Sunday, February 16, 2014

The Jose Movie Review
Her

Overview

Nama Spike Jonze selain sebagai sutradara music video, juga dikenal sebagai sutradara film panjang dengan ide-ide yang liar. Sebut saja Being John Malkovich yang dengan liar memanfaatkan “otak” aktor John Malkovich menjadi objek mainan. Atau Adaptation. yang menipu penonton dengan alurnya serta pencampur-aduk-an dengan fakta kehidupan nyata sang penulis. Real genius in his own way. Kini, dengan ide yang tidak kalah liar-nya, Jonze mencoba untuk menyindir dan menakut-nakuti umat manusia.

Ide manusia yang menjalin hubungan dengan program komputer sebenarnya sudah beberapa kali diangkat, meski dengan kemasan yang terkesan main-main. Namun Her dengan berbagai elemennya yang seimbang menjadikannya karya yang memorable untuk jangka waktu yang lama. Tak hanya dibuat senyum-senyum dengan kemanisan hubungan antara karakter utamanya, Theodore, dengan sebuah OS yang menamakan diri Samantha, di saat yang sama penonton seperti ditampar dan dibuat berkaca akan dirinya sendiri. Bagaimana tidak ngeri membayangkan suatu saat kita sudah tidak lagi mampu menjalin hubungan dengan sesama manusia, dan melampiaskannya dengan operating system? Ngeri dan menyedihkan.

Cerita berkembang dengan perlahan namun enjoyable, mengikuti karakter Theodore dan hubungan-hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Pun cerita juga dengan jahil memberikan gambaran “what if” di beberapa bagian yang membuatnya menjadi lebih berwarna tanpa terasa melenceng dari fokus esensi cerita.

Dengan penggambaran teknologi-teknologi yang terkesan fun namun realistis untuk terwujud dalam waktu dekat, universe yang dibangun Jonze tampak penuh warna. Apalagi penggunaan warna-warna menyala seperti merah terang dan pencampuran nuansa vintage psycadelic dengan futuristik, mampu menghiasi cerita yang sebenarnya kelam dan depresif. Hasilnya, Her menjadi film berbobot dengan kemasan yang bisa diterima serta dinikmati oleh penonton umum sekalipun. Tidak senyentrik karya-karya Jonze sebelumnya.

The Casts

Joaquin Phoenix lagi-lagi berhasil menghidupkan karakter yang tidak mudah. Sosok Theodore yang depresif, socially awkward, namun diam-diam memiliki kharisma untuk melumerkan lawan jenis dan bisa menjadi sosok yang fun, dapat dengan meyakinkan diperankan oleh Phoenix. Mudah dipahami meski sebenarnya complicated. Chemistry yang dibangunnya bersama (suara) Scarlett Johannson juga sangat luwes dan berkembang dengan natural, meski penonton hanya bisa mendengarkan suara Samantha saja.

Notable performance lainnya adalah Amy Adams yang di ajang Oscar 2014 ini dinominasikan untuk perannya di American Hustle. Karakter pendukung yang ternyata punya peran yang penting di dalam cerita dan bisa dibilang versi wanita dari Theodore. Elegan namun terkesan fragile sehingga dengan mudah mencuri hati penonton. Jangan lupakan juga penampilan Rooney Mara, Olivia Wilde dan Soko yang meski hanya sedikit namun cukup memorable.

Technical

Daya tarik teknis yang utama adalah desain produksi dan art yang dengan cantiknya membangun nuansa futuristik imajinatif namun tetap believable, dan mengawinkannya dengan nuansa vintage psycadelic.

Tak ketinggalan score music dari Arcade Fire yang tak hanya perfectly blended dengan film, namun juga menghanyutkan penonton dalam universe-nya. Dan juga lagu The Moon Song oleh Karen O (di dalam film diceritakan ditulis oleh Samantha) yang manis dan romantis.

The Essence

Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang seharusnya memiliki kemampuan alamiah untuk menjalin hubungan dengan manusia yang lain. Sayang, teknologi yang semakin maju membuat manusia menjadi semakin inkompeten untuk berkoneksi secara nyata dengan manusia lainnya dan lebih memilih untuk berhubungan dengan program komputer. Tentu saja mudah karena program komputer memang diciptakan untuk memenuhi segala keingingan dan kebutuhan manusia. But then what’s the point of a relationship? Apalagi ternyata sebuah OS seperti Samantha justru belajar untuk menjadi “lebih manusia” daripada manusia itu sendiri. Manusia pun sekali lagi gagal untuk menjalin hubungan, bahkan dengan OS. Bukankah lebih baik jika manusia mulai dan terus-menerus belajar untuk menjalin relationship dengan sesama manusia, seperti sebagaimana kodratnya sejak lahir?

They who will enjoy this the most

  • Penggemar komedi romantis yang menyajikan tontonan manis
  • Penonton techno freak yang mulai menikmati kehidupan maya ketimbang kehidupan nyata
  • Penonton single
  • Penonton berpasangan

86th Annual Academy Awards nominee for

  • Best Motion Picture of the Year
  • Best Writing, Original Screenplay – Spike Jonze
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Score – Will Butler dan Owen Pallett
  • Best Achievement in Music Written for Motion Pictures, Original Song – “The Moon Song” by Karen O & Spike Jonze
  • Best Achievement in Production Design – K. K. Barrett (production design) & Gene Serdena (set decoration)
Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates