Sunday, August 31, 2014

The Jose Movie Review
Lucy



Overview

Luc Besson dikenal sebagai sineas Perancis yang konsisten di jalur mainstream ala Hollywood di saat sinema Perancis kebanyakan punya signatural sendiri yang cenderung mengarah ke art house. Maka tak heran jika karirnya di Amerika Serikat lebih bersinar ketimbang sineas-sineas Eropa lainnya. Meski style film-filmnya (terutama dari segi pola storyline) sangat Hollywood dan dapat dengan mudah dinikmati,  tiap filmnya tetap punya konsep yang unik. Sebut saja Arthur & the Invisibles, La Femme Nikita, The Fifth Element, Leon: The Professional, dan Malavita. Bahkan di film-film dimana ia hanya bertindak sebagai produser pun juga termasuk punya tema unik, seperti Taxi, District B13, franchise Transporter, dan Taken. Simple namun unik dan menarik kan?

Maka ketika trailer Lucy dirilis, siapapun yang menikmati film-film aksi khas Besson langsung antusias. Bahkan yang tidak mengenal nama Luc Besson, setidaknya bisa mengharapkan perpaduan non-stop action dari kick-ass chick ala Salt dipadukan dengan cerita sci-fi ala Limitless. Hasil akhirnya memang benar punya perpaduan kedua elemen tersebut, namun ternyata Besson masih mengaduknya dengan elemen-elemen lain yang membuat Lucy menjadi bukan sekedar film aksi semata. Efeknya bisa beragam, tergantung ekspektasi dan preferensi penonton.

Sebenarnya tak ada yang salah dengan perpaduan mindless action yang seru dengan elemen sci-fi sebagai bumbu, jika takarannya sama-sama pas. Sayangnya, Lucy termasuk yang perpaduannya saling tumpang tindih, kurang mampu menyatu menjadi hasil akhir yang nyaman untuk dinikmati dan juga gagal untuk mempertahankan konsistensi racikan. Awal hingga pertengahan film, Lucy menjadi film action simple yang seru khas Besson. Storyline-nya pun masih mampu membuat saya tertarik dan penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya. Apalagi di awal-awal film, Besson menyisipkan stock-stock wildlife ala Animal Planet secara bergantian, seolah alegori dari adegan present time yang dialami karakter Lucy. Namun mulai pertengahan, terutama setelah kemampuan karakter Lucy semakin bertambah, film berubah menjadi semakin mengada-ada dan terlalu banyak menghabiskan durasi untuk menjelaskan aspek sci-fi-nya.

Seperti headline yang saya tulis di atas, Besson yang duduk sebagai penulis naskah sekaligus sutradara di sini, membiarkan fantasi liarnya melambung terlalu tinggi sehingga terkesan super khayal dan at some point, silly. Berbeda dengan Limitless dimana juga sama-sama memakai konsep “what will happen when someone uses 100% of his/her brain capacity when average person only use 10%?” dan sama-sama punya status sebagai “fantasi”, namun masih memvisualisasikannya secara wajar dan logis. Saya masih dibikin penasaran dengan apa saja kemampuan yang dimiliki Lucy di setiap fase efek kerja obatnya, tapi sudah tidak begitu peduli lagi dengan nasib Lucy selanjutnya sebagai manusia. Karakter Lucy yang awalnya menarik dan bikin penasaran, hingga puncaknya mampu membuat saya tersentuh saat adegan menelepon sang ibu, berubah menjadi melelahkan dan semakin jauh dari sisi manusiawi. Siapapun akan berpikir, siapa yang peduli lagi dengan nasib Lucy, toh dia menjadi tak terkalahkan? Once again, menarik bagi beberapa penonton, namun unsur fantasinya jelas terasa berlebihan. Eventually, bukannya penonton bakal lebih memilih untuk menyaksikan Scarlett Johansson menghajar bajingan-bajingan sampai babak belur dan berdarah-darah ketimbang berubah menjadi… ah sudahlah, lebih baik tonton saja sendiri kalau penasaran.

The Casts

Eksistensi Scarlett Johansson sebagai hot kick-ass chick semakin kukuh dengan peran Lucy yang cukup remarkable, sejajar dengan karakter Black Widow di franchise The Avengers yang sudah lebih dulu melekat pada dirinya. Kemampuan aktingnya pun terasa semakin terasah dengan baik. Beragam fase karakternya di sini; mulai gadis naif yang kebingungan, smart and powerful kick-ass chick, hingga touching moment ketika menelepon sang ibu di meja operasi. Kesemuanya berhasil memainkan emosi saya sesuai porsinya. A very cool performance.

Sementara Morgan Freeman dan Amr Waked yang sebenarnya punya porsi tampil yang cukup besar, masih kalah dalam hal menarik perhatian penonton. Justru penampilan Choi Min-Sik (pemeran Oh Dae-su di Oldboy versi asli Korea) sebagai bos mafia Mr. Jang, dan Analeigh Tipton (salah satu kontestan America’s Next Top Model), lebih mencuri layar ketika tampil, meski masing-masing punya durasi yang tergolong minim.

Technical

Seperti film-film Besson sebelumnya, tata kamera dan editing yang dinamis menjadi aspek utama yang menggerakkan keseruan film. Ditambah visual effect yang beberapa tampak keren, meski ada juga CGI yang terlihat kasar, seperti saat adegan fisik Lucy yang mulai hancur dan CGI efek obat di dalam tubuh Lucy yang mengingatkan saya akan visualisasi Crank.

Tata suara cenderung biasa saja. Sesuai dengan kebutuhan adegan namun tak ada yang istimewa, termasuk dalam pemanfaatan efek surround yang tidak terdengar begitu mencolok. Scoring dari Eric Serra cukup mampu memberikan energi sesuai dengan mood film keseluruhan yang dinamis. Ditambah sumbangan track Sister Rust dari frontman Blur dan Gorillaz, Damon Albarn yang dengan kerennya mampu merepresentasikan film secara keseluruhan.

The Essence

Manusia boleh saja terus berevolusi dalam perkembangannya dari generasi ke generasi. Namun tujuannya masih sama dengan tujuan sebuah sel sederhana yang membelah diri: to pass it on to others.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang terbuka atas aspek sci-fi-nya
  • They who don’t opppose Darwin’s evolution theory
  • Penonton yang mencari hiburan film action seru (dan brainless) tanpa mempedulikan logika
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates