Sunday, July 13, 2014

The Jose Movie Review
Transformers: Age of Extinction

Overview

Transformers again. Terakhir, Michael Bay sudah menyatakan tidak tertarik untuk menggarap lagi seri franchise termegah dan terbesar itu. Saya sempat sedikit bernafas lega karena tidak akan melihat robot-robot ini berkeliaran lagi, setidaknya selama beberapa tahun ke depan, sebelum Paramount-Hasbro merasa perlu untuk me-reboot franchise akbar ini dengan tangan komando lain. Well money talks, and here we are… Michael Bay has swallowed his own saliva and returned with the fourth installment yang konon katanya sebuah permulaan yang baru bagi franchise ini. Melihat karakter yang memang benar-benar dirombak, hal ini sempat membuat rasa ketertarikan saya sedikit muncul. Apalagi ternyata trailernya juga sangat menjanjikan. So yes, I gave him one more chance, tetapi tentu saja dengan ekspektasi serendah-rendahnya. Sama rendahnya ketika menyaksikan Revenge of the Fallen (RotF) dan Dark of the Moon (DotM).

Oh yes, Michael Bay masih menorehkan ke-khas-annya di sana-sini. Baik yang bagus maupun yang mengganggu dari seri-seri Transformers sebelumnya. Mulai frog shot, flare, hingga slow-mo dengan patriotic score, semuanya masih dipertahankan. Bahkan durasinya pun terus membengkak menjadi 165 menit. Tapi satu hal yang patut saya akui adalah Age of Extinction (AoE) punya storytelling yang jauh lebih nyaman untuk diikuti dan dinikmati dibandingkan RotF maupun DotM. Karakter-karakter manusia baru memang tak banyak memberikan kontribusi cerita, bahkan cenderung mencoba untuk mengulang formula Armageddon, meski belum bisa mencapai tingkat emosional yang setara. Tetapi effort-nya untuk merefresh kisah manusiawi di balik bombardir pertarungan akbar para robot raksasa, boleh lah. Penambahan karakter robot-robot justru menjadi refresh yang paling menarik dan harus diapresiasi. Interaksi dan dialog antar robot yang di seri-seri sebelumnya tergolong terabaikan dan tidak begitu penting, di sini menjadi jauh lebih menarik dan hidup. Setidaknya sentuhan midas milik tangan Bay yang sempat membuatnya berjaya di scene film action era 90-an perlahan telah kembali. Semoga saja perkembangan bagus ini terus terjadi di seri-seri bahkan film-film action lainnya.

Tentu saja continuity error dan logic error bertebaran di sana-sini dan mungkin bisa mengganggu kenyamanan menonton. Tetapi dua aspek ini sudah saya abaikan jauh-jauh sejak RotF, sehingga ketika masih menjadi penyakit di AoE, saya memilih untuk tetap mengabaikannya demi kenyamanan tujuan utama saya menonton seri Transformers: menikmati pertarungan-pertarungan epic para robot yang sukses menghancurkan peradaban manusia. Yes, I have to admit the fun of destruction movies. Thanks to Bay and his Transformers universe.

Dua setengah jam lebih bukanlah durasi yang aman untuk film yang sebenarnya hanya menjual adegan-adegan aksi tanpa henti seperti Transformers. AoE pun masih dengan formula lama Bay yang membombardir penontonnya dengan adegan aksi demi adegan aksi tanpa henti. Bagi beberapa penonton mungkin lama-kelamaan akan terasa melelahkan. Tapi jika Anda sama halnya dengan saya, just enjoy the moment which just flow, you will find it very enjoyable and worth every penny and time you’ve spent to queue.

The Casts

Mark Wahlberg menjadi sorotan utama sepanjang cerita dan dengan kharisma aktingnya yang sudah khas, menjadikan kisah manusiawi AoE hidup dan menarik. Lebih menarik ketimbang kisah Sam Witwicky di seri-seri sebelumnya yang sudah mulai melelahkan. Daya tarik seksual Nicola Peltz mungkin tidak sebesar Megan Fox ataupun Rosie Huntington Whiteley, namun harus diakui karakter yang mainkan masih jauh lebih hidup dan menarik ketimbang Mikaela maupun Carly yang hanya terkesan tempelan pemanis. Pendatang baru lainnya, Jack Reynor yang memerankan Shane pun tampil cukup menarik.

Di deretan aktor senior, Stanley Tucci memerankan karakter yang berbeda dari tipikal peran yang biasa ia mainkan. Dengan gesture dan tampilan ala Steve Jobs, karakternya menjadi salah satu yang memorable sepanjang durasi. Tentu saja penampilan Li Bingbing yang berhasil mencuri perhatian, tak boleh dilupakan begitu saja untuk diberikan kredit.

Technical

What’s best about Transformers jelas adalah visual effect-nya. Tak terkecuali di AoE, Anda akan memaafkan segala kekurangannya berkat sinergi luar biasa dari visual effect dan sound effect-nya yang memang paling maksimal. Efek surround dan deep bass belum pernah sedahsyat, semantap, dan sehidup ini. Meski demikian, tak pernah sampai terkesan berisik dan berlebihan.

Efek 3D yang digunakan pun menambahkan kesan hidup dan real dari adegan-adegan dahsyat yang ia bombardir sepanjang durasi. Sangat mengesankan. Rugi jika Anda sampai tak menyaksikan versi 3D-nya.

The Essence

Manusia selalu merasa paling pintar dalam segala hal, untuk hal-hal licik sekalipun. Tanpa disadari sebenarnya pihak musuh bisa saja lebih cerdas dan membalik keadaan. Bukan mereka yang dimanfaatkan, tetapi sebaliknya, justru mereka yang memanfaatkan manusia untuk memuluskan rencana yang lebih besar. So human, keep your arrogance away!

They who will enjoy this the most

  • Transformers fans
  • Visual effects enthusiast
  • General audiences who seek for exciting instant entertainment
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates