Saturday, May 3, 2014

The Jose Movie Review
The Amazing Spider-Man 2


Overview

The Amazing Spider-Man (TAS) harus diakui memang punya konsep yang berbeda dengan Spider-Man (SM) versi Sam Raimi-Tobey Maguire. Masing-masing punya fans sendiri, dan saya memilih untuk lebih menyukai SM versi Raimi-Maguire dengan berbagai alasan. Meski punya pendekatan yang juga menarik dan belum tereksplor di versi Raimi, menurut saya TAS masih belum mampu menjadi karya yang iconic. Tapi bukan berarti tertutup kemungkinan untuk tampil lebih baik di seri-seri berikutnya. Hal tersebut yang berhasil dengan gemilang dibuktikan di The Amazing Spider-Man 2 (TAS2).

Dari segi naskah, TAS2 jelas terasa punya materi yang lebih menarik dan juga tersusun dengan rapi, termasuk momen-momen penting yang potensial menjadi adegan-adegan iconic. Dimulai dengan penokohan, jika beberapa tahun terakhir sosok villain lebih banyak di-ekspose untuk menjadi jalinan cerita yang menarik, TAS2 justru mengembalikan fokus cerita ke sosok jagoan kita, Spider-Man alias Peter Parker yang adalah seorang remaja SMA biasa dengan segala kelemahan-kelemahan manusiawinya. Jadi jangan protes jika porsi kisah si villain utama, Electro, tidak begitu banyak. Namun bukan berarti karakternya tidak jelas atau asal ada. Di awal-awal, penokohan Max (alias Electro) sudah cukup jelas dan menarik tanpa perlu dikembangkan terlalu banyak sehingga durasi bisa digunakan untuk fokus cerita lainnya.

Porsi cerita terbesar adalah hubungan antara Peter Parker-Gwen Stacy yang harus saya puja-puji sebagai salah satu naskah romantis terbaik yang pernah ada di film. Favorit saya adalah ketika Peter dan Gwen saling melemparkan pujian dengan wujud aturan larangan. Manis, cerdas, dan jauh dari kesan picisan. Hingga klimaks hubungan mereka di hampir penghujung film, hubungan kedua karakter ini terasa begitu kuat dan meyakinkan, melebihi kekuatan hubungan antara Peter-Mary Jane di versi Raimi.

Porsi terbesar kedua adalah hubungan antara Peter Parker-Harry Osborn yang masih mengingatkan saya dengan versi Raimi, meski dengan style dan aura hubungan yang berbeda. Kesemuanya masih ditulis dengan baik hingga titik balik karakter Harry yang menjadi villain lebih penting ketimbang Electro. Kedua porsi besar tersebut, ditambah konflik-konflik personal menjadikan perkembangan karakter Peter Parker hingga penghujung film terasa solid dan masuk akal.

So I have to admit, TAS2 menjelma menjadi sekuel yang jauh lebih baik daripada pendahulunya, bahkan melebihi pencapaian SM versi Raimi manapun. Durasi yang nyaris dua setengah jam menjadi tak begitu terasa berkat tata adegan yang menarik antara drama dan adegan-adegan aksi spektakuler.

Jangan lupa siapkan aplikasi Shazam di smartphone Anda dan nyalakan ketika theme song It’s on Again milik Alicia Keys dan Kendrick Lemar berkumandang di credit title untuk menikmati feature tambahan The Sinister Six.

The Casts

Saya berani mengatakan semua aktor pendukung di TAS2 tampil maksimal dengan porsi masing-masing yang pas. Andrew Garfield dan Emma Stone tampil semakin hidup dan menyatu dengan karakter masing-masing, sejalan dengan chemistry antara keduanya yang semakin kuat berkat cinlok di kehidupan asli mereka.

Jamie Foxx berhasil membawakan karakter Max/Electro yang socially outcast dengan kepribadian narsistik dengan baik, bahkan ketika setelah berubah menjadi Electro berkulit biru. Dane DeHaan pun mampu membawakan peran Harry Osborn yang berbedan dengan versi James Franco. Masih mengingatkan saya akan perannya di Chronicle, tetapi cukup mampu memberi warna baru bagi karakter Harry Osborn.

Sally Field masih memberikan performa yang sama baiknya sebagai Aunt May seperti di seri sebelumnya. Terakhir, kejutan datang dari Paul Giamatti yang jauh berbeda dengan peran-peran yang dilakoninya sebelumnya. Saya masih mengharapkan porsi peran Aleksei Sytsevich alias Rhino yang cukup banyak di seri berikutnya.

Technical

TAS2 memang masih menghadirkan visual effect yang tidak begitu realistis seperti pendahulunya, terutama untuk tampilan adegan-adegan swinging through buildings. Tetapi masih bisa ditoleransi berkat sinematografi yang berhasil merekam semua adegan aksi dengan cantik dan membawa penonton seolah ikut berayun keliling pencakar langit New York dan bertarung melawan para villain bersama Spider-Man. Tata kamera juga merekam kemegahan New York, terutama gedung Oscorp, serta adegan-adegan dramatis antara Peter-Gwen.

Tata suara menghadirkan efek-efek suara yang menggelegar dan memanfaatkan efek surround dengan maksimal. Score yang kali ini ditangani Hans Zimmer dan tim yang sengaja dibentuk demi menghidupkan adegan demi adegan TAS, The Magnificent Six, serta Pharrell Williams, memberikan warna baru. Tak hanya menghadirkan kemegahan score asli, tetapi juga perpaduan dengan berbagai genre musik, seperti hip-hop, techno yang memberikan berbagai kesan, mulai evil, dark, dan chaotic, hingga alternative yang menghidupkan suasana galau maupun manis. Sungguh merupakan eksplorasi musik pengiring yang penuh warna dan pastinya, berhasil menyatu dengan adegan-adegan film secara maksimal.

The Essence

Hal baik dan buruk akan selalu terjadi dalam hidup secara bergantian. Yang terpenting adalah terus memiliki dan memberikan harapan. Begitulah kurang lebih isi pidato dari Gwen Stacy yang menjadi highlight TAS2.

They who will enjoy this the most

  •  Fans of Spider-Man and general superhero genre
  • Audience who loves romantic moments
  • General audiences who seek for an exciting entertainment

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates