Sunday, September 28, 2014

The Jose Movie Review
Tabula Rasa

Overview
Tak banyak ada tema kuliner di ranah perfilman Nasional. Padahal sebagai salah satu komponen kebudayaan, bangsa kita punya banyak sekali ragam kuliner yang menarik untuk diangkat. Belum lagi Rendang yang pernah menjadi peringkat teratas makanan terlezat dunia, dan pencapaian-pencapaian internasional lainnya yang didapatkan justru dari dunia kuliner kita. Maka sudah waktunya kuliner Nusantara diangkat ke layar lebar, dengan kesempatan untuk memperkenalkannya ke dunia internasional yang lebih luas. Maka Lifelike Pictures yang selalu memproduksi film dengan pasar internasional dan suka mengeksplor tema-tema baru, mencoba mengangkatnya. Apalagi tema kuliner punya target audience yang lebih luas ketimbang 2 produksi sebelumnya, Pintu Terlarang dan Modus Anomali.

Tabula Rasa (TR) akhirnya hadir sebagai sebuah sajian cerita sederhana yang hangat, dengan konsep dasar idealisme kebhinekaan, dan dengan kemasan kuliner yang cukup kental dan menyatu dalam cerita. Terdengar seperti sebuah paket yang sangat menjanjikan? Memang. Tapi mari kita bedah satu per satu komponennya. Produser Sheila Timothy kali ini dengan berani menggandeng dua nama yang namanya cukup populer di ranah perfilman indie art house nasional, Tumpal Tampubolon (Rocket Rain, Belkibolang) sebagi penulis naskah dan Adriyanto Dewo (segmen Menunggu Warna di Sanubari Jakarta dan Pasar Setan di Hi5teria) sebagai sutradara. Sebuah pondasi yang menarik secara kualitas, tapi cukup mengkhawatirkan untuk target audience umum yang cenderung lebih pop. Untung saja ternyata skrip dari Tumpal masih tergolong aman dalam arti bisa dinikmati dan dipahami oleh penonton awam sekalipun. Dengan cerita sederhana yang sehari-hari, namun punya “mimpi” idealisme kebhinekaan yang kalau mau dicari di dunia nyata tergolong mustahil. Produser memahami ini lantas menjadikannya salah satu frase untuk jualan: “Rumah Makan Padang Juru Masaknya Papua”. Menurut salah satu teman yang kebetulan orang Minang, hal ini mustahil karena orang Minang dikenal sangat menjaga kuat keaslian tradisi budayanya. But yeah, once again in the name of ideal society, ini bukan menjadi permasalahan yang substansial. Apalagi tema kebhinekaan saat ini masih gencar-gencarnya digaungkan lewat medium film.

Permasalahan terbesar dari TR adalah keinginannya untuk memuaskan penonton awam yang cenderung lebih menyukai film dengan kemasan pop, sekaligus mencapai idealis-idealis ala indie. Kalau dari premise-nya, TR jelas sangat simple dan pop. Namun visualisasinya ternyata lebih cenderung ala indie yang senyap dan banyak menyampaikan message secara metafora. Termasuk dalam pemilihan endingnya yang membuat banyak penonton awam (baca: pop) bingung dan menganggapnya tidak jelas. Akan lebih menarik, memuaskan, dan sangat relevan dengan tagline utamanya, “Makanan adalah iktikad baik untuk bertemu” jika endingnya, misalnya mempertemukan karakter-karakternya yang tercerai berai dalam satu ruangan. Cukup disayangkan potensi-potensi yang dimiliki TR untuk menarik penonton lebih luas namun gagal diraih.

But overall, baik skrip dari Tumpal maupun penyutradaraan Adriyanto termasuk berhasil dalam menggabungkan berbagai komponen ceritanya; mulai kebhinekaan, sosial, konflik keluarga, persaingan, dan yang pastinya makanan, menjadi satu kesatuan yang solid. Makanan pun jadi punya makna yang lebih luas bagi tiap individu, ketimbang sekedar perkara lidah dan perut. Cerita yang disampaikan juga bergulir dengan nyaman dan mengalir, tanpa terasa dipaksakan. Dan yang paling penting, karena melibatkan tidak terlalu banyak karakter dan dituliskan dengan perkembangan karakter yang pas dan efektif (serta diperankan dengan sangat bagus pula oleh daftar cast-nya), film terasa begitu  hangat, feel-good, dan karakter-karakternya terasa begitu dekat dengan penonton. Terakhir tentu saja, sajian-sajian visual makanan Padang yang pasti menggugah selera siapa saja yang menontonnya.

The Casts

TR punya 4 karakter utama yang berbeda-beda dan sama menariknya. Beruntung keempatnya diisi oleh cast yang sangat pas dan berhasil menghadirkan chemistry antar karakter. Jimmy Kobogau yang baru pertama kali berakting tampil cukup baik dalam menghadirkan karakter Hans yang porsinya paling banyak. Begitu juga dengan Ozzol Ramdan yang menariknya adalah orang Sunda, tapi beberapa kali memerankan karakter Minang seperti di sitkom Suami-suami Takut Istri beserta versi ‘the movie’-nya, masih memberikan performa orang Minang asli yang meyakinkan. Berikut dengan karakternya yang didesain untuk memberikan unsur humor di dalam cerita, yang berhasil berfungsi dengan baik.

Tak perlu meragukan performa akting Dewi Irawan yang begitu menonjol sepanjang film. Tak hanya logat Minang yang terasa begitu fasih, tapi juga karakter kompleks yang diperankannya terasa begitu hidup. Begitu juga dengan Yayu Unru yang bahkan sampai berhasil membuat saya hening terbawa suasana di satu adegan solo-nya. Bisa jadi di sini adalah salah satu penampilan terbaik Yayu Unru.

Technical

Sebuah film kuliner butuh sekali sinematografi yang cantik untuk bisa membuat penonton seolah mencium langsung aroma makanan di layar. Untuk tujaun itu, TR termasuk berhasil. Tidak hanya adegan-adegan memasak atau makanan, hampir setiap adegan ditata dengan cantik dari segi sinematografi. Baik itu close up, medium close up, maupun panoramic. Kudos to penata sinematografi, Amalia TS.

Pemilihan scoring dan lagu yang terasa sangat kental nuansa tradisionalnya, berpadu dengan sentuhan scoring elegan ala internasional, menjadikan musik TR seolah menghantarkan penonton ke tengah-tengah budaya Minang yang sederhana dan etnik, namun dengan nuansa berkelas.

Terakhir, entah faktor bioskop tempat saya menonton yang masih “klasik” atau memang bagian dari desainnya, sehingga tata suara TR terdengar seperti sinema era 80-awal 90’an. Tidak buruk, namun di tengah gempuran film-film dengan tata suara digital yang serba jernih dan crisp, tata suara TR terasa unik. Semoga saja ini memang bagian dari desain film, karena ketika menonton film lain di bioskop yang sama, ternyata tata suaranya memang setara bioskop-bioskop digital lain.

The Essence

Sama seperti komponen-komponen budaya lainnya, makanan tidak hanya sekedar soal lidah dan perut. Ada banyak makna yang berbeda-beda bagi tiap individu yang terkait dengan pengalaman dan memori. Tabula Rasa mampu menghadirkan berbagai makna ini dalam satu kemasan yang nikmat dan hangat.

They who will enjoy this the most

  • Food and culinary enthusiast
  • Audiences who love movie with personal approachment
  • Audiencew who love movie with traditional cultural elements
  • Feel-good movie fans
  • Orang dengan latar belakang budaya Minang atau Papua
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id 
Lihat situs resmi film ini. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates