Tuesday, July 15, 2014

The Jose Movie Review
Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya
(Peculiar Vacation and Other Illnesses)

Overview

Art house film Indonesia sebenarnya sudah cukup dikenal lewat film-film yang rajin dikirimkan ke berbagai festival international bergengsi. Sebut saja Puchon Film Festival, SXSW, Locarno International Film Festival, dan bahkan Cannes Film Festival. Memang tak banyak yang sebenarnya ditayangkan di bioskop komersil tanah air, mengingat penontonnya yang sangat terbatas. Lagi-lagi tempat alternatif untuk bisa menyaksikannya adalah festival film lokal. Namun ketika berhasil ditayangkan di bioskop komersil, tentu ini menjadi sebuah prestasi tersendiri. Apalagi mengingat jaringan bioskop komersil terbesar di Indonesia termasuk susah untuk ditembus film nasional jika bukan produser besar.
Tentu menyaksikan dan menikmati film art house memerlukan kacamata yang berbeda dengan film-film biasa. Namanya juga art house, jadi eksplorasinya bisa ke mana-mana dan seringkali tak lazim. Baik dari segi cerita yang diangkat maupun gaya penceritaannya. Jadi tak heran jika penontonnya masih tergolong segmented. Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (VyJ) karya Yosep Anggi Noen adalah salah satu art house asal Indonesia produksi 2012 yang sukses berkeliling berbagai festival film dunia dan kini akhirnya menyambangi layar beberapa bioskop secara terbatas.
Sebenarnya VyJ termasuk art house yang tak terlalu susah untuk menterjemahkan bahasa-bahasa gambar dan semiotika-nya. Seperti yang pernah disampaikan saat pidato kemenangan di Apresiasi Film Indonesia 2013, Yosep mengajak untuk memperlakukan film bukan hanya sebagai produk hiburan, melainkan juga sebagai produk budaya. Maka melalui VyJ, ia tak hanya memperkenalkan budaya melalui dialog, gambar-gambar panorama alam, dan perilaku masyarakat Jawa Tengah yang terasa begitu otentik dan natural, tetapi juga melalui unsur-unsur psikologis yang mewakili masyarakat Jawa pada umumnya. Bagaimana karakter utamanya membiarkan permasalahan (dalam konteks ini, rumah tangga) dalam keheningan. Tapi seperti kebiasaan kita pula, kita jadi bisa tau permasalahannya melalui percakapan-percakapan yang terjadi dan menyimpulkannya sendiri. Tak hanya memasukkan dialog dan adegan yang relevan dengan alur cerita utama. Terkadang VyJ juga mendokumentasikan ”produk-produk” budaya lokal yang mungkin suatu hari bakal jadi barang langka, misalnya proses membotolkan bensin curah yang akan dijual lagi, mitos tentang cacar air yang masih sering dipercaya oleh masyarakat setempat, sampai mitos sial jika menabrak kucing. Mungkin tak semua bisa memahami apalagi menikmatinya, tetapi pasti ada juga penonton yang tersenyum-senyum menyaksikan adegan dan mendengarkan dialog-dialog seperti ini.
Tak sulit sebenarnya memahami dan menikmati VyJ, karena ia tak terlalu bermain-main dengan bahasa simbol alias semiotik yang rumit. Sama seperti menganalisa sesuatu dari kejadian sehari-hari untuk memahaminya, VyJ terasa mengalir begitu saja. Tanpa tujuan maupun solusi tertentu. Menarik, tetapi tak sampai menjadi film yang kelewat istimewa. Ya anggap saja diajak jalan-jalan seputar Jawa Tengah dengan bonus bisa ngepoin konflik rumah tangga orang. Simple, tapi siapa sangka kita juga bisa belajar dari sana.

The Casts

Agak susah menilai penampilan aktor-aktor yang bermain di VyJ, termasuk karakter-karakter utamanya. Faktor utamanya adalah kamera yang seringkali membidik karakter-karakternya dari belakang. Tapi dari dialog-dialog yang dibawakan dengan kental logat Jawa Tengah-nya, kesemuanya tampil natural. Tak perlu kemampuan akting tertentu, kesemua aktornya seperti sedang menjadi diri sendiri dan melakukan kegiatan sehari-hari. Namun yang pasti chemistry antara Christy Mahanani (Ning) dan Muhammad Abe Baasyin (Mur) terasa sangat kuat sepanjang durasi.

Technical

VyJ termasuk film indie yang sangat terasa dari segi gambar dan tata suaranya. Meski demikian gambar VyJ tidak sampai diabaikan begitu saja. Terutama sekali ketika mengambil gambar-gambar panorama alam Dieng dan wideshot. Di adegan-adegan dengan cahaya minim pun tak tampak mengganggu penglihatan. Semuanya tersaji dengan pas. Begitu juga tata suara yang terdengar seimbang antara dialog, ambience, dan scoring-nya. Meski sesekali masih ada dialog yang terdengar kurang menyatu dengan ambience-nya. But overall it’s still fine to me.

The Essence

VyJ membidik permasalahan rumah tangga, terutama karena tak berfungsinya peran dari suami. Meski demikian kedua pihak memilih untuk berdiam dan mencari pelariannya sendiri-sendiri. Memang tak sampai merusak rumah tangga (kita tidak tahu itu), tetapi mau sampai kapan membiarkan permasalahan berlarut-larut tanpa ada solusi?

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang dekat dengan budaya Jawa, terutama Jawa Tengah
  • Arthouse enthusiast
Lihat data film ini di IMDb dan filmindonesia.or.id. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates