Monday, August 25, 2014

The Jose Movie Review
Yasmine

Overview

Jika mendengar nama Brunei Darussalam, yang langsung muncul di benak kita adalah negara tetangga yang kaya raya berkat sumber daya alam minyaknya. Tapi untuk urusan perfilman, ternyata Brunei masih jauh tertinggal. Maka ketika muncul sebuah film yang mengklaim diri sebagai tonggak kebangkitan perfilman mereka (meski tidak bisa juga dikatakan film layar lebar pertama mereka) yang dibuat dengan kualitas teknis mumpuni, Yasmine menjadi menarik. Apalagi kita yang di Indonesia boleh berbangga karena menyumbangkan beberapa tenaga terbaik kita untuk mengisi departemen-departemen penting dalam produksinya.

Memilih tema seni bela diri pencak silat dan coming of age merupakan pilihan yang menarik, meski bukan lagi blend yang benar-benar baru. Di Hollywood sendiri sudah ada Karate Kid yang begitu fenomenal. Namun untungnya Yasmine berhasil menjadi identitasnya sendiri, dengan aspek-aspek local content yang unik. Naskah Yasmine ditulis oleh salah satu penulis naskah terbaik yang dimiliki Indonesia saat ini, Salman Aristo. Seperti biasa, Salman menuliskan naskahnya dengan rapi, terutama dari segi alur dan perkembangan karakter. Tapi kali ini naskah Salman tak sampai terperosok menjadi kisah yang terlampau mulus dan tanpa rintangan yang berarti, seperti yang sering terjadi pada naskahnya. Meski plotnya termasuk generik, Salman mampu menjadikannya tetap menarik dan terasa segar, dengan karakter-karakter yang dikembangkan dengan baik pula.

Penyajian dari sutradara wanita baru, Siti Kamaluddin, pun turut memberikan nafas yang segar dan sangat menghibur bagi Yasmine. Tak ada kisah remaja yang serba menggurui meski negaranya termasuk negara yang menerapkan syariat Islam. Karakter-karakternya digambarkan manusiawi seperti remaja yang memberontak sesuai dengan jamannya, bukan serba alim dan sempurna. Tak hanya karakter-karakter remajanya, tetapi juga karakter-karakter dewasa yang biasanya diwajibkan menjadi teladan yang serba sempurna pula. Itulah salah satu aspek yang membuat Yasmine karya yang menyenangkan dan menghibur, di samping nuansa segar dan ceria yang sudah diusung sejak awal film. Sedikit twist cerita di menjelang akhir film, juga cukup patut diapresiasi dan juga memberikan essence value yang lebih dari cerita.

Jika ada yang terasa minus, mungkin dari segi logika cerita. Misalnya yang paling mencolok adalah bagaimana mungkin ayah Yasmine tidak bisa menyekolahkan anaknya di sekolah internasional, sementara Yasmine sendiri diberi mobil Mini Cooper untuk dipakai sehari-hari. Well kalau mau berpikir positif, mungkin saja di Brunei harga Mini Cooper termasuk terjangkau dibandingkan biaya menuntut ilmu di sekolah internasional. Lagipula, atas nama membuat tampilan visualnya tampak lebih fancy dan keren, saya masih bisa memakluminya.

The Casts

Beruntung naskah memberikan perkembangan-perkembangan karakter yang baik untuk aktor-aktornya. Beruntung pula ternyata hampir semua pengisi karakter utama maupun pendukung mampu tampil memikat, termasuk juga dalam menjalin chemistry antar karakter. Terutama sekali Liyana Yus yang meski mendapatkan beban sebagai karakter utama dan porsinya sangat mendominasi, ternyata mampu menghidupkan karakter Yasmine dengan sangat baik. Perubahan-perubahan emosi dapat ditampilkan dengan wajar namun tetap menarik. Begitu juga Roy Sungkono dan Nadiah Wahid yang memerankan karakter sahabat-sahabat Yasmine, cukup memorable sesuai dengan porsinya, serta memberikan chemistry persahabatan yang terasa solid dan mengalir dengan segala ups and downs-nya. Sementara karakter antagonis Dewi yang diperankan oleh Mentari De Marelle menjadi pencuri layar tersendiri berkat kecantikan fisik serta aktingnya yang cukup menarik. Anda bisa sekali lagi menyaksikan aktingnya di Malam Minggu Miko Movie.

Di jajaran cast pendukung yang diisi oleh aktor-aktor senior, menjadikan Yasmine lebih menarik lagi. Tak usah diragukan lagi kekuatan akting Reza Rahadian yang tetap saja menarik perhatian seberapa kecil pun perannya. Dwi Sasono juga memberikan performa komedik yang pas, tak sampai mengganggu nuansa film secara keseluruhan dengan karakternya yang nyentrik. Agus Kuncoro yang baru muncul menjelang pertengahan film, seperti biasa memberikan performa terbaik sebagai karakter wise dan serius. Sedikit berbeda dengan kebanyakan peran yang dilakoninya selama ini. In the end, tentu saja tak perlu mengomentari aksen Melayu dari ketiga aktor senior Indonesia ini yang teredengar sangat fasih dan tanpa terasa dibuat-buat. Pantaslah reputasi mereka di tanah air hingga dipercaya di produksi negara tetangga.

Technical

Bukan tanpa tujuan, Yasmine menyewa tenaga profesional asing dari berbagai negara untuk menyusun komponen-komponen teknisnya. Terutama sekali adalah sinematografi dari James Teh (Australia) yang berhasil menangkap berbagai aspek local content dengan cantik lewat adegan-adegan landscape, maupun juga menangkap emosi dengan pas dengan shot-shot close up-nya. Nuansa ceria khas remaja, keseruan pertandingan silat, emosional hubungan antar karakter, mampu ditampilkan secara maksimal melalui sinematografi. Begitu juga editing Cesa David Lukmansyah yang bisa merangkai segala emosi yang ada menjadi sebuah satu sajian roller coaster yang mengalir dan enak diikuti.

Scoring dari Aghi Narottama dan Bemby Gusti semakin mengukuhkan diri sebagai penata musik yang serba bisa dalam menghidupkan adegan. Diimbangi tata suara yang mantap dari Khikmawan Sentosa dan theme song signatural dari  Nidji, menjadikan audio Yasmine terdengar sangat pas dan nyaman untuk didengarkan.

The Essence

Masa peralihan dari remaja ke dewasa bukanlah masa yang mudah. Tapi justru melalui berbagai proses yang tidak mudah dan punya banyak halangan serta tantangan lah yang biasanya menemukan jati diri yang sebenarnya. Tak hanya soal apa yang menjadi passion, tetapi juga menemukan esensi yang tepat dari passion tersebut, sehingga tidak sampai meniti jalan yang salah.

They who will enjoy this the most

  • Teenagers, especially around 11-18 years old
  • Martial art enthusiast
  • Audiences who like father-daughter relationship story
  • General audiences who seek for light and fun entertainment

Lihat data film ini di IMDb.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates