Saturday, September 20, 2014

The Jose Movie Review
The Maze Runner

Overview

Kisah young adult dengan latar belakang dystopian memang sedang menjadi trend di ranah novel dan akhirnya merambah juga dunia film dengan maraknya film adaptasi dari novel. Meski punya tema yang mirip dan dibuat dengan budget yang tidak begitu fantastis untuk ukuran Hollywood, The Hunger Games (THG) dan Divergent berhasil membuktikan diri tetap bisa tampil mengesankan baik secara kualitas maupun penghasilan di box office. Saat keduanya masih akan terus dilanjutkan dalam sekuel-sekuelnya, muncul satu lagi dystopian young adult yang diangkat ke layar lebar, The Maze Runner (TMR) yang novelnya ditulis oleh James Dashner.

Tak beda jauh dengan THG maupun Divergent, di TMR sekelompok remaja dikumpulkan di suatu tempat untuk bertahan hidup. Uniknya, ada sebuah labirin raksasa yang berubah-ubah dan mereka tidak tahu apa-apa selain berusaha tetap hidup. Yang penasaran dan ingin keluar akan mencari jalan untuk kabur, meski tak jelas resiko yang harus mereka hadapi di ujung labirin. Sedangkan yang pasrah berusaha untuk menikmati hidup di lingkungan yang baru dan bisa dikatakan alam liar.

Meski secara garis besar premise-nya mirip, tapi harus saya akui punya konsep cerita yang menarik dan potensial untuk menjadi film petualangan yang seru dan mendebarkan. Dengan dukungan bintang-bintang muda yang sedang naik daun, semakin besar potensi TMR menjadi tontonan yang menarik. Nyatanya TMR memang punya cukup banyak adegan yang mendebarkan, terutama di dalam labirin dan serangan griever, makhluk semacam gabungan organisme serangga dan cyborg. Namun keseruannya hanya bisa dinikmati jika sebagai sepotong-sepotong adegan saja. Secara keseluruahn, entah faktor apa saja yang membuat TMR berjalan tidak nyaman dan membosankan.

Saya sempat mencoba menemukan faktor apa yang membuat TMR jatuh menjadi tidak menarik dan cenderung membosankan. Ternyata ada beberapa faktor yang saya temukan. Paling pertama dan utama adalah skripnya yang tidak luwes dalam menyusun adegan dan cerita secara keseluruhan. Entah bagaiman jalan cerita versi novelnya, tapi yang pasti menurut saya untuk tipe film berseri, tiap seri harus punya jalinan cerita yang bisa berdiri sendiri. Setidaknya ada hal-hal yang terungkap dengan jelas. Barulah di seri berikutnya mengembangkan dari basic cerita bagian pertama. Namun yang terjadi di TMR adalah alur ceritanya tidak banyak berkembang. Alih-alih satu per satu rahasia diungkapkan agar penonton semakin penasaran dengan akhir cerita, naskah membiarkan karakter-karakternya sama clueless-nya dengan penonton tentang apa yang terjadi. Alhasil baru menjelang akhir, barulah dibeberkan rahasia besarnya. Itupun ditampilkan dengan standard (seperti yang sudah bisa kita tebak seperti di cerita young-adult dystopian lainnya) dan tidak banyak menjawab pertanyaan-pertanyaan dari penonton. In short, penantian mencari jawaban yang cukup melelahkan hingga membuat penonton tidak lagi pedulu, tidak dibayar dengan sesuatu yang menarik dan benar-benar jelas. Lihat saja dialog yang paling sering muncul sepanjang durasi; “I don’t know”, “he’s right”, dan sejenisnya.

Kelemahan kedua adalah tidak ada satupun karakter yang dikembangkan dengan cukup. Bahkan untuk karakter utama, Thomas. Kemungkinan terbesar adalah film terlalu sibuk untuk menceritakan kejadian demi kejadian hingga penyikapan rahasia, sampai-sampai lupa untuk mempedulikan karakter-karakternya. Padahal menurut saya karakter-karakter utama yang ditampilkan punya potensi menjadi menarik jika saja dikembangkan dan diberi porsi yang lebih banyak. Setidaknya, bisa menimbulkan rasa simpati dari penonton. Sehingga ketika karakternya dimatikan, penonton bisa merasakan emosi kehilangan. Tapi TMR memilih untuk mengabaikan faktor “emosi” ini demi terlihat trying too hard to look cool dengan ceritanya yang ternyata jatuh biasa saja.

Well, in the end nikmati saja beberapa adegan seru yang dimiliki TMR secara terpisah. Tak perlu repot-repot berusaha mengikuti alur ceritanya. Percayalah, Anda tidak akan melewatkan apa-apa, sekaligus menghemat kinerja otak.

The Casts

Sebagai karakter utama, Dylan O’Brien yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu cast serial Teen Wolf tidak berhasil menarik perhatian. Karakternya berusaha tampil keren dan pemberani, tapi aura awkward dan dungunya lebih mendominasi, sehingga menggusur semua karakteristik sebenarnya yang ingin ditampilkan. Sebaliknya, Will Poulter justru sukses mengubah otal image-nya yang selama ini cukup kuat melekat lewat We’re the Millers. Karakternya yang cocky dan sok jagoan berhasil dihidupkan dengan gemilang. Begitu juga aktor Korea, Ki Hong Lee yang beru pertama kali tampil di layar lebar, justru punya charm yang jauh lebih baik ketimbang Dylan.

Sisanya, Thomas Brodie-Sangster  masih belum berubah jauh secara tampilan fisik dan karakteristik dari penampilannya di Love Actually dan Nanny McPhee. Sementara Kaya Scodelario, salah satu dari sebagian kecil aktris di film, belum cukup punya kharisma (dan juga porsi peran) untuk menarik perhatian penonton. Sayang sekali di lini pemeran pendukung dewasa, tidak diisi oleh aktor maupun aktris ternama seperti yang pernah dilakukan THG maupun Divergent untuk menarik perhatian lebih banyak range penonton.

Technical

Sebenarnya tak ada masalah berarti di divisi visual. Labirin raksasa, griever, maupun markas besar WICKED ditampilkan dengan cukup mengesankan, baik dari segi desain maupun kualitas CGI. Aspek audio pun menurut saya di atas rata-rata genre sejenis, terutama dalam hal pemanfaatan fasilitas surround yang sangat impressive. Score dari John Paesano meski tidak begitu signatural, tapi lebih dari cukup untuk membangun suasana sepanjang film.

Yang cukup mengganggu saya mungkin adalah tampilan karakter-karakter utama, terutama dari segi rambut Minho yang tetap dengan potongan rapi (dan mungkin juga tampak menggunakan gel rambut) meski sudah tinggal di dalam Maze selama bertahun-tahun. I wonder, apakah mungkin di dalam box supply termasuk hair razor?
Cukup disayangkan juga TMR tidak memberikan original soundtrack yang menarik, seperti halnya THG dan Divergent. Keduanya justru menjadikan original soundtrack sebgai aspek penting untuk menarik perhatian audience sekaligus sarana promosi.

The Essence

Ada 2 tipe manusia secara garis besar, ketika harus memilih jalan hidup. Kebanyakan ada yang memilih untuk berusaha beradaptasi dan membuat hidupnya saat ini senyaman mungkin (dengan kata lain: nerimo). Tapi ada juga yang lebih memilih untuk mencari tahu “dunia luar”.

Tapi kalau mau dianalisis lebih dalam lagi, sikap berusaha beradaptasi dan mencoba menikmati apa yang dimiliki sekarang tidak membuat seseorang menjadi berkembang. Pertanyaannya: mau sampai kapan ia mau bertahan seperti itu? Jika memilih untuk mencari tahu “dunia luar”, mungkin punya resiko yang besar, tapi setidaknya memiliki kesempatan dan harapan untuk menjadi lebih baik ketimbang hanya diam di comfort zone.

They who will enjoy this the most

  • Fans of the novel
  • Fans of young adult dystopian adventure
  • General audiences who seek for instant exciting adventure movie, especially teenagers
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates