Wednesday, June 25, 2014

The Jose Movie Review
Selamat Pagi, Malam
(In the Absence of the Sun)

Overview

Jakarta tak pernah ada habisnya menjadi sumber inspirasi sineas kita. Bukan hanya karena menjadi ibukota negara, tetapi lebih karena permasalahan-permasalahan klasik yang semakin lama bukannya semakin membaik, tetapi semakin parah. Mulai dari masalah sosial, kemiskinan, kemacetan... banyak lah. Tapi yang menarik untuk dibahas adalah benturan budaya yang terjadi di dalamnya sebagai pot besar, tempat percampuran berbagai keragaman yang luar biasa. Benturan budaya yang menghasilkan lifestyle unik dari masyarakatnya. Sinema kita tak pernah berhenti mengangkatnya ke layar, toh meski problematikanya sama, trend lifestyle selalu bergeser dan berubah-ubah.
Salah satu yang concern (atau gemar?) dengan lifestyle warga ibukota adalah Nia Dinata dan kawan-kawan yang beberapa kali mengangkatnya menjadi komedi satir yang menggelitik. Mulai Arisan! yang menjadi pelopor, dilanjutkan sekuelnya yang lebih menonjolkan sisi komedi satir dengan cerewet ketimbang esensi cerita utamanya, Arisan! 2. Maka kali ini Lucky Kuswandi yang juga masih ’satu genk’ dengan Teh Nia (Lucky pernah menyutradarai Madame X yang merupakan produksi Kalyana Shira milik Teh Nia, serta menjadi editor Arisan! 2), menulis dan menyutradarai film sejenis dengan tajuk Selamat Pagi, Malam (SPM), meski kini berada di bawah bendera Kepompong Gendut yang pernah memproduksi Cin(T)a dan Demi Ucok.
Tak jauh berbeda dengan formula Arisan! dan Arisan! 2, SPM juga kental dengan komedi-komedi satir yang mengolok-olok gaya hidup warga Jakarta. Kacamata yang dipilih untuk mewakili pun sangat menarik. Pertama, Gia, seorang wanita 30 tahunan yang baru pulang dari New York setelah 9 tahun meninggalkan Jakarta. Ia mendapati Jakarta menjadi sekumpulan orang-orang yang harus hidup dengan topeng-topeng urban. Bahkan sahabatnya, Naomi yang dulu menemaninya di New York, sudah menjadi bagian dari kaum hedonis ibukota. Kedua, Indri, wanita 20 tahunan dari kalangan menengah yang berusaha naik status sosial melalui kencan buta dengan pria kaya. Terakhir, Cik Surya, tante-tante etnis Tionghoa yang suaminya baru saja meninggal dunia dan mendapati bahwa selama ini suaminya doyan main perempuan di kawasan remang-remang.
Ketiganya berhasil menyajikan perilaku, dialog, serta situasi yang menggelikan, meski sebenarnya sudah lazim sehari-hari terjadi di ibukota. Hasilnya, penonton seperti diajak mentertawai kehidupan yang dijalaninya sehari-hari, tanpa harus merasa tersinggung. Formula yang sebenarnya sudah kerap diusung ke layar lebar, namun tetap saja menjadi hiburan tersendiri bagi khazanah sinema kita. Memang, SPM hanya bercerita tentang kehidupan di Jakarta, tetapi saya yakin juga terjadi di kota-kota besar Indonesia lainnya. Saya yang tinggal di Surabaya saja sudah bisa merasakannya.
Meski kental dengan komedi satirnya, bukan berarti Lucky membuat SPM tanpa konsep dasar yang kuat. Jika dianalisis lebih dalam, Gia, Indri, dan Cik Surya tengah mencari-cari ’tempat’ yang pas buat mereka di ibukota. Ketiganya digambarkan hidup di salah satu dunia Jakarta dan sedang mencoba hidup di dunia Jakarta yang satunya lagi: kawasan elit dan kawasan remang-remang pinggiran. Semuanya ditampilkan dengan simbol-simbol sosial yang pas namun tetap mudah dipahami dan dinikmati. SPM memang tidak bermaksud untuk menawarkan solusi apa-apa. Toh memang sebenarnya permasalahan yang ada tidak butuh solusi apa-apa. Semua soal pilihan. Ending SPM pun juga tidak memberikan petunjuk pilihan apa saja yang diambil oleh karakter-karakter utama kita. Alur cerita dari masing-masing karakter dibiarkan mengalir seperti apa adanya hidup. Setelah dibuat tertawa sepanjang film, penonton akan dibuat merasakan mellow-nya Jakarta di ending, dan membuat saya merefleksikan semua yang baru saja saya tonton. Terapi yang sederhana, bukan hal yang baru, namun cukup adiktif untuk terus mengalaminya. Sama masokis-nya dengan tinggal di Jakarta: sudah tahu serba susah dan tidak enak, tapi tetap saja bikin kangen.

The Casts

Adinia Wirasti sekali lagi memerankan karakter yang sudah sangat melekat dengan dirinya selama ini. Still charming as usual, meski tipikal. Marissa Anita yang selama ini kita kenal sebagai presenter news, ternyata memiliki bakat akting yang cukup menjanjikan dan ditunjukkannya di sini. Konon, katanya karakter Naomi memang tidak jauh-jauh dari kepribadian Marissa yang asli, tetapi penampilannya di layar harus diakui memikat.
Ina Panggabean cukup baik memerankan Indri meski tak begitu istimewa juga. Sementara scene stealer yang mampu menarik perhatian sepanjang film adalah Dayu Wijanto sebagai Cik Surya dan Trisa Triandesa sebagai Faisal. Waiting forward to see them both in our screen.

Technical

Semangat indie sangat terasa dalam SPM, baik dari segi gambar dan suara. Namun bukan berarti buruk, karena kualitas gambar dan pencahayaannya termasuk sangat baik. Angle-angle cantik pun berhasil membingkai banyak sudut malam Jakarta, termasuk insert-insert adegan yang banyak menyorot kehidupan kalangan bawah ibukota. Editing yang dilakukan oleh Lucky Kuswandi pun tertata dengan rapi dan tidak membingungkan, meski harus bercerita dari tiga kacamata yang berbeda.
Sayang minus kecilnya adalah sound effect yang sering terasa kasar dan kurang menyatu dengan detail-detail suara lainnya. Meski demikian setidaknya dialog dan efek-efek suara lainnya masih nyaman untuk didengarkan.
Bonus lagu Pergi untuk Kembali yang dibawakan oleh Dira Sugandi sebagai penghantar keluar yang lirih dan pahit, tetapi sukses menjadikan SPM sepaket bittersweet yang indah untuk Jakarta di hari jadinya yang ke-487.

The Essence

Kita boleh saja berangan-angan ingin menjadi bagian dari kalangan tertentu karena terlihat serba enak. Padahal belum tentu hidup di kalangan tersebut bisa membuat kita benar-benar nyaman dan bahagia. Semuanya tergantung pilihan akhir. Toh semua pilihan membawa konsekuensi masing-masing yang mau tak mau harus dijalani juga.

They who will enjoy this the most

  • Penonton yang paham dan hidup sehari-hari di lingkungan dengan gaya hidup urban
  • Penggemar humor satir

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id dan IMDb.
Lihat situs resmi film ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates