Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Sunday, March 23, 2014

The Jose Movie Review
Divergent



Overview

Lionsgate Entertainment tampaknya rajin mencari seri-seri novel remaja untuk diangkat ke layar lebar dan dijadikan franchise tambang emas, baik langsung ditangani sendiri maupun melalui anak usahanya, Summit Entertainment. Dimulai dari Twilight Saga, The Hunger Games (THG), hingga yang terbaru Divergent. Melihat dari perjalanannya, saya harus mengakui peningkatan kualitas dari franchise ke franchise. Sebagai studio yang tak terlalu besar, Summit bisa dikatakan cukup sukses berkat kejelian membaca pasar. Tak terkecuali franchise terbaru mereka yang diangkat dari novel laris karya Veronica Roth, Divergent yang tak begitu banyak menyedot budget namun ternyata disambut dengan hasil yang baik.

Membaca sinopsisnya, mungkin yang terbersit dalam pikiran kita adalah kisah perjuangan seorang gadis muda di tengah lingkungan masyarakat dystopia, dibumbui kisah percintaan remaja ala THG ditambah pembagian kelas (di sini disebut fraksi) bak sorting hat di dunia sihir Harry Potter. Tak salah memang, tapi tunggu dulu. Meski punya jalinan kisah yang klise, ia punya bangunan konsep background cerita dystopia yang jauh lebih serius dan menarik untuk dijadikan bahan kajian. Di saat bangsa kita ketakutan dengan datangnya hari kiamat dan bersembunyi di balik perisai agama, bangsa barat (yang sering kita tuduh sebagai rencana besar Illuminati) berpikir jauh bagaimana keadaan sosial masyarakat manusia pasca “kiamat (realistis, faktor manusia sendiri) dan ide bagaimana tatanan masyarakat seharusnya agar selalu dalam kondisi “damai”. Divergent menawarkan konsep pembagian masyarakat ke dalam peran-peran sesuai dengan kemampuan dan minat tiap individu. Menarik sekaligus menggelitik.

Konsep besar cerita inilah yang menjadikan Divergent tetap menarik untuk diikuti oleh segala kalangan usia, terutama usia dewasa, meski kemasannya termasuk formulaic, sesuai dengan target audience utamanya, yaitu young adult. Pemilihan fokus cerita dari sudut pandang young adult adalah pilihan yang tepat, mengingat usia-usia tersebut adalah masa peralihan dari remaja ke dewasa dengan segala hal-hal baru yang akan dialami. Sangat menarik untuk diikuti, selain tentu saja pas sekali untuk mengenalkan universe baru yang diusungnya. Seolah penonton diajak bersama-sama berada di posisi Tris, cewek jagoan karakter utama kita, untuk mengenal universe-nya. Ketepatan pace dalam menjaga rahasia demi rahasia yang terkuak juga terasa pas sekali membuat penonton penasaran tanpa terasa membosankan.

So yes, Divergent menjadi franchise baru yang begitu menjanjikan dan membuat penasaran banyak penonton, terutama dari yang non pembaca novelnya, untuk mengikuti kelanjutannya. Apalagi sutradara Neil Burger membawakan seri pertama ini dengan dinamis dan dengan dukungan tiap aspek yang menjadikan secara keseluruhan film begitu mengasyikkan untuk diikuti, meski durasinya tergolong sedikit lebih panjang dari durasi normal film sejenis. Congratulations, Lionsgate and Summit Entertainment!

The Cast

Ada cukup banyak nama-nama aktor-aktris muda baru yang penampilannya sangat menjanjikan di sini dan siap menjadi idola-idola baru Hollywood. Mulai Shailene Woodley yang berhasil menampilkan kharismanya sebagai heroine, setelah sebelumnya cukup mencuri perhatian sebagai putri George Clooney di The Descendants. Ia punya gaya sendiri dan tak kalah dengan  Jennifer Lawrence sebagai Katniss di THG. Pasangannya, Theo James pun dengan tampilan all-American-boy sedikit mengingatkan akan kharisma almarhum Paul Walker. Kemampuan aktingnya sebagai cool guy yang biasanya seringkali jatuhnya menjadi kelewat kaku, cukup mampu ditangani dengan baik. Sisanya, putri rocker Lenny Kravitz, Zöe Kravitz (Christina), Miles Teller (Peter), dan Ansel Elgort (Caleb), tampil cukup berkesan. Siap-siap bakal lebih sering melihat wajah mereka di film-film remaja high profile Hollywood!

Di lini pemeran pendukung yang didukung oleh aktor-aktris senior juga memberikan kekuatan tersendiri sehingga tidak terkesan sekedar tempelan untuk menarik penonton yang lebih dewasa. Kate Winslet jelas mencuri perhatian sebagai villain berwajah dingin namun berpenampilan anggun. Begitu juga Ashley Judd yang menampilkan kharisma sebagai seorang ibu yang bijak sekaligus kick ass. Terakhir, saya tidak boleh melewatkan penampilan aktris Asia, Maggie Q yang meski porsinya tak banyak namun cukup berkesan dalam benak saya.

Technical

Divergent didukung berbagai teknis yang mumpuni. Mulai dari desain produksi dunia dystopia yang masih membumi dan realistis meski bersanding dengan elemen-elemen futuristik-nya, termasuk tata set, properti, dan kostum.

Scoring Hans Zimmer ditambah musik dari Junkie XL dan vokal Ellie Goulding yang sedang naik daun dalam mengisi soundtrack, menjadi pondasi pengiring universe yang sangat cocok: megah, berkelas, tanpa meninggalkan kesan digital dan youth. Belum lagi track-track keren pengisi soundtracknya, mulai M83, Snow Patrol, Skrillex, Woodkid, dan ZEDD. Kesemuanya sukses menjadikannya salah satu album soundtrack terbaik tahun ini versi saya.

The Essence

Di universe Divergent, demi mencapai kedamaian, semua orang dipaksa untuk memilih salah satu saja kemampuannya untuk kemudian dikembangkan dan perannya digunakan untuk kebutuhan manusia lainnya. Jika seseorang memiliki potensi kemampuan di berbagai bidang (yang disebut sebagai divergent), maka ia dianggap ancaman yang mampu melakukan apa saja. Satu hal yang sering kita lupa: manusia adalah makhluk sempurna dan kompleks sehingga pasti memiliki potensi lebih dari satu. So basically, all of us are divergent. Hanya saja tak semua orang menyadari potensi diri atau tidak tertarik untuk mengembangkannya lebih jauh. So yes, all of us are potentially to become a threat. Tergantung bagaimana individu tersebut berkeinginan untuk menggunakan potensi dan kemampuannya. Memusnahkannya adalah hal yang mustahil karena akan selalu muncul divergent-divergent lain, karena seperti itulah basic tiap individu manusia.

They who will enjoy this the most

  • Teenage audiences, especially who likes combination of action and romance
  • General audiences who’s interested in socio-cultural ideas
  • Futuristic themed fans
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 20, 2014

The Jose Movie Review
Need For Speed


Overview

Dominasi Fast and Furious (FF) begitu kuat hingga film apa pun yang bertemakan car race selalu dibanding-bandingkan dengan franchise yang sedang merampungkan seri ke-tujuhnya pasca tewasnya Paul Walker ini. Di satu sisi tentu saja ini menjadi momok jika hasilnya ternyata tidak bisa melampaui FF. Namun DreamWorks rupanya melihat ini sebagai tantangan dan peluang untuk menciptakan franchise tandingan. Apalagi dengan mengusung nama Need for Speed (NFS), salah satu game paling sukses dan fenomenal yang pernah ada. Karena tidak punya storyline tertentu, jelas tim penulis naskah bisa bebas merangkai cerita semenarik mungkin. Meski jelas penonton tidak begitu peduli dengan storyline yang unik. Yang penting masuk akal, dengan adegan-adegan koreo balapan yang seru dan gila-gilaan, fans setia akan datang dengan sendirinya.

Ternyata semua pendukung NFS bisa dikatakan cukup berhasil membuka franchise baru ini dengan menarik. Meski storyline-nya termasuk generik atau bahkan klise, namun berkat penjagaan pace yang pas menjadikannya tetap enjoyable. Durasinya menjadi sedikit kepanjangan untuk genre sejenis. Dari kacamata saya, permasalahannya ada pada babak pertama cerita yang terlalu panjang dan detail (yaitu sebelum karakter utama, Tobey Marshall, dipenjara). Durasi babak ini yang memakan 1 jam sendiri jelas bisa dibuat lebih ringkas, meski yang tersaji di layar bioskop masih tergolong nyaman untuk disaksikan. Beruntung babak kedua dan ketiga di-drive dengan sangat dinamis sehingga menjadikannya secara keseluruhan asyik untuk diikuti.
Kekuatan utama NFS jelas adegan-adegan koreo balapan mobil yang gila-gilaan dan direkam dengan tata kamera serta editing yang mendukung keseruan bak feel ketika memainkan versi game-nya. Kemunculan mobil-mobil eksotis yang masih jarang tampil di film, seperti Konigsegg, Bugatti Veyron, dan Mustang Shelby GT-500, memberikan pemandangan segar di genre car race.
Karakter-karakter yang menarik juga turut membuat penonton betah mengikuti kisahnya, meski secara keseluruhan chemistry antara karakternya masih belum begitu kuat dan asyik seperti halnya gang Dominic Toretto di franchise FF, misalnya. Hal yang mungkin bisa diperbaiki jika dilanjutkan seri berikutnya.
Dengan sajian yang menghibur dan digarap sangat baik, franchise NFS jelas punya peluang untuk dilanjutkan. Terus terang saya agak sulit membayangkan pengembangan cerita selanjutnya karena menurut saya sudah cukup baik untuk berdiri sendiri. PR untuk screenwriter untuk mempertahankan hasil bagus seri pertama dengan menghadirkan cerita yang tetap menarik, bukan repetisi, formulaic, dan yang paling penting tidak dragging.

The Casts

Sebagai karakter utama, Aaron Paul masih belum menunjukkan kharisma tertentu yang membuatnya memorable dan dihormati. Jujur saya agak terganggu dengan mulutnya yang sering menganga sepanjang film. Sementara di pihak vilain, Dominic Cooper yang lebih punya banyak pengalaman akting meski porsinya tak sebanyak di sini, justru tampil lebih memikat. Tentu saja favorit saya adalah the babe, Imogen Poots yang sexy in her own way, terutama aksen British dan gesture-nya.
Di lini pemeran pendukung, Scott Mescudi (atau yang selama ini kita kenal sebagai rapper Kid Cudi) dan Rami Malek, cukup memberikan penyegaran dengan tingkah-tingkah kocak masing-masing.
Terakhir, penampilan aktor senior Michael Keaton sebagai DJ Monarch yang eksentrik tak boleh ketinggalan untuk diapresiasi.

Technical

Genre car race seperti ini jelas membutuhkan tata kamera dan editing yang pas untuk menciptakan adegan-adegan kejar-kejaran yang asyik dan cukup memompa adrenalin. NFS cukup kuat di dua teknis ini. Ditambah tata suara dan pemilihan score serta soundtrack yang tertata dahsyat namun berkelas.

The Essence

Revenge atau balas dendam adalah naluri dasar dari manusia. Yang membedakan adalah caranya. Jika beberapa orang membalaskan dendam dengan membabi buta tanpa perhitungan apa-apa, ada juga yang melakukannya dengan cara yang lebih cerdas dan berkelas: tidak membalas dengan hal yang sama, namun dengan membuktikan diri lebih baik daripada musuh.

They who will enjoy this the most

  • General audiences who seek for a light and exciting entertainment
  • Car-race genre fans
  • Need for Speed game fans
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 13, 2014

The Jose Movie Review
300: Rise of an Empire

Overview

Tema sword-and-sandal sudah sangat overrated di Hollywood. I think most of them are failed. Hanya ada beberapa judul yang menurut saya berhasil tampil stand out. Salah satunya adalah 300 yang tayang 2006 lalu. Tentu saja keunikan gaya visualisasinya menjadi salah satu faktor keberhasilan, ditambah Gerard Butler yang tampil prima. Tentu saja sebuah film yang sukses besar, apalagi punya potensi yang besar untuk dikembangkan, sayang untuk tidak dijadikan franchise. Apalagi sang penulis versi novel grafisnya, Frank Miller, memang berencana mambuat 5 seri sekaligus. Meski sampai tulisan ini dibuat masih belum ada satu pun novel grafis lanjutan yang berhasil selesai, proyek film sekuelnya terus jalan. Malah akhirnya film lanjutannya berhasil selesai lebih dulu dan diedarkan dengan skenario yang dikembangkan oleh sutradara seri pertamanya, Zack Snyder, dan Kurt Johnstad. Gonta-ganti premise cerita sempat terjadi sampai diputuskan versi akhirnya yang kita tonton di layar.
Carut marut gonta-ganti premise biasanya bukan pertanda yang bagus untuk sebuah film. Seringkali hasilnya hancur lebur tanpa arah yang jelas. 300: Rise of an Empire (300 RE) nyaris termasuk di dalamnya. Memang terlalu naïf jika Anda mengharapkan kualitas yang sama atau melebihi 300, tapi beruntung ada banyak hal yang setidaknya menjadi penyelamat sehingga hasil akhirnya masih layak tonton.
300 RE sebenarnya lebih tepat disebut sebagai spin-off dari 300, mengingat karakter-karakter utamanya, baik jagoan maupun villain, kebanyakan tidak berhubungan langsung dengan seri sebeulmnya. Secara timeline pun 300 RE berjalan parallel dengan 300, plus sedikit flashback prekuel dan sedikit kejadian setelahnya. Secara cerita maupun aura patriotismenya, 300 RE jelas punya kelemahan di sana-sini. All’s about revenge here, and Athens are not Spartan. Secara faktual, Athens memang dikenal memiliki postur tubuh yang lebih kecil daripada Spartan yang diklaim sebagai tempat lahirnya para prajurit terbaik di dunia dan bertubuh tegap besar. Jelas tidak adil jika Anda membandingkan keduanya secara head to head.
Karakter jagoan, Themistokles, memang tidak bisa menyamai pesona Leonidas, tapi bukan berarti dia sama sekali tidak menarik. Berkat penokohan dan dialog-dialog yang cukup baik, karakter Themistokles berhasil sedikit menarik perhatian dengan pesonanya sendiri, meski belum mampu sekuat Leonidas. Pihak lawan, terutama sekali Artemisia justru tampil yang paling mencuri perhatian. Selain dari dua itu, sama sekali tidak digali meski ada beberapa yang terlihat menarik, termasuk Xerxes yang menurut banyak pihak bakal punya porsi lebih tetapi nyatanya tidak.
Perbedaan lainnya adalah fokus konsep. Jika 300 terasa sangat maskulin, 300 RE perlahan mulai memasukkan unsur feminisme yang sangat jelas ditunjukkan lewat karakter Artemisia sebagai musuh, dan diseimbangkan dengan kehadiran Ratu Gorgo di pihak jagoan. Sayang perubahan konsep yang bertolak belakang ini hanya terasa sampai di situ saja, tidak digali lebih dalam lagi. Padahal sebenarnya punya potensi yang jauh lebih baik.
Jika Anda mengeluhkan endingnya yang terasa tanggung, well, in my opinion, it is not. It has reached its point (yaitu mengembalikan semangat persatuan dari seluruh penjuru Yunani) and it’s trying to open for more sequels, of course. So yes, endingnya sudah lebih dari cukup untuk dijabarkan.
So what’s left from this installment? Ya, Anda masih bisa menikmati adegan-adegan battle yang porsinya bisa nyaris 80% dari keseluruhan durasi. Meski easily forgettable, adegan-adegan battle 300 RE masih digarap dengan koreografi yang stylish, dinamis, dan direkam dengan sinematografi yang cantik. Very enjoyable, meski sedikit terganggu gaya visualisasi yang berlebihan.

The Casts

Salah satu unsur utama yang mampu menyelamatkan 300 RE adalah karakter villain, Artemisia. Selain memang penokohan yang dibuat paling kuat dan porsinya banyak, akting yang ditunjukkan Eva Green memang maksimal. Setelah selama ini porsinya di film-film papan atas seperti Casino Royale dan Dark Shadows kalah dengan karakter-karakter lain, akhirnya aktris yang sekilas mirip Demi Moore ini diberikan porsi yang sepadan dengan bakat dan aura kecantikannya. Tidak akan mengherankan jika ke depannya Eva kebanjiran tawaran peran jagoan atau villain berkarakter kuat.
Sementara Sullivan Stapleton yang memikul beban paling berat, yaitu menggantikan peran karakter Leonidas di lini depan, memang masih belum menunjukkan aura maksimal. Pretty good, but not strong yet memorable enough. Try harder and pick better character role next time.

Technical

Selain koreografi perang dan sinematografi yang mendukung keindahan gambar, desain kostum patut mendapatkan kredit lebih. Terutama sekali kostum-kostum yang dikenakan Artemisia. Departemen art juga layak mendapatkan pujian dengan desain ala Greek yang tidak pasaran dan stylish.
Gaya visual ala komik yang dipelopori oleh seri pertamanya masih dipertahankan, tapi dengan penambahan-penambahan yang sedikit berlebihan dan mengganggu, seperti slowmo dan muncratan-muncratan darah.

The Essence

Kebebasan menjadi topik utama yang dipertanyakan di 300 RE. Kebebasan yang bagaimana yang kita perjuangakan selama ini? Apakah perjuangan akan kebebasan yang kita gaung-gaungkan selama ini justru merupakan pengekangan kebebasan itu sendiri? Di satu adegan Themistokles berpidato di depan pasukan-pasukannya, bahwa mereka bebas memilih untuk berjuang melawan pasukan Persia atau memilih untuk mundur. Pilihannya, jika mundur maka kebebasan mereka akan dikuasai oleh Persia. Tapi jika tetap maju berperang resikonya adalah kematian dan kekalahan yang tetap saja membuat Athena menjadi budak Persia. So, yang manakah kebebasan yang sebenarnya? Apakah kebebasan tanpa tanggung jawab seperti yang ditawarkan Artemisia kepada Themistokles?

They who will enjoy this the most

  • General audiences who seek for an exciting instant entertainment
  • Sword-and-sandals enthusiast
  • Greek mythological enthusiast
  • Bloody and gore action fans
Lihat data film ini di IMDb.  Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Movie Review
Mr. Peabody & Sherman

Overview

Generasi sekarang mungkin tak banyak yang mengenal karakter Mr. Peabody & Sherman, salah satu segmen dari serial animasi The Rocky and Bullwinkle Show. Tak heran karena serial tersebut populer di era 60-an dan kurang begitu terdengar namanya setelah era tersebut. Beberapa segmen pernah diangkat ke layar lebar, seperti Boris and Natasha, Dudley Do-Right, dan The Adventures of Rocky & Bullwinkle. Namun kesemuanya nggak begitu sukses di pasaran. Kini Mr. Peabody & Sherman (P&S) punya kesempatan sukses yang jauh lebih baik untuk diangkat ke layar lebar karena digarap oleh DreamWorks Animation. Jujur, setelah franchise Shrek berakhir, animasi-animasi DWA lainnya tidak begitu membuat saya tertarik. Bahkan Kungfu Panda dan How to Train Your Dragon sama sekali tidak membuat saya jatuh cinta. Begitu menyaksikan trailer P&S, saya kembali yakin bahwa DWA akhirnya punya materi yang bagus dan menarik untuk dikembangkan. Pun hasil akhirnya ternyata sangat memuaskan.
Konsep anjing cerdas yang mengadopsi seorang anak manusia mungkin terdengar kinky atau kurang ajar, apalagi bagi anak-anak yang menjadi target audience utamanya, mengingat biasanya justru anak manusia lah yang “mengadopsi” anjing. Meski jelas dua karakter ini merupakan metafora dari pesan sebenarnya yang ingin disampaikan yang mungkin kelak akan dimengerti anak-anak ketika telah lebih dewasa. Tapi tunggu dulu, itu baru premise dasarnya saja. P&S versi layar lebar mengembangkannya menjadi sebuah kisah yang jauh lebih mudah dicerna oleh anak-anak sekalipun.
Issue tentang parenting cocok untuk direnungkan masyarakat umum, terutama para orang tua. Sementara anak-anak bisa menikmati petualangan seru melintasi berbagai rentang waktu, mulai era Marie Antoinette, King Tut dari Mesir, Leonardo Da Vinci, hingga legenda Troy. Hitung-hitung belajar sejarah melalui petualangan seru dan fun. Message untuk anak-anak tentang tujuan baik orang tua juga sukses tersampaikan. Sebuah paket komplit bagi siapa saja. Menghibur sekaligus menyentil banyak pihak.
Namun bukan berarti P&S tanpa cacat. Menjelang akhir, ia punya teoritis quantum berhubungan dengan time travel yang pasti membuat penonton, yang terbiasa mencerna konsep time travel sekalipun, mengernyitkan dahi. Terkesan sedikit memaksa dan kacau. Untung naskah tidak membiarkannya berlarut-larut menjadi semakin parah, dan mengakhirinya dengan cukup memuaskan. Heartly, at least.
So, P&S adalah animasi 3D yang easily lovable, baik karakter-karakter maupun ceritanya, menarik, dan menggelitik dengan selera humor cerdas. The next big thing from DreamWorks Animation. Semoga.

The Casts

Jika biasanya DreamWorks Animation mengandalkan nama-nama kondang di deretan voice talent-nya, kali ini mereka mencoba menggunakan nama-nama yang belum begitu dikenal. Kecuali, tentu saja, Leslie Mann yang mengisi suara Patty, dan Stanley Tucci yang mengisi suara Leonardo DaVinci. Tapi kesemuanya cukup mampu menghidupkan karakter masing-masing, termasuk karakter-karakter nyata.

Technical

Tak ada teknis-teknis animasi baru yang diperkenalkan di sini, namun semuanya cukup mendukung konsep cerita yang sci-fi namun tetap penuh warna-warna cerah. Score dari Danny Elfman, seperti biasa, mendukung keseruan cerita dengan ke-elegan-an khasnya.
Pilihan format 3D pun memberikan efek yang cukup maksimal. Tak hanya dari segi depth, tapi juga pop-out gimmick yang cukup banyak, meski tak tampak terlalu vulgar (baca: adegan-adegan yang sengaja dibuat agar terasa sekali efek 3D-nya). Worth your money and eyes’ health if the option is available in cinemas nearby.

The Essence

Secara garis besar, P&S jelas menyentil masyarakat kita yang sering kali doyan men-judge keluarga yang dianggap tidak sesuai dengan tatanan mayoritas. Padahal secara kualitas parenting internal bisa jadi sangat bagus, di atas masyarakat pada umumnya. Alhasil, kualitas parenting yang bagus tersebut bisa jadi buruk gara-gara faktor eksternal.
Selain dari itu, orang tua dan anak-anak bisa saling berkaca dan memahami tentang tujuan baik serta kebutuhan masing-masing.

They who will enjoy this the most

  • General audiences who seek for light entertainment, especially kids from all ages
  • DreamWorks Animation fans
  • The original Mr Peabody & Sherman fans
Lihat data film ini di IMDb. Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates