Friday, August 8, 2014

The Jose Movie Review
Noah

Overview

Noah  bisa jadi film paling kontroversial tahun 2014 ini. Setidaknya di negara-negara yang akhirnya melarang pemutaran film ini di negaranya, seperti Indonesia. Memang, subjek-subjek agama masih sangat sensitif di kalangan yang tergolong kuat aspek religi-nya, terutama jika film yang bersangkutan dibuat berbeda dari sumber agungnya, kitab suci. Apalagi kisah Noah alias Nabi Nuh dimiliki oleh setidaknya 3 agama besar; Yahudi, Kristen, dan Islam. Namun tentu pihak studio sendiri pasti punya pertimbangan tersendiri meluluskan visi Darren Aronofsky sebagai nahkoda film.

Saya tidak akan memperdebatkan sejauh mana Noah melenceng dari sumber agungnya. Selain tidak akan ada habisnya, setiap agama pasti punya persepsi sendiri-sendiri yang jelas berbeda. Secara garis besar Darren memang punya konsep besar yang berusaha menyatukan aspek iman (religi) dengan logika. Lihat bagaimana ia membuat Noah tidak lantas menerima wahyu dari Tuhan. Beliau masih butuh tuntunan dari kakeknya. Atau bagaimana Noah berada di persimpangan antara memenuhi (yang dianggapnya) perintah Tuhan atau kasih kepada keluarganya sendiri. Konsep ‘what if’ pada karya yang berdasarkan kitab suci bukan kali ini saja digunakan. Yang paling kontroversial tentu saja The Last Temptation of the Christ karya Martin Scorsese. Konsep ini memang rentan kontroversi karena termasuk lancang dalam mengubah sumbernya, meski secara esensial sebenarnya tidak banyak berbeda dengan sumber aslinya. Yang dilakukan Aronofsky di sini sebenarnya masih tergolong ‘aman’ dan sah-sah saja. Dalam arti, ia hanya berusaha membuat kisah Nabi Nuh lebih realistis, logis, serta manusiawi. Saya sangat menghargai usahanya untuk membuat konsep ini. Begitu juga dengan sentuhan magical dari CGI yang harus saya akui, cukup membuat terkagum-kagum.

Namun yang menjadi permasalahan bukan itu semua. Pada akhirnya Noah jatuh menjadi sebuah kisah bernuansa kelam dan depresif yang kurang nyaman untuk dinikmati. Dilema yang dialami karakter-karakternya, terutama Noah sendiri, dikembangkan dengan biasa saja dan sudah kita semua ketahui bersama, atau setidaknya sudah bisa kita tebak dengan mudah. Kisah Bahtera Nuh yang seharusnya menjadi sebuah kisah gembira karena anugerah dan mukjizat Tuhan berubah menjadi depresif gara-gara gejolak karakter Nabi Nuh sendiri. Alhasil durasi yang mencapai 138 menit terasa sangat membosankan.

Akui atau tidak, tujuan utama mayoritas penonton adalah menjadi saksi serta merasakan efek CGI dari banjir bandang yang diturunkan Tuhan ke bumi. Sayangnya adegan tersebut hanya diberi porsi beberapa menit. Untungnya adegan tersebut memang menarik. Kehadiran makhluk pohon hidup sebagai The Watcher yang entah punya tujuan apa untuk ditampilkan, gagal untuk membuat cerita menjadi lebih menarik bak Lord of the Rings. Jatuhnya malah konyol dan membuat penonton spontan berujar, “What the hell?”.

Dengan berbagai kelemahan dan kelebihannya, Noah tak lebih dari sekedar visualisasi ulang dari kisah abadi Bahtera Nuh dengan efek CGI termutakhir. Upaya grand design cerita yang seharusnya bisa jadi menarik, harus gagal karena storytelling yang melelahkan dan tidak menarik. Sayang sekali bakat-bakat besar yang digunakan.

The Casts

Meski menjadi karakter utama dan punya porsi terbanyak, Russell Crowe terasa kurang greget dan kurang punya kharisma yang kuat di sini. Padahal karakteristiknya sedikit banyak mengingatkan akan peran Javert di Les Miserables. Justru Jennifer Connelly, Emma Watson, dan Logan Lerman mampu terasa lebih mengena dan membekas. Bahkan Anthony Hopkins yang porsinya tergolong sedikit masih mampu mencuri perhatian.

Sementara penampilan Douglas Booth sebagai Shem dan Ray Winstone sebagai Tubal-Cain bisa dilupakan dengan mudah.

Technical

Efek CGI jelas menjadi magnet utama Noah dan memang berhasil menampilkan visualisasi banjir bah yang impresif meski tak sampai membuat penonton merasa merinding atau terancam ketika menyaksikannya di layar. Efek binatang-binatang liar yang menghampiri bahtera Nuh dan ketika mereka tertidur oleh asap dupa dari keluarga Noah masih terasa lebih miraculous. Efek pepohonan yang tumbuh dengan cepat juga tampak mengesankan.

Efek suara yang mumpuni juga menjadi faktor penting dalam membangun feel banjir bah. Tak ada komplain tentang efek suara meski juga tak terasa bombastis. Efek surround pun tak begitu banyak memberikan kontribusi. Terakhir, score Clint Mansell lebih terdengar aneh ketimbang berkelas ataupun epic.

The Essence

Grand design kisah Nabi Nuh versi Aronofsky agaknya berusaha ingin menyeimbangkan antara iman dan logika, seperti halnya manusia jaman sekarang yang susah membedakan mana yang menjadi kehendak Yang di Atas. Apakah harus bersikeras dengan pendapat pribadi secara kaku, atau mungkinkah Tuhan ingin menyampaikan maksud lain dari peristiwa-peristiwa yang terjadi namun bertentangan dengan iman.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang suka mendiskusikan esensi film, terutama yang punya source material pakem
  •  Penonton umum yang mencari hiburan berupa efek CGI megah dan spektakuler

 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates