Thursday, May 29, 2014

The Jose Movie Review
Godzilla (2014)

Overview

Amerika Serikat (atau Hollywood) boleh saja punya banyak monster, raksasa, alien, atau makhluk-makhluk fiktif lainnya. Tapi tetap saja the king of them all adalah monster raksasa asal Jepang, Gojira (atau yang oleh orang Amerika disebut sebagai Godzilla). Sejak kemunculannya pertama kali tahun 1954, Godzilla sudah menggemparkan dunia. Terbukti film-film dengan karakter Godzilla terus diproduksi hingga era 2000-an. Bahkan tahun 1998 Hollywood pernah memboyongnya dengan taste Amerika Serikat lewat Godzilla dengan arahan spesialis film bencana, Roland Emmerich. Bukan karya yang buruk sebenarnya untuk sebuah film disaster hiburan. Tapi bagi orang Jepang dan fanatik Godzilla asli di seluruh dunia, Godzilla versi Emmerich adalah sebuah pelecehan dengan memposisikan sang Mother Monster sebagai pengacau. So, Hollywood mencoba sekali lagi mengangkatnya dengan konsep yang jauh lebih setia pada sumber materi aslinya.
Maka fanatik Godzilla asli boleh bersorak dengan versi Gareth Edwards tahun 2014. Menampilkan Godzilla sebagai sosok makhluk raksasa yang menjaga keseimbangan alam adalah keputusan bagus yang pertama. Selain menggembirakan fanatik aslinya, tentu bagi penonton awam, konsep ini adalah sesuatu yang baru (atau setidaknya, jarang diangkat) untuk genre giant monster. So, one differentiation has already in hand. Keputusan bagus kedua adalah menggunakan formula yang bisa diterima dan dinikmati oleh penonton awam yang biasa datang ke bioskop hanya untuk mencari hiburan: formula survival ala Jurassic Park ditambah drama keluarga yang selalu manjur untuk merengkuh emosional penonton.
Tetapi Gareth tahu betul sisi apa yang ingin ditonjolkannya: sang raksasa, Godzilla, bukan karakter-karakter manusianya. So, tak heran jika porsi pengembangan karakter-karakter manusianya diberi secukupnya saja. Bagi beberapa penonton yang lebih menyukai perkembangan karakter yang mumpuni di film mungkin akan mengeluhkan hal ini, tapi akan dianggap cukup bagi penonton umum dan fanatik Godzilla. Kalau menurut saya pribadi sih porsinya sudah cukup, tetapi yang cukup mengusik saya adalah perbedaan usia antar generasi karakter yang agak janggal (Ford yang kira-kira berusia 25 tahunan punya anak Sam yang usianya sekitar 10 tahunan?)
Sebagai film bertemakan monster raksasa, Edwards tahu betul bagaimana menyusun ketegangan adegan yang slow-burn. Tidak terburu-buru tapi cukup efektif menjaga intensitasnya sepanjang durasi. Bahkan di saat adegan dialog pun, saya masih diliputi rasa was-was dan penasaran dengan sosok Godzilla yang dinanti-nantikan. Namun begitu sosoknya terlihat penuh untuk pertama kalinya, Edwards sekali lagi berhasil membuat penonton terpana oleh sosoknya berkat permainan tata kamera, tata suara, dan editing yang pas. Yes, that’s exactly how you make a giant monster movie!
Sayangnya beberapa adegan Godzilla dan MUTO (termasuk adegan pertarungan mereka) lebih banyak diambil dari sudut pandang karakter manusia. Kemungkinan efeknya bagi penonton bisa terpecah dua: ada yang menyukainya karena menimbulkan fantasi tersendiri dalam benak, tetapi ada pula yang kecewa karena visualisasinya dianggap kepalang tanggung. Lagipula pemilihan porsi sang Godzilla yang lebih banyak seharusnya lebih berfokus pada sudut pandang Godzilla ketimbang karakter manusianya sendiri.
Yah itulah Godzilla versi 2014. Dengan segala upaya, Edwards berusaha untuk memuaskan semua kalangan. Hasilnya tentu saja ada yang menyambutnya dengan sorak sorai, namun tidak sedikit pula yang merasakan biasa saja. As for me, it’s still a good thriller about giant monster movie, especially Godzilla’s, but nothing’s really really impressive so that I can remember the sequences for a long time. Mungkin karena usaha untuk memuaskan semua pihak tersebut yang membuatnya terasa serba tanggung. But hey, at least it’s still an entertaining and thrilling two hours to enjoy. Take it as it is.

The Casts

Para cast utama rata-rata sudah memberikan performa yang maksimal meski porsi perannya yang masih terasa serba tanggung. Misalnya saja Aaron Taylor-Johnson dan Elizabeth Olson yang cukup lovable. Bryan Cranston yang meski porsinya hanya sekitar setengah durasi film juga tampil cukup berkesan. Sayang Ken Watanabe kali ini seperti kehilangan kharisma seperti yang terpancar di peran-peran sebelumnya. Bukan salah dia, tapi memang skripnya yang mengharuskan ia seolah tak begitu penting, hanya penyambung asal-muasal sang Godzilla.

Technical

Film bergenre giant monster dan destruksi jelas bertumpu pada kedahsyatan tata suara. And for that purpose, Godzilla 2014 adalah juaranya. Dengarkan saja auman sang Godzilla, gedung-gedung berguguran... semuanya terdengar bombastis dari tata suara bioskop. Belum lagi efek surround yang dimanfaatkan dengan maksimal. Untuk visual effect, juga tak perlu diragukan lagi. Tampilan Godzilla dan MUTO beserta gedung-gedung yang hancur tampak begitu fantastis, melebihi film-film bergenre sejenis sebelumnya.

The Essence

Manusia seringkali merasa punya kuasa dan kendali atas alam semesta. Padahal yang sesungguhnya terjadi justru sebaliknya. Alam semesta selalu menemukan jalan untuk menjaga keseimbangan dan eksistensinya meski sering diusik oleh manusia. Don’t play with mother nature!

They who will enjoy this the most

  • Original Japanese Godzilla’s fanatics
  • General audiences who seek for thrilling and spectacular entertainment
 Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates