Tuesday, August 12, 2014

The Jose Movie Review
Teenage Mutant Ninja Turtles (2014)

Overview

Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT) atau yang di Indonesia lebih akrab disebut Kura-kura Ninja bisa dibilang salah satu franchise lawas yang exposure-nya termasuk kurang. Padahal fans-nya termasuk banyak sejak jaman masih berupa komik tahun 1984. Tahun 1990 sempat diangkat ke layar lebar dengan pendapatan yang termasuk luar biasa di eranya. Diikuti sekuel hingga menjadi sebuah trilogy yang pendapatannya terus menurun, meski tetap untung. Lantas hanya menjadi serial animasinya dan sebuah film layar lebar versi animasi yang hasilnya ternyata juga biasa-biasa saja. Kebangkitannya dimulai saat segala haknya dibeli oleh Nickelodeon tahun 2009 dengan sebuah serial animasi yang dimulai tahun 2012 hingga kini. Berkat Nickelodeon pula akhirnya TMNT sekali lagi mencicipi layar lebar, tentu saja dengan treatment yang jauh lebih baik. Tak tanggung-tanggung, Michael Bay yang dikenal selalu sukses menangani film blockbuster duduk di salah satu bangku produser. Sutradara Jonathan Liebesman pun bukan pilihan yang main-main, meski juga belum ada karyanya yang benar-benar sebombastis Bay.

Hasilnya ternyata sama sekali tidak mengecewakan. Cukup epic, melebihi versi manapun dari franchise TMNT malahan. Yang paling penting, TMNT versi Liebesman menjaga esensi-esensi, nuansa, beserta karakter-karakter penting dari franchise asli, terutama dari versi komik dan animasi era 80-annya. Semuanya ditampilkan dengan modifikasi konsep cerita yang masuk akal dan menarik. Contoh yang paling terasa adalah beberapa fakta asal-usul karakter-karakter utamanya. Correct me if I’m wrong, tapi saya sebelumnya sama sekali belum pernah mendengar asal-usul kura-kura ninja ini bisa menjadi mutan secara detail, termasuk asal-usul karakter Splinter. All we know that they live in the sewer. Juga keterkaitan April O’Neill dengan para kura-kura ninja. Kesemuanya dijelaskan dan ditautkan dengan masuk akal dan jelas, sehingga membuat keseluruhan konsep cerita terasa lebih solid. That’s why bahkan penggemar versi aslinya akan dibuat tersenyum-senyum karena faktor nostalgic dengan hal-hal yang akhirnya punya penjelasan memuaskan setelah sekian lama, meski tergolong klise untuk genre sejenis. Tak ketinggalan pula penyesuaian konsep asli dengan perkembangan jaman, seperti menyelipkan joke-joke bereferensi budaya populer.

Untuk penonton baru pun TMNT bakal terpuaskan dengan adegan-adegan action yang spektakuler. Terasa sekali unsur-unsur khas Michael Bay atau yang sering disebut Bay-ish karena saking khasnya. Mulai frog eye angle untuk memberikan kesan epic, some light flares, slowmotion, hingga sound-sound effect yang mengingatkan kita akan franchise Transformers. Tapi tak perlu antipati dulu terutama bagi yang sudah alergi dengan franchise Transformers. Toh unsur-unsur Bay-ish yang ada di TMNT hanya sebatas style gimmick-gimmick visual saja. TMNT masih berdiri di atas konsep cerita yang kuat dan story telling yang nyaman untuk dinikmati. Bisa jadi karena kemampuan story telling Liebesman yang masih lebih baik daripada Bay sendiri (saat menggarap franchise Transformers).

Satu-satunya kelemahan dari TMNT versi Liebesman adalah kurang kuatnya pengenalan karakter-karakter utama geng kura-kura ninja: Leonardo, Raphael, Michelangelo, dan Donatello. Permasalahan klasik sebenarnya sejak versi animasi dan live action era 90-an, karena sejak dulu saya kesulitan mengenali perkarakter selain hanya menghafal dari warna ikat mata dan senjata mereka. Di versi Liebesman ini memang masih berusaha menampilkan diferensiasi dan keunikan karakter masing-masing, seperti Raphael yang menonjolkan fisik paling kuat serta sifat yang agresif, Michaelangelo yang suka bercanda, Leonardo yang punya jiwa pemberani, serta Donatello yang punya kelebihan di segi science. Namun masih terasa kurang kuat sehingga penonton (terutama yang masih awam) tetap saja akan kesulitan mengenali tiap karakter begitu saja. Semoga saja penguatan karakter ini diperbaiki di installment-installment sehingga TMNT akan semakin dikenal karena karakter-karakternya yang unik, bukan hanya sekedar sebagai film action pop corn yang menghibur.

Above all, TMNT versi Liebesman bagi saya jelas merupakan re-introduction yang sangat memuaskan dan sangat menghibur. Selanjutnya tinggal bagaimana tim mengembangkan cerita dan konsep besar TMNT sehingga terus menjadi franchise yang menarik. Ingat, mempertahankan sesuatu yang bagus jauh lebih susah ketimbang memulai baru dengan bagus. Banyak franchise jatuh ke lubang yang sama. Semoga saja TMNT belajar dari pengalaman Bay ketika menggarap Transformers (meski secara finansial terus meningkat dari installment ke installment).

The Casts

Megan Fox menjadi sorotan utama di sini. Selain karena pemeran para kura-kura ninja bukanlah nama-nama yang populer, apalagi dengan tampilan yang diubah total menjadi CGI serta suara yang diisi oleh aktor lain lagi, tampilan fisik Megan Fox memang selalu mencuri perhatian. Untungnya penampilan akting dan porsi peran karakter yang dituliskan untuknya jauh lebih baik ketimbang sebelum-sebelumnya, termasuk ketika di Transformers 1-2. Sorry para pemeran kura-kura ninja, saya tidak bisa memberikan penilaian apa-apa atas akting kalian. Setidaknya penggambaran karakter masing-masing sudah tervisualisasikan sesuai konsep aslinya.

Will Arnett yang perannya tidak begitu banyak masih sempat berhasil mencuri perhatian, terutama berkat karakter comedic-nya yang cukup berhasil. Sementara William Fichtner yang mengisi karakter antagonis pun tampil cukup memuaskan dan memuaskan. Namun above all, tentu saja penampilan Whoopi Goldberg yang sudah jarang muncul di layar menjadi daya tarik tersendiri.

Technical

Salah satu faktor utama yang membuat TMNT berhasil menjadi tontonan yang menghibur dan menarik adalah adegan-adegan aksi yang breathtaking serta terlihat keren. Thanks to fotografi yang memanfaatkan berbagai angle demi membuat penonton seperti terasa ikut menjadi bagian dalam adegan. Terutama sekali berkat super close dan frog eye angle. Adegan kejar-kejaran di salju serta pertarungan klimaks di Sach Tower menjadi begitu memorable sepanjang film berkat dukungan tata kamera ini, selain tentu saja tata suara yang mumpuni dan memanfaatkan efek surround dengan sangat baik.

Meski efek 3D TMNT hanya hasil convert, hasilnya termasuk memuaskan. Beberapa kali pop-out berhasil membuat saya memicingkan mata. Bahkan sempat ada satu frame yang sampai mengubah aspect ratio demi efek pop-out yang lebih terasa. Juga beberapa adegan memiliki depth yang menonjol, meski salah satu faktornya adalah low angle yang memang bisa lebih memberikan kesan kedalaman gambar.

Terakhir, pujian wajib saya layangkan kepada composer Bryan Tyler yang telah memberikan nuansa epic serta grande lewat score-nya.

The Essence

Di hampir akhir film, esensi dari TMNT versi Liebesman terkuak yang sebelumnya sebenarnya sempat disampaikan oleh beberapa karakter. Hampir semua karakter protagonis di sini punya isu dengan kepercayaan. It’s all about trust which matter more than anything. Kepercayaan kepada orang-orang yang dekat kita dan yang paling penting kepercayaan atas diri sendiri.

They who will enjoy this the most

  • Fans of the original Teenage Mutant Ninja Turtles’ characters
  • General audiences who seek for light and exciting entertainment, especially kids and teenagers
  • Bay-ish fans
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates