukti ketika menggarap Transcendence. Ternyata apa yang menjadi kekhawatiran saya terbukti. Padahal saya harus mengakui sebenarnya Annabelle punya naskah yang disusun dengan rapi dan menarik.

Jika Anda berusaha membandingkan Annabelle dengan The Conjuring, jelas Anda akan kecewa. Di mata saya, keduanya punya gaya horor yang berbeda. Jika The Conjuring menggunakan formula horor klasik yang dimodifikasi dengan selera penonton sekarang, maka Annabelle sebenarnya lebih menjadi sebuah horror thriller psikologis bak Rosemary’s Baby. Begitu pula jika Anda membandingkan Annabelle dengan sosok boneka horor lainnya, Chucky dari seri Child’s Play. Bukan tanpa alasan saya menyebut judul Rosemary Baby, karena banyak sekali elemen dan gaya bertutur Annabelle yang mengingatkan saya (atau malah menjadi semacam referensi atau tribute?) akan horor klasik itu. Tapi tentu saja dalam derajat yang jauh berbeda, terutama dalam hal membangun atmosfer horor-nya.

Maaf kepada sutradara yang masih harus mengasah sense-nya dalam menghadirkan atmosfer horor dan thriller secara konstan dibangun. Yang terjadi pada Annabelle, ada beberapa adegan yang berhasil membangkitkan nuansa eerie, namun seringkali harus menurun secara drastis seiring dengan pergantian adegan. Tensi ketegangan yang saya rasakan pun ikut tidak konstan, dan dengan seiring dengan durasi, lama-kelamaan kebal juga dengan nuansa yang berusaha dibangun. Dengan kata lain, secara keseluruhan Annabelle masih gagal dalam upaya menakut-nakuti saya.

The Casts

Penggunaan cast yang sama sekali tidak popular sebenarnya sudah menunjukkan seperti apa proyek ini sebenarnya didesain. Lihat saja jajaran pemeran utama yang sebelumnya hanya pernah mengisi peran-peran figuran di film-film box office. Tapi bukan berarti buruk. Terutama sekali Annabelle Wallis yang mendapatkan porsi paling dominant, mampu mengisi peran Mia dengan cukup baik. Sementara Ward Horton tidak begitu menonjol. Justru Alfre Woodard mampu tampil cukup mengesankan di balik kemisteriusannya. Peran yang sebenarnya masih tidak jauh beda dengan perannya di serial Desperate Housewives season 2.

Technical

Tidak ada yang begitu istimewa dari teknis Annabelle. Setidaknya semua departemen sesuai dan pas dengan kebutuhannya. Desain produksi yang meliputi desain setting dan kostum cukup baik mendukung nuansa horror dan retro 70-an. Sedikit banyak mengingatkan saya akan desain produksi Rosemary’s Baby, tapi actually in a good way.

Tata suara juga cukup membangun atmosfer seram serta tentu saja efek jumpscare yang maksimal di beberapa bagian. Meski scoring Joseph Bishara tergolong mild dan generik untuk ukuran film horror.

The Essence

  • Satu hal yang bisa mengalahkan kekuatan iblis adalah pengorbanan diri.
  • They who will enjoy this the most
  • Psychological thriller’s fans
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates