Sunday, August 10, 2014

The Jose Movie Review
Into the Storm

Overview

Era trend disaster movie sudah lama lewat. Tak heran saat ini ketika ada satu saja disaster movie yang muncul, bisa dengan mudah menarik perhatian. Tapi jangan salah, tak mudah membuat disasater movie menjadi memorable. Karena pada banyak kasus, tak sedikit disaster movie yang jatuh menjadi film kelas B yang lebih layak diedarkan langsung dalam format home video atau FTV. Sebenarnya kunci keberhasilannya hanya dua: membuat penontonnya merasakan teror seperti benar-benar berada di situasi bencana dan menyentuh sisi kemanusiaan penonton. Mau didaur ulang berkali-kali pun, asal dua kunci itu terpenuhi, tetap akan berhasil memenangkan hati penonton dengan mudah. Berbeda dengan kasus Roland Emmerich yang memang spesialis membuat penonton berekspektasi terpukau hanya oleh efek CGI, tanpa perlu menyentil sisi emosi manusiawinya secara mendalam. Seperti yang sudah pernah ia tunjukkan lewat The Day After Tomorrow dan 2012.

Dari sekian banyak disaster movie, badai atau tornado atau angin ribut, atau apalah sebutannya termasuk jarang dilirik. Mungkin selama ini hanya Twister yang berhasil menempel di benak kita sampai sekarang. Sementara badai di tengah laut masih lebih banyak dibuat, seperti The Perfect Storm atau Life of Pi yang sebenarnya lebih berfokus pada perjalanan spiritual ketimbang sekedar disaster movie. Maka apa yang dilakukan Warner Bros. di tengah bulan yang termasuk sepi sepanjang musim panas 2014 ini cukup mengejutkan. Promonya baru gencar beberapa minggu sebelum rilis, dengan aktor-aktris yang belum begitu dikenal di layar lebar meski sangat familiar di layar kaca, serta sutradara dan penulis naskah yang juga belum punya terlalu banyak pengalaman. Intinya, dengan treatment yang sama sekali jauh dari film kelas A atau blockbuster, sejak awal jelas Warner Bros. tidak mensetting Into the Storm (ITS) sebagai film blockbuster yang akan meraup ratusan juta dolar atau akan dikenang selama berpuluh-puluh tahun ke depan. Tapi tentu bukan berarti hasil akhir filmnya bakal buruk, bukan?

Menurut saya bisa dibilang sebagai sedikit kejutan di tengah musim panas yang dikenal persaingan paling keras sepanjang tahun, meski termasuk rilis di bulan sepi, ia masih harus bersaing dengan Marvel’s Guardians of the Galaxy dan Teenage Mutant Ninja Turtles yang tergolong franchise kuat. ITS memang tak didukung skrip yang cukup memadai sehingga tak akan menjadi disaster movie yang akan masih terus dikenang selama beberapa tahun ke depan. Malah jika mau dianalisa lebih dalam, skrip ITS sangatlah dangkal. Dengan pengenalan karakter-karakter yang terlalu banyak namun sebenarnya tak terlalu penting nantinya, ITS kurang mulus dalam mengajak penonton masuk ke dalam cerita. Memang pada akhirnya ada beberapa karakter yang menarik untuk disimak dan setiap karakter sebenarnya mewakili karakter-karakter manusia dalam menghadapi bencana, namun tetap saja ujung-ujungnya masih termasuk dangkal. Simpati penonton tetap akan muncul, namun lebih karena faktor sesama manusia, bukan kedekatan penonton dengan karakter-karakter di layar. Justru menurut saya ada beberapa karakter, seperti Pete yang sebenarnya menarik jika dikembangkan lebih dalam, namun skrip membiarkannya menjadi karakter yang misterius, jika tidak mau disebut kurang jeli dalam mengembangkan karakter yang menarik. Penulis naskah John Swetnam memang tergolong kurang begitu berpengalaman dan melihat karya terakhirnya, Step Up All In, maka tak heran jika hasilnya masih seperti demikian.

Untunglah di bangku sutradara dipilih Steven Quale yang sedikit lebih berpengalaman dalam meramu pengadeganan dan timing yang pas untuk memainkan adrenalin penonton. Berbekal pengalaman yang serupa ketika menyutradarai Final Destination 5, Steven sekali lagi berhasil membuat penonton merasakan seolah benar-benar berada di tengah badai, atau yang disebut di dalam filmnya, in the eye of the storm. Pretty intense, sesekali berhasil membuat saya spontan berteriak atau sekedar memegang erat pegangan kursi bioskop. Skalanya mungkin tak sebesar Twister, The Day After Tomorrow, atau 2012, namun formula thriller-nya sebagai disaster movie sangat efektif dan berhasil.

Well, dengan ekspektasi yang tepat dan cukup, sebenarnya ITS masih termasuk film ringan yang sangat menghibur dan yang terpenting, sudah berhasil menjalankan misi utamanya sebagai disaster movie yang efektif.

The Casts

Aktor-aktris utamanya sebenarnya bermain dengan pas dan baik meski tak diberi perkembangan yang berarti oleh skrip. Saya menyukai akting Matt Walsh sebagai Pete, Richard Armitage sebagai Gary, dan tentu saja Sarah Wayne Callies sebagai Allison yang paling mencuri layar, baik karena pesona fisiknya maupun karakternya yang memang menarik.

Di deretan pemeran pendukung, Alycia Debnam Carey sebagai Kaitlyn bermain paling  baik. Goodbye speech-nya di saat genting mampu membuat saya sedikit merinding oleh aktingnya. Sementara Max Deacon sebagai Donnie terasa yang paling lemah di balik kecanggungan karakternya.

Technical

Konsistensi gaya visual memang yang paling banyak dikeluhkan dari ITS. Jika sengaja ingin teliti, konsistensi visual antara found footage dan sudut pandang orang ketiga konvensional memang terasa sangat mengganggu. Kualitas gambar ala digital yang super tajam untuk adegan ala found footage dengan kamera biasa juga terasa janggal. Tetapi jika Anda lebih suka fokus mengikuti storyline-nya ketimbang meneliti detail-detail tersebut, maka seharusnya gaya visual ITS tidak menjadi permasalahan yang begitu berarti.

Visual effect dan sound effect untuk adegan badai adalah tonggak utama disaster movie manapun. Dan untuk tujuan tersebut, ITS termasuk yang sangat berhasil menghidupkan adegan badai sehingga mampu memompa adrenalin penonton secara maksimal. Termasuk efek surround yang dimanfaatkan dengan maksimal di sini. Sayang untuk melewatkannya di layar lebar dengan dukungan tata suara yang memadai.

Terakhir, score dari Brian Tyler juga termasuk megah dan layak diberi apresiasi kredit khusus untuk tipikal disaster movie sejenis.

The Essence

Setiap orang punya pola pikir dan cara yang berbeda dalam menghadapi situasi bencana. Miris rasanya melihat perubahan karakter manusia jaman sekarang yang rela mengancam nyawanya sendiri demi kekayaan dan popularitas di dunia maya yang belum tentu berhasil. Karakter Pete dan timnya menurut saya menjadi menarik, karena memunculkan dilema antara hati nurani kemanusiaan atau obsesi yang sebenarnya juga penting atas nama perkembangan iptek. Meski tidak digali lebih dalam, ITS memunculkan potret-potret yang menarik dari manusia dalam menghadapi bencana alam yang tak terelakkan.

They who will enjoy this the most

  • Disaster movie enthusiast
  • Thriller movie fans
  • General audience who seek for light and terrifying entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates