Tuesday, June 10, 2014

The Jose Movie Review
Oculus



Overview

Beberapa tahun belakangan genre horor semakin jarang muncul, terutama dari Hollywood. Paling-paling hanya ketika Halloween saja baru bermunculan. Tahun lalu saja bisa dihitung dengan jari yang benar-benar memorable. Dua di antaranya berasal dari James Wan yang sukses besar dengan The Conjuring dan Insidious: Chapter 2. Namun keduanya bagi saya masih tergolong “biasa” meski harus diakui bagus dalam berbagai aspeknya. Yang sangat “mengganggu” saya hingga kini sebenarnya adalah Sinister yang rilis 2012 lalu. Formula horornya yang lebih memainkan aspek psikologis melalui fantasi, bukan hanya sekedar penampakan atau eerie score, berhasil mengusik pikiran saya untuk jangka waktu yangcukup lama. Tentu saja tidak semua penonton menyukai film horor seperti ini, tapi pendekatan serupa sebenarnya tergolong jarang digunakan. Salah satunya yang saya temukan lagi adalah Oculus.
Meski mungkin efek traumatis dari Oculus tidak sekuat ketika saya menyaksikan Sinister, tapi ia punya pesonanya sendiri. Di awal-awal ketika memperkenalkan karakter dan sosok misterius dari cermin terkutu yang menjadi objek horor di sini, Oculus memang berjalan agak membosankan. Lebih terasa seperti kisah misteri ketimbang aroma horornya. Namun perlahan-lahan cerita bergerak menjadi semakin menegangkan dan mengerikan ketika penonton (dan tentu saja karakter-karakter utamanya, Kaylie dan Tim) tak lagi bisa menebak mana yang nyata dan mana yang merupakan manipulasi dari cermin terkutuk tersebut.
Cerita semakin menarik karena mencampur-adukkan adegan flashback ketika Kaylie dan Tim masih kecil, dengan masa kini yang berjalan back and forth. Penonton bisa jadi sedikit kebingungan, namun pada akhirnya tak sampai membiaskan cerita. Selain mampu menjelaskan kejadian di masa lalu dengan efektif, pencampuran adegan ini dirangkai sedemikian rupa sehingga terasa berhubungan secara langsung antara masa lalu dan masa kini, atau bisa jadi membuat penonton menduga bahwa yang ditampilkan di layar adalah imajinasi yang diciptakan oleh si cermin. Terserah bagaimana persepsi Anda sebagai penonton, yang pasti kesemuanya semakin menambah ketegangan serta kengerian selama durasi berjalan. Selain tentu saja rasa penasaran dengan apa yang sebenarnya dan akan terjadi kemudian.
At the end, Oculus adalah tipikal horor yang membuat penontonnya terdiam karena feel bad dan disturbed for what’s happened to the characters saat credit title mulai berjalan. Bukan karena adegan penampakan (yang meski tetap ada, tetapi bukanlah sumber kengerian yang utama), bukan karena adegan slasher atau gore, tetapi akibat dari permainan fantasi yang diciptakan sepanjang film dan rasa simpati penonton kepada karakter-karakter utamanya.
So Oculus memang bisa jadi menegangkan dan mengerikan bagi penonton yang menyukai tipe horor seperti ini. Secara objektif, ia juga menawarkan pendekatan yang cukup fresh dalam bercerita maupun mengembangkan nuansa horornya. Pretty impressive.

The Casts

Dua bintang utamanya, Karen Gillan dan Brenton Thwaites memang belum begitu dikenal sebelumnya. Namun permainan serta chemistry keduanya terasa pas. Karen Gillan sebelumnya kita kenal lewat serial Doctor Who, tampil memukau. Dengan wajah yang khas dan kharisma aktingnya, bukan tidak mungkin karirnya akan terus menanjak. Sementara Brenton jelas sudah punya karir ke depan yang bagus. Selain di sini, ia juga baru saja kita lihat sebagai Prince Phillip di Maleficent, dan siap-siap di The Giver bersama Meryl Streep dan Alexander SkarsgÄrd, yang diantisipasi sejak lama.
Meski demikian, yang paling mencuri perhatian sepanjang durasi adalah aktor-aktris cilik, Annalise Basso dan Garrett Ryan sebagai Kaylie dan Tim kecil. Kalau mau ditilik dari segi cerita, mereka berdualah yang mendapatkan traumatik paling dalam secara langsung, dan hebatnya, keduanya berhasil mengekspresikannya secara maksimal. Sekedar catatan, Garrett Ryan sebelumnya pernah tampil juga di Insidious: Chapter 2 sebagai Josh cilik.

Technical

Editing yang dipegang oleh sang penulis naskah sekaligus sutradara sendiri, Mike Flanagan, memegang peranan yang paling penting dalam menjaga ketegangan dan kontinuitas cerita dengan baik. Adegan back and forth pada akhirnya tidak menjadi sesuatu yang membingungkan, justru menjadi senjata yang ampuh untuk membangun ketegangan. Ditambah sinematografi yang indah sekaligus efektif oleh Michael Fimognari dan production design dari Russell Barnes yang menambah suasana ngeri.
Tata suara terdengar pas untuk menyampaikan suasana menegangkan dan mengerikannya. Tentu saja score dari The Newton Brothers yang cukup mendukung nuansa seram, meski tak se-disturbing score Insidious: Chapter 2.

The Essence

The best way to handle something we don’t know how to handle at all, is to stay away with it. Tidak ada gunanya berusaha membalasnya, meski dengan tujuan menjaga kehormatan.

They who will enjoy this the most

  • Penonton penyuka horor yang dibangun melalui teror psikologis
  • Pecinta kisah-kisah misteri
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates