Saturday, May 3, 2014

The Jose Movie Review
Transcendence

Overview
Nama Johnny Depp sudah sangat identik dengan peran-peran nyentrik, terutama Captain Jack Sparrow di Pirates of the Caribbean. Begitu kuat melekat pada dirinya hingga sulit untuk tidak melihat sosok Jack Sparrow di setiap peran yang dilakoninya. Kali ini dengan naskah sci-fi, Depp kembali mencoba untuk keluar dari bayang-bayang peran tersebut.

Naskah Transcendence sedianya akan dikerjakan oleh the one and only Christopher Nolan. Namun rupanya ia lebih memilih untuk menyelesaikan project Interstellar, sehingga bangku sutradara pun diberikan kepada DoP langganannya sejak Memento hingga The Dark Knight Rises, Wally Pfister. Nolan sendiri masih duduk di salah satu bangku executive producer.

Di atas kertas, Transcendence jelas punya premise yang sangat menarik. Apalagi kecenderungan ketergantungan manusia pada teknologi (internet) sudah semakin kritis. Trailer yang menjanjikan sci-fi thriller gelap dengan special effect memukau jelas menjadi daya tarik yang tak terelakkan. Tapi rupanya trailer dan premise yang ditulis di mana-mana termasuk misleading dengan hasil akhir film utamanya. Oh yes, it’s still a dark sci-fi. Tetapi nuansa thriller yang dibangunnya tidak seperti yang dijanji-janjikan di trailer. Awalnya ia memang membangun kisah dengan tensi yang cukup menjanjikan. Namun ketika penonton mengharapkan klimaks yang semakin epic, Transcendence beralih menjadi drama gelap yang sejatinya adalah kisah romance dengan balutan sci-fi. Tak ada pula destruktif masif skala besar di dalamnya, dan karakter Will Caster yang diperankan Johnny Depp tidak berubah menjadi evil villain tanpa wujud yang mengerikan. Ketegangan dan kengerian dibangun dengan suasana sunyi dan tenang, seperti halnya yang pernah ditunjukkan Solaris dari Steven Soderbergh. Jelas gaya seperti ini hanya bisa dinikmati oleh sebagian kecil penonton. Bukan berarti susah dipahami, hanya memang sulit untuk dinikmati.

Jika dicermati lebih dalam, sebenarnya dari naskah saja sudah kebingungan hendak membawa cerita ke arah mana: thriller sci-fi yang menyindir ketergantungan manusia terhadap teknologi yang berbuah kengerian berkat ambisi Will, atau romance antara Will Caster dan istrinya, Evelyn, atau juga perjuangan kaum anti teknologi yang mencoba menghentikan ambisi Will Caster? Ketiganya menjadi saling tumpang tindih dan berebutan porsi sehingga hasil akhirnya menjadi serba mentah. Kalau mau dibanding-bandingkan, pada akhirnya porsi romance Will-Evelyn lah yang menjadi paling kuat sebagai konklusi. Manis dan romantis, tapi tetap saja kurang bisa menjadi berkesan untuk jangka waktu yang lama bagi banyak penonton karena kemasannya yang gelap, serta berbagai kepentingan yang ingin disisipkan.

Transcendence memang bukan termasuk karya yang buruk-buruk sekali, namun promosi yang misleading telah meracuni ekspektasi penonton dan gagal untuk tampil berkesan. Bahkan ia masih terlalu lemah untuk bisa jadi karya cult beberapa tahun ke depan. Not a bad debut for Wally Pfister, but still not an impressing one either.

The Casts

Johnny Depp sebagai magnet utama penonton memang tampil memukau, as usual. Terutama sekali ketika berwujud digital, dimana ia bisa terasa mengintimidasi dan mengerikan meski tanpa harus menunjukkan ekspresi fierce. Tapi di saat yang sama, ia juga menunjukkan kelembutan kasih sayang kepada istrinya, Evelyn. Sehingga penonton tidak sampai membenci, malah memiliki sedikit empati kepada karakter Will. Rebecca Hall juga berhasil mengimbangi akting Johnny, meski ada sedikit kelepasan tampil biasa, padahal seharusnya tampak depresi dengan apa yang dialami suaminya.

Di lini pemeran pendukung, Paul Bettany terasa menonjol, melebihi karakter-karakter yang pernah dilakoninya sebelum ini. Tapi sayangnya, naskah benar-benar menyia-nyiakan kehadiran Morgan Freeman, Cillian Murphy, Kate Mara, dan Cole Hauser. Karakter mereka seperti tidak menjadi masalah jika tidak diperankan oleh mereka. Sayang sekali.

Technical

Ternyata tak banyak visual effect yang diumbar seperti harapan penonton, tetapi bukan berarti tidak mengesankan juga. Karena faktor kedekatan dengan realita, cukup banyak visual effect yang membelalakkan mata, seperti reparasi organ manusia, dan partikel-partikel unsur alam yang terlepas. Tidak istimewa, tetapi terlihat indah berkat sinematografi yang juga piawai merekam gambar.

Sementara di lini sound effect, fasilitas surround cukup dimanfaatkan dengan baik. Score dari Mychael Danna yang menggabungkan suara-suara musik tradisional (sekilas seperti kulintang) berhasil membangun ketegangan di balik kesunyiannya, meski sedikit mengingatkan akan score Life of Pi  yang juga hasil garapannya.

The Essence

Ide membuat dunia lebih baik memang terdengar mulia, tetapi perwujudannya bisa jadi mengerikan. Apalagi in worse scenario, jika manusia sampai kehilangan sisi manusiawi-nya dan tergantikan oleh teknologi. So beware on realizing that goal.

They who will enjoy this the most

  • Audience who can enjoy dark drama
  • Techno freak
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates