Thursday, June 26, 2014

The Jose Movie Review
How to Train Your Dragon 2

Overview

Di antara sekian banyak animasi yang diproduksi oleh DreamWorks, How to Train Your Dragon (HTTYD) termasuk salah satu yang paling tidak memorable bagi saya. Maafkan saya jika judul tersebut masuk dalam daftar film animasi favorit Anda, tetapi memori tidak bisa bohong. Saya sempat mengecek kembali review saya sendiri atas HTTYD pertama. Saya mendapati komentar-komentar positif dari diri saya sendiri (itulah pentingnya mendokumentasikan pendapat tentang film-film yang sudah ditonton, bagi saya), tapi jujur, saya tidak mengingat sama sekali detail film ini, kecuali nama karakter Toothless dan Hiccup. Bukan perkara bagus atau tidaknya, tetapi kekuatan brand franchise bisa punya pengaruh yang lebih besar ketimbang kualitas filmnya sendiri. Coba tanya siapa saja, jika menyebut DreamWorks Animation, maka jawaban yang bakal sering keluar adalah Shrek, Kung Fu Panda, atau Madagascar. Mungkin dengan bertambahnya seri, seharusnya HTTYD bisa juga menjelma menjadi salah satu franchise yang kuat andalan DreamWorks. Semoga.
Maka ketika muncul sekuelnya, HTTYD2, jujur saya tidak begitu bersemangat. But I was watching it anyway with no expectation (and of course with no story of the first part remains on my memory), just to spend my spare time. And hey, ternyata saya sangat menikmati petualangan Hiccup, Toothless, dan karakter-karakter barunya. Ingatan saya tentang cerita dan universe yang dibangun bagian pertamanya sedikit demi sedikit muncul. Kisah yang tergolong sederhana itu ternyata mampu dikembangkan dengan sangat baik di bagian ke-dua ini. Mulai twist bertemakan keluarganya yang hangat dan menyenangkan, hingga tampilan naga-naga yang semakin beragam dan harus saya akui, desain karakternya semakin bagus dan menarik. Kesemuanya menjadi paket cantik yang sayang untuk dilewatkan di layar lebar.
Kisah petualangan yang ditawarkan di sini sebenarnya sudah sering diangkat di film serupa dan tidak begitu memberikan efek ketegangan. Tak ada pula yang istimewa dari perkembangan karakter-karakter yang ada. Sama sekali tidak buruk, tetapi memang tidak ada yang benar-benar baru. Semuanya sudah kerap dilakukan di film-film animasi sejenis. Saya tidak begitu merasakan ketegangan dari adegan-adegan aksinya. Tidak juga merasakan keterancaman dari kehadiran villain utama, Drago Bludvist. Mungkin, cerita dan adegan-adegan yang disajikan lebih ditujukan kepada penonton anak-anak. Tapi yang pasti, saya menikmati petualangan bak mengendarai naga sungguhan berkat tata kamera dan efek 3D yang bekerja dengan sangat efektif.
HTTYD2 mungkin akan lebih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak, namun sisi komikal dan humor yang terasa kurang bisa jadi membuatnya mudah dilupakan oleh penontonnya. Mungkin faktor itu juga yang membuat saya tidak begitu mengingat seri pertamanya. Ada sih momen-momen lucu, tetapi hanya sekilas-sekilas. Sisanya kelewat serius. Hanya penampilan naga-naganya yang menggemaskana yang mungkin akan membuat beberapa penonton otomatis berceletuk “awwww...”.
Di balik segala ke-standard-annya, jelas kemampuannya membawa penonton seolah ikut bertualang naik naga menembus awan serta kehangatan sisi kekeluargaannya, sudah cukup membuat HTTYD2 menjadi sebuah pengalaman yang asyik dan wajib dinikmati di layar lebar. Perkara akan bertahan lama dalam ingatan atau tidak, itu urusan nanti.

The Casts

Tak ada yang begitu unik dan menonjol dari jajaran pengisi suaranya, terutama yang sudah pernah tampil di seri pertamanya, seperti Jay Baruchel (Hiccup), Gerard Butler (Stoick), dan America Ferrera (Astrid). Tapi suara kharismatik Cate Blanchett sebagai Valka menjadi daya tarik tersendiri. Sementara Kit Harington (Eret) dan Djimon Hounsou (Drago) cukup merepresentasi karakter masing-masing dengan baik.

Technical

Seperti yang pertama, HTTYD2 menawarkan visualisasi yang luar biasa. Detail gambar latar yang sangat nyata, sehingga kita tidak akan mengira sebagai film animasi jika tak ada karakter-karakternya. Desain kota Berk dan pulau tempat Valka tinggal terlihat luar biasa indah. Desain karakter-karakter naga yang dihadirkan juga mengalami perkembangan cukup besar dari yang pertama.
Efek 3D menjadi salah satu faktor yang membuat HTTYD2 wajib disaksikan di layar lebar (yang memiliki format 3D, tentu saja). Efek depth-nya sangat luar biasa. Meski tak ada efek pop-out yang begitu terasa, namun efek sinematografinya, terutama setiap kali ada objek bergerak menuju ke arah layar, berhasil membuat saya beberapa kali memicingkan mata. Clever trick.
Tata suara yang menggelegar turut mendukung visualisasi yang membawa penonton ke dalam petualangannya, terutama berkat efek surround yang dimanfaatkan secara maksimal.

The Essence

Well, not everything will work on what we believed in. Sometimes, we need to take other than our way.

They who will enjoy this the most

  • Anak-anak, terutama di bawah usia 10 tahun
  • General audiences who seek for an exciting adventure experience
  • Penggemar makhluk-makhluk menggemaskan
  • Cocok ditonton bersama sekeluarga
Lihat data film ini di IMDb.

The 87th Annual Academy Awards nominee(s) for

  • Best Animated Feature Film of the Year
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates