Thursday, October 23, 2014

The Jose Movie Review
3 Nafas Likas

Overview

Salah satu formula film Indonesia agar dilirik oleh penonton adalah biopic. Akan lebih baik lagi jika punya dua aspek favorit penonton sini: romance dan special effect memukau. Terbukti Habibie & Ainun yang berhasil menjadi box office di mana-mana. Berangkat dari analisis selera penonton inilah film 3 Nafas Likas (3NL) mencoba peruntungannya di pasar lokal. 3NL mengangkat kisah hidup inspiratif seorang wanita bernama Likas yang berjuang melewati 3 era berbeda.
Apa yang ditawarkan 3NL sebenarnya berpotensi menjadi sajian tontonan yang menarik. Namun karena trying too hard untuk memenuhi semua syarat dalam menggaet penonton, 3NL jadi terasa kurang maksimal dalam bertutur. Fokus cerita yang seharusnya pada perkembangan karakter Likas, harus terdistraksi oleh unsur romance dengan karakter Djamin Gintings yang mendadak jadi dominan, juga adegan-adegan perang yang seharusnya hanya sekedar menjadi background cerita. Akibatnya, ruang untuk menuturkan perkembangan Likas menjadi terbatas dan dengan rentang waktu cerita yang panjang, jadi terkesan terburu-buru. Apalagi ketika akan memasuki stage ke tiga pasca masa orde baru.
Memang sih, beberapa adegan penting masih berhasil menyentuh penonton. Namun secara keseluruhan, adegan-adegan 3NL seolah berdiri sendiri-sendiri sehingga emosi serta empati penonton terhadap karakter Likas menjadi kurang tereksplor lebih dalam.
Namun di balik storytelling-nya yang kurang maksimal, 3NL tetap saja harus diapresiasi berkat performa akting dan production value yang matang serta memukau. Setidaknya 3NL masih menjadi produksi film Indonesia yang sayang untuk dilewatkan di layar bioskop.

The Casts

Atiqah Hasiholan yang mengisi peran utama menunjukkan performa akting yang semakin matang dan gemilang dari film ke film. Tak hanya urusan logat Karo, tapi juga naik-turun emosi yangbegitu hidup. Sayang performa maksimal Atiqah masih belum bisa diimbangi oleh akting Vino G. Bastian. Memang sih di beberapa bagian Vino mampu mengeluarkan emosi yang pas, tapi masih sering belum bisa lepas dari tipikal karakter Vino biasanya, sehingga terkesan komikal dan dibuat-buat.
Di deretan pemeran pendukung ada nama-nama senior yang tak perlu diragukan lagi performa aktingnya. Mulai Jajang C. Noer yang mampu menjadi ibu dengan penuh tekanan batin, dan Arswendi Nasution yang kharismatik. Namun tentu saja scene stealer paling memukau adalah Tissa Biani Azzahra sebagai Likas kecil yang mampu menjembatani peran Atiqah Hasiholan dengan sangat baik.

Technical

3NL jelas mempersiapkan teknisnya dengan sangat baik. Mulai penggunaan CGI yang memukau, sinematografi yang mampu merekam gambar-gambar menjadi terasa sangat sinematis, hingga tone color yang memanjakan mata dengan keindahan warna-warna vibrant-nya.
Scoring dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti yang sudah tidak perlu diragukan lagi kualitasnya. Tak hanya mampu memperkuat emosi adegan, tapi juga memadukan berbagai unsur musik etnis yang relevan dengan adegan menjadi komposisi yang variatif serta berkelas.

The Essence

Kehidupan adalah roda yang selalu berputar. Kita tidak pernah tahu kapan di atas dan kapan bakal jatuh terjerembab. Yang penting kita selalu siap menghadapi apapun yang terjadi dan tak pernah kehabisan semangat untuk terus bangkit tiap kali jatuh.

They who will enjoy this the most

  • Pecinta film biopic
  • Pecinta film romance
  • Pecinta film inspiratif
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates