Sunday, July 13, 2014

The Jose Movie Review
Dawn of the Planet of the Apes

Overview

Planet of the Apes (PotA) bisa dikatakan sebagai salah satu franchise sci-fi paling tua di ranah dunia hiburan populer. Diangkat dari novel Perancis karya Pierre Boulle tahun 1963, PotA pertama kali diangkat ke layar lebar tahun 1968 dengan bintang papan atas saat itu, Charlton Heston, dan sudah dibuatkan sampai seri ke-5. Sempat diangkat menjadi serial TV dan di-remake dengan visi ala Tim Burton tahun 2001 dengan bintang Mark Wahlberg, Helena Bonham Carter, dan Michael Clarke Duncan. Update terbaru adalah reboot yang dilakukan sutradara Rupert Wyatt tahun 2011 dengan titel Rise of the Planet of the Apes. Tak hanya me-reboot cerita, ia memulai dengan sebuah prekuel dengan berbagai referensi dari materi aslinya dan modifikasi cerita agar terasa lebih modern dan real. Hasilnya cukup luar biasa. Berhasil mempertahankan reputasi PotA sebagai salah satu franchise sci-fi yang tak hanya cerdas dari segi filosofis dan konsep besar cerita, namun juga menyajikan thriller yang haunting.

Maka Dawn of the Planet of the Apes (Dawn) menjadi salah satu film paling dinantikan di tahun 2014 ini. Menurut saya, agak susah membandingkan Dawn dengan Rise, karena universe-nya (terutama dari segi karakter-karakter manusia) benar-benar berbeda. Ia mengambil setting 10 tahun setelah ending Rise dimana manusia sudah bukan lagi menjadi spesies dominan di muka bumi gara-gara virus yang tersebar di ending Rise. Cerita yang disajikan di sini merupakan perkembangan jauh ke depan dari sebelumnya. Style story telling-nya pun mengalami perubahan yang cukup signifikan sebagai imbas dari berpindahnya bangku sutradara ke Matt Reeves. Maka jika ditanya bagus mana antara Rise dan Dawn, saya tidak bisa memutuskannya begitu saja. Jawabannya bisa berbeda antara satu penonton dengan yang lainnya, sesuai selera masing-masing.

Benang merah yang masih bisa dilihat antara kedua seri ini adalah karakter kera mutasi, Caesar, dan beberapa karakter kera lainnya seperti Koba dan Maurice. Hampir lebih dari separuh porsi cerita Dawn adalah perkembangan ketiga karakter ini. Jadi bersiap-siaplah untuk mengikuti cerita dengan tak banyak dialog di separuh awal film, karena karakter-karakter kera ini lebih banyak menggunakan bahasa isyarat. Ketegangan cerita mulai terasa ketika karakter-karakter manusia mulai dimunculkan. Dan semakin kedua kubu ini saling berinteraksi, cerita berkembang menjadi semakin gelap dan mengerikan. In a positive way, of course. Dilematis antara membuat penonton pro-manusia atau pro-kera menjadikan point of view Dawn menarik. In the end ia menampilkan keseimbangan yang sangat pas antara kedua point of view ini hingga penonton menemukan kesimpulannya sendiri melalui filosofisnya yang ironis.

Jangan khawatir jika Anda termasuk penonton yang mengharapkan adegan battle yang seru dan memanjakan mata-telinga. Dawn menyimpannya di klimaks dan berhasil terlihat epic. That’s the best part of Dawn, yang mungkin juga turut menjadikannya salah satu film terbaik tahun ini.

The Casts

Perhatian utama sepanjang film tentu saja kera-kera yang tampak begitu menakjubkan dan hidup. Totally apes namun dengan improvement-improvement khas manusia. Menakjubkan sekaligus mengerikan membayangkan jika benar-benar ada. Peran Andy Serkis semakin penting seiring dengan porsi yang semakin besar di sini. Karakter Caesar menjadi yang paling menarik dengan kharismanya.
Di sisi karakter manusia, Jason Clarke tampil cukup mengesankan. Begitu juga Keri Russell yang mengimbangi kharisma Jason dengan karakternya yang hearty dan loveable. Namun penampilan khas dari Kodi Smit-McPhee sebagai Alexander lah yang paling mencuri perhatian penonton. Wajahnya yang khas dan kharismatik berhasil menutupi peran karakternya yang sebenarnya tak begitu banyak.

Sementara aktor watak yang sering memerankan karakter-karakter nyentrik, Gary Oldman, kali ini mengisi peran yang tak begitu menarik dan cenderung biasa saja. Meski masih mampu memerankannya dengan baik, namun sebenarnya saya merasakan sayang dengan kemampuan akting Gary yang saya yakin worth a much much more interesting character.

Technical

Seperti biasa, pertama saya harus menyematkan kredit terbesar untuk tim make up dan visual effect yang berhasil menghidupkan kera-kera ini menjadi jauh lebih real dibandingkan sebelum-sebelumnya. Didukung akting para pemerannya dengan teknik motion capture, kera-kera ini tampak sangat real, baik dari segi tampilan fisik maupun gesture.

Aspek teknis lain yang paling menonjol bagi saya adalah score dari Michael Giacchino. Tak hanya memberikan kesan ironic, epic, dan berkelas, Michael juga menyelipkan beberapa elemen yang mengingatkan saya akan film-film thriller 70-80’an. Memberikan warna tersendiri dalam menghidupkan adegan-adegannya.

Kredit berikutnya saya berikan kepada sinematografi Michael Seresin yang berhasil merekam semua desain produksi dalam angle-angle yang sempurna.

The Essence

Sama seperti Caesar, kita sebagai manusia sering merasa sebagai makhluk yang paling sempurna, jauh lebih baik dibandingkan makhluk atau spesies lain. Padahal apapun spesiesnya, bisa saja menjadi pihak yang baik maupun licik.

They who will enjoy this the most

  • The franchise’s fans
  • Sci-fi enthusiast
  • Audiences who like movies with certain philosophical base
  • General audiences who seek for exciting entertainment 
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Achievement in Visual Effects
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates