Sunday, September 14, 2014

The Jose Movie Review
The Purge: Anarchy

Overview

Tahun 2013 Hollywood digemparkan oleh The Purge, sebuah film horor thriller low budget yang punya premise sangat berani dan provokatif: apa jadinya jika di masa depan Amerika Serikat punya satu hari khusus dimana warganya boleh melakukan kejahatan apapun tanpa ada hukum yang berlaku selama 12 jam? Hasilnya tidak begitu buruk meski banyak penonton yang merasa kecewa dengan hasil akhirnya. Well, penghasilan worldwide US$ 89 juta lebih dari budget yang hanya sekitar US$ 3 juta jelas sebuah angka yang termasuk fantastis. Maka tak heran jika setahun kemudia dibuatkan sekuelnya.

Sebenarnya saya agak bingung dengan penonton yang kecewa dengan film pertamanya. Apa yang salah? The Purge pertama menggunakan pendekatan home-invasion-psycopath yang sangat efektif memompa ketegangan dengan maksimal, tanpa meninggalkan esensi-esensi yang mempertanyakan banyak hal tentang psikologis manusia dan juga dari segi sosial. I love the first installment, maka begitu mendengar sekuelnya, The Purge: Anarchy (TPA), tak lagi membidik teror dalam rumah, tapi scope yang lebih luas dan berpotensi menjadi lebih mengerikan; outdoor, oh yes, I’m so fuckin’ in!

Bagi yang belum nonton installment pertamanya, sebenarnya tak masalah langsung menonton TPA. Toh tidak ada karakter yang sama ataupun berkaitan dengan di seri pertama. Benang merahnya hanya kebijakan The Purge, yang mana sekali lagi dijelaskan dengan gamblang di TPA. Tapi sekedar saran, akan lebih baik menonton The Purge terlebih dahulu sebelum TPA. Keduanya adalah satu kesatuan yang saling melengkapi dan tahapan pengalaman menegangkannya juga terasa berkesinambungan. Anggap saja The Purge sebagai pemanasan sebelum mengalami TPA. Jika urutannya dibalik, bisa jadi pengalaman ketegangannya akan antiklimaks. Bagaimana pun, kita harus mulai dari dalam rumah terlebih dahulu sebelum ke luar, bukan?

Ternyata ekspektasi saya tak berlebihan. TPA menjelma menjadi teror yang berlipat-lipat dibandingkan installment pertamanya. Apalagi kali ini ada 5 karakter utama yang berasal dari berbagai latar belakang dan motif, dipertemukan untuk survive bersama-sama. Pendekatannya lebih ke ala zombie survival macam Dawn of the Dead, tetapi tentu saja dengan treatment yang jauh lebih menarik dan mencekam. Well, bagaimanapun manusia biasa bisa jauh lebih mengerikan dan tak terduga ketimbang zombie atau makhluk jadian apapun. Faktor kemungkinan benar-benar terjadi yang tinggi membuat teror TPA terasa maksimal. Pun James DeMonaco sekali lagi tak menyia-nyiakan bakatnya dalam menciptakan atmosfer yang mencekam, storyline yang sama sekali tak terasa melelahkan meski konsisten menebar teror sepanjang durasi, dan dengan kejutan-kejutan yang disusun dengan pas serta pace yang tepat. Bahkan di adegan-adegan yang dirasa ‘aman’ pun, terornya masih terasa. Dan benar saja, the terror never really stopped. Saya berani mengatakan TPA menawarkan teror dan ketegangan di film yang paling maksimal dalam beberapa tahun terakhir.

Tak hanya mengandalkan ketegangan, skrip TPA pun disusun dengan cukup rapi. Selain membuat porsi tiap karakternya pas sehingga sama-sama mengesankan penonton, TPA seolah seperti penyeimbang dari The Purge pertama. Jika di installment pertama cerita hanya berfokus pada keluarga yang mencoba survive di rumahnya sendiri dan kaum intelek yang memanfaatkan momen The Purge untuk melampiaskan kebiadabannya, maka TPA juga menampilkan sekelompok rebel yang menolak kebijakan The Purge. Tak ketinggalan seperti installment pertamanya, masih dimunculkan karakter-karakter yang digambarkan masih punya hati nurani di tengah lingkungan yang buas. Sebuah keseimbangan dan penegasan yang lebih terasa di tengah-tengah scoop yang lebih luas. If you love the first installment, you will easily love TPA. And if you don’t really like the first, you’ll probably love this one. Tidak ada salahnya dicoba. Kalau menurut saya sih, The Purge malah punya potensi untuk menjadi sebuah franchise yang layak dikembangkan. Semoga saja.

The Casts

Tak ada satupun nama populer di jajaran cast-nya. Rata-rata hanya punya daftar filmografi sebagai pemeran pendukung. Namun begitu bukan berarti TPA tidak punya greget. Justru TPA bisa jadi batu loncatan buat aktor-aktornya karena penampilan yang pas sesuai dengan kebutuhan, selain porsi masing-masing yang memberikan cukup ruang bagi setiap karakter untuk mencuri perhatian. Sebagai aktor utama, Frank Grillo jelas tampil paling menonjol. Dengan tatapan dingin dan tak terlalu banyak bicara, Frank dengan mudah menarik perhatian penonton. Zöe Soul yang memerankan gadis cerdas, Cali, juga cukup mencuri perhatian. Serta Carmen Ejogo, Zach Gilford, dan Kiele Sanchez pun memberikan performa yang cukup menarik simpati.

Sementara yang tak kalah menarik perhatian meski running time-nya terbatas adalah John Beasley sebagai ayah Eva dan Michael K. Williams sebagai pemimpin pemberontak, Carmelo Johns.

Technical

Dalam menampilkan adegan-adegan mencekam, sinematografi Jacques Jouffret merekam tiap gambar dengan cantik dan efektif. Ditambah desain produksi dari Brad Ricker dan tim artistiknya yang berhasil membuat berbagai settingnya mencekam, seperti jalanan Los Angeles yang sepi, rumah Lorraine, dan tentu saja labirin pembantaian kaum aristokrat.

Tata suara yang renyah dan dahsyat terpompa dari setiap kanal berkat pemanfaatan fasilitas surround yang maksimal. Thanks buat departemen tata suara yang sudah membuat saya paranoid setiap kali mendengar sirine berkumandang. Scoring dari Nathan Whitehead turut menambah atmosfer mencekam sepanjang film, termasuk selipan lagu America the Beautiful yang ironically creepy.

The Essence

Program tahunan Purge diadakan dengan dasar teori bahwa tiap manusia punya sisi buas yang harus dilampiaskan untuk menjaga keseimbangan dan kestabilan emosi. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah teori ini bisa diterapkan pada setiap individu? Lantas jika di dunia benar-benar tak ada hukum yang berlaku, apakah manusia akan lebih memilih untuk membunuh terlebih dahulu sebelum menjadi korban? Di lingkungan yang buas, apakah manusia akan lebih memilih untuk menyelamatkan dirinya sendiri dan mengabaikan orang lain yang terancam? Di saat dibebaskan melakukan apa saja, apakah manusia lebih memilih mengikuti naluri buasnya atau hati nuraninya? Apakah The Purge murni atas nama psikologis, bukan motif untuk 'seleksi alam'; mengeliminasi yang lemah, termasuk dalam hal ekonomi.

Pertanyaan-pertanyaan penting terkait dengan psikologis manusia dan aspek sosial inilah yang menjadi esensi seri The Purge.

They who will enjoy this the most

  • Horror-thriller fans
  • They who enjoyed the first installment
  • Bloody gore fans
  • Audiences who are interested in psychological and social aspect in a movie
  • General audiences who seek for thrilling entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates