Monday, June 30, 2014

The Jose Movie Review
The Fault in Our Stars

Overview

Semua juga tahu bahwa jaman sekarang film dengan naskah asli tidak bisa menjual sebesar film dengan naskah adaptasi. Tak hanya di Indonesia, tapi juga di Hollywood. Coba hitung ada berapa banyak film dengan naskah asli yang sukses. Lantas bandingkan dengan film-film yang merupakan franchise atau diadaptasi dari sumber lain, seperti novel. Kalau dianalisis lagi, membuat film adaptasi punya jaminan sukses yang lebih besar daripada naskah asli yang terhitung masih gambling. Setidaknya fans materi aslinya sudah hampir pasti bakal menjadi penonton versi filmnya. Apalagi jika target utamanya remaja yang menjadi konsumen film tertinggi selama ini. Tak heran jika satu per satu novel remaja diangkat ke layar lebar. Yang terbaru, The Fault in Our Stars (TFIOS) karya John Green yang versi novelnya pernah menjadi bestseller di Amerika Serikat dan juga sudah menular ke seluruh dunia.
Saya belum pernah membaca versi novelnya, tapi it’s okay. Dengan demikian saya bisa memberikan insight yang lebih objektif tentang versi filmnya. Toh film adaptasi yang bagus seharusnya bisa berdiri sendiri dan tetap nyaman ditonton tanpa perlu mengetahui versi aslinya. TFIOS adalah film drama romance remaja dengan latar belakang penyakit mematikan. Era film drama yang memanfaatkan penderita penyakit mematikan sebagai bahan eksploitasi air mata sudah jauh lewat. Hollywood sudah beberapa kali mengangkat tema penyakit mematikan dengan sisi yang lebih realistis dan bahkan kemasan yang jauh dari tearjerker. Ambil contoh 50/50 yang justru lebih kental komedi nakalnya, atau My Sister’s Keeper dan Dallas Buyers Club yang lebih menyoroti sisi-sisi realistis lainnya untuk digali lebih dalam. Maka perpaduan genre drama penyakit mematikan dan romantisme remaja sebenarnya masih tergolong satu golongan, sehingga tidak terlalu istimewa, meski jatuhnya bisa manis jika paduannya pas.
Tak seperti Restless yang lebih dark meski tetap romantic dan sweet, TFIOS versi film termasuk yang berhasil tampil dominan manis tanpa harus menjadi terasa gombal. Menyentuh, tanpa harus menjadi tearjerker yang berlebihan. Bumbu yang paling menarik tentu saja dialog-dialognya yang konon sudah menjadi kekuatan versi novelnya. Manis, cerdas, terkadang dalam, dan yang pasti banyak sekali yang quotable. Tak heran jika saya berkali-kali dibuat tersenyum olehnya. Jika Anda mengharapkan TFIOS menjadi tearjerker, mungkin siap-siap sedikit kecewa. Karena TFIOS tidak serta-merta menggelar kepahitan-kepahitan secara vulgar yang memaksa penontonnya menangis. Biarkan diri Anda tenggelam dalam alur yang membelai lembut hingga tanpa terasa mata Anda berkaca-kaca.
Namun secara naskah, TFIOS terasa sekali terlalu sederhana, tanpa ada kelokan-kelokan berarti. Tak ada pula titik yang membuat saya merasakan begitu wow. Tak ketinggalan karakter-karakter pendukung yang seharusnya punya potensi dikembangkan dan dikaitkan lebih banyak dengan kisah ataupun karakter sentral, dibiarkan begitu saja bak tempelan. Skenario seolah membiarkan karakter dua sejoli kita, August Waters dan Hazel Grace hanya tinggal berdua di atas bumi ini. Padahal menurut saya karakter Van Houten sangat menarik dan saya sempat berharap ia bisa menjadi kunci dari inti cerita. Sayang karakternya disia-siakan oleh skenario. Alhasil romance adalah aspek cerita yang paling mendominasi ketimbang esensi-esensi mendalam lain yang terpaksa jadi porsi nomer sekian.
Saya curiga skenario berusaha sesetia mungkin dengan versi novel sehingga enggan untuk membuat terlalu banyak inovasi agar versi filmnya menjadi lebih spicy dan terasa lebih bermakna secara sinematik. Jelas sekali media novel dan film sanagat berbeda, sehingga treatment-nya juga seharusnya berbeda agar bisa “menyentuh” audience-nya. Tak harus menjadi tearjerker nomer satu, yang penting mampu membuat penontonnya merasa klimaks dengan epiphany-nya, sudah lebih dari cukup. Tapi jika Anda adalah fan setia versi novelnya, maka Anda akan berkali-kali bersorak sorai, ikut mengucapkan dialog-dialog favorit Anda, dan bahkan larut dalam tangis haru, karena berbaur dengan pengalaman Anda ketika membaca novelnya.
Well, di balik segala kelebihan dan kekurangannya, TFIOS yang hadir sebagai film remaja dengan kemasan lebih “dewasa” dan “dalam” ketimbang tipikal film remaja umumnya dewasa ini, tetap harus disambut sebagai warna tersendiri yang berbobot namun tetap manis.

The Casts

Salah satu kekuatan terbesar TFIOS adalah chemistry yang klop antara Shailene Woodley dan Ansel Elgort. Meski sebelumnya pernah tampil bersama di Divergent, namun sebagai saudara kandung di Divergent dan sepasang kekasih di TFIOS jelas butuh chemistry yang berbeda. Dan mereka berhasil menghidupkan chemistry yang pas di sini. Pun sebagai masing-masing karakter, keduanya juga tampil bagus.
Di jajaran pemeran pendukung, Laura Dern dan Willem Dafoe cukup menjadi scene stealer. Sayang keduanya tidak diberikan porsi yang layak sehingga mampu tampil sama kuatnya dengan Shailene dan Ansel. Sementara Nat Wolff (Isaac) juga tampil memikat sebagi penyegar suasana.

Technical

Soundtrack memegang peranan penting dalam mendukung suasana sepanjang film sehingga nuansa bittersweetnya sanagt terasa tanpa harus jatuh menjadi terlalu menye-menye. Mulai Ed Sheeran, Birdy, Charli XCX, hingga M83. Salah satu paket soundtrack yang wajib dimiliki albumnya.
Aspek lain yang patut diapresiasi adalah desain produksi, terutama divisi desain kostum dan setting yang membuat gambar menjadi berwarna dengan konsep yang matang. Sinematografinya berhasil merekam sudut-sudut kota Amsterdam dan interior-eksterior lain dengan indah. Tak ketinggalan editing yang juga memanfaatkan visualisasi text message dan e-mail untuk menambah nuansa youth-nya.

The Essence

Semua manusia dibatasi oleh usia. Meski punya usia hidup yang berbeda-beda, tetap saja semuanya punya batasan. Yang terpenting bukanlah seberapa banyak waktu yang diberikan hidup, namun memanfaatkan hidup dengan maksimal selama waktu yang diberikan. Salah satunya adalah memiliki seseorang yang paling penting untuk selalu berbagi dalam hidup.

They who will enjoy this the most

  • The novel’s fans
  • Teenagers, especially age 16-25 years old
  • Penggemar film romance yang manis
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates